[Ficlet] The Journey : A Long Road

img_20170331_014521

ficlet by narinputri

 

WINNER’s Mino
life!AU, hurt-comfort, a bit fluff

cr pic winnercity

 

 

“Meskipun jalanan itu begitu panjang, tetap saja berliku di setiap jalurnya.”

Mino melempar peta yang dibawanya kasar ke jok mobil kosong. Diacak kasar surai hitamnya lantas memukul setir mobil frustasi. Matanya sedikit memerah karena sudah seharian menyetir tanpa istirahat. Entah sudah sampai di mana Mino sekarang. Karena sekelilingnya hanyalah jalanan lengang dan pegunungan, serta langit yang mulai memberikan semburat keemasan di ufuk barat.

Pemuda itu lantas keluar lalu membanting kasar pintu mobil. Hatinya tengah diselubungi oleh emosi yang perlahan-lahan larut, kala angin sore menyambut lembut diikuti aroma menenangkan dari laut.

Kedua mata Mino tertuju pada hamparan laut biru berhiaskan cahaya matahari yang hendak tenggelam. Lamunannya melayang bersama angin, memutar kembali kala bermain waktu sore hari bersama seorang pria di tepi pantai. Tanpa beban ia tertawa lepas menikmati ombak membasahi kaki kecil.

Pandangannya beralih pada jalanan hitam. Emosi Mino kembali memuncak. Teringat akan, pria yang meninggalkannya begitu saja di jalanan tanpa pernah kembali. Menghancurkan mimpi dan harapan Mino di jalanan itu. Mino membencinya juga jalanan lengang yang tengah dipijaki kini.

Akan tetapi di tempat itupula, semua kenangan terputar ketika mengendarai mobil sendirian. Belaian lembut di kepala saat malam tiba yang membuatnya terlelap dalam mobil, di tengah perjalanan panjang pulang ke rumah. Lagu-lagu lama terputar di radio sepanjang perjalanan, serta ikut mendorong mobil yang mogok ketika kehabisan bahan bakar, padahal tempat tujuan masih jauh. Mino sedikit tersenyum mengingat kejadian menggelikan itu.

“Kau tahu, Mino. Hidup itu seperti jalanan ini,” pria tua yang duduk di samping Mino sembari menunjuk jalanan di depan.

“Panjang, bebas hambatan, dan lancar!” jawab Mino kecil memakan kue pie isi cokelat favoritnya.

Pria itu tersenyum lantas memangku Mino. Di atas kap mobil mogok itu, kedua mata sang pria menerawang lurus seolah tahu apa yang ada di depannya nanti.

“Memang, Mino. Tapi, meskipun jalanan itu begitu panjang, tetap saja berliku di setiap jalurnya.”

Mino tak mengerti, karena memang jalanan yang ia lewati daritadi tak berliku, hanya lurus serta panjang dengan hamparan bukit hijau.

“Kau bosan tidak? Jika jalan yang kau lalui itu lurus-lurus saja?” tanya pria itu menatap Mino teduh.

Bocah kecil tersebut mengangguk kuat. Ia juga merasa bosan, karena hanya melihat hamparan bukit hijau dan ingin melihat pemandangan lain.

“Seperti itulah hidup, Song Mino. Pasti ada senang, sedih, terluka dan marah. Ibarat jalanan pasti ada tikungan, naik-turun, terjal atau berlubang. Dan semua itu harus dijalani jika kau sudah besar nanti,” ujar sang pria memeluk hangat Mino.

Mino kecil belum paham dengan ucapan tersebut hingga akhirnya ia mengerti ketika dewasa sekarang. Bila hidup tak selamanya lurus tanpa hambatan. Tantangan dan ujian harus banyak dilalui, seperti kehilangan sang ayah di tempat itu. Mino menyeka sedikit airmata dan menahan rasa sesak di dada. Mungkin hidupnya akan terasa membosankan bila hanya datar pula lurus, seperti jalanan panjang tanpa liku maupun turunan atau tanjakan.

Ponsel Mino mendadak berdering, sebuah pesan masuk dari ibunya meringankan hati saat itu juga.

“Mino, cepat pulang. Jangan pergi lama-lama.”

Bergegas ia memasuki mobil dan memacu gas di jalanan itu untuk segera pulang, menemui orang yang dicintai.

 

-END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s