[Chapter 1] Games of Love

Games of Love

Love plays the games.

by ssyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Other Cast: Lee Gikwang, Park Kyungri, and others || Genre: Romance || Length: Multi-chapter || Rating: Teen (PG-15) || Credit Poster: Poster by #ChocoYeppeo || Disclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2017 by ssyoung.

Chapter 1 — Moving

Prologue

*

Ada sebuah alasan mengapa Son Naeun memilih untuk pindah ke sebuah kamar di dekat kampusnya. Selain harganya yang murah, dekat dengan kampusnya. Dia tidak perlu naik kendaraan lagi untuk pergi ke kampus. Hanya butuh 5 menit jalan kaki dan dia sudah tiba di gedung falkutasnya.

Share-house yang ia tinggali tersebut sebenarnya tidak bisa dibilang kecil karena ada 30 kamar yang tersedia. Gedungnya dibagi menjadi dua, satu untuk perempuan dan yang satu lagi untuk laki-laki. Namun, meskipun terbagi menjadi dua, kedua gedung berlantai 5 itu saling dihubungkan dengan sebuah gedung 3 lantai.

Semua yang tinggal di share-house tersebut pasti kuliah di Universitas Anhyang. Rata-rata dari mereka memilih share-house tersebut karena selain harganya yang murah dan juga dekat dengan Universitas Anhyang. Tidak hanya itu, fasilitasnya pun lengkap dan terletak di dekat jalan besar, jadi para gadis tidak perlu ketakutan saat pulang malam.

Pemilik gedung tersebut adalah seorang wanita berumur 35 tahun.

“Ah, halo, nama saya Son Naeun,” ujar gadis itu memperkenalkan dirinya kepada si pemilik share-house yang sedang sibuk menonton televisi di ruang tengah.

Sejenak Naeun menatap si pemilik share-house itu. Wanita itu tidak tampak seperti orang Korea sekilas. Rambutnya dicat warna cokelat kemerahan, ada kacamata hitam yang bertengger di kepalanya. Pakaian yang dikenakan wanita itu menunjukkan bahwa dia sering berada di rumah.

Pemilik gedung share-house itu menyuapkan makanan ringan ke dalam mulutnya, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya ia tengah menonton sebuah drama televisi, matanya lekat menatap televisi. Adegan demi adegan terus berganti, sampai akhirnya adegan klimaks, dan berganti dengan iklan.

“Ah… Sial, padahal lagi seru,” ujar pemilik gedung itu.

Naeun hanya bisa tersenyum tipis. Pemilik gedung itu menolehkan wajahnya kemudian menatap Naeun dari atas sampai bawah. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menyodorkan makanan ringan yang ada di tangannya kepada Naeun, namun Naeun menolaknya dengan halus.

“Oh, ya, namaku Tiffany Hwang. Umurku 35 tahun,” ujarnya.

Naeun langsung membulatkan matanya saat mendengar nama pemilik gedung tersebut. Ia ingin tertawa karena tidak percaya, namun wanita itu sudah berdiri sebelum ia sempat menyampaikan kata-katanya.

“Kau pasti tidak percaya,” tebak wanita itu. Ia melangkah menuju sebuah rak buku, kemudian mengambil foto yang diletakkan di dalam figura. Ditunjukkannya foto dalam figura itu kepada Naeun. “Ayahku orang Amerika dan ibuku orang Korea. Aku pernah tinggal di California selama 15 tahun.”

“Ah… Ne,” sahut Naeun sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ragu.

“Oh, ya, kau mau bayar di awal bulan atau di akhir bulan?”

“Awal bulan saja. . .”

Naeun terdiam sejenak, bingung ingin memanggil wanita itu dengan panggilan apa, sebab umurnya pun tidak jauh dari umurnya. Jika dia memanggilnya ‘kakak’ bukankah tidak sopan di pertemuan pertama mereka? Namun, jika dia memanggilnya ‘bibi’ pun juga terlalu tua untuk wanita itu.

Tiffany tertawa pelan. “Panggil saja aku ‘unnie’. Semua gadis di sini memanggilku seperti itu. Termasuk laki-laki yang juga memanggilku dengan ‘nuna’. Tidak perlu sungkan-sungkan. Kalau kau butuh apa-apa, kau bisa langsung ke kamarku.”

Wanita itu menunjuk sebuah pintu kamar yang tidak jauh dari tempat ia berdiri. Naeun mengikuti arah telunjuk wanita itu kemudian menganggukkan kepalanya ringan. Dia memperhatikan pintu kamar berwarna putih itu, hanya ada sebuah gantungan kecil bertuliskan ‘Tidak ada orang’.

“Kau juga bisa menghubungi ponselku,” lanjut wanita itu. “Aku selalu—”

“Sampai kapan kau akan terus berceloteh, Noona?”

Sebuah suara berat memotong pembicaraan tersebut. Naeun menoleh ke arah tangga besar yang memisahkan gedung wanita dan gedung pria. Tangga besar itu tampak megah dan besar, berwarna coklat, dengan pegangan berwarna hitam.

Seorang pemuda turun dari tangga tersebut menuju ke arah mereka, kemudian menundukkan kepalanya ke arah Naeun. Cepat-cepat Naeun pun ikut menundukkan kepalannya. Pemuda itu tersenyum tipis.

“Aku akan mengantarkanmu ke kamarmu,” tawar pemuda itu.

Mendengar itu, Naeun terkejut. Tiffany yang menyadari ekspresi gadis itu langsung menepuk bahu Naeun. “Tidak apa-apa. Dia juga salah satu pemilik kamar di sini. Bisa dibilang dia lah yang sering membantuku. Kalau aku tidak ada, kau bisa minta bantuan juga kepadanya.”

Naeun pun menganggukkan kepalanya mengerti. Tiffany melirik pemuda itu. “Antar dia ke kamarnya, ya. Lalu, jelaskan peraturan dan segala macam,” ujar Tiffany, lalu memberikan sebuah kunci kepada Naeun.

Pemuda itu hanya mengangguk tanpa bersuara. Dari yang Naeun lihat, ia menebak bahwa pemuda itu adalah orang yang pendiam dan juga penurut. Dia juga sopan. Menyadari bahwa ia terlalu lama melirik pemuda itu, Naeun cepat-cepat mengalihkan pandangannya.

Saat iklan selesai, Tiffany kembali ke sofanya dengan semangat, melanjutkan tontonannya. Sementara itu, pemuda tersebut mengambil koper Naeun kemudian menariknya menuju tangga.

“Ah, tidak perlu,” tolak Naeun dengan halus sambil menghampiri pemuda itu.

Pemuda itu menolehkan kepalanya ke belakang. “Tidak apa-apa,” katanya sambil tersenyum tipis. Meskipun ia tidak senyum sepenuhnya, matanya langsung hilang karena senyuman tersebut. Pemuda itu melanjutkan, “tidak berat sama sekali.”

Naeun pun menundukkan kepalanya berterima kasih kepada pemuda itu. Pemuda itu melangkah menuju lantai 3 gedung. Mereka berjalan menuju kamar bertuliskan angka 7 yang merupakan kamar paling dekat dengan tangga.

Cepat-cepat, Naeun membuka pintu kamarnya dengan kunci yang dia terima dari Tiffany. Pemuda itu membawa masuk koper Naeun, kemudian melangkah keluar lagi dari kamarnya. Naeun memperhatikan isi kamarnya yang bersih dan rapi.

Ada tempat tidur, meja belajar, dan lemari pakaian. Semuanya sudah disusun rapi. Dia hanya perlu meletakkan barang-barangnya saja. Dia tidak menyangka wanita itu akan memberikan harga yang murah untuk kamar sebagus ini, menurutnya.

Naeun membalikkan tubuhnya menatap pemuda itu bingung. Kenapa pemuda itu langsung keluar setelah membawakan kopernya? Bukankah dia seharusnya menjelaskan peraturan dan segala macam kepada dirinya?

“Ah, aku bisa menjelaskannya dari sini,” kata pemuda itu seperti membaca pikiran Naeun. Mendengar itu, Naeun langsung tersenyum tipis, kemudian menggosok tengkuk lehernya gugup. “Namaku Lee Gikwang,” lanjut pemuda itu sambil menyodorkan tangannya.

Tangan Naeun segera menyambut sodoran tangan pemuda itu. “Son Naeun.”

Pemuda itu mengangguk kemudian mereka melepaskan jabatan tangan tersebut. Gikwang menyenderkan tubuhnya di daun pintu kamar Naeun. “Aku 23 tahun. Jurusan Bisnis. Tugasku di sini hanya membantu Tiffany noona untuk hal-hal kecil. Jadi, untuk masalah besar, kau bisa langsung minta padanya.”

Lagi-lagi Naeun hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Peraturannya sama seperti di share-house lainnya. Laki-laki tidak boleh masuk ke kamar perempuan dan begitupun sebaliknya. Hanya diizinkan jika ada tiga orang atau lebih di dalam sebuah kamar entah itu 2 perempuan dan 1 laki-laki atau 2 laki-laki dan 1 perempuan. Ada CCTV yang terpasang di setiap lorong dan aku yang menjaganya. Setiap lantai ada satu kamar mandi dan ada 3 shower di dalamnya. Jadi kalian tidak perlu berebut untuk masuk kamar madni,” jelas Gikwang. “Ada pertanyaan?”

Naeun menggelengkan kepalanya.

Gikwang tersenyum. “Bagus. Seperti yang kau lihat, sebenarnya dua gedung ini tidak terpisah, karena hanya dipisahkan oleh sebuah gedung. Di lantai satu ada ruang tengah untuk menonton televisi, lantai dua ada dapur, dan di lantai 3 ini ada ruang baca. Tiffany noona sengaja menyediakannya sebagai perpustakaan. Kau bisa belajar di sana. Bukunya lengkap dan ingat jangan mencuri bukunya karena ada Jessica noona yang juga tinggal di sini dan bekerja sebagai pustakawan. Dia sahabat Tiffany noona. Itu saja. Ada yang ingin kau tanyakan?”

“Tidak,” jawab Naeun pelan. “Terima kasih sudah menjelaskannya padaku.”

“Bukan masalah,” kata Gikwang, lalu ia menjentikkan tangannya ketika teringat sesuatu yang lupa ia sampaikan kepada Naeun. “Sebenarnya di sini kami selalu sarapan dan makan malam bersama karena Tiffany dan Jessica noona yang memasak. Kita di sini hanya perlu mengumpulkan uang untuk membeli bahan makanan. Kau bisa memberikan uang kepada Gayoon di kamar 2 dan Hyuna di kamar 3.”

“Lalu makan siangnya?”

“Kita semua jarang ada di share-house kalau siang. Kau tahu sendiri, semua pasti masih kuliah atau mungkin ada yang kerja part-time,” kata Gikwang. “Intinya Tiffany noona dan Jessica noona akan memasak sesuai dengan jumlah anak-anak di sini. Lalu, jika kau tidak ada saat makan malam atau sarapan, mereka akan menyimpan jatahmu di lemari/kulkas, dan akan ditempeli label namamu.”

Naeun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah, kalau begitu. Terima kasih banyak,” kata Naeun sambil tersenyum.

Gikwang membalas senyumannya sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian, pemuda itu malangkah pergi meninggalkan kamar Naeun. Naeun menghela napasnya lega, ternyata dia memilih tempat tinggal yang pas untuknya.

 

*

 

2 tahun kemudian. . .

Kim Myungsoo merapikan pakaiannya ke dalam koper dengan perasaan yang berkobar-kobar. Hatinya terasa panas, walaupun sebenarnya pipinya lah yang lebih terasa panas karena tamparan ayahnya beberapa saat yang lalu.

Tidak pernah sekalipun dia membantah perkataan ayahnya selama 24 tahun ini. Dia selalu menurut dan menurut terus kepada ayahnya. Bahkan, ia harus menyerah untuk menjadi fotografer karena permintaan ayahnya untuk kuliah di Jurusan Bisnis. Tidak ada kesempatan baginya untuk menjadi fotografer.

Sekretaris pribadi ayahnya bahkan mengeceknya setiap saat, memastikan bahwa ia kuliah di Jurusan Bisnis. Tidak hanya itu, Sekretaris Park itu mengikutinya kemana saja ia pergi, bahkan ketika dia sedang berkumpul bertemu dengan teman-temannya. Rasanya dia sangat muak.

Hari ini, dia memutuskan untuk membangkang ayahnya. Menolak permintaan ayahnya untuk menikahi gadis yang bahkan dia tidak tahu namanya, tidak tahu wajahnya, tidak dia kenal sama sekali. Bagaimana bisa dia menikahi seorang gadis hanya karena permintaan ayahnya agar perusahaan mereka semakin berkembang?

Pintu kamar diketuk dari luar, seorang wanita membuka pintu kamarnya, dan melangkah dengan perlahan ke dalam kamar itu. Ia menatap anaknya yang sudah mengepak pakaiannya ke dalam koper.

“Myungsoo-ya. . .”

“Maaf, Eomeoni,” ujar Myungsoo kepada ibunya sambil menoleh sebentar. “Saya sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah ini. Saya tidak bisa menikahi gadis yang bahkan tidak saya kenal. Apalagi pernikahan ini hanya untuk menguntungkan perusahaan Abeoji dan perusahaan gadis itu.”

“Myungsoo-ya. . .” Ibunya menahan tangan putranya. “Eomma tidak bisa hidup sendirian di sini. Kakakmu pergi dan sekarang kau juga pergi. Lalu untuk apa eomma hidup?”

Myungsoo berhenti mengepak pakaiannya, kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah ibunya. Ia melepaskan tangan ibunya yang menggenggam tangannya dengan perlahan, dan menatap ibunya dalam-dalam.

“Maafkan saya, Eomeoni,” kata pemuda itu pelan. Ia berlutut pada ibunya. “Selama ini saya selalu menuruti perkataan Abeoji, meskipun itu bukan keinginan saya. Saat Abeoji meminta saya untuk daftar di Jurusan Bisnis, saya merasa kesal karena itu bukanlah keinginan saya. Saya ingin masuk Jurusan Film, sejujurnya. Masa depan saya sudah ditentukan oleh Abeoji, apakah sekarang pernikahan juga harus ditentukan oleh Abeoji?”

Ibunya terdiam panjang. Wanita itu menatap putranya dengan perasaan yang sedih. Dia tidak tahu ternyata melahirkan dua anak laki-laki justru membuatnya merasa kesepian. Ditatapnya putranya yang berdiri, kemudian memasukkan barang-barang terakhir ke dalam kopernya, dan menutup kopernya rapat-rapat.

Eomeoni, bisa bantu saya untuk terakhir kalinya?”

Mata ibunya membulat. “Tentu saja, Myungsoo.” Ia menganggukkan kepalanya dengan cepat, matanya bahkan berbinar-binar. “Aku akan membantumu sebisanya. Apa yang mau kau minta?”

“Sekretaris Abeoji pasti disuruh untuk mencari saya, jadi saya harus cepat pergi dari sini,” kata Myungsoo pelan. “Saya akan kirimi Eomeoni alamat rumah saya, lalu kirim barang-barang saya ke alamat tersebut. Tolong, ya, Eomeoni.”

“Tentu saja, Myungsoo,” kata ibunya senang. “Jaga dirimu baik-baik.”

Eomeoni juga jaga kesehatan,” balas Myungsoo. “Jangan lupa minum obat.”

Myungsoo menurunkan koper tersebut dari tempat tidurnya, kemudian melangkah keluar dari kamarnya setelah membungkuk kepada ibunya. Ia pun menuruni tangga, lalu melirik ke arah ruang kerja ayahnya yang tertutup rapat.

Ia pun segera pergi meninggalkan rumahnya sambil menarik kopernya dan menyetop sebuah taksi. Dia sendiri sebenarnya tidak tahu harus pergi kemana, namun dia meminta si sopir taksi untuk berhenti di pusat perbelanjaan Distrik Apgujeong.

Matanya bergerak cepat mencari ATM. Dia harus cepat mengambil uangnya sebelum ayahnya memblokir ATM-nya. Di saat-saat seperti ini, dia harus berpikir cepat dan mengambil langkah dengan segera, kalau tidak ayahnya akan memblokir segalanya dan dia tidak akan bisa melakukan apapun.

Ia memasuki sebuah ATM, kemudian mengecek kartunya. Ia menghembuskan napas lega saat melihat bahwa kartunya masih berfungsi. Ia segera mengambil sekitar 1 juta won, kemudian memasukkannya ke dalam tas kecilnya, dan segera pergi masuk ke sebuah restoran kecil yang ramai.

Imo!—Bibi! Saya pesan satu porsi daging dan segelas air.”

Ne!

Dihidupkannya ponselnya. Ia mengecek apakah ada kabar penting, namun tidak ada apa-apa. Sebuah porsi daging datang sebelum ia sempat mengecek tempat tinggal di sekitar sini. Sambil makan, dia mengecek sekelilingnya, di sampingnya ada sepasang kekasih yang tengah asik berbicara.

“Kau akan terus-terusan menggunakan banmal padaku, huh?”

“Aku sudah bilang kalau hari ini kau harus melakukan yaja time* denganku.”

*yaja-time: sebuah permainan dimana semua orang harus berbicara dalam bahasa informal, tidak mengenal umur, posisi, dan jabatan.

Tanpa sadar Myungsoo menguping pembicaraan dua orang yang duduk di sampingnya itu. Ia melirik mereka, mereka tampak seumuran dengannya jika tebakannya tidak salah. Yang gadis duduk sebaris dengannya dan yang pemuda duduk di seberang gadis itu. Mereka berdua juga memesan daging dan dua gelas air.

Baru beberapa menit ia menikmati makanannya, tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang ia kenali. Benar saja, pemilik suara itu adalah Ketua Tim Keamanan yang dikirim ayahnya. Pria itu ke sini pasti untuk mencari Myungsoo. Meskipun ayahnya terlihat mengizinkannya untuk pergi, namun diam-diam pasti dia sudah merencanakan sesuatu.

Apalagi, dia baru saja mengambil 1 juta won di rekeningnya. Myungsoo hanya bisa menundukkan kepalanya, lalu cepat-cepat menghabiskan makanannya. Baru saja, ia ingin menarik kopernya dan mengeluarkan uang, tiba-tiba sebuah teriakan itu mengharuskannya pergi dari situ sekarang juga.

“Di situ! Cepat!”

“Tuan muda!!”

Myungsoo langsung mengumpat saat melihat kawanan pria berjas hitam berbondong-bondong lari ke arahnya. Tanpa sempat membayar makanan yang dimakannya, dia sudah lari membawa kopernya kabur dari gerombolan pria itu. Sementara itu, si pemilik restoran berteriak-teriak memanggilnya untuk membayar.

Orang-orang sibuk memperhatikan keramaian tersebut. Aksi kejar-kejaran Myungsoo dengan para pria berjas hitam menjadi tontonan yang asik. Myungsoo hanya bisa mendesah berat sambil kebingungan mencari jalan keluar. Ia langsung menghentikan sebuah taksi dan mengunci pintu taksinya sebelum para pria itu berhasil menghentikannya.

Gisa-nim*—Pak, tolong jalan sekarang!”

*gisa-nim: penyebutan untuk seorang supir, baik supir taksi, supir bus, dan lainnya.

Ye—Iya,” jawab si supir taksi tersebut sambil menganggukkan kepalanya. Ia melirik kaca spion tengahnya, memperhatikan Myungsoo yang mengatur napasnya dengan kesulitan. Diturunkan tangannya ke bawah, kemudian memberikan sebuah botol. “Minum dulu. Sepertinya Anda sedang dikejar-kejar penagih hutang.”

“Ah, terima kasih banyak, Pak,” kata Myungsoo sambil menerima botol air tersebut. Ia segera menegak beberapa untuk menghapus rasa hausnya. Ia segera mengembalikan botol tersebut kepada supir taksi itu. “Bukan, saya dikejar oleh orang-orang suruhan ayah saya.”

Supir taksi itu hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. “Ngomong-ngomong, Anda mau kemana? Saya belum pasang tujuannya karena tadi Anda langsung minta saya untuk jalan.”

Myungsoo terdiam sejenak. “Ah, apa Anda tahu tempat tinggal murah di sekitar Universitas Anhyang?” tanyanya. “Seperti asrama atau share-house. Saya sedang mencari tempat tinggal, tapi karena buru-buru saya belum sempat mencarinya di internet.”

“Saya tahu satu tempat yang murah, dekat sekali dengan Universitas Anhyang,” kata supir taksi itu sambil memasukkan tujuannya ke dalam GPS mobilnya. “Saya antar ke sana karena banyak mahasiswa yang tinggal di sana dan saya sering mengantar mereka pulang ke sana kalau bertemu dengan salah satu.”

“Ah, ya, terima kasih banyak,” kata Myungsoo.

 

*

 

Lee Gikwang melirik gadis yang berjalan bersama di sampingnya. Gadis itu memakan es krimnya dengan serius tanpa berceloteh sedikit pun, padahal biasanya gadis itu selalu berceloteh ini dan itu kepadanya jika sedang melakukan sesuatu.

Ya, bersihkan mulutmu itu,” cibir Gikwang pada gadis itu.

Gadis itu berhenti melangkah, membuat Gikwang pun juga ikut menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan gadis itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecilnya. Gadis itu membalikkan ponselnya dan menggunakan bagian belakangnya sebagai cermin, mengecek penampilannya.

“Tidak ada apa-apa,” kata gadis itu, lalu memasukkan lagi ponselnya. “Jangan bohong!”

“Siapa yang bohong?” tanya Gikwang kesal.

Tangan pemuda itu bergerak menuju bibir gadis itu, kemudian membersihkan es krim yang tertinggal di bibir gadis itu. Setelah itu, ia mendorong kening gadis itu menggunakan telunjuknya sambil mendesis pelan.

“Kau ini selalu tidak percaya kepadaku, Naeun,” ujar Gikwang sebal.

“Soalnya kau sering berbohong,” jawab Naeun balik.

Gikwang hanya bisa tertawa mendengar jawaban Naeun. Dia dan Naeun memang tidak pernah akur. Meskipun sudah 2 tahun mengenal, Naeun tidak pernah bersikap sopan padanya, padahal dia 3 tahun lebih tua daripada Naeun. Naeun selalu saja menjawabnya balik dan ingin menang darinya.

Orang-orang kampus hanya bisa menggelengkan kepala mereka jika melihat mereka bertengkar. Tidak hanya itu, bahkan pemilik share-house tempat mereka tinggal pun hanya bisa mendecak kesal jika mereka mulai bertengkar. Para penyewa kamar yang lain juga hanya menggeleng dan memilih untuk tidak ikut campur.

Meskipun mereka sering bertengkar, mereka juga sangat dekat, sampai-sampai semua orang bertanya apakah mereka memang benar-benar berteman atau tidak. Kemana pun pergi, mereka selalu bersama. Meskipun jurusan mereka bertolak belakang, saat berangkat dan pulang kampus mereka selalu bersama.

“Apa kau tidak apa-apa bolos sehari ini?” tanya Gikwang.

“Tidak apa-apa,” kata Naeun datar. “Aku sudah bilang dengan Sajang-nim—Bos—dan dia setuju karena aku sudah bekerja keras selama ini. Kau tidak perlu khawatir. Bagaimana bisa aku tidak merayakan ulang tahunmu?”

Ya!” Gikwang menyentil kening Naeun pelan dan Naeun hanya bisa meringis sambil menggosok keningnya kesal. “Sajang-nim-mu itu bukan hanya ada satu tapi ada tiga. Bagaimana bisa mereka bertiga setuju untuk memberikanmu sehari bolos?”

“Kau tidak percaya padaku, ya?!” tanya Naeun kesal.

“Tidak,” jawab Gikwang. “Kau mau terus-terusan menggunakan banmal—informal—padaku ya?! Panggil aku ‘Oppa’ atau setidaknya ‘Sunbae’. Aku ini 3 tahun lebih tua daripada dirimu, Son Naeun.”

Mwoya—Apa-apaan kau ini?” Naeun mengangkat alisnya. “Biasanya kau tidak protes jika aku menggunakan banmal padamu. Jangan karena kau ulang tahun, kau jadi banyak gaya hari ini. Justru karena kau ulang tahun hari ini, kau harus melakukan yaja time* denganku hari ini.”

Gikwang memukul kepala gadis itu pelan, membuat gadis itu meringis lalu menggosok kepalanya. “Wah, benar-benar, ya. Tidak bisa ya sehari saja kau bersikap sopan padaku? Kalau orang lain aku sudah memukulnya benar-benar,” kata Gikwang.

Naeun menoleh padanya. “Meskipun itu gadis?”

Mendengar itu Gikwang terdiam sejenak. “Tidak. Hanya kau saja pengecualian.”

Arasseo-yo,” kata Naeun sambil menekankan kata ‘yo’ di akhir kalimatnya.

“Kau terdengar tidak ikhlas, hentikan saja,” kata Gikwang sambil merangkul gadis itu.

Naeun meliriknya tajam, lalu menarik tangan Gikwang yang merangkulnya. Ia melingkarkan tangan kirinya di pinggang Gikwang, kemudian menunjuk sebuah tempat makan bertenda yang tengah ramai dengan tangan kanannya.

“Kita makan di sana saja, biar aku yang bayar karena kau ulang tahun hari ini.”

“Baiklah, Agassi—Nona.”

Mereka masuk ke dalam tempat makan bertenda itu, kemudian duduk di salah satu meja di dekat kasir. Mereka memesan dua porsi daging dan minuman. Awalnya Naeun mengajak Gikwang untuk minum, tapi Gikwang menolak karena ini masih pagi hari, dan dia tidak mau repot-repot membawa gadis itu jika gadis itu mabuk.

“Kau akan terus-terusan menggunakan banmal padaku, huh?” tanya Gikwang.

“Aku sudah bilang kalau hari ini kau harus melakukan yaja time* denganku.”

Meskipun Gikwang yang ulang tahun hari ini, justru dia lah yang sibuk menggunting daging dan membakarnya, sementara Naeun asik menyuapkan daging yang sudah matang ke dalam mulutnya. Memperhatikan itu, Gikwang hanya bisa tersenyum dalam hatinya.

“Bukannya aku yang ulang tahun hari ini, ya?”

Gikwang masih sibuk menggunting daging dan meletakkan daging-daging itu ke atas pemanggang. Wangi daging langsung menyeruak ketika merkea terbakar, membuat siapapun yang mencium itu pasti langsung kelaparan.

“Iya, benar,” kata Naeun sambil megnanggukkan kepalanya. “Lalu?”

“Lalu, kenapa aku yang menggunting dan membakar dagingnya?”

“Memangnya harus aku yang melakukannya?”

Mendengar itu rasanya Gikwang ingin memaki Naeun, tetapi dia hanya bisa tersenyum lalu tertawa tak ikhlas. Ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian melanjutkan tugasnya menggunting dan membakar daging.

Tiba-tiba terdengar keributan dari arah jauh, sementara itu pemuda yang duduk di meja di samping mereka langsung berdiri tanpa membayar, dan lari meninggalkan restoran tersebut. Naeun memperhatikan segerombol pria berjas hitam yang mengejar pemuda itu dan mendengarkan si pemilik restoran yang sibuk berteriak-teriak.

Mwoya—Apa-apaan?” tanya Naeun.

“Biarkan saja,” kata Gikwang santai. “Pemuda itu pasti dikejar penagih hutang.”

“Bagaimana bisa kau tahu?”

Gikwang mengangkat bahunya. “Perasaan saja.”

Sementara itu, si pemilik restoran masih kesal melihat kepergian pemuda itu yang sudah hilang entah kemana. Ia duduk di kursinya sambil menghitung sesuatu di mesin kasnya, lalu memijit keningnya. “Auh! Benar-benar! Bagaimana bisa langsung lari tanpa membayar!”

Imo!” panggil Naeun kepada si pemilik restoran.

“Apa?!”

“Biar aku saja yang bayar makanan pemuda tadi,” kata Naeun.

Gikwang langsung membulatkan matanya. “Ya! Jangan melakukan yang tidak-tidak. Kau tidak tahu berapa yang dipesan pemuda itu dan itu akan mengurangi tabunganmu. Biar aku saja yang bayar.”

“Diamlah, Oppa.” Naeun meliriknya tajam. “Biar aku saja yang bayar. Aku yakin suatu hari jika bertemu dengannya, aku akan menagihnya.”

“Gadis ini benar-benar. . .”

 

*

 

Agassi—Nona, Anda dipanggil oleh Hwijang-nim—CEO—ke ruangannya.”

“Aku tidak mau!” jawab gadis itu kesal.

Gadis yang bernama Park Kyungri itu membalik halaman majalah fashion yang ada di hadapannya dengan cepat. Bibirnya mengerucut dengan kesal, bukan karena permintaan sekretaris ayahnya ini, namun karena dia memang sedang kesal dengan ayahnya.

Agassi, tolong.”

Ya!” Kyungri membanting majalahnya ke atas tempat tidurnya, di samping dirinya. “Aku tidak peduli jika ayah harus memukulku, tetapi bilang padanya bahwa aku tidak mau pergi dan tinggal di gedung jelek itu. Aku tidak mau!”

“Baiklah, Agassi, akan saya sampaikan.”

Setelah itu, sekretaris ayahnya yang bernama Kevin Kim itu hanya bisa pergi meninggalkan kamar gadis itu dengan perasaan bersalah. Sebenarnya pemuda itu juga tidak mau terlibat di antara hubungan keluarga yang tidak baik itu, terutama gadis tersebut selalu memarah-marahinya, menjadikannya pelampiasan karena kekesalan gadis itu kepada ayahnya.

Pemuda berumur 28 tahun itu melangkah menuju ruang kerja ayah dari gadis itu, yang merupakan CEO di sebuah perusahaan televisi swasta Korea. Sekretaris itu mengetuk pintu ruangan pria itu dengan perlahan.

Hwijang-nim,” panggil pemuda itu, lalu menegup ludahnya.

“Masuk.”

Ia membuka pintu ruangan tersebut, lalu melangkah masuk ke dalam dengan perlahan. Sebenarnya, dia juga ketakutan saat melihat kursi pria itu justru menghadap ke arah jendela, bukannya ke arah dirinya. Perlahan, kursi itu berputar,  kemudian menghadapnya.

“Apa katanya?” tanya pria itu sambil menyesap kopinya.

Agassi bilang dia tidak peduli jika Anda memukulnya, dia mengatakan padaku bahwa dia tidak mau pergi dan tinggal di gedung jelek itu,” kata Sekretaris Kim pelan, mencoba mengecek ekspresi atasannya. “Itu kata Agassi.”

“Pergi dan katakan padanya kalau aku tidak akan membiayakannya sekolah fashion jika dia tidak mau melakukannya,” kata pria itu. Ia meletakkan kopinya, kemudian menatap sekretarisnya. “Kau… Sudahlah, nanti saja.”

Ye, Hwijang-nim,” jawab pemuda itu.

Setelah itu, pemuda itu keluar lagi dari ruangan tersebut sambil menghela napas lega. Meskipun sudah bekerja selama 3 tahun, dia tetap masih takut jika harus menjadi perantara di antara atasannya dan putrinya itu. Terutama, selama 3 tahun ini, dia sudah melihat betapa menyeramkannya jika mereka sudah adu mulut.

Dia hanya bisa mendengarkan atau menjadi perantara jika mereka sedang bertengkar. Seperti saat ini, dia harus bolak-balik dari lantai pertama ke lantai 2 dimana kamar gadis itu terletak. Dia mengetuk pintu kamar gadis itu dan masuk.

Hwijang-nim bilang bahwa beliau tidak akan membiayakan sekolah fashion Agassi jika tidak mau tinggal di sana,” kata Sekretaris Kim, membuat Kyungri terdiam sejenak. “Sebaiknya Agassi menemui Hwijang-nim dan berbicara padanya. Kalau saja Agassi setuju dari awal, beliau tidak akan membuat ancaman seperti ini.”

Ya, dakcheo*—tutup mulutmu,” ujar gadis itu kesal.

*Kyungri menggunakan kata-kata informal

Pemuda itu langsung menutup mulutnya rapat. Tubuhnya langsung merinding saat mendengar perkataan gadis itu, begitu dingin dan tajam. Terutama tatapan gadis itu seperti membuat semua orang tanpa disuruh pun akan langsung menutup mulut mereka. Ia memperhatikan Kyungri yang turun dari tempat tidurnya.

Kyungri turun merapikan rambutnya, kemudian mengambil ponselnya, dan melangkah keluar dari kamarnya. Gadis itu sempat menoleh ke belakang, menatap sekretaris ayahnya itu dengan tajam lagi.

“Keluar dan ikuti aku,” titah gadis itu.

“Baik, Nona.”

Mereka melangkah menuju ruang kerja CEO Park. Kyungri masuk duluan tanpa mengetuk pintu, membuat Kevin lagi-lagi harus mengeluh karena dia tahu pasti atasannya itu akan marah besar.

“Kau tidak tahu sopan santun, ya?” tanya ayahnya.

Appa mau mengancamku?” tanya balik Kyungri kesal mengabaikan ayahnya.

Pria itu menyesap kopinya dengan santai. Justru itu yang membuat Kevin tidak bisa tenang, jika pria itu terlihat tenang dan santai, maka pasti akan ada sejuta rencana yang dipikirkan oleh pria itu untuk membalas perkataan putrinya.

Diletakkannya cangkir kopinya, lalu menatap putrinya. Ia meletakkan kedua tangannya pada senderan tangan kursinya, mempertemukan ujung-ujung jarinya dengan perlahan. Ia tersenyum tipis, menarik napasnya dalam, lalu berkata, “Aku tidak mengancammu, aku memberikanmu pilihan. Kau pilih, tinggal di sana dan aku akan mengizinkanmu untuk sekolah fashion atau kau tidak tinggal dan ucapkan selamat tinggal pada impianmu.”

Tangan Kyungri langsung mengepal, giginya bergemeltuk. Jantungnya berpacu tanpa henti, kepalanya terasa panas, menahan rasa amarah. Selama ini, dia selalu berani melawan perkataan ayahnya tanpa takut akan kehilangan apapun. Namun, sekarang dia punya mimpi yang sudah ia tekuni sejak 2 tahun yang lalu secara diam-diam dan sekarang ayahnya mengancamnya dengan menggunakan mimpi itu sendiri.

Perlahan, genggaman tangan Kyungri mulai melemas, ia menarik napasnya dalam-dalam, mengatur emosinya. Tubuhnya ia tegakkan, lalu sebisa mungkin ia memberikan senyum-iklan-pasta-giginya pada ayahnya. “Arasseo, aku akan tinggal di sana,” katanya.

Pria itu tersenyum dengan penuh kemenangan. “Kau boleh keluar, Kyungri.”

Kyungri hanya bisa mengangguk lemas, lalu melangkah keluar dari sana. Meninggalkan ruangan tersebut tanpa membantah lagi. Untuk pertama kalinya dia tidak membantah ayahnya. Sementara itu, pria paruh baya tersebut menoleh pada Sekretaris Kim.

“Sekretaris Kim.”

Sekretaris Kim tersadar dari lamunannya. “Ya, Hwijang-nim?”

Pria bernama Park Jungsoo itu berdeham pelan. “Kau ikut dengan Kyungri, tinggal di share-house itu juga. Aku sudah memesan sebuah kamar juga untukmu. Gajimu akan tetap sama karena kau bekerja untukku. Laporkan segalanya untukku dan ikuti dia kemana pun.”

Kevin tampak terkejut sesaat, namun dia hanya menganggukkan kepalanya.

.

.

.

To be Continued

September 7, 2017 — 04:00 p.m.


 

a.n: Akhirnya, chapter pertama telah published. Terima kasih untuk likes dari prologue-nya. Saya berharap komentar kalian juga, berupa kritik saran maupun yang lainnya. Yang terakhir, keep reading semuanya! ❤

-ssyoung

Advertisements

One response to “[Chapter 1] Games of Love

  1. Pingback: [Chapter 2] Games of Love | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s