[Ficlet] Butterfly Girl

DBhzVYDVYAAsWla

story by narinputri

Wanna One’s Hwang Minhyun

cr pic Prime Time

 

“She’s like the butterfly who strike my heart as the hurricane.”

Mungkin hanya mimpi kala melihat sosok indahmu yang dengan lembut bagai tarian waltz di tengah lantai dansa, berjalan diikuti senyum pada bibir ranummu melewatiku.

Otakku bertanya, haruskah mengenal sosoknya? Gadis yang tiba-tiba datang, lalu pergi bagai embusan angin musim semi. Gadis yang terbang bak kupu-kupu, lantas menghempaskan hatiku selayak badai di musim panas.

“Joo Myungjin, dia bukan gadis cukup populer di sekolah. Bukan pula gadis yang terlalu pintar, meski kabar berembus Myungjin memiliki IQ tinggi. Aku tak tahu bila kau tertarik padanya.”

Bukan seperti itu yang kumaksud–

“Yang kutahu lagi, dia terlalu dingin dengan seorang laki-laki. Lebih baik urungkan saja niatmu,” imbuh Jisung sembari meneguk habis cola-nya.

“Aku tak tertarik, hanya penasaran saja. Mengapa gadis semanisnya tak ada orang yang tahu.”

Terdengar tawa keras dari Jisung hingga petugas perpustakaan melirik ke arah kami. Omong-omong, sedari tadi kami saling berbisik supaya tak ada satu orang pun yang tahu. Sebab gadis itu tengah ada di ujung ruang perpustakaan, sedang asyik membaca sembari menyumbat telinga dengan headset.

“Tahu tidak? Alasanmu klise.”

Jisung seolah menohok tepat di ulu hati. Tolong, aku ingin membuang diri ke sungai setelah mengucapkan kalimat pembelaan yang justru membunuhku.

“Bukan tak ada orang yang tahu. Dia hanya ‘menghilangkan diri’ dari lingkungan sekelilinya. Begitulah sosok Myungjin. Indah, tapi tiada pernah ingin terlihat,” ucap Jisung bak seorang roman picisan mengutarakan keindahan.

Tetapi yang diucapkan Jisung benar adanya. Satu cara untuk memecahkan masalah ini adalah, mengenalnya.

.

.

.

Mungkin bukan hari baik untuk mengenalnya sekarang. Hujan mendadak turun seperti menolakku untuk bertemu di perpustakaan seberang sekolah. Bodohnya, payung lupa kubawa hari ini. Di bawah atap gedung olahraga kini aku terjebak.

Mataku menerawang jauh pada hujan yang turun meski tak terlalu lebat. Kadang kuberpikir, dapatkah kupu-kupu terbang biarpun di tengah hujan? Apakah sayap mereka seperti burung yang bila terkena air tidak mudah basah?

“Maaf, aku menumpang berteduh di sini.”

Sebuah suara lembut namun dingin memasuki runguku di antara deru hujan turun di siang ini. Tanpa menoleh, aku tahu jika sosoknya adalah gadis yang ingin kutemui.

“Eum… Boleh,” jawabku terlambat karena ia sekarang telah di sampingku, mengeringkan jas seragam dengan sapu tangan dari kantong jasnya. Entah mengapa mataku tak berani memandang sosoknya.

“Kau… Kau Joo Myungjin, bukan?” tanyaku sedikit ragu, takut ia tak akan menjawab.

“Dan kau adalah Hwang Minhyun, kan?”

Kuterkejut karena gadis itu tahu namaku meski belum kusebut.

“Sebenarnya kita sekelas, hanya saja aku tak terlalu suka keramaian. Makanya tak ada yang mengenalku.”

Semakin terkejut jikalau Myungjin ternyata sekelas denganku. Tak menyangka ternyata jarak dengannya tidaklah terlampau jauh.

“Iya. Kudengar dari Jisung, kau memang lebih suka menyendiri,” kataku berusaha bersikap tenang meski perasaan di dada ini membuatku bingung.

Tak ada jawaban darinya. Mungkin kusalah melontarkan pertanyaan yang dari awal Jisung sudah mengatakannya.

“Aku tak terlalu suka berinteraksi dengan orang tak kukenal. Meskipun itu teman sekelas. Jujur, berinteraksi denganmu sekarang ini sudah membuatku malas.”

Tajam serta dingin tanpa basa-basi. Terus terang aku sedikit tak suka dengan sikapnya yang bagiku itu kasar.

Hujan hampir mereda, namun entah kaki ini enggan meninggalkan tempat di mana kami tengah berteduh. Rasa canggung diikuti udara dingin karena hujan membuatku tak nyaman. Tapi tubuh ini seolah terpaku di tempat itu.

“Aku pernah melihatmu saat pekan olah raga sekolah kemarin. Saat itu ada senyum yang menghias wajahmu. Apakah aku salah melihat orang?” ingin sekali kukunci rapat-rapat bibirku daripada menanyakan hal yang mampu membuatnya marah.

Dugaanku keliru…

“Itu memang aku. Jarang orang yang melihatku tersenyum atau tertawa. Sekali lagi aku tak terlalu suka berinteraksi dengan sekeliling,” ujarnya sembari tersenyum kecil menahan tawa dari bibir kecilnya. Seketika hatiku menghangat melihat pemandangan tersebut.

“Tapi menarik juga berinteraksi denganmu. Kupikir akan semembosankan seperti yang lain.”

Mungkin tak akan pernah kulupa, rona merah di pipi serta senyum menawan menghiasi wajahnya. Barangkali pelangi yang muncul saat ini malu melihat Myungjin karena terlalu indah.

“Maaf aku duluan, hujan sudah reda.”

Lagi-lagi, ia pergi begitu saja. Setelah mengobrak-abrik hatiku dengan sayapnya. Seperti badai yang datang lantas pergi seusai meluluhlantakkan apa saja yang dilalui. Namun seperti kupu-kupu, meninggalkan gerakan halus nan indah di sudut hati.

.

.

.

Boleh, kita berjumpa kembali?

 

-END-

 

nice to meet you guys!

With love, narinputri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s