ly2

Poster By: Babythinkgirl @ Poster Channel 

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

Part 4

 

“Aku pulang dulu Lee Seun ah.. Sebelumnya aku minta maaf, karena aku ada urusan penting jadi..” Jungkook Oppa menjelaskan.

“Nae.. Gwencana Oppa.. Lagi pula aku juga sudah mulai mengerti jadwal bus disini.. Jadi, Oppa tidak perlu khawatir..” jawabku.

“Jeongmal Miane..” Kata Jungkook Oppa meminta maaf sekali lagi, lalu dia pergi naik sepeda motornya. Hari ini dia tidak mengantarku pulang seperti biasanya, dia bukan dirinya hari ini. Aku tidak mengerti.

 

-Seojoon POV-

“Okay, aku sudah membeli buku chord yang disuruh Jungkook sekarang.. Lebih baik aku mampir dulu ke rumah Seung Ri.. Tunggu, apa sekalian aku antarkan saja yaa bukunya ke rumah Jungkook rumahnya kan cukup dekat.. Sudahlah.. Yang penting naik Bus dulu..” keluhku, akhir-akhir ini aku cukup sibuk sih. Aku melihat bus line ku sudah datang menghampiri halte bus ku. Aku langsung mengeluarkan uang untuk membayar dan masuk kedalam bus.

“Mm..?” jujur saja aku kaget melihat Lee Seun ada di bus, dia terus melihat ke arah jendela, bahkan tidak menyadari aku naik bus itu.

“Lee Seun?” kataku menghampirinya.

“Oh, Seojoon Oppa? Duduklah..” Jawabnya yang terlihat sedikit kaget karena bertemu denganku.

“Nae.. Gomawo Lee Seun-ah.. Tapi, kenapa kamu tidak diantar pulang oleh Jungkook?” tanyaku penasaran.

“Ehm, Jungkook Oppa sedang ada urusan jadi tidak bisa mengantarku.. Lagi pula, Jungkook Oppa kan bukan pacarku atau supir yang harus mengantarku kemana-mana” jelasnya dengan nada humor? Tapi aku bisa merasakan  dia sedang dalam mood untuk itu, terlalu dipaksakan.

“Oo.. Urusan penting.. Apa kau menyukai Jungkook?” tanyaku memberanikan diri.

“Mbo?” Lee Seun yang melihat ke arah jendela refleks langsung melihat kearahku.

“Apa kau menyukai Jungkook?” jawabku dengan tegas menatap matanya balik.

“Apa yang kamu bicarakan Oppa.. Tentu saja tidak..” Jawabnya dengan sedikit tawa menghindari tatapanku. Saat itulah aku menyadari ada 2 orang bodoh yang saling mencintai tapi sama-sama tidak mau mengakuinya..

“Kau menghindari tatapanku saat menjawabnya, kau melihat ke arah jendela dengan tatapan sedih.. Dan yang lebih meyakinkan lagi saat aku menatap mataku tadi, aku melihat betapa kamu mencintai Jungkook.. Akuilah Lee Seun-ah..” jelasku dengan tenang. Dia menatapku sesaat. Aku bisa mendengar desahan darinya.

“Ottokae Oppa? Aku..” Kata-katanya terhenti, sebuah isakan mengikuti diantaranya.

“Aku benar-benar jatuh cinta pada Jungkook Oppa.. Dan aku sangat takut kehilangan dia..” Kata-kata itu keluar, bahkan dijelaskan dengan air mata yang mulai jatuh membahasi pipinya.

“Kehilangan?” Tanyaku heran tak mengerti apa yang dia maksudkan

“Aku, mempunyai 2 orang teman yang sangat aku sayangi, mereka sangat perhatian padaku, tapi sejak Lizzy datang, mereka menghilang, aku serasa tidak mengenal mereka, aku serasa tidak pernah ada dalam hidup mereka.. Sejak aku masuk sekolah pertama kali, mungkin sejak saat itu.. Aku sudah menyukai Jungkook Oppa.. tapi, tadi siang.. Aku, Aku melihat dari nada suaranya, Jungkook Oppa.. Seperti tidak sanggup untuk menatapku..” jelasnya.

“Dan aku tau, Lizzy pernah mengenal mereka.. Teman-temanku.. Dan juga Jungkook Oppa..” Lanjutnya.

“Kamu mau mendengar ceritaku?” tanyaku.

“Hm?” Dia sekali lagi melihat mataku, dan aku menatap matanya yang sendu, dia menyeka air matanya dan mengangguk.

“Dulu waktu kami masih SMP, aku dan Jungkook pernah bertengkar, kami saling memukul sampai kami dimarahi orang tua kami, bahkan kami kadang memprovokasi teman-teman kami untuk saling menyakiti, dengan tujuan seorang gadis.. Gadis itu adalah Lizzy.. Kami berdua sama-sama menyukai Lizzy..” Penjelasanku terhenti karena ketika nama Lizzy ku sebutkan, Lee Seun langsung menatap ku lagi, dan bertanya.

“Lizzy?”

“Ya.. Gadis yang merebut teman-temanmu itu.. Setiap tahun disekolah pasti ada pensi, anak-anak selalu menggunakan kesempatan itu untuk mengajak kencan atau menyatakan cinta pada gadis yang disukai, saat itu aku dan Jungkook sama-sama berniat untuk mengajak Lizzy, jadi kami bersaing mati-matian.. Sampai akhirnya Lizzy tau itu.. Dan dia mengatakan dengan mudahnya ‘Berhentilah seperti itu, aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian’ Setelah itu Lizzy pindah ke Australia karena mendapatkan beasiswa” Jelasku sesingkat-singkatnya.

“Jungkook Oppa.. Apa dia masih menyukainya..” Aku mendengarnya, mendengar suara lirih itu dari Lee Seun.

“Lalu, Jungkook dan aku tentunya patah hati.. Sejak saat itu, kami berdua berjanji tidak akan mencintai atau bersaing seperti orang bodoh untuk mendapatkan seorang gadis.. Tapi, tenanglah.. Jungkook sudah melupakan Lizzy.. Aku yakin.. Dia mungkin..” Kataku untuk menenangkan Lee Seun.

“Dia mungkin?” Lee Seun kembali bertanya.

“Dia mungkin hanya tidak yakin saja..” Kataku meyakinkan Lee Seun.

“Mmm.. Sekarang aku mengerti kenapa Jungkook Oppa seperti itu terhadap Lizzy.. Oh iya, Seojoon Oppa tau tentang lagu ‘Say Who You Love’ nggak?” tanyanya balik. Tapi, pertanyaan ini sungguh mengherankan.

“Ha? ‘Say Who You Love’? Ba-Bagaimana kamu bisa tau?” aku sungguh heran.

“Tadi, Lizzy mengunjungi kami di ruang latihan musik dan dia ingin Jungkook Oppa menyanyikan lagu itu untuk Lizzy..” jelasnya.

“La-lagu itu.. Adalah lagu yang dibuatkan oleh Jungkook sewaktu Jungkook masih sangat menyukainya.. Jungkook pernah bilang lagu itu mewakili perasaannya pada Lizzy.. Tapi, kalau Lizzy meminta Jungkook menyanyikan itu.. Berarti..” penjelasanku aku hentikan aku juga masih mengingat posisi Lee Seun, lalu aku melihat kearah Lee Seun. Seketika itu aku bisa membaca sakit hati yang dirasakannya, cemburu.. Tidak, sangat cemburu.

“Oh.. Begitu ya..” jawabnya dengan tenang mencoba menutupi pisau yang menancap kehatinya itu.

 

-Jungkook POV-

Miane, Lee Seun-ah.. aku meninggalkanmu seperti itu disekolah, tapi, sekarang ini aku masih tidak bisa menemukannya. Menemukan keberanian untuk menatapmu. Sekarang, kemana aku harus pergi? Oh.. Ada satu tempat..

“Permisi, aku mencari album Mandy Moore, bisakah kau mencarikannya untukku?” kataku pada seorang penjaga CD yang ada di toko musik favoritku.

“Iya.. Tunggu sebentar yaa..” katanya lalu melihat kebeberapa rak buku.

“Mmm.. Banyak sekali album-album penyanyi baru.. Lagu klasik seperti Mandy Moore memang sudah jarang..” gumamku pada diriku sendiri.

“Maafkan kelihatannya sudah habis” kata penjaga CD tadi.

“Ah, Iya.. Tidak apa..” Jawabku

Eng? Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang memakaikan headphone.. Lagu? Lagunya Mandy Moore? Reflek aku membalikkan badan dan aku bertemu dengan Lizzy disana.

“Lizzy?” tanyaku.

“Nae Oppa.. Kebetulan sekalikan kita bertemu disini?” jawabnya.

“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku sambil menaruh kembali headphone dan mengambil CD Mandy Moore.

“Aku jujur saja sedang tidak ada kerjaan, lalu aku sedang ingin mencari lagu-lagu.. Kamu juga masih ingatkan hobi kita sama, mencari lagu-lagu yang jarang ditemukan orang..” katanya dengan senyuman.

“Ah.. Nae.. Tenang aku tidak lupa..” jawabku singkat.

“Dan itu bisa kau bawa..” katanya sambil menunjuk album Mandy Moore.

“Oh, Nae.. Gomawo aku baru saja akan menanyakan padamu..” Jawabku singkat.

“Hehehe..” Dia tertawa, masih sama.. Dia masih sama seperti dulu.

“Baiklah.. Aku harus membayarnya..” kataku sambil pamit padanya, aku menghindar.. Menghindarinya lagi.

“Nae.. Araseo.. Aku juga akan pulang kok sebenarnya..” katanya sambil mengangkan tas keresek berisi CD yang sudah dia beli.

 

“Mboyaa…” aku mendengar keluhan seseorang?

“Jungkook Oppa..” mendengar namaku aku langsung melihat ke arah suara itu.

“Waeyo Lizzy-ah?” tanyaku.

“Bolehkah aku menumpang motor mu?” tanyanya dengan senyuman memohonnya.

“Waeyo?” tanyaku balik sambil melihat ke motornya.

“Lihatlah..” katanya sambil menunjuk bannya yang kempes.

“Oh.. Kempes yaa..” jawabku mulai mengerti situasinya.

“Kau tidak berubah Jungkook Oppa, kamu masih tidak memperbolehkan sembarangan orang kau bonceng ya?” katanya dengan nada yang manis.

“Hahaha.. Kau juga masih mengingat kebiasaanku..” jawabku singkat.

“Jadi bagaimana? Bolehkan aku menumpang motormu?” katanya dengan wajah memohon.

“Nae.. Gwencanayo..” jawabku singkat. Aku rasa tidak masalah, membiarkan dia ikut denganku lagi pula mungkin saja dengan ini bisa lebih meyakinkan perasaanku.

“Oppa.. Kita mampir-mampir dulu yaa.. Sudah lama aku tidak pergi jalan-jalan denganmu.. Aku rasa kamu bisa membawaku ketempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi..” katanya.

“Mmm.. Nae.. Gwencana..” jawabku singkat.

Jadi, kami pergi kesebuah taman bermain.

“Oppa.. Lihat ada yang menjual es krim.. Kamu harus makan satu..” Katanya lalu berlari membeli es krim itu.

“Aa..” Katanya menyuapkan sesendok es krim didepan mulutku dan otomatis aku harus memakannya.

“Oppa.. Kamu makan es krim kok.. Hahaha..” Katanya sambil terbahak-bahak.

“Waeyo?” Tanyaku.

“Why so messy..” Jelasnya dengan logat Australia yang kental.

“Jeongmalyo?” tanyaku. Lalu dia mengelap mulutku dengan tissue dan berkata,

“Kamu tidak berubah.. Masih saja sama Jungkook Oppa..”

“Oh ya? Hahaha..” jawabku ringan.

“Baiklah.. Ayo bermain..!!” katanya dengan riang sambil mulai menarikku.. Dia mengajakku bermain berbagai macam mainan, mulai dari jetcoaster, kapal-kapalan terbang, bahkan mengajakku masuk ke rumah hantu.

Tak terasa hari sudah sore, jadi kami memutuskan untuk istirahat sebentar disebuah cafe teh. Kami memesan beberapa kue dan minum teh, untuk istirahat sejenak setelah seharian penuh bermain disana.

“Oppa setelah ini.. Mmm..” Katanya sambil melihat ke peta.

“Hei.. Apa kamu tidak capek?” Tanyaku yang sudah kecapekan ini.

“Hahaha.. Okay-okay Jungkook Oppa sudah capek.. Mmm.. Sebelum pulang kita naik kincir ya? Itukan tidak melelahkan..” Bujuknya.

“Huftt.. Ya sudah..” jawabku pasrah sudah.

 

“Ini tiketnya..” Kataku menyerahkan tiket pada petugas disana.

“Silahkan” Kata petugas itu setelah memeriksa tiketnya. Kami masuk kedalam kincir.. Setelah itu kami berdua hening sesaat..

“Lizzy-ah.. Kamu sama sekali tidak berubah masih ceria seperti dulu..” Kataku memulai pembicaraan.

“Hahaha.. Benarkah?” Dia ketawa, bahkan tertawanya masih sama seperti dulu.

“Oppa..” Suara Lizzy tiba-tiba terdengar serius.

“Waeyo?” tanyaku

“Jungkook Oppa, tidak berubah juga.. Masih sama seperti dulu.. Seperti Jungkook Oppa yang menyukaiku.. Apa, perasaan Oppa juga masih sama seperti dulu?” Tanyanya dengan jelas dan lugas.

Lalu sesaat itu keheningan, aku melihat lurus menatap kematanya, saat itu aku menyadari bahwa kali ini dia tidak sedikitpun ragu, tidak ada sedikitpun. Rasanya seperti dia ingin mengukir sesuatu hal dalam diriku secara dalam dan kuat.

“Jika, perasaan Oppa masih sama seperti dulu.. Aku..” Dia melanjutkan perkataannya. Tapi, saat itu juga aku menyadari sesuatu hal. Sesuatu hal yang selalu aku ragukan pada diriku sendiri. Sekarang, aku sudah yakin.

“Miane.. Aku, sudah tidak memiliki perasaan itu lagi..” Kataku perlahan.

“Wae.. Waeyo? Jungkook Oppa baru 2 tahun aku meninggalkan Korea.. Waktu itu aku tidak bisa menerimamu karena Seojoon Oppa.. Tapi sekarang, ketika Seojoon Oppa sudah tidak menyukaiku lagi, kenapa sekarang justru perasaanmu yang berubah.. Apa kamu, selama ini hanya bermain dengan perasaanku?” tanyanya.

“Anya.. Aku tidak pernah bermain-main denganmu.. Aku sungguh-sungguh menyukaimu waktu itu.. Sayangnya, kau sudah bilang ‘Berhentilah seperti itu, aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian’ .. Sejak mendengar kata-kata itu, aku dan Seojoon berusaha melupakanmu dengan anggapan kau benar-benar ingin kami pergi dari hidupmu” jelasku.

“Aku.. Aku..” Lizzy menggenggam tangannya erat-erat, dan air matanya jatuh.

“Miane Lizzy-ah..” Kataku dengan perlahan.

“Ah, Nae Oppa.. Gwencanayo.. Setelah ini kita pulang yaa..” jawab Lizzy dengan nada yang diusahakan ceria dan juga tenang.

Sepanjang sisa perjalanan kincir itu, kami hanya diam saja. Lizzy hanya terus menggenggam tangannya dan aku hanya bisa diam tanpa berbicara apapun.

Setelah keluar dari kincir aku langsung mengantarkannya pulang ke rumahnya.

“Oppa.. Gomawo..” Katanya.

“Nae.. Gwencanayo..” Jawabku.

“Hiks.. Oppa.. Apa kau benar-benar tidak bisa menjadi Kook Oppaku lagi?” tanyanya setelah berbalik. Aku yakin sekali dia menangis.

“Miane..” Jawabku.

“Hiks..” aku mendengarnya menangis meskipun dia mencoba menutupi tangisannya. Sesaat itu tiba-tiba hujan turun. Meskipun tidak terlalu lebat. Hanya sekedar gerimis.

“Bahkan langit saja ikut sedih untukku” katanya sambil memalingkan senyuman padaku senyuman yang menahan sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, jadi aku melepas jaketku dan memakaikannya padanya, dan aku memeluknya sesaat. Setelah itu aku berkata dengan jelas padanya,

“Mungkin seperti katamu, hari ini kamu dan langit sedang sedih.. Tapi besok akan baik-baik saja, pasti akan cerahkan? Aku yakin, kau pasti bisa menjadi temanku. Okay?”

“Nae Oppa.. Thank you..” jawabnya dengan senyuman, lalu ia pergi masuk ke rumahnya.

-Lee Seun POV-

“Hm? Gerimis ya?” kataku yang heran melihat langit yang tiba-tiba gelap.

“Nae.. Tumben..” Kata Seojoon Oppa.

“Oppa mampir saja kerumahku, rumahku belok di pertigaan trus masuk gang sediki sudah sampai kok.. Tunggu saja sampai hujannya selesai..” Kataku.

“Nae..” Jawabnya.

Lalu kami turun di halte, berlari, dan tiba-tiba aku berhenti. Melihat sesosok orang yang aku kenal. Orang itu memberikan jaketnya untuk seorang gadis. Jungkook Oppa memberikan jaketnya untuk Lizzy. Dan memeluknya.

Apa ini? Ada rasa sakit disini. Di dadaku. Apa lagi melihat Jungkook Oppa terlihat begitu care dengan Lizzy. Setelah itu Jungkook Oppa mengatakan sesuatu padanya dan Lizzy tersenyum. Mereka pasti sudah berbaikan dan mereka akan menjadi couple. Seperti apa yang aku takutkan selama ini. Jadi, apakah ini rasanya patah hati? Kenapa rasanya seperti sebuah pisau menancap dihatiku?

Aku hanya bisa melihat kearah mereka dengan tatapan lurus aku sudah tidak peduli bagaimana Seojoon Oppa, apa aku kebahasan hujan atau tidak.

“Lee Seun..” aku mendengar suara Seojoon Oppa.

“Oppa.. Miane.. Bisakah kamu tinggalkan aku sendiri?” tanyaku.

“Mm, Nae.. Araseo..” katanya memahami situasiku yang baru saja melihat Jungkook Oppa dan Lizzy. Dan dia pergi, mungkin dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Setelah aku melihat Seojoon Oppa pergi, pandanganku tak bisa lepas dari Jungkook Oppa dan Lizzy. Tapi aku melihat Lizzy masuk sebuah rumah dan Jungkook Oppa pergi meninggalkannya.

Air mataku terus mengalir padahal aku ingin itu berhenti tapi air mata ini tidak sedikitpun berhenti. Aku menggenggam tanganku sekuat tenaga mencoba menahan tangisku tapi tidak bisa, aku hanya terus menangis. Apa memang Jungkook Oppa akan bersama Lizzy? Aku tidak rela. Tidak sedikitpun.

Perlahan-lahan aku berjalan pulang, begitu sampai rumah, seperti biasa tidak ada orang tuaku, jadi aku langsung mandi, begitu keluar dari kamar mandi aku melihat kearah cermin.. Dan melihat diriku sendiri mengingatkan aku pada semua rasa sakit itu dan air mataku mulai mengalir. Beberapa detik kemudian, aku mendengar ponselku berbunyi.. Jihyo? Kenapa Jihyo menelponku?

“Yobuseyo? Lee Seun ah..” Kata Jihyo dari telpon.

“Nae Jihyo-ah.. Waeyo?” Tanyaku.

“Gwencana? Aku sudah mendengar semuanya dari Seojoon Oppa..” mendengar teman baikku berkata dia sudah tau semuanya air mataku mulai mengalir bahkan aku sampai terisak.

“Lee Seun-ah.. Gwencanayo? Aku sekarang sedang perjalanan kesana sekarang, Jiyeon juga..” katanya khawatir. Aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa.. Aku hanya diam dan duduk disamping tempat tidurku sambil menangis.

“Lee Seun ah gwencana? Aku baru datang dan mendengarmu terisak..” kata eomma menghampiriku.

“Gwencanayo..” Jawabku pelan.

“Ada apa? Ceritakanlah padaku..” Kata eomma dengan lembut.

“Anya.. Naneun gwencanayo..” Jawabku pelan.

Setelah itu, aku mendengar bunyi pintu rumah dibunyikan, dan eomma membukakan pintu, Jihyo dan Jiyeon datang, langsung masuk ke kamarku, dan menghampiriku..

“Lee Seun-ah.. Gwencana..?” Tanya Jiyeon perlahan sambil duduk disebelahku dan memelukku.

“Lee Seun-ah..” Jihyo menghampiriku, sementara aku hanya bisa terisak.

“Gwencanayo.. Naeneun gwencana..” Kataku pelan. Padahal aku tau aku tidak baik-baik saja. Padahal aku tau betapa hancurnya aku sekarang ini.

“Lee Seun-ah.. Biarkan kami menginap disini.. Kami akan menemanimu okay?” Tanya Jihyo

“Nae.. Gomawo..” Jawabku.

“Sekarang, tenanglah Lee Seun ah.. Jangan terus-terusan menangis..” Kata Jiyeon.

“Entahlah.. Rasanya setiap kali aku membayangkan peristiwa itu, air mataku keluar dengan sendirinya.. hiks..” kataku sambil mulai terisak. Lalu, aku menceritakan semuanya pada Jihyo dan Jiyeon, setelah mendengar cerita itu mereka hanya bisa diam dan menyemangatiku untuk tidak bersedih. Bagaimana bisa aku tidak sedih? Kalau aku sudah terlanjur seperti ini, sudah terlanjur mencintainya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s