[Chapter 2] Games of Love

Games of Love

Love plays the games.

by ssyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Other Cast: Lee Gikwang, Park Kyungri, and others || Genre: Romance || Length: Multi-chapter || Rating: Teen (PG-15) || Credit Poster: Poster by #ChocoYeppeo || Disclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2017 by ssyoung.

Chapter 2 — First Meeting

Prologue | 1

*

Appa yang menyuruhmu?”

“Ah- iya, Nona,” jawab Sekretaris Kim pelan sambil menganggukkan kepalanya. “Bagaimanapun saya tidak bisa menolak permintaan Hwijang-nim. Lagipula, ini demi keselamatan Nona sendiri. Saya bertanggung jawab untuk semuanya. Saya tidak—”

Geumanhae—Hentikan, aku muak mendengar perkataanmu yang panjang lebar tanpa titik dan koma itu,” kata Kyungri kesal sambil memijit pelipisnya. Ia menatap Sekretaris Kim dengan tatapan tajam, dari atas sampai bawah, membuat pemuda itu ketakutan, padahal pemuda itu 5 tahun lebih tua darinya.

Kyungri menyilangkan tangannya di depan dadanya. “Dengar, kau adalah salah satu sekretaris ayahku yang paling lama berkerja—maksudku bertahan. Kau bisa mencapai 3 tahun adalah sebuah prestasi, sekretaris-sekretaris ayahku sebelumnya selalu meminta berhenti paling lama 1 tahun atau 1 tahun setengah. Kau tahu alasan mereka berhenti secepat itu?”

Kevin menggelengkan kepalanya pelan. Kyungri pun meresponnya dengan sebuah tawa meremehkan. “Tentu saja kau tidak tahu karena kau tidak begitu pintar. Mereka berhenti karena aku. Padahal aku mengajak mereka hanya untuk menemaniku belanja. Tetapi, tampaknya mereka tidak suka dengan kegiatanku. Mereka berhenti dengan alasan kelelahan. Sekarang, aku ingin kau yang berhenti dengan alasan itu juga.”

“Tapi, saya tidak berniat berhenti, Nona,” kata Kevin sambil memberikan ekspresi tak bersalahnya. Beberapa saat kemudian dia menyadari bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya dia katakan, ekspresi Kyungri menjadi sangat kesal.

“Tidak ada gunanya berbicara denganmu,” ujar Kyungri sambil menghela napas berat. Ia mendorong kopernya pada Kevin. “Masukkan itu ke dalam bagasi mobil, lalu kita berangkat. Secepatnya. Aku tidak mau lama-lama berbicara denganmu, membuatku muak.”

Lagi-lagi Kevin hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, kemudian mengambil koper Kyungri dan memasukkannya ke dalam bagasi. Gadis itu membawa 2 koper dan barang-barang kecil lainnya. Sementara, Kevin hanya butuh 1 koper karena baju yang dibutuhkannya hanyalah jas dengan warna yang berbeda.

Kevin hanya bisa menghela napas pelan, membayangkan apa yang akan terjadi mulai hari ini. Kehidupannya pasti akan menjadi lebih sulit daripada sebelumnya. Dia tidak tahu bahwa perkerjaan sekretaris adalah pekerjaan yang lebih sulit daripada seorang detektif atau bahkan mata-mata internasional.

 

*

 

Myungsoo memberikan beberapa lembar uang kepada sang supir taksi yang telah mengantarnya. Ia melebihkan pembayarannya sebagai tanda terima kasih karena supir taksi tersebut telah mengantarnya ke tempat yang tepat.

Dia tersenyum puas saat melihat gedung besar dengan halaman yang cukup luas. Beberapa mobil terparkir di depan halaman gedung tersebut, bukan mobil mewah, hanya mobil biasa yang membuatnya berasumsi bahwa para penyewa kamar di sini bukanlah orang-orang dengan kedudukan tinggi.

Namun, dia tidak peduli dengan mobil-mobil tersebut. Matanya beralih ke arah gedung yang berdiri di hadapannya. Gedungnya unik, ada dua gedung yang dihubungkan oleh gedung tiga tingkat, dimana pintu utama terletak di lantai satu gedung tersebut. Ia melihat beberapa jendela kamar yang terbuka, lalu mendengar beberapa suara laki-laki dan perempuan.

Keningnya mengerut saat menyadari ada beberapa suara laki-laki dan perempuan. Tak lama kemudian, seorang gadis dengan pakaian santai keluar dari gedung tersebut, bersamaan dengan seorang pemuda yang tampak seumuran dengan gadis itu juga mengenakan pakaian seadanya. Mereka tertawa bersama.

“Eh?” Itulah reaksi Myungsoo terkejut melihat keduanya.

“Ada apa? Kau pikir ini share-house khusus untuk pria?”

Tiba-tiba sebuah suara wanita muncul dari belakangnya, membuat pemuda itu langsung terekejut, dan bahkan hampir terjungkal. Namun, Myungsoo berhasil menyeimbangkan posisinya, lalu mengelus dadanya pelan. Sementara itu, gadis dan pemuda yang baru keluar dari gedung tersebut hanya meliriknya.

“Selamat siang, Unnie,” ujar si gadis.

“Selamat siang, Noona,” ujar si pemuda juga.

Keduanya membungkukkan tubuh mereka sedikit ke arah wanita yang membuat Myungsoo terkejut itu. Wanita itu menganggukkan kepalanya, kemudian mengibaskan tangan kanannya ke arah mereka, memberi isyarat agar mereka tidak perlu mempedulikannya. Gadis dan pemuda itu hanya mengangguk dan berlalu pergi keluar dari area gedung tersebut.

Sementara, sang wanita melepaskan kacamata hitamnya dengan tangan kirinya, lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia menatap Myungsoo dari atas sampai bawah, membuat pemuda itu sedikit risih.

“Kau ingin tinggal di sini?”

“Ah… Beg—”

“Baiklah,” potong wanita itu tidak sabar mendengar Myungsoo. “Ikuti aku.”

Myungsoo hanya mengangguk pelan, menatap wanita tersebut bingung. Meskipun begitu, dia tetap mengikuti wanita itu masuk ke dalam gedung, menarik kopernya yang tidak begitu berat. Dia sempat menoleh ke belakang, untuk memastikan bahwa ini adalah tempat terbaik untuk tinggal sementara.

Kesan pertama Myungsoo saat pertama kali memasuki gedung tersebut adalah luar biasa. Dia tidak pernah menemukan share-house sebaik itu. Matanya beredar ke seluruh area di dalam gedung. Ia menemukan sebuah tangga besar yang setengahnya terbagi menjadi dua; ke area kanan dan ke area kiri yang ia pastikan menjadi penghubung dua gedung yang mengapit gedung tiga lantai ini.

“Duduk,” kata wanita tersebut menyadarkan Myungsoo.

“Baiklah,” Myungsoo menjawab cepat.

Myungsoo meletakkan kopernya di samping sofa yang didudukinya, ia duduk di sofa yang terletak di samping sofa yang diduduki wanita itu. Wanita itu menaikkan kakinya ke atas sofa, kemudian menyalakan televisi yang berada di seberangnya. Melihat itu, Myungsoo sempat terkejut, namun dia tidak berkomentar.

Wanita itu menolehkan kepalanya pada Myungsoo. “Kau tidak mau memperkenalkan dirimu?”

Myungsoo terkejut, namun dia langsung berdiri, kemudian membungkukkan tubuhnya ke arah wanita tersebut. Dia sendiri terkejut kenapa dia bisa takut pada wanita itu, padahal wanita itu tidak marah padanya, namun tatapan wanita itu begitu tajam padanya.

“Ah, nama saya Kim Myungsoo. Jurusan Bisnis di Universitas Anhyang.”

Setelah memperkenalkan dirinya, Myungsoo kembali duduk, kemudian menatap ekspresi dari wanita tersebut. Bukannya menanggapinya, wanita tersebut justru mengerutkan keningnya. Tatapannya masih tertuju pada Myungsoo, namun tangannya bergerak menuju meja pendek yang berada di depan sofa, mengambil sebuah toples berisi makanan ringan.

“Ah!”

Wanita itu mengganti ekspresinya menjadi ekspresi seolah dia mengerti apa yang sebelumnya ia permasalahkan. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu membuka toples makanan ringan tersebut, dan mulai memakannya sambil menatap televisi.

“Aku Tiffany Hwang. Umurku 35 tahun,” jelas wanita tersebut.

Myungsoo hampir saja merespon perkataan wanita itu dengan sebuah ekspresi terkejut. Namun, sebelum dia sempat mengungkapkan ekspresinya, wanita itu menunjukkan telapak tangannya—seperti isyarat agar ia menahan reaksinya.

Sementara, tangan kanannya meraup isi toples, ia pun berkata, “Ayahku orang Amerika dan ibuku orang Korea. Aku pernah tinggal di San Francisco selama 10 tahun. Jadi tidak perlu terkejut.”

“Ah… Baiklah,” jawab Myungsoo seadanya.

 

*

 

Mobil sedan hitam tersebut pun mulai meninggalkan gedung apartemen mewah itu. Dalam waktu sekejap, mobil tersebut tiba di tengah-tengah Distrik Gangnam. Hari itu banyak sekali orang yang berlalu-lalang dengan pakaian bermerek dan juga aksesoris lainnya yang berharga puluhan juta won.

“Kita ke Mall COEX,” kata Kyungri.

“Tapi, kata Hwijangnim—Ketua—kita harus segera tiba di rumah tersebut.”

Kyungri mengangkat wajahnya dari atas ponselnya, kemudian menatap ke arah kaca tengah mobil, memperhatikan wajah Kevin yang sedang serius menyetir mobil. Ia menghela napas berat.

Ya,” panggil Kyungri kesal. “Kau sedang bersamaku, bukan bersama ayahku. Toh, dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi kalau kau memberitahunya hal sebaliknya? Kau tidak perlu mengatakan padanya kalau kita mampir ke mall sebentar. Semuanya tergantung dirimu. Sekarang kau sedang bersamaku, jadi lebih baik kau menuruti perkataanku atau kau akan lebih sengsara.”

“Baiklah, Nona,” jawab Kevin akhirnya mengalah.

Kevin pun segera melajukan mobilnya menuju salah satu mall terbesar di Distrik Gangnam itu. Selama perjalanan, Kevin hanya bisa fokus mengemudikan mobilnya, meskipun dalam hati dia sedikit khawatir apabila bosnya alias ayah dari Kyungri itu menemukan dirinya membiarkan Kyungri pergi ke mall.

Dia tidak bisa berkomentar apa-apa karena kedua orang tersebut memiliki sifat yang sama; keras kepala. Di saat yang bersamaan, mereka selalu ingin menang antara satu sama lain. Itulah mengapa Kevin lebih memilih untuk patuh dan tidak membantah, daripada dia kena marah Kyungri.

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di mall tersebut. Dengan cepat Kyungri melangkah keluar dari mobilnya, sementara itu Kevin menatap gadis itu sambil menggelengkan kepalanya pelan. Di saat yang bersamaan, dia tidak tahu apakah ini hari terakhirnya untuk bekerja.

“Nona, apa tidak sebaiknya ki—”

“Jangan banyak bicara,” potong Kyungri, membalikkan tubuhnya. Ia mengarahkan telunjuknya kemudian menggoyangkannya—mengisyaratkan kepada pemuda itu untuk mengikutinya. “Cepat ikut aku dan bantu aku.”

“Baiklah, Nona,” jawab Kevin dengan pasrah.

Mereka melangkah masuk ke dalam mall. Kyungri yang melangkah dengan cepat pun membuat Kevin hampir saja terengah-engah kehabisan napas. Dari yang Kevin perhatikan, gadis itu sedang mengerjainya.

Sementara itu, Kyungri dengan santai melangkah masuk ke dalam sebuah toko pakaian yang berada di lantai dua. Dia bersiap mengambil salah satu pakaain dengan harga jutaan won, namun ia membalikkan tubuhnya mengecek Kevin. Namun, pemuda itu tidak ada di sana, membuatnya langsung mendengus.

Kyungri mengembalikan pakaian yang sudah ada di tangannya itu ke tempatnya, kemudian menyusuri jalannya dan menemukan Kevin yang sedang melangkah menuju toko tersebut. Cepat-cepat Kyungri menghampiri pemuda itu dan menarik tangan Kevin, membuat pemuda itu langsung terkejut.

“Nona!” seru Kevin sambil menyetarakan langkahnya dengan Kyungri.

“Sudah aku bilang supaya cepat!” bentak Kyungri kesal.

“B-baiklah!”

Kevin pun mengikuti Kyungri ke tempat pakaian tadi. Kyungri melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Kevin dengan kesal. Ia menatap pemuda itu dengan penuh amarah, namun mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan makian. Gadis itu mengambil pakaian tadi, lalu melemparnya pada Kevin.

Dengan sigap, Kevin menerima pakaian tersebut. Dalam sekejap, ia sudah membawa tumpukan pakaian berjuta-juta won yang begitu bagus menurutnya. Melihat Kyungri yang dengan santai mengambil pakaian, membuatnya menghela napas pelan, berpikir kapan ia bisa membelikan barang-barang mewah dan indah itu untuk adik perempuannya.

Ya! Kenapa kau diam saja?” tanya Kyungri mengejutkannya.

Kevin tersadar dari lamunannya, kemudian segera menghampiri Kyungri. Saat ia hendak membuka mulutnya, bersiap untuk mengucapkan permintaan maaf dan menjelaskan kesalahannya, Kyungri justru menutup mulutnya dengan tangan gadis itu.

“Aku tidak mau dengar apa-apa,” kata Kyungri.

Kyungri melepaskan tangannya kemudian membersihkan tangannya menggunakan tisu, seolah tangan Kevin adalah penyakit menular. Kevin hanya diam tak berkomentar melihat sikap gadis itu.

Setelah dua jam berkutat di dalam sana, Kyungri pun akhirnya menuju kasir, bersama dengan Kevin yang membawakan tumpukan bajunya. Kevin pun memberikan tumpukan baju tersebut pada sang kasir.

“Selamat siang, Nona Kyungri,” sapa sang kasir dengan ramah.

“Selamat siang,” jawab Kyungri, membalasnya dengan senyuman manisnya.

Kevin hanya bisa menghela napas berat melihat senyuman palsu gadis itu. Setelah berbincang-bincang sambil menghitung harga dari pakaian-pakaian tersebut, Kyungri memberikan kartunya kepada sang kasir.

Kasir itu segera menggesek kartu milik Kyungri pada alat pembayaran. Bukannya melanjutkan pembayaran, sang kasir kembali menggesek kartu itu lagi. Ekspresi sang kasir langsung berubah ketika menatap monitor di hadapannya. Menyadari itu, Kevin segera mendekati sang kasir dan membaca tulisan yang tertera pada layar monitor.

“Nona, kartu Anda diblokir oleh Ketua,” kata Kevin terus terang.

Ne?!

 

*

 

“Kau mau?” tanya Tiffany sambil menyodorkan toples tersebut pada Myungsoo. Myungsoo ingin menolak, namun akhirnya dia tetap mengambil beberapa makanan ringan di dalamnya agar tidak dianggap kurang ajar. “Kau mau bayar di awal bulan atau di akhir bulan?”

Ne?”

Tiffany meletakkan toples yang dipeluknya di atas meja pendek di hadapannya. Ia menepuk kedua tangannya, membersihkan butir-butir makanan ringan yang menempel di jari-jarinya. Ia menoleh pada Myungsoo.

“Aku tahu kau pasti sedang kabur dari rumahmu,” kata Tiffany santai. “Jadi, aku mau tanya, kau punya uang atau tidak untuk tinggal di sini? Kau mau bayar kamarnya di awal bulan atau di akhir bulan?”

“Oh…” Myungsoo membulatkan mulutnya, kemudian menganggukkan kepalanya. “Tenang saja, aku punya uangnya. Aku pasti akan bayar tepat waktu, tapi apa bedanya bayar di awal bulan dengan di akhir bulan? Toh, aku bisa bayar kapan saja.”

“Ah, si brengsek ini benar-benar,” ujar Tiffany pelan.

Ye?” Myungsoo sedikit terkejut ketika mendengar repson Tiffany.

Tiffany berdiri dari sofanya, kemudian mendorong kepala Myungsoo. Pemuda itu langsung meringis pelan, menggosok keningnya yang telah didorong oleh Tiffany. Ia mengangkat kepalanya, bersiap untuk protes.

“Ada a—”

“Aku tahu kau tidak pernah kerja paruh waktu, karena itu ada bedanya bayar di awal bulan dengan di akhir bulan, Bodoh,” kata Tiffany kesal. Ia melipat kedua tangannya. “Rata-rata penyewa kamar di sini adalah murid Universitas Anhyang dan 85% dari mereka memiliki pekerjaan paruh-waktu. Kau pasti bahkan tidak tahu—”

“Kami pulang.”

Sebuah suara berhasil memutus celoteh wanita itu. Dua orang melangkah masuk dengan perlahan, mencoba memahami situasi tersebut. Yang satu laki-laki dan yang satu lagi perempuan. Yang laki-laki menyodorkan sebuah kantung berisi makanan pada Tiffany dan yang perempuan mengecek Myungsoo.

Sementara, Myungsoo sendiri tidak memperhatikan kedatangan mereka karena sibuk memikirkan apakah dia harus menyewa kamar di share-house ini atau tidak. Padahal jarak dari gedung ini ke gedung falkutasnya tidak jauh dan dia sudah menyukai keadaan gedung share-house ini.

“Kau tidak kerja, Naeun?” tanya Tiffany sambil menerima kantung tersebut.

Gadis yang tengah mengecek Myungsoo itu menghentikan aktifitasnya, kemudian menoleh pada Tiffany. Ia pun menggeleng pelan sambil tersenyum lebar. “Memangnya Unnie lupa ini hari apa? Aku sengaja bolos hari ini demi hari spesial ini,” katanya sambil melirik pemuda di sampingnya tajam. Tiffany mengerutkan keningnya. “Gikwang oppa ulang tahun.”

“Ah… Benar,” kata Tiffany sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menatap Gikwang, kemudian tersenyum lebar. “Maaf, ya, Noona lupa ini hari spesialmu. Memangnya kau membelikan apa untuk Naeun sampai-sampai dia mau bolos bekerja?”

“Aku tidak membelikannya apa-apa,” jawab pemuda bernama Gikwang itu.

“Hah?” Tiffany mengerutkan keningnya.

“Dia yang membelikanku daging,” kata Gikwang santai. “Dia bilang karena hari ini ulang tahunku, jadi dia lah yang justru membelikanku sesuatu. Aneh, bukan? Ya, memang anak ini tidak pernah normal.”

Ya!

Naeun pun mulai menarik rambut Gikwang. Pertempuran pun dimulai.

“Aish,” Tiffany memijat keningnya. Ia pun meletakkan kantung pemberian Gikwang di atas meja, kemudian menoleh pada Myungsoo, menyadari bahwa ia belum selesai berbicara dengan pemuda itu.

“Hei, anak muda,” panggil Tiffany.

“Ah!” Myungsoo tersadar dari lamunanya. “Ne?”

Setelah itu, Myungsoo pun sadar ada dua orang yang tengah bertengkar di belakang sana. Ia menoleh pada Tiffany bingung, namun Tiffany hanya menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan padanya agar tidak usah melakukan apapun.

“Kau jadi mau tinggal di sini atau tidak? Kalau tidak ya sudah,” kata Tiffany santai.

“Baiklah, aku akan sewa kamarnya untuk satu tahun.”

Tiffany mengangkat alisnya. “Apa kau yakin? Bukankah kau sedang kabur?”

Myungsoo terdiam sejenak, kemudian menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku akan bayar untuk satu tahun. Tidak masalah kalau aku membayarnya untuk satu tahun ke depan, bukan? Aku sudah bawa uangnya.”

Tiffany mengangkat bahunya. “Ya sudah kalau itu maumu. Tidak masalah.”

Setelah itu, Tiffany membalikkan tubuhnya ke arah dua orang yang sedang bertengkar itu. Tiffany menghampiri mereka, lalu memukul kepala mereka bersamaan. Pertengkaran pun terhentikan, keduanya terengah-engah.

“Naeun, antarkan penghuni baru ke kamarnya,” ujar Tiffany lalu memberikan sebuah kunci bertuliskan 12 kepada Naeun. Ia menoleh pada Gikwang. “Gikwang, kau bawakan barang-barangnya, tampaknya dia tidak akan kuat membawa kopernya itu ke lantai 5.”

Kedua orang itu menganggukkan kepala mereka. Mereka melangkah mendekati Myungsoo dengan lemas. Naeun menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengangkat kepalanya, menatap Myungsoo.

“Kau…”

Tak ada bedanya dengan Naeun, Gikwang pun menoleh pada Myungsoo kemudian membulatkan matanya. Ia menunjuk Myungsoo dengan ekspresi terkejut. Sementara itu, Tiffany di belakang memperhatikan mereka dengan seksama.

Myungsoo sendiri cukup terkejut dengan kehadiran mereka, namun dia tidak berkomentar. Yang dia tahu, mereka pasti tahu kalau dia telah melarikan diri dan tidak membayar pesanannya. Mereka pasti membencinya.

Heol, daebak,—Astaga, keren—aku tidak percaya aku bisa bertemu denganmu di sini,” kata Naeun sambil tertawa pelan. Ia menyodorkan tanganya kepada Myungsoo, namun Gikwang menjauhkan tangan Naeun sebelum sempat diterima oleh Myungsoo.

Myungsoo mengerutkan keningnya ke arah Gikwang. “Apakah ada masalah?”

Gikwang menghela napas berat. “Kau tadi kabur dari restoran dan belum sempat membayar makananmu, bukan?” tanya Gikwang dan disambut dengan sebuah anggukan pelan dari Myungsoo. “Apakah kau tahu kau menimbulkan masalah karena ulahmu itu?”

Naeun menarik tangan Gikwang. “Ya, jangan berkata seperti itu.”

Gikwang melirik Naeun. “Tidak apa-apa. Karena dia tabunganmu berkurang.”

“Tabungan?” tanya Myungsoo bingung.

“Iya, dia yang membayar makananmu, Tuan Muda,” jawab Gikwang kesal.

 

*

 

Begitu keluar dari gedung mall dengan satu tas belanja, Kyungri langsung melangkah menuju tempat mobil mereka terparkir. Yang ada dipikirannya adalah bahwa dirinya ingin cepat-cepat duduk di dalam mobil dan mengistirahatkan otaknya.

Sementara itu, Kevin yang berada di belakang gadis itu, mengikutinya dan menatap punggung gadis itu. Ia pun menebak-nebak apa yang ada di dalam pikiran gadis muda itu karena dia telah menyaksikan sendiri ekspresi gadis itu ketika mendengar bahwa kartu kreditnya diblokir oleh ayahnya sendiri.

“Oh, ya, aku akan segera mengganti uangmu untuk baju ini,” kata Kyungri sambil mengangkat satu tas belanja yang berada di sampingnya ketika mereka sudah di dalam mobil dan di tengah lampu merah kota Seoul.

Kevin melirik gadis itu lewat kaca tengahnya. “Tidak perlu, Nona,” katanya.

Kyungri membulatkan matanya. “Apa maksudmu?”

“Anggap saja sebagai hadiah di hari pertamamu pindah dari rumah, Nona.”

“Cih, tahu apa kau,” kata Kyungri, mendecak pelan. “Aku akan membayarnya.”

Hanya deru mobil yang menjawab perkataan Kyungri. Mobil kembali melaju ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Pengemudi mobil langsung menginjak gasnya menuju tempat yang dituju, sementara sang penumpang mulai menenggelamkan tubuhnya di atas jok mobil dan memandang keluar mobil.

Pemandangan di luar jendela mobil hanyalah gedung-gedung tinggi dan juga orang-orang yang sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sudah setiap hari ia melihat pemandangan yang tak pernah berubah itu. Membuat Kyungri semakin mengantuk melihat pemandangan membosankan tersebut.

Matanya pun mulai terpejam dalam sekejap. Potongan-potongan gambar dirinya kuliah di luar negeri untuk jurusan fashion pun mulai menjadi sebuah film indah yang disebut mimpi. Ia melihat dirinya dengan asik mendesain pakaian, lulus dengan nilai terbaik, membuka butik, sampai akhirnya menjalankan panggung fashion show sendiri.

Namun, ia sadar bahwa itu bukanlah kenyataan ketika ia mendengar suara pria yang mulai membangunkannya dari mimpi indahnya. Suara itu dengan perlahan membangunkannya dari alam sadarnya.

“Nona Kyungri, kita sudah sampai,” kata Kevin.

Perlahan, Kyungri membuka matanya. Matanya mengerjap beberapa kali, sampai akhirnya ia menolehkan kepalanya ke arah kanan, menuju jendela mobilnya. Di luar jendela, ia bisa melihat sebuah bangunan dengan cat berwarna putih yang memiliki halaman cukup luas. Banguannnya cukup unik.

“Ini share-house-nya?” Kyungri bertanya pada Kevin.

“Benar,” jawab Kevin cepat sambil menganggukkan kepalanya.

Kyungri hanya menghela napas, lalu menegakkan tubuhnya. Ia menarik tasnya yang ada di atas jok di sampingnya. Pintu mobil terbuka, ia melangkah keluar dari sana. Melihat itu, dengan cepat Kevin keluar dari mobil dan berlari menuju bagasi mobil.

“Tidak buruk,” komentar Kyungri sambil mengenakan kaca mata hitamnya.

“Huh?”

Kyungri menolehkan kepalanya pada Kevin. “Tidak usah menanggapiku.”

Kevin hanya mengangguk, kemudian ia membuka bagasi mobil. Dengan gesit ia mengeluarkan koper miliknya dan juga milik Kyungri. Sementara Kyungri melangkah masuk duluan, Kevin pun mengikutinya dari belakang, meninggalkan mobil mereka yang terparkir di luar halaman share-house tersebut.

Baru beberapa langkah memasuki halaman rumah tersebut, mereka sudah mendengar suara-suara ramai dari dalam gedung tersebut. Terdengar suara pria dan juga wanita yang saling sahut-menyahut, berhasil menghentikan langkah Kyungri.

“Apa-apaan itu?” tanyanya pada Kevin, membalikkan tubuhnya menghadap pemuda itu.

“Itu suara para penghuni share-house mungkin,” jawab Kevin seadanya.

Kyungri mendengus pelan. “Kau memang payah.”

Dengan cepat, Kyungri pun membalikkan tubuhnya, kemudian segera mengetuk pintu gedung utama tersebut sambil mengucapkan ‘Halo’ beberapa kali. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka dan seorang gadis dengan rambut hitam bergelombang menyambutnya.

Gadis tersebut tersenyum lebar menatap Kyungri. Ia menatap Kyungri dari atas sampai bawah, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Kevin yang berdiri tak jauh di belakang Kyungri—membawa koper miliknya dan milik Kyungri.

“Ah, kau pasti mau pindah ke sini, ya?!” tanya gadis itu senang.

“Aku terpaksa pindah ke sini, katanya sudah ada kamar untukku.”

“Kamar untukmu?” tanya gadis itu bingung. “Sebentar, ya, biar aku tanyakan dulu pada Tiffany unnie. Ah, ya, kau bisa masuk ke dalam daripada panas-panas di luar. Sekaligus bertemu dengan pemilik share-house ini.”

Kyungri hanya mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Ia hampir tidak percaya bahwa gedung tersebut ternyata lebih besar daripada apa yang ia lihat. Ia melepaskan sepatunya, kemudian menggunakan sandal yang tersedia, dan masuk ke dalam area rumah tersebut.

Pintu utama langsung terhubung dengan lorong yang dibatasi dengan dinding menuju rak sepatu. Kyungri membelokkan tubuhnya ke kanan dan langsung menemukan ruangan luas yang ia anggap sebagai ruang televisi.

Ada sofa panjang di tengah-tengah, kemudian sofa kecil di sisi kanan dan kirinya. Sebuah meja kecil pendek diletakkan di depan sofa panjang tersebut, menghadap ke arah televisi berukuran 43 inci. Sebuah bungkus makanan terbuka tampak tergeletak di atas meja pendek tersebut, ada juga remote televisi yang terletak di atas sofa sembarangan.

“Kau orangnya?”

Kyungri langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara tersebut, melihat seorang wanita yang tampaknya masih muda dengan pakaian santai, melangkah ke arah sofa, kemudian duduk di atas sana.

“Maksudnya?” tanya Kyungri bingung.

“Dia bilang dia sudah ada kamar untuknya,” kata gadis yang tadi ditemui Kyungri. Ia menyodorkan tangannya pada Kyungri, dan disambut dengan malas-malasan oleh Kyungri yang sebenarnya tidak ingin mengetahui nama gadis itu. “Aku Son Naeun.”

“Park Kyungri,” jawab Kyungri datar.

“Benar, kau orangnya,” kata wanita tadi. “Aku Tiffany Hwang. Pemilik rumah ini, lebih tepatnya share-house ini. Ayahmu sudah memesankan kamar untukmu dan satu lagi kamar untuk pria, dimana pria itu?”

“Oh,” Kyungri menyadari ketidakhadiran Kevin. Ia membalikkan tubuhnya mencari-cari pemuda itu, namun ia hanya menemukan koper miliknya dan koper milik Kevin yang tertinggal di dekat rak sepatu. “Sebentar, aku cari dulu.”

Tiffany hanya mengangguk, setelah itu Kyungri segera berlari keluar dari rumah tersebut. Baru saja ia hendak melangkah keluar pagar, Kevin terlebih dulu muncul dengan wajah santainya. Kyungri menghela napas lega.

“Oh, Nona? Ada apa?” tanya Kevin.

“Sial, kau dari mana saja?”

Kevin mengerutkan keningnya. “Aku meninggalkan kunci mobilnya. Jadi, tadi aku langsung balik mengambil. Memangnya ada masalah? Kau sudah bertemu dengan pemilik rumahnya belum?”

Kyungri mendengus. “Dia mencarimu. Pemilik rumahnya mencarimu.”

“Oh… Maafkan aku, tadi aku meninggalkan kunci mobilnya—”

“Iya, ya sudah,” potong Kyungri kesal.

Mereka pun melangkah ke dalam rumah itu lagi. Kyungri menunjuk Kevin dan berkata, “Dia sekretarisku. Dia pria yang dimaksud ayahku. Dia hanya mengawasiku di sini, jadi jangan berpikir macam-macam.”

Tiffany memutar bola matanya. Ia memangku kaki kirinya, kemudian melipatkan kedua tangannya di depan dadanya dan menatap Kyungri dari atas sampai bawah. “Aku tidak akan berpikir macam-macam mengenai hubungan kalian, tapi selama kau berada di sini, kau harus mengikuti peraturan yang berlaku.”

Kyungri mendecak pelan. “Dimana kamarku?”

Tiffany menolehkan kepalanya pada Naeun, kemudian menggerakkan kepalanya memberikan isyarat. Naeun hanya mengangguk, kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka.

Melihat hal tersebut, Kyungri mengerutkan keningnya bingung. “Kau tidak mau memberi tahu dimana kamarku?” tanyanya kesal. “Ayahku sudah membayar kamar di sini mahal, kau seharusnya menunjukkan kamarku, bukannya membuatku menunggu.”

“Hei, Nona,” panggil Tiffany, sambil menarik napasnya, mencoba menahan amarahnya. “Ayahmu membayar kamarnya seperti harga biasa. Tidak ada kamar khusus di sini. Dan ada yang harus dilakukan oleh Naeun terlebih dahulu, setelah itu kau bisa ke kamarmu, Nona. Mengerti?”

Mulut Kyungri langsung terkunci rapat. Ia hanya bisa melirik Tiffany dengan sebal. Dia berujar dalam hatinya bahwa suatu hari dia akan membalas perbuatan Tiffany jika dia sudah tidak tinggal di rumah tersebut.

Di belakang, Kevin hanya tersenyum tipis, menahan tawanya. Dia tahu bahwa Kyungri adalah orang yang keras kepala dan tidak mau mengalah, terutama jika itu menyangkut harga dirinya. Namun, kali ini Tiffany berhasil membuat Kyungri diam adalah suatu pemandangan yang tidak lazim.

Tak lama kemudian, Naeun kembali muncul dengan seorang pemuda. Pemuda itu memiliki tinggi yang hampir sama dengan Naeun. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah Kyungri dan Kevin.

“Namaku Lee Gikwang,” ujar pemuda itu.

“Antarkan mereka ke kamar mereka masing-masing,” tukas Tiffany tidak sabar dengan adegan perkenalan mereka.

Gikwang hanya tertawa kecil, kemudian menganggukkan kepalanya. Gikwang melangkah menuju koper yang berada di dekat Kevin, namun Kevin segera menahannya. Gikwang pun mengerutkan keningnya bingung.

“Aku sekretarisnya, jadi aku yang berhak membawakan kopernya,” kata Kevin.

“Ah…” Gikwang hanya bisa menganggukkan kepalanya. “Baiklah, mari ke kamar Park Kyungri-ssi terlebih dahulu.”

Setelah itu, baik Naeun maupun Gikwang pun melangkah dahulu menuju tangga utama. Saat mereka sedang melangkah menaiki tangga, Myungsoo muncul dari arah gedung pria, dan memperhatikan mereka sekilas, setelah itu ia lanjut menuruni tangga.

“Tunggu,” kata Kyungri.

Baik Naeun maupun Gikwang pun menghentikan langkahnya. Meskipun mereka tahu bukan mereka yang dipanggil, mereka tetap membalikkan tubuh mereka, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Myungsoo pun ikut berhenti, kemudian membalikkan tubuhnya. “Ada apa?”

“Aku pernah melihatmu,” kata Kyungri sambil menunjuk Myungsoo.

“Nona,” potong Kevin sambil melirik Myungsoo, lalu tersenyum tipis. “Maafkan sikapny—”

“Hei, diamlah,” Kyungri membentaknya. Kemudian, ia kembali menatap Myungsoo dalam-dalam. Ia pun berpikir keras, mencoba mengingat potongan-potongan masa lalunya, sampai akhirnya ia menemukan sesuatu. “Oh!”

“Apa?” tanya Myungsoo kesal, menyesali dirinya yang mau meladeni gadis itu.

“Kau, Kim Myungsoo?” tanya Kyungri dengan senyuman di bibirnya.

“Ya, aku Kim Myungsoo dan darimana kau tahu namaku?”

“Kau tunanganku, Kim Myungsoo.”

.

.

.

To be Continued

October 6, 2017 — 09:00 p.m.


a.n: Yuhu! Semua pemeran utama sudah bertemu, di chapter selanjutnya akan dijelaskan kenapa Myungsoo dan Kyungri bisa tunangan. Semua konflik mulai di chapter selanjutnya. Jadi, jangan lupa komentar berupa kritik dan saran, like, dan rate-nya ya! Keep reading ❤

-ssyoung

Advertisements

4 responses to “[Chapter 2] Games of Love

  1. huaaaa sepertinya cerita akan seru, apalagi dengan karakter kyungri yg sedikit menyebalkan xD

    pliss si Myungsoo jgn sampe nikah sm kyungri huhu myungsoo buat mba Naeun seorang pokoknya! wkwk

    ga sabar atuhlah nunggu kisah mereka, semangat kak💪

    btw ga ada niatan buat share ff ini di wattpad kak?’-‘

    • wahh makasih banyak yaa udah baca dan komentar 🙂 keep reading terus! ❤ hehe, iya aku gak ada niatan untuk update di wattpad sayangnya 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s