EVERMORE – Chapter 1

evermore

 

Title: The Tough Princess

Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Park Yeon Min  (OC)
  • Hanbin / B.I (Ikon)

Genre : Romance, Angst, Dark

Author’s note: Hai! Vankyu muncul dengan kelanjutan cerita ini. Sudah mulai berkembang jalan ceritanya dan semoga suka 🙂  Warning! Akan banyak adegan ataupun kata-kata yang mungkin tidak cocok untuk dibaca anak dibawah umur, jadi.. be wise!

Jangan lupa untuk mampir ke blog pribadi author ya di kyutiramisu

 

Once again, Cho Kyuhyun belong to God, but this story is belong to me 🙂

EVERMORE

(prolog)

**********************

 

*Previous Chapter*

Yeon Min berjalan sambil terhuyung, efek kemoterapi yang baru diterimanya ternyata masih meracuni tubuhnya. Sepasang mata hitam dokter itu mengikuti setiap langkah pasiennya hingga menghilang di balik pintu. Kyuhyun menarik nafas dalam, lirikannya tertuju kepada puntung rokok yang tadi diinjaknya. Pikiran pria itu berkelana. Sebagai seorang dokter ia terbiasa menganalisis sebuah kasus, terutama kasus anomali yang tidak akan ia temukan lagi di manapun. Dan gadis bernama Park Yeon Min telah menjadi objek anomali yang sangat menarik.

 

************

 

            Sebuah istana digambarkan sebagai latar belakang tempat kehidupan sang putri yang berakhir bahagia bersama pangeran impiannya dalam cerita dongeng, tempat bermain bagi anak-anak mereka, dipenuhi dengan pesta, pelayan yang mengurus segala keperluan rumah, barang-barang perak dan emas, taman yang luas dan indah, serta dipenuhi oleh gelak tawa, kebahagiaan, dan kasih sayang. Park Yeon Min menyunggingkan senyum sinisnya dan mengutuk siapa pun yang mempunyai pikiran seperti itu. Pada kenyataannya rumah besar seperti istana tidak akan dipenuhi oleh kebahagiaan dan cinta kasih, yang ada hanyalah kekosongan dan ruang hampa, baik di dalam dunia nyata maupun di dalam hatinya.

            Gadis itu menjatuhkan tasnya di atas kasur yang telah lama tidak ia gunakan. “Nona Park, ayah anda menyuruh nona untuk tidak keluar dari rumah hingga sembuh benar.” Gadis itu bergidik sejenak saat mendengar kata-kata “ayah” dari bibir pelayan. Atas dasar apa pria itu mengurungnya di penjara ini. Sebelumnya dia tidak pernah menunjukkan kepedulian kepada anak perempuannya, lantas kenapa kali ini dia repot-repot menyuruh gadis itu untuk tidak keluar dari rumah. Melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Park Yeon Min membuat pelayan yang telah mengasuh gadis itu dari kecil tersenyum sedih. Anak itu telah dianggap sebagai anaknya sendiri, tapi kasih sayang yang ia berikan tidak akan pernah bisa menggantikan kesedihan dan sepinya hati Yeon Min karena kedua orang tuanya yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Pelayan tua itu sadar bahwa waktu untuk sendiri yang saat ini  dibutuhkan oleh nona muda di hadapannya. Ia pun berjalan keluar dan menutup pintu kamar berharap esok pagi nona kesayangannya dapat tersenyum lagi semanis dulu.

            Yeon Min membuka matanya perlahan. Kegelapan malam ternyata sudah berganti dengan semburat cahaya yang menyusup dari balik tirai. Pagi hari. Ia tidak tahu harus membenci pagi atau bersyukur karena dapat bernafas dan diberi kesempatan melewati satu malam lagi. Gadis itu memaksakan dirinya sendiri untuk duduk dan merapikan rambutnya yang mencuat ke berbagai arah. “Nona, sarapan sudah siap.” Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruang makan. Sudah ada potongan roti bakar dengan selai stroberi kesukaannya. Gadis itu mengernyitkan keningnya pada gigitan pertama. Setelah tahu bahwa tidak ada lagi rasa mual, efek dari pengobatannya, ia melahap roti tersebut sampai habis.

            “Nona, apa keadaanmu sudah semakin baik?” ucap pelayan tua sambil membuka botol obat-obatan satu persatu. Sejak nona mudanya sakit setahun yang lalu, ia memiliki tugas tambahan untuk mengetahui jam dan jenis obat apa yang dikonsumsi oleh nonanya tersebut. Yeon Min mengangguk singkat dan tanpa suara memasukkan butiran pahit ke mulutnya.

            Ia tidak suka minum obat. Waktu kecil Yeon Min tidak pernah merengek saat sakit. Ia berusaha untuk selalu terlihat sehat supaya tidak dipaksa untuk meminum pil-pil pahit maupun dibawa ke rumah sakit. Bagi seorang gadis kecil, rumah sakit terlihat begitu menyeramkan. Tempat tersebut menciptakan trauma tersendiri saat nenek yang disayanginya harus menghembuskan nafasnya yang terakhir kali di rumah sakit. Dinding putih bersih, ruangan yang dingin, belum lagi suara mesin-mesin yang bekerja untuk membantu seseorang bertahan hidup, Yeon Min begitu membencinya. Tidak pernah terpikir bahwa saat ini dirinya harus bolak-balik masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang sama seperti neneknya dahulu.

            Dengan membawa cokelat panas, Yeon Min melangkahkan kakinya menuju taman bunga pribadinya. Walau terkesan maskulin, gadis ini sangat menyukai bunga matahari. Dulu waktu ia masih begitu polos dan bahagia, bersama dengan neneknya, mereka berdua menanam dan merawat sepetak tanah penuh tanaman bunga matahari. Ia duduk di gazebo sambil menatap sendu tamannya yang berhias warna kuning cerah, warna natural bunga matahari. Suasana hening di tempat ini selalu membawa sensasi yang menenangkan. Gadis itu memang tidak mengizinkan siapa pun untuk merawat tamannya dan menyentuh bunga matahari miliknya. Para pelayan pun hanya bisa mengikuti kata majikannya dan berusaha untuk menjauh dari tempat itu agar tidak dihujami tatapan mematikan dari seorang Park Yeon Min.

            “Aku berhasil membuat taman ini begitu indah. Apa kau menikmatinya dari atas sana, Halmeoni?” Yeon Min menaikkan wajahnya, menatap langit biru yang terbentang luas. Sambil menutup matanya, tanpa ia sadari sebulir air mata jatuh mengalir di pipinya. Bibirnya bergetar saat ia berkata, “Aku takut.”

            Kini sekujur tubuhnya ikut bergetar dan tangannya memeluk kedua kakinya, seperti anak kecil yang ketakutan. “Aku takut sebentar lagi akan menyusulmu ke atas sana. Meninggalkan taman ini. Meninggalkan kehidupan ini. Kematian sangat menakutkan.” Dan gadis yang selama ini berusaha terlihat kuat, untuk pertama kalinya menangis begitu lama.

 

**************

 

“Apa kau bilang?” Teriakan tersebut begitu keras hingga membuat beberapa pelayan di sekitar menatap sumber suara dengan bingung. Dada gadis itu naik turun tidak beraturan, “Coba bilang sekali lagi apa yang appa katakan tadi?”

“Karena kau selalu membuat masalah baik di rumah maupun di rumah sakit, aku memutuskan untuk memberikan pengawasan intensif. Ada seorang dokter yang appa  percayakan untuk mengurusmu selama 24 jam penuh. Ia akan menjagamu dan memastikan kau tidak keluar rumah untuk keluyuran tidak jelas seperti hari-hari sebelumnya.” Suara laki-laki tersebut begitu tegas menyaratkan tidak ada penolakan yang dapat mengubah keputusannya.

Yeon Min begitu marah. Sangat marah. Sejak kapan ayahnya begitu peduli dengan keadaan fisiknya. Ia tidak pernah datang sekali pun ke rumah sakit saat dirinya dirawat. Orang tuanya bahkan tidak pernah ada saat ia berteriak melawan sakitnya proses kemoterapi. Secara tiba-tiba seperti petir di siang yang cerah, ayahnya sesuka hati menyuruh dirinya untuk diawasi selama 24 jam dalam sehari oleh orang asing yang tidak ia kenal. Ayahnya sudah benar-benar gila.

            “Aku tidak peduli apa yang appa katakan. Kau tidak bisa mengurungku di penjara ini dan menyuruh orang yang tidak ku kenal untuk bermain baby sitter denganku,” ujarnya sinis sebelum memutuskan panggilan secara sepihak. Gadis itu menghentakkan kursinya kasar dan memandang tajam kepada seluruh pelayan di sekitarnya.

            Suaranya penuh dengan nada ketegasan. “Jangan ada siapa pun yang berani membukakan pintu untuk orang asing. Jika ada seseorang yang memanggil dirinya dokter, segera usir dari rumah ini sebelum aku yang menendangnya pergi.” Yeon Min melangkahkan kaki menuju kamarnya. Kepalanya mulai berdenyut kembali. Ia harus segera keluar dari rumah itu untuk menghirup udara segar. Yeon Min mencari nama orang yang mungkin bisa menyelamatkannya dari penjara ini.

            “Kim Hanbin, jemput aku malam ini,” ucapnya lalu menutup telepon tersebut sebelum orang di seberangnya menjawab satu kata pun.

 

***************

 

            Dengan sigap gadis itu menuruni tangga dan berlari menuju dapur. Dari kecil ia sudah menguasai setiap lekuk dan bagian rumah besar itu. Bahkan ia tahu jalan dan lorong yang tidak diketahui oleh para pelayan di rumahnya sekalipun. Ia sudah terlalu sering kabur dari rumah dan malam ini menjadi salah satunya. Tadi sore Yeon Min sudah menghubungi salah satu laki-laki yang ia kenal di club beberapa bulan yang lalu. Gadis itu sedikit terengah-engah dan menjatuhkan badannya di belakang semak belukar. Penyakit kankernya sedikit demi sedikit menguras kekuatan fisiknya. Sambil mengatur nafas, ia menatap layar hp yang telah menunjukkan pukul 00.55. Lima menit lagi adalah waktu pergantian jaga pengawal di rumahnya. Dia hanya punya beberapa menit untuk memanjat pagar sebelum pengawal berikutnya datang.

            Setelah menunjukkan tepat jam 1 malam, Yeon Min berdiri dan mengintip para pengawal yang secara berkelompok mulai meninggalkan tempat jaganya. Setelah yakin tidak ada satu pun yang tersisa, ia mulai berlari menuju pagar. Gadis itu menghela nafas dan mengutuk siapa pun yang memasang pagar setinggi lebih dari 3 meter di depan rumahnya. Kaki kirinya dengan mantap mengambil langkah pertama. Dengan pengalaman puluhan kali memanjat pagar membuat hal yang dilakukannya saat ini terasa begitu mudah. Beberapa detik kemudian ia telah berada di bagian paling atas pagar dan bersiap untuk mengganti posisinya. Mata elangnya menatap dengan was-was ke arah rumahnya. Ia harus segera mencapai tanah. Seperti mendengar permohonannya, kaki kanan Yeon Min tidak menggapai pijakannya dengan benar dan gadis itu sukses mendarat di aspal dengan begitu cepat.

            “Aw!” teriaknya sambil berusaha untuk berdiri. Rasa sakit tak tertahankan menimpa bagian belakang tubuhnya yang mencium aspal dari ketinggian yang lumayan.

            “Kau benar-benar gadis yang luar biasa,” sebuah suara rendah berhasil membuat gadis itu dengan cepat membalikkan badannya. Seorang pria berdiri tidak jauh darinya. Setengah bersandar di pintu mobil. Kemeja putih yang digunakannya digulung hingga batas lengan, membuat tangannya yang tersilang di depan dada terlihat jelas.

kyu

Yeon Min menyipitkan matanya untuk menangkap sosok itu lebih jelas di dalam kegelapan. Seperti bisa membaca pikiran, pria itu mengubah posisinya berdiri sempurna dan melangkahkan kaki menuju cahaya.

            “Ini pertemuan kedua kita dan kau benar-benar telah menarik perhatianku,” ucap pria itu dengan nada.. kagum?

            Yeon Min menepis pikirannya dan menatap pria itu. “Siapa kau dan sedang apa berdiri di depan rumahku?” tanyanya dengan nada sedingin es.

            Pria itu menjulurkan tangannya ke arah Yeon Min dengan gestur bersahabat dan senyum di bibirnya yang entah kenapa membuat gadis itu semakin kesal. “Aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Aku ditugaskan untuk menjadi dokter pribadimu. Dan sebenarnya aku cukup kecewa saat kau tidak mengenaliku. Kita pernah mengobrol sebentar di rooftop rumah sakit beberapa hari yang lalu. Kau tidak ingat?”

            Tanpa membalas jabat tangan Kyuhyun, gadis itu menjawab, “Aku terbiasa untuk melupakan hal-hal tidak penting di hidupku. Dan kebetulan sekali kau salah satunya.” Kyuhyun menaruh tangannya di depan dada dan membuat mimik wajah yang menahan sakit.

            “Wah kata-kata yang keluar dari bibirmu apakah selalu menyakitkan seperti ini?” sedetik kemudian wajah pria itu langsung berganti raut, senyum jahilnya kembali hadir menggoda Yeon Min. “Melihat dari pakaianmu dan juga bagaimana kau jatuh dari langit, aku yakin bahwa kau tidak sekedar ingin berjalan di sekitar sini. Aku benar kan?” ucap Kyuhyun sambil melemparkan tatapan menganalisa dari rambut gadis itu sampai ujung kaki.

hm

Jika boleh jujur, hati pemuda itu berdetak lebih cepat saat menyadari balutan tanktop putih dan kemeja kulit hitam, serta celana pendek ketat yang dikenakan gadis itu membentuk badannya dengan begitu pas. Membuat imaji terliar pria mana pun akan terbangun.

            Seperti dihipnotis, mata Yeon Min mengikuti gerak mata Kyuhyun yang memandang pakaiannya. “Ya! Apa yang kau lihat?” ucapnya sedikit berteriak.

            “Aku tidak pernah bertemu pasien yang berdandan sepertimu selama 6 tahun bekerja sebagai seorang dokter. Apa sudah kubilang bahwa kau sangat menarik?” ujar Kyuhyun sambil melemparkan senyum miringnya. “Oh iya! Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau mau kemana?”

            Yeon Min mendecakkan lidahnya dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. “Dengar ya Dokter Cho Kyuhyun. Kemana pun aku pergi bukan urusanmu sama sekali. Kau disewa oleh ayahku, tidak berarti kau bisa mengekangku seenaknya. Kalau aku bilang mau bersenang-senang di club malam ini, apakah kau akan melarangku dan mengurungku di kamar?”

            Kyuhyun semakin melebarkan senyumnya. “Tidak. Aku akan mengantarmu kemana pun kau mau malam ini.”

            Selama satu detik gadis itu merasa pendengarannya terganggu, namun di detik berikutnya ia sadar bahwa mungkin pikiran pria di hadapannya ini yang terganggu. Belum sempat gadis itu menjawab, terdengar suara deru motor yang mendekati keduanya. Yeon Min menengok sekilas dan berbalik menatap dokter di depannya dengan senyum mengejek. “Maaf sekali tapi kurasa tawaranmu tidak berguna.” Tanpa menunggu sepatah kata yang keluar dari bibir Kyuhyun, Yeon Min melangkahkan kakinya menjauh.

            “Noona, siapa pria itu?” tanya Hanbin tanpa melepaskan tatapan membunuhnya ke arah pria yang baru saja berbicara dengan Park Yeon Min. Kyuhyun membalas tatapan pria itu dengan menyeringai. Sepertinya hal ini akan semakin menyenangkan, pikir Kyuhyun dalam hati.

            “Bukan siapa-siapa,” ujar Yeon Min sambil menaiki motor. Sebelum memakai helm, gadis itu kembali menatap Kyuhyun. “Lebih baik kau berhenti datang ke rumahku. Sebelum aku benar-benar menendangmu.”

            Sebuah tawa kecil keluar dari bibir dokter muda itu. “Coba saja. Tapi aku bukan tipe yang mudah menyerah. Aku akan menempel di sisimu seperti permen karet yang lengket. Bersiaplah.” Yeon Min menggelengkan kepalanya dan menyuruh Hanbin untuk menyalakan mesin motornya. Percuma bicara dengan pria gila seperti dia.

            Sebelum motor gadis itu menghilang dari pandangannya, Kyuhyun secepat mungkin kembali mobil dan menyalakan kendaraan kesayangannya. Terlalu dini untuk keluar dari permainan ini. “Kemana pun kau pergi, aku akan ada di sana,” ujarnya sambil menerobos kegelapan malam dan berpacu menuju satu titik terang di depan sana. Tempat gadis itu berada.

-To be continued-

P.S: Annyeong!!! Selesai untuk chapter pertama. Jangan lupa like dan comment di bawah ya supaya author bisa semakin baik lagi ke depannya. Kecup basah dari Kyuhyun dan Hanbin! ❤

2

3

large

 

Advertisements

6 responses to “EVERMORE – Chapter 1

    • Hahahaha sama dong. Dari dulu aku selalu suka baca ff tentang Kyuhyun juga sebelum mulai bikin hehe. Semoga senang ya baca ff lain buatanku yg castnya udah pasti Kyuhyun 🙂

  1. Kereeennnn 😍😍😍 lanjuuuttttt 😚😚😚 kok si upil musuhnya hanbin sih…jelas anak gue kalah 😭 biinnn mami disini sayang 😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s