[Ficlet] Heaven (My Lost Pieces)

DBR-yYiUAAAOTAP

narinputri’s present

 

SVT’s Joshua

fluff, hurt/comfort, slight!angst // PG // ficlet

based from Apink’s song 잃어버린 조각 (Heaven)

 

 

“How are you, my love, my lost piece?”

Rindu? Mungkin.

Namun kita masih dalam mimpi serta satu napas yang sama.

Meskipun tak lagi di sisiku kini.

“Apa kabarmu?”

Tak ada sahutan berarti dalam panggilan yang kutujukan padamu, karena memang sejatinya keberanian tiada pernah kumiliki untuk menghubungimu kembali.

Jika kau masih mengizinkan untuk merindumu dalam tidurku. Sebab dalam napas yang kau embuskan di mimpi, di situlah aku merasa hidup.

“Hai, apa yang sedang kau lakukan kini? Aku merindukanmu…” entah terasa berat untuk mengungkapkan kalimat yang sedaritadi menggantung di bibir.

“Bisakah kita berjumpa kembali? Ah, maksudku bila kita tak sengaja bertemu–”

Kutarik napasku berat, lantas mengembuskannya dengan rasa sesak. Aku bukanlah sosok lemah di matanya.

“Maukah kau menggenggam tanganku di jalan yang pernah kita lalui dulu, Jisoo?”

Mataku panas, padahal hanya sedikit genangan di pelupuk. Namun terasa pedih dan menyakitkan untuk dibendung terlalu lama. Tinggal tunggu kapan semua itu tertumpahkan.

“Kupikir, ada sudut kosong yang masih tertinggal di tempatmu. Karena, hanya itu tempat di mana aku bisa menunggu juga merindukanmu. Walau mungkin tak kau sadari.”

Mana mungkin akan dijawab. Hanya telepon sunyi yang tak pernah terhubung padanya, biarpun ingin.

“Apakah kau sekarang tengah tersenyum manis seperti dulu, meski tak bersamaku? Ah, tentu saja, kan? Lagipula siapa aku ini,” ucapku tertawa pahit memandang foto kita di atas nakas.

Masih teringat, senyum manismu kala pertama jumpa dua tahun lalu di hari penerimaan siswa baru, pada musim semi pertama.

“Namaku Joshua, tapi aku biasa dipanggil Jisoo. Terserah kau mau memanggilku apa, senyamanmu saja.”

Saat itu, senyummu langsung merengkuhku untuk tetap bersamamu. Melindungi dan berjalan denganmu. Bagai surga, sebab kau memang surgaku, bagian dari hatiku.

Aku takut mengingatnya, ketika kau menghilang. Barangkali penyesalan tidaklah cukup membuatmu kembali, menyatukan bagian yang hilang.

“Apa kabarmu, sayangku? Aku merindukanmu,” kembali lagi kuulang kalimat yang sama untuk melepas lara ini.

“Apa kabar, surgaku? Aku berdoa hanya untukmu.”

Kuletakan gagang telepon tersebut lembut, diikuti gelora yang membuncah. Kata rindu tak cukup untuk melepasnya. Mungkin, merelakannya adalah cara yang terbaik.

Mungkin.

 

-END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s