[Oneshot] You Are… 

  You Are…   

  Lu Han & OC`s Kim Hyerim  

 Supported by Actor Park Seojoon, OC`s Wu Lian, EXO`s Byun Baekhyun, ex-Hello Venus`s Shin Yoonjo, EXO`s Oh Sehun

  Story with Romance, Hurt/Comfort, Slice of Life, AU rated by Teens  type in Oneshot

`Dirimu hanyalah sosok semu yang sukar kugapai, hingga kubang takdir menemukan kita berdua secara kebetulan dengan cinta lama yang masih mengering namun tertimpa cinta baru yang terlanjur digenggam. Hanya itu definisi Kim Hyerim untuk seorang Luhan`

Disclaim: This is a work of fiction. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity of plot, character, location are just accidentally. All cast belong to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Plagiarism, copy-paste without permission, and be a silent readers  are prohibited.


Even if you leave me like the passing wind
Even if goodbye becomes a painful word
I won’t regret you like a fool
Cause you’re my destiny
[ OMG`s Seunghee – You Are (ost.Temperature of Love) ]

© 2017 Storyline by HyeKim

Inspiration from : 70% my real story, Seunghee – You Are (ost.Temperature of Love), and my broken heart.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

7th October, 2017.

Semilir angin musim gugur yang mulai bergunjing, menusuk pori-pori kulit perempuan bernama Kim Hyerim. Coat coklat yang memeluk tubuhnya, dirapatkan olehnya seraya menjelajahi pendestrian kota Seoul tuk pertama kalinya setelah dua tahun mendekam di Spanyol.

Si Gadis menebar senyum, memasuki sebuah cafeteria dengan semerbak harum kopi menyebar. Pelayan cafe dengan ramah menyapa, mempersilakan Hyerim duduk di kursi yang tersedia. Mempersingkat timing, Kim Hyerim telah berlabuh di satu kursi dengan meneguk cappucino sebagai pelengkap penantiannya akan sosok yang mencetuskan janji dengannya di sini.

❝ From : Joonie Oppa 💖
Tunggu di cafeteria yang aku kirimkan link google mapnya, ya. Aku akan mengenalkanmu dengan adik angkatku. Hanya dia keluarga yang belum kamu kenal, padahal besok kita sudah menikah. Hehe maaf ya… aku sayang padamu, Hyerim ❞  

Senyum Kim Hyerim terukir membaca ulang bait-bait yang ditulis Seojoon—Park Seojoon, calon suaminya, padanya melalui Line. Tidak dirasa, masa bergulir secepat kilat, Hyerim yang awal mulanya dituntun ayahnya berkenalan dengan Seojoon, malahan memasuki hubungan kasih dan akhirnya berencana merajut hubungan rumah tangga nan harmonis.

Cairan kofein yang ditampung cangkir pesanannya, Hyerim stor kembali ke tubuhnya, menghantar kehangatan memeluk tubuhnya yang ditelusuri rasa dingin—selain diterjang angin musim gugur, Hyerim dihampiri gugup berjumpa adik angkat Seojoon untuk kala pertama. Ugh, semacam membongkar brankas memori Hyerim tatkala berjumpa dengan kedua orang tua kekasihnya itu.

Ayunan tungkai yang mengikis spasi ke tempatnya duduk, menyapa pendengaran Hyerim yang menaruh fokus pada majalah mode yang diraihnya dari jejeran majalah yang tersaji di cafe. Kepala menunduknya, ranum mengulas senyumnya, dress oranye yang membalut tubuh ramping Hyerim melengkapi kesempurnaan akan pahat sempurna gadis tersebut.

Semua manik pasti akan tertancap pada gadis jelita tersebut, tak terkecuali pria yang baru datang dengan mata membulat.

Pria itu bukan Park Seojoon yang saat ini menyungging senyum manis. Bukan Park Seojoon yang merupakan kekasih Kim Hyerim.

Pria yang terpesona dengan rasa terkejut merayapinya adalah adik angkat dari Park Seojoon yang berasal dari Beijing.

“Sayang.” sebuah panggil dengan bariton mendebarkan hatinya, menarik fokus Hyerim dari majalah dan tersenyum.

Namun, seperkian detik ranumnya tertarik kembali memancarkan wajah blank ala Kim Hyerim, sebab akan retinanya yang mendapati sosok pemuda di belakang Seojoon, yang menatapnya penuh sirat pengertian.

Oppa,” berusaha, Hyerim merangkai kata setelah meneguk ludah susah payah. Seojoon dan Sang Adik Angkat, membawa diri duduk di kursi di hadapan Hyerim nan menautkan jemari di atas pahanya. “dia adik angkatmu?”

Tidak mendapati sinyal Sang Kekasih dilanda campur aduk, tenang terlukis disenyum Park Seojoon sambil merealisasikan anggukan. “Iya. Dia adik angkatku dari Beijing, namanya—”

Kalimat Seojoon terintrupsi oleh gerakan Hyerim yang seketika angkat tubuh, bola matanya bergerak-gerak tak tenang melirik adik angkat Seojoon yang menunduk tanpa berniat menatapnya balik. Lakon kekasihnya, ditimpali kernyitan di dahi dengan tatap bertanya dari Seojoon.

“Emmm… oppa, maaf. Aku harus ke toilet, maaf.” pamit Hyerim hanya alasan belaka, digas buru-buru pacuan langkahnya meninggalkan Seojoon dan calon adik iparnya.

Heran, Seojoon menggaruk kepala sambil menggumam tanya ada apa. Sementara di sebelahnya, adiknya membelokan kepala ke arah belakang, tepat menusuk figur Hyerim.

Kebetulan, gadis Kim itu menatapnya balik, membuat manik keduanya bersibobrok dan saling menyelami dalam untuk pertama kalinya.

“Dia—adik angkat calon suamiku adalah…”  dialihkan oleh Hyerim arah kepalanya, tungkainya berpacu lebih cepat dengan kepalan tangan, lalu ucapannya dalam hati terkumandang lagi. “…. cinta pertamaku sepuluh tahun lalu yang belum pernah aku temui.”

Luhan, itulah namanya, cinta pertama dengan sepah asam manis yang tertulis dalam diari seorang Kim Hyerim. Seorang lelaki yang kini menjadi calon adik iparnya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

—10 years ago—

10th March, 2007.

‘TOK! TOK!’

“HYERIM! KIM HYERIM! HEIII!”

Tubuh gadis yang namanya dilolongkan keras-keras pagi ini, masih berbungkus selimut dengan bergelayut manja bersama ranjang. Kim Hyerim menggeliat saat gauman namanya makin keras di luar tempat tinggalnya, pun gedoran di pintunya kian menjadi.

“KAMU HARUS BANGUN! SUDAH PAGI!”

Shin Yoonjo—siapa lagi yang akan berteriak bak orang kesurupan depan rumahnya bila bukan sahabatnya?—terus melolongkan teriakan dengan menggedor babi buta rumah Hyerim.

Terseok malas, badannya dituntun Hyerim turun, dwimaniknya setengah memejam dengan kesadaran masih ada di alam bawah sadar. Kaki Hyerim bergerak terhuyung-huyung, mulutnya menguap.

YA! MENTANG-MENTANG LIBUR, KAMU SEMPAT-SEMPATNYA BERMALAS-MALASAN, HUH? AKU, ‘KAN SUDAH BILANG AKAN DATANG!” bombardir Si Gadis Shin, tatkala Hyerim membukakan pintu.

Muka bantal Hyerim terhapus sudah berganti kedataran. Dipastikan Hyerim harus konsultasi dengan dokter THT sehabis ini, lantaran ditinjau seorang Shin Yoonjo siap menumpah ruahkan omelannya dengan menjinjing belanjaan.

Pasang sahabat ini sudah berlabuh di dapur. Shin Yoonjo bergelut dengan bahan makanan yang ia beli. Sedangkan Kim Hyerim, duduk manis di meja counter, dagunya tertopang dengan kantuk-kantuk.

“Oh, ya,” pekik Yoonjo, sibuk bergerayang dengan pisau, memotong sayuran. “Aku akan ke Beijing lusa.” info Yoonjo, melempar sayurannya ke dalam panci.

Setia dibelit kantuk, Hyerim menyipit melayangkan tatapan pada Yoonjo dengan alis berjungkit menemami.

“Terus?” respon Hyerim, sekenanya, lewat sekenanya.

Hal tersebut menarik Yoonjo menatapnya dengan kacakan pinggang menghiasi. “Kamu tidak mau ikut?”

Obsidian Hyerim multlak terekspos dengan mengernyit. “Untuk apa ikut?” balas Hyerim, sama-sama mengutarkan tanya, heran.

Diafragma Yoonjo mengempis bertanda napasnya terbuang berat, pisau di kukung tangan agak dibanting di atas meja counter. Hyerim sendiri dibelit ketidak pahaman dan hanya tambah mengernyit.

“Kamu ini bagaimana, sih?” gerutu Yoonjo, kentara sebal. Hasrat menamparnya jadi memuncak dalam diri Hyerim, sudah main dibangunkan tidak enak, gadis Shin ini main marah-marah dengannya. “Xiaolu. Teman chatmu di room chat semalam, dia dari Beijing. Kamu tidak berniat menemuinya? Aku dan Baekhyun ingin sekali bertemu sekalian berlibur.”

Omong-omong, teman chat, Kim Hyerim dan Shin Yoonjo memang bergabung disebuah komunitas online yang memainkan game role player. Game tersebut sedang populer dikalangan remaja. Bisa memilih pekerjaan apapun, memerankan apapun, menikah serta berpacaran dengan user lain atau sekedar membuat squad. Hanya segelintir permainan sehari-hari.

“Huh?” efek bangun pagi, Hyerim malah menampilkan respon bingung, pun alisnya terangkat satu. “Xiaolu yang mana?”

Kelewat geregetan, geligi Yoonjo mengertak dengan dengusan keras mengawani. “Itu, lho, kamu sempat merasa ilfeel dengannya karena salah pengejaan menulis hanggul. Harusnya today, dia malah menulis todai. Wajar saja, ternyata dia orang Beijing, jadi sedikit keliru.”

Labirin otak Hyerim berkerja cepat, buru-buru dikeluarkan ponsel di saku celana pendek yang dia kenakan kini. Hyerim bongkar isi ponselnya mengarah ke aplikasi game role player yang ia cap sebagai permainan kegemaran.

[Bbuing Squad (4 members)]
Xiaolu : Todai? Okey! ㅋㅋㅋ
ByunBacon : @Xiaolu Yup
JerryShin : @Xiaolu Yup (2)
Adeline Kim : @Xiaolu Todai? Ejaanmu salah, Lu 🙄
JerryShin : Eh aku baru sadar, hahah @Adeline Kim ㅋㅋㅋ

Kelopak manik Hyerim mengerjap-ngerjap, menelaah pesan di group chat dadakan antaranya, Yoonjo, Baekhyun, dan user bernama Xiaolu—user yang baru ia kenal beberapa hari lalu. Sekedar infromasi, user bernama Adeline Kim adalah account milik Hyerim. Sedangkan ByunBacon adalah milik Byun Baekhyun—salah satu kawan SMA Hyerim. Dan JerryShin adalah user milik Shin Yoonjo, sahabatnya.  

Layar ponsel Kim Hyerin beralih, menelaah chat pribadinya dengan Xiaolu.

Xiaolu : Adeline?
Adeline Kim : Ya?
Xiaolu : Kamu berasal dari Seoul juga?
Adeline Kim : Ya, kamu sendiri?
Xiaolu : Intinya bukan dari Seoul, haha ㅋㅋㅋ
Adeline Kim : Kutebak, Busan?
Xiaolu : Bukan, manis ㅋㅋㅋ
Adeline Kim : Hmm… Jeju?
Xiaolu : Jeju hanya destinasi liburan rekomendasi dariku, Adeline
Adeline Kim : Oh, Gwangju? Atau Ilsan? Atau… kota terpencil di Korea Selatan?
Xiaolu : Deng-dong! Salah, aku bukan dari Korea. Hanya mampu berbicara Korea sangat lancar 😁
Adeline Kim : -_- kenapa tidak bilang dari tadi? Tolol sekali, kamu.
Adeline Kim : Kalau begitu, kamu berasal dari mana?
Xiaolu : Rahasia, Adel. Haha, aku kurang terbuka masalah pribadi di dunia online. Hehe… tadi hanya memastikan, kamu berasal dari Seoul seperti Bacon dan Jerry juga, tidak.
Adeline Kim : Oh, begitu…

Finish menelaah percakapan singkatnya dengan Xiaolu, Kim Hyerim mengarah pandang lagi dengan Yoonjo yang sudah bergelayut dengan masakannya lagi.

“Kamu tahu dari mana kalau Xiaolu dari Beijing?” vokal Hyerim membawa atensi Yoonjo sekilas ke arahnya yang sedang mengedutkan dahi dalam. “Aku chat dengannya, dia tidak suka membeber informasi tentangnya dengan teman online, asal kamu tahu.” Hyerim menaruh curiga, mau tak mau, diselipi jua kepenasaran.

Kekehan Yoonjo lepas berkumandang diiringi kepala mendongkanya. Selesai berkekeh ria, Yoonjo tersenyum penuh arti pada Hyerim.

“Jangan lupa kamu berteman dengan seorang Byun Baekhyun, Hyerim,” ujar Yoonjo, memindahkan sup dari panci ke mangkuk sembari berkesinambung beraksara, “Byun Baekhyun selain cerewet, juga pemaksa. Xiaolu pun kalah telak, dan akhirnya memberitahu dari mana dia berasal dari semua pertanyaan mengenai hal pribadinya dari nama asli, tempat tinggal, dan yang lainnya, pun hanya satu yang terjawab.”

Sudah tak aneh, Byun Baekhyun memanglah lelaki semacam itu. Tercuat anggukan Hyerim dengan putar-memutar di bola matanya. Berbaik hati, Yoonjo menyajikan sup sebagai pembuka hari Hyerim.

Start lah Hyerim menyendok supnya, dibarengi Yoonjo membanting bokong di kursi di hadapannya, sama-sama tenggelam akan khidmat pada sup sebagai sarapan.

“Jadi…” Yoonjo berfrasa disela acara sarapannya, disarangkan lirikannya pada Hyerim nan penuh fokusnya pada mangkuk supnya. “kamu ingin ikut ke Beijing atau tidak?”

Terangkat wajahnya, Hyerim nampak mengunyah sup dalam mulutnya lantas menelannya ke dalam tubuh.

Kedikan bahunya terangkat, dan, “Tidak. Aku malas.” itulah respon Kim Hyerim.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

—1 month passed—

16th April, 2007.

Satu bulan berlalu, selama itu lah Kim Hyerim diselimuti kesibukan hidup realitanya. Tak sempat pula dirinya menyelami dunia game role player yang merupakan kesenggangan kala sepi juga suntuk. Yoonjo, pun Baekhyun juga begitu, apalagi saat Xiaolu enggan memberitahu mereka alamat rumahnya serta bertemu tatkala Baekhyun dan Yoonjo berjelajah ke Beijing.

Tak heran, sih, Hyerim memupuk pengertian juga ke Xiaolu. Baru pula keempatnya bertemu secara online—kecuali Hyerim, Baekhyun, dan Yoonjo, tentunya. Dan melihat tameng privasi yang ketat dipertahankan user bernama Xiaolu itu, wajar saja dia enggan bersitatap langsung dengan Baekhyun juga Yoonjo.

“Selamat ulang tahun, Kim Hyerim!” sorak Byun Baekhyun, merangsek masuk ke dalam dekapan Hyerim meski Si Gadis mencetak wajah jengah.

Sebuah pukulan di belakang kepala Byun satu itu ditorehkan Yoonjo, menyebabkan putusnya acara mendekap sepihak Hyerim, berganti jadi aktifitas Baekhyun mengelus belakang kepala seraya memberengut lah parasnya.

Ya! Sudah kubilang, aku yang memeluk Hyerim lebih dulu!” protes Yoonjo, bogem di tangannya berancang-ancang melayang ke depan wajah Baekhyun yang kian memberengut.

Otomatis, Kim Hyerim mendengus menahan tawanya lepas kendali. Sekon berikut, Yoonjo menstir kepala ke arah Hyerim, mengulas senyuman lalu menghambur memeluknya erat.

“Hyerim-ku sayang, selamat ulang tahun, ya.” ucap Yoonjo, tepat di telinga Sang Sahabat dengan penuh kasih.

Berbanding balik bak bumi dan langit, Hyerim balas pelukan Yoonjo tak selayak ketika Baekhyin memeluknya.

“Terima kasih, Yoonjo-ya.”

Hantar menghantar pelukan tersebut, terlepas. Mereka bertiga pun mulai merayakan acara kecil-kecilan di hari spesial Hyerim. Sebab orang tua Si Gadis sibuk mengurus bisnis keduanya di Belanda, hanya Yoonjo dan Baekhyun lah yang merayakan karena Hyerim juga malas mengingat hari ulang tahunnya sendiri—semenjak insiden satu tahun lalu.

DING! DONG!’

Bell rumah Hyerim di mana terayakan acara ulang tahun kecil-kecilan Si Empunya Rumah, berbunyi nyaring mengintrupsi pesta di dalam. Spontan ketiga sahabat nan di dalam pun, saling tukar pandang dengan sirat bertanya satu sama lain.

Tahu-tahu, agak memaksa, Yoonjo mendorong Baekhyun berdiri dan mentitahkan, “Sana! Kamu bukakan pintunya!”

Hendak melayang protes, tetapi finalnya Byun Baekhyun mengalah, digeret tungkainya menuju daun pintu lekas dibukakan lah pintu tersebut tanpa niat mengintip dari lubang pintu lebih dahulu.

“Siapa—”

“—Baekhyun-ah, Hyerim-nya, ada?” penggal Si Tamu, pada perkataan Baekhyun nan refleks mengunci mulut serta maniknya melebar kaget.

Hening menyelimuti. Atmosfer tersebut menghantarkan keanehan diantara Yoonjo dan Hyerim. Berperan sebagai tuan rumah, Kim Hyerim beranjak dan membawa diri ke arah pintu masuk.

“Baekhyun… siapa yang bertamu—”

—Oh, Hyerim sama membungkam mulut, selain diterjang kejut, dirinya dihampiri rasa amarah mencapai ubun-ubun, tak sadar kepalan tangannya telah tercipta dengan getar-gemetar, pun diafragamnya kembang kempis terbelengungi sesak tak terhingga. Shin Yoonjo juga membawa diri ke arah pintu masuk, sama seperti dua sohibnya, ia membelalakan mata diserang kaget.

“Oh Sehun.” ceplos Yoonjo pada Sang Tamu—lelaki rupawan yang sempat-sempatnya menyungging senyum penuh pesona tanpa sadar akan status brengseknya di sini.

Tanpa permisi, tanpa tahu sopan santun dengan seenak pantat, Sehun memasuki bawah atap rumah Hyerim, buket mawar merah kesukaan gadisnya, tersodorkan oleh lengan jaka rupawan ini.

“Selamat ulang tahun, sayang.” bariton Sehun, menerobos hening canggung yang terbangun.

Buket nan menyebar semerbak harum ke hidungnya, dijatuhi oleh tatapan dalam Hyerim. Kemudian gadis Kim ini menatap Sehun dengan mengulas senyum mengejek.

“Sayang pantatmu!” hardik Hyerim, menyentak kasar hingga buket bunga di pegangan Sehun, menampar lantai marmer rumahnya secara naas dan berceceran tak menentu. Mata Hyerim bekilat-kilat, mengobarkan api. “Kamu tidak pantas memanggilku begitu, brengsek! Ingin membuatku lebih tidak suka lagi dengan ulang tahunku sendiri, huh? Pergi sekarang juga!”

Amarah Hyerim menggelegar, dengan muka merah padam namun berbias likuid mengenang di kelereng matanya. Baekhyun dan Yoonjo hanya menunduk, tersenyum pasrah serta paham mengapa Hyerim bereaksi demikian.

Sehun sendiri, bereaksi dengan desahan kerasnya, diselami dalam netra berkaca-kaca Hyerim dengan binar bersalahnya.

“Aku tidak bermaksud begitu, Hyerim,” vokal Sehun, memelas tercetak di wajahnya, namun Hyerim memasang peringai agar tak jatuh kembali ke mantan kekasih bebajingannya ini. “Aku ke mari karena menyesal dan—”

—’PLAK!’

Mulut Baekhyun dan Yoonjo terbuka lebar ketika seringan bulu, tangan Hyerim melayang ke pipi Sehun. Melukis merah di pipi pria tersebut, menyebabkan kepalanya berputar ke samping akibat tamparan Sang Mantan yang masih ia kasihi.

Bola mata Hyerim bergetar-getar. Tangan yang menyerang Sehun barusan, gemetar hebat dengan setetes kristal yang brengseknya turun ke pipi tirusnya.

“Pergi selagi aku menahan diri tidak menendangmu dari sini,” peringat dara Kim ini, lafal katanya penuh penekanan. “Kamu sudah berstatus sebagai suami Park Jiae. Jangan sok suci mendatangi diriku ke sini di hari ulang tahunku seperti tahun lalu.”

Hyerim menutup konversasi, memutar tubuh, mengayunkan tungkai menuju kamarnya. Pintu terbanting menggelegar setelahnya.

Dara manis bernamakan Kim Hyerim itu tak peduli apa yang terjadi di luar. Apa Sehun sudah angkat kaki dari rumahnya, maupun seruan juga ketukan khawatir Yoonjo dan Baekhyun di daun pintu kamarnya.

Yang dilakukan Sang Dara hanya menyelusupkan diri di balik bantal, memecahkan tangis dengan isakan tertahan.

Apa perlu dibeberkan lebih rinci mengenai Oh Sehun yang dicap sebagai mantan brengsek oleh Kim Hyerim? Ya, Oh Sehun adalah mantan kekasih Hyerim. Tetapi hubungan keduanya kandas saat memasuki umur ke satu tahun, tepat di ulang tahun Hyerim, Sehun kepergok bermain api dan bahkan secara bajingannya sudah menanam benih di rahim istrinya kini—Park Jiae.

Hyerim berusaha move on, meskipun terbayang terus-menerus kenangan dengan Sang Mantan Terindah. Keduanya—Oh Sehun dan Park Jiae, menghilang dari bumi Korea Selatan, desas-desusnya mereka bersinggah ke Negeri Paman Sam, mengikat janji suci dan membangun rumah tangga harmonis di sana.

Akan tetapi, ketika Kim Hyerim mulai menghempas pahit nyeri yang ditanam Oh Sehun padanya, lelaki itu dengan kurang hajarnya muncul kembali tepat di hari ulang tahunnya setelah melenyapkan diri sekian lama.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

The path of tears that I walked on every day
My long days that were only filled with worries
You filled them up without any empty spaces
Then I was colored with a white light.

20th April, 2007.

Empat hari terlewati setelah kejadian Sehun, mantan terindah sekaligus terbrengseknya, muncul di hari ulang tahunnya. Selama itu jua Kim Hyerim malahan jatuh sakit, demam dan batuk pilek. Sesekali Yoonjo membesuk seraya merawatnya.

Cuti dari segala kesibukan rutinnya, Hyerim dibelit bosan setengah mati di rumah. Dibanting punggungnya ke kursi meja belajarnya, laptopnya dinyalakan. Awalnya, Hyerim berencana berselancar ke account Instagramnya, tetapi netranya malah berpusat ke aplikasi game role player yang sudah tak dijamah selama sebulan oleh Hyerim.

Menerka apa saja yang sudah terjadi di dunia permainan peran itu, Hyerim dibendung perasaan menggebu mengklik game tersebut. Maka berakhir lah kursornya menekan aplikasi permainan tersebut. Segera Hyerim disambut kotak memasukan user name, password, serta e-mail.

Melengkapi data yang terpampang, Hyerim sah masuk ke accountnya yang dipenuhi sarang laba-laba. Diperiksa kembali oleh Hyerim, poin terakhir yang ia kumpulkan di game untuk membeli perlengkapan di permainan tersebut.

Saat berselancar ke room chat, Hyerim melihat notifikasi teratasnya adalah chat dari user Xiaolu. Alis Hyerim berjungkit, sebelum akhirnya memasuki percakapan pribadinya dengan Xiaolu.

Xiaolu : Selamat ulang tahun, Adeline! ^^ semoga saja kamu memasang ulang tahun aslimu di profil hehe. Tambah cantik saja, ya ㅋㅋㅋ walau aku tidak tahu wajah aslimu. Dan… semoga poinmu makin banyak, haha! [16-04-07]

Hyerim diterpa ketermenungan, kelopaknya baru mengerjap setelah membaca ulang pesan pribadi yang dikirimkan Xiaolu empat hari lalu. Iseng, dirinya mengklik profil account Xiaolu, lantas netranya disapa balon-balon bertebaran dengan tulisan; ‘Today is Xiaolu birthday!’

Eh? Xiaolu ulang tahun hari ini? Well, ketika para user di game memasukan tanggal lahir di fomulir pendaftaran membuat account, tanggal lahir pemilik user akan terpampang di profil. Bahkan akan ada notifikasi ketika satu user berulang tahun dan di profilnya akan ada tulisan serta balon-balon yang dilihat Hyerim di profil Xiaolu saat ini.

Kursornya dikomando menuju room chat lagi, lekas Hyerim mengetik balasan untuk Xiaolu.

Adeline Kim : Eh? Hahah, aku kaget karena baru memainkan game ini lagi, Lu. Itu sungguh ulang tahunku kok, terima kasih banyak, ya. Dan… sesuai pernyataan di profilmu, kamu ulang tahun sekarang, ‘kan? Selisih empat hari denganku. Emmm… itu ulang tahun aslimu, ‘kan? 😝 Selamat ulang tahun! Semoga kamu makin tampan ya walau lebih tampan Kyuhyun Super Junior, lol ㅋㅋㅋ

Bereuferia, Hyerim sibuk memainkan perannya sebagai pekerja di sebuah perkantoran. Dia bawa tokoh Adeline di gamenya, berjalan-jalan ke taman dengan anjing peliharaannya setelah berkerja.

‘TING!’

Bunyi notifikasi chatnya, terdengar, menampakan kotak di sisi bawah laptopnya berisikan nama Xiaolu. Tanpa sadar, Hyerim menyungging senyum.

Xiaolu : Terima kasih kembali, Adeline yang manis ㅋㅋㅋ. Ya, aku ulang tahun sekarang. Haha, terima kasih banyak 😝 hei, aku ini idola di kalangan anak remaja di distrikku, Kyuhyun pun bisa kusaingi 👻
Xiaolu : Oh, ya, omong-omong, kamu ke mana saja Adel? Bbuing squad saja sudah bubar. Aku rindu Bacon dan Jerry yang suka berdebat di situ. Keduanya malah mendeactactive account. Untung masih tersisa kamu di sini 😁

Refleks, dengusan Hyerim keluar dengan gelinya membaca pesan pertama dari Xiaolu. Jemarinya berdansa di atas keyboard, merangkai kata membalas pesan Xiaolu.

Adeline Kim : Adeline yang manis? Jangan tebar pesona terus padaku dengan gombal receh, bisa jadi aku terjatuh padamu, bagaimana? Haha. Ya, terima kasih kembali juga, Xiaolu! Oh ya? Tidak percaya, tuh 😝
Adeline Kim : Mereka berdua sibuk, malas juga bermain lagi, katanya. Aku juga sibuk, sih. Tapi empat hari ini aku jatuh sakit. Menyebalkan. Apalagi hari ulang tahunku kacau balau. Makanya, aku berlari lagi ke permainan ini, haha.
Xiaolu : Intinya ketampananku tak kalah juga dari seorang member Super Junior, Nona Adeline Kim. Ahhh… bila kamu jatuh padaku, bukannya aku beruntung? Haha, bercanda, cantik! :p
Xiaolu : Begitu. Sedih saja keduanya yang mempunyai kehidupan pernikahan abnormal—di game ini, malahan deactactive. Semoga lekas sembuh, Adel 😊 Kacau balau? Kenapa?

Pesan awal Xiaolu, mengundang kekeh pelan Hyerim dengan dengusan gelinya. Pria ini memang penuh perhatian dan kadang menyelipkan frasa manis mengandung diabetes, Hyerim juga tahu dari interaksi Xiaolu di time line game. Namun, kala membaca pesan kedua dari Xiaolu, ranum Hyerim mengerucut, mereplay ulang kejadian tak mengesankan di ulang tahunnya empa hari silam.  

Adeline Kim : Terserah. Aku saja tidak tahu wujud aslimu, ya sudah, aku iya-kan saja :p Hei! Tak usah percaya diri kamu, aku tidak akan jatuh ya dengan frasa gombal recehmu yang penuh gurauan
Adeline Kim : Yeah, Bacon dan Jerry juga mempunyai hubungan kasih nyata yang sangat abnormal, haha. Andai kamu bisa melihatnya langsung, pasti kepalamu pecah!
Adeline Kim : Huh? Apa aku bisa mempercayaimu dengan bercerita apa yang terjadi di hari ulang tahunku?
Xiaolu : Haha :p baiklah, jangan jatuh padaku. Aku nyaris lupa, kamu ini berteman nyata dengan Bacon dan Jerry
Xiaolu : Terserah. Lagipula aku akan menyebarkannya pada siapa bila kamu cerita? Bila kamu butuh pendengar, aku bersedia, Adeline

Usai membaca pesan Xiaolu, Hyerim menimbang-nimbang, tak lekas mengetikan balasan. Sekon persekon terbuang, barulah Hyerim buang napas dengan merunduk, lantas anggukannya teraksikan.

“Biaklah. Lagipula, aku butuh teman curhat.” kelakar Hyerim, mengakui.

Dia tidak bisa mencurahkan isi hati pada Yoonjo, karena tahu temannya sibuk dengan pekerjaan di kantor redaksinya. Baekhyun? Hyerim sering kali emosi bila berdongeng dengannya. Opsi terakhir Hyerim ya adalah Xiaolu—teman online yang wujudnya saja tak ia ketahui.

Adeline Kim : Baiklah. Aku memang butuh, sangat butuh pendengar. Tapi bisakah kita bertelponan gratis saja? Aku lebih nyaman mencurahkan isi hati dengan frasa

Sesal baru membendung Hyerim kala tombol send sudah tertekan. Dara ini baru ingat, Xiaolu berpringai sangat tajam menjaga privasinya di dunia online. Gas karbon Hyerim jadi terbuang diiringi bahu merosot.

‘Ding! Nong! Ding! Nong!’

Sontak kurva Hyerim melebar disertai mulut melongo, sampai-sampai diusap-usap kasar obsidiannya ketika laptopnya mempampangkan kata; ‘Xiaolu Calling’.

Lama bergelut dalam kejut dengan jantung berpacu gila-gilaan, panggilan tersebut terhenti. Mengundang Hyerim cemberut dengan sesal terlukis di mukanya. Namun, dilekaskan dara Kim ini berselancar ke obrolan pribadinya dengan Xiaolu.

Adeline Kim : Astaga! Maaf Lu, aku kaget saat tiba-tiba kamu menelpon, padahal aku sedang menunggu responmu mau atau tidak bertelponan. Hmmm… aku on menggunakan laptop, tidak nyaman call lewat laptop tanpa video. Jadi, aku pindah on ke handphone dulu, oke? Nanti aku telepon kamu
Xiaolu : Hehe, maaf mengagetkanmu, Adel. Baiklah, saat siap, telepon saja aku, aku menunggu 👌

Cepat-cepat Hyerim menshut down laptopnya, beranjak mengambil ponsel yang tergeletak menganggur di atas naskas sebelah ranjang. Harmoni acak terjadi di rongga dada dara bernama Kim Hyerim ini seraya mencall user Xiaolu setelah menembus kotak pengisian accountnya untuk sign in. Jempol kirinya digigiti Sang Gadis, menanti panggilan terjawab.

“Hallo?”  bariton Xiaolu yang mempertingkat degupan di jantungnya, menyusup ke runggu Hyerim yang meremas kuat bajunya tepat di bagian dadanya yang seakan mau meledak.

Diambil napas lebih dahulu, sebelum Hyerim menyahut, “Lu?”

Sialan, detakan jantungnya menggila tak karuan kala disapa sunyi setelah vokal Xiaolu memecah lagi.

“Hmm… ini aku,” dibayang otaknya, Xiaolu sedang mencuatkan anggukan singkat saat ini. “kamu ingin cerita apa Adeline? Aku akan mendengarkan.”

Kembali, pasokan oksigen diambil dalam-dalam sebelum berdongeng. “Baklah, aku akan bercerita panjang lebar. Siap-siap mendengarkan, oke?”

“Baiklah, aku pendengar baik hati selain pria tampan baik hati.”

Terundanglah dengusan keras menahan tawa dari Hyerim mendengar penuturan Xiaolu. Dimasa-masa berikut, suara ayu Hyerim mendominasi. Mendongengkan panjang lebar tentang awal pertemuannya dengan Sehun, ketika pria itu mengejar-ngejarnya saat sudah ditolak berkali-kali karena Hyerim tahu betul sifat brengsek seorang Oh Sehun yang telah menyebar bak hama ke sana-sini di lingkungan kerjanya, sampai akhirnya keduanya merajut kasih di hari ulang tahun Hyerim. Dengan kegetiran, sesak, marah yang tertahan, Hyerim membeberkan semuanya sampai klimaks Sehun menyelingkuhinya dan ketangkap basah saat simpanannya yang mengandung anak Sehun, main datang ke acara ulang tahun sekaligus first anniversary Hyerim bersama Sehun. Selingkuhan mantan kasihnya itu, bak kesetanan membeberkan hubungannya dengan Sehun serta janin di perutnya serta merta menuntut pertanggung jawaban.

Xiaolu setia mendengarkan, kadang mendesah dan menenangkan Hyerim tatkala dirasa Si Gadis ingin meloloskan tangis.

“…. lalu empat hari lalu, tepat di hari ulang tahunku, mantanku ini datang kembali setelah lama di Amerika tanpa tukar kontak. Dia seenak jidat mengatakan, ‘Hyerim…’”

Dijejal nama asing, Xiaolu di ujung sana mengernyitkan kening dalam. “—Hyerim? Siapa Hyerim? Nama asli dirimu?”

Ups, Hyerim menutup mulut, tak sengaja dirinya keceplosan mengikrarkan nama aslinya. Toh, terlanjur, jadi Hyerim hanya mengembung pipi serta mengangguk refleks—padahal Xiaolu tidak bisa melihatnya dari Beijing sana.

“Ya, Kim Hyerim. Nama asliku. Tidak sengaja aku keceplosan, jadi ya sudah lah,” ikrar Hyerim pasrah, mengangkat bahu tak peduli. Di sebrang, kekehan Xiaolu terdengar. “ya intinya, mantanku ini mengatakan menyesal dan perkataan busuknya terputus oleh tamparanku. Well, i am totally move on, tapi siapa yang tidak diserang gempa mini melihat mantan terindah? Aku hanya bisa menangis semalaman disisa hari ulang tahunku, miris, ‘kan? Dan mungkin aku sakit karena drop memikirkannya. Mantanku terus mengirimiku surat tak mutu yang tidak kubuka-buka sampai sekarang, ke rumah.”

Mengungkit surat, Hyerim jadi menaruh fokus ke tumpukan surat yang sudah ada sepuluh selama empat hari ini dan pengirimnya adalah Oh Sehun yang menyelipkannya di bawah pintu rumahnya.

“Baiklah, Nona Hyerim,” terselipkan kekehan Xiaolu saat menyungging nama asli Adeline—Hyerim. Tahu itu mengoloknya yang tak sengaja keceplosan, Hyerim memutar bola matanya. “aku mengerti perasaanmu. Walau kamu sudah sepenuhnya move on, kamu pasti masih memiliki rasa dengannya. Saranku, lebih baik temui dia, sekalian dengan istrinya. Lalu kamu katakan, kamu tidak mau dikejar lagi oleh mantan brengsekmu. Setidaknya, istrinya akan mengintai mantanmu, ‘kan, karena ketahuan masih mengincarmu? Jangan hindari dia. Hadapi, lalu buang dia seperti dia membuangmu dulu.”

Masukan Xiaolu itu dibenderai kesetujuan dalam runggu Hyerim. Benar, dia harus menemui Oh Sehun dan Park Jiae, membangun tameng angkuh serta merta dengan tega membuang Oh Sehun seperti perilaku pria itu padanya dahulu.

Anggukan Hyerim terasikan dengan raut setuju, walau sekali lagi, Xiaolu tidak akan melihatnya. “Kamu benar, Lu. Terima kasih atas saran dan waktu yang kamu luangkan serta berikan untuk mendengarkan ceritaku.”

Kekeh singkat Xiaolu menyapa runggunya, kekeh yang janggalnya menghantar desiran di dalam hati Hyerim.

“Terima kasih kembali, Nona Hyerim.” ada ledekan dilafal ayat katanya.

Lagi, Hyerim menimpali dengan mata berputar. Mimiknya berbingkai jengkel. Toh, nasi sudah jadi bubur, Xiaolu kepalang tahu nama aslinya.

“Ya. Kamu membuatku menyesal sudah pasrah saat keceplosan mengatakan nama asliku, Xiaolu.”

Xiaolu malah tertawa lebar—lebar diprediksi dari tawanya yang kentara puas di liang dengar Kim Hyerim.

“Nama aslimu bagus seperti nama Adeline yang menjadi nama samaranmu, Hyerim.”

Pujian Xiaolu berdampak akan pipi apel Hyerim yang buru-buru menggosok-gosok pipinya, berharap panasnya reda dan kembali memukul serta meremas dada lantaran dadanya bergemuruh gila-gilaan.

“Jangan gombal, Xiaolu. Gombalanmu tidak berpengaruh padaku,” gantian Hyerim bisa melempar olokan, dan berganti haluan lah Xiaolu yang mendengus jengkel kelewat geli atau mungkin jua memutar bola dwimaniknya. “Ngomong-ngomong, curang. Kamu sudah tahu namaku. Masa aku tidak tahu namamu? Hanya nama. Bacon saja diberitahu olehmu dari mana kamu berasal. Well, karena kamu dipaksa, sih. Dan di sini aku tidak memaksa dan merasa kurang deal. Hanya nama saja, apa salahnya?”

Tak sadar, air wajah Hyerim berubah memohon, berharap-harap cemas. Panggilannya dengan Xiaolu, dihujani sunyi. Hening berkelanjutan ini membuat Hyerim mengira panggilan sudah finish, dan Si Dara hendak mematikan sambungan walau dibesiti kekecewaan. Tetapi…

“Luhan,” aksara asing itu menerobos masuk ke dalam telinga kanan Hyerim yang membelalakan mata kaget tatkala berkeinginan memutus sambungan.

Dirasa olehnya, Xiaolu mengulum senyum manis—yang entah kenapa rasanya akan membuat Hyerim guling-guling karena pasti senyumnya selembut suaranya. Xiaolu pun mengambil napas, pun menghembuskannya dikemudian waktu.

“Luhan. Itu nama asliku. Kita adil, ‘kan sekarang, Nona Kim Hyerim?”

Terbit senyum lebar Hyerim dengan wajah kegirangan. Luhan. Nama itu dia dekam erat dalam labirin memorinya, tak dibiarkan aksara nama itu terlepas dari memorinya barang sedetikpun.

Luhan.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

I am looking at you
I am in love with you
Without you, I can’t be me
Do you know?
It’s you I love

Waktu kian beranjak. Hubungan Hyerim makin erat dengan Luhan—alias Xiaolu. Kadang kala keduanya melempar canda, menceritakan keseharian masing-masing, mengirim support. Bahkan Luhan sudah berani terang-terangan mendongengkan kehidupan realitanya pada Hyerim.

Pun, di game role player keduanya memverifikasi tokoh Xiaolu dan Adeline—yang keduanya mainkan, menjadi saudara. Namun, banyak yang sering meledek keduanya terlihat sebagai pasangan dibanding sepasang saudara.

Omong-omong, Hyerim juga melaksanakan masukan Luhan untuknya kepada Sehun. Dan tiga bulan ini, Sehun dan Jiae kembali tenggelam di Amerika, memutus hubungan dengannya. Hyerim juga merasa, perasannya teruntuk Sehun sudah totalitas dia hapuskan, malahan… dia sekarang lebih bergantung pada Luhan.

Saat penat, sedih, ataupun bahagia, dirinya membongkar isi ponsel dan berselancar ke chatnya dan Luhan, membagi kisah bahkan kadang kala memecah tangis sambil berkomunikasi suara melalui panggilan gratis. Kadang keduanya online hanya untuk mengobrol di percakapan pribadi dibanding memainkan game. Hyerim tahu, dia sudah terlalu bergelayut pada Luhan, tak bisa tanpa pria itu yang bahkan tak ia ketahui wujudnya. Mengalihkan semua atensi yang bersisih darinya pada Sehun, ke pria Lu itu.

“Serius, aku kesal sekali, Hyer. Saat tiba-tiba bola yang kubawa, direbut tim lain lalu dirinya mencetak goal.”

Kata berhasrat penuh kesebalan Luhan, memenuhi pendengar Hyerim yang menjepit ponsel di antara bahu dan telinganya sekarang, tangannya sibuk mencuci piring sehabis makan malam.

“Ya, setidaknya ini kekalahan pertama tim sepak bolamu—”

“—Tetap saja aku tidak terima, Hyerim sayang!” penggal Luhan, rinci terdengar geliginya menggertak keras. Well, keduanya kadang saling melempar panggilan manis berupa frasa ‘sayang’ seperti tadi. “Intinya, moodku turun drastis.”

Acara cuci piring Hyerim mencapai finish, dikeringkan tangannya menggunakan handuk kecil sebelum akhirnya memegang ponselnya dengan benar sembari melangkah ke kamar tidurnya.

“Uhhh~, Luhanku sayang sangat sedih, ya?”

Di ujung sana, Luhan mengangguk dengan bibir dimajukan. Frasa sayang dari Hyerim nyatanya tak melewatkan kehangatan memeluk hatinya.

“Lalu, aku harus bagaimana agar sayangku senang kembali?” utar Hyerim, punggungnya bertabrakan dengan kasur empuknya, selimutnya mulai ia tarik membalut tubuh rampingnya.

Luhan yang terduduk di sisi ranjangnya, membawa tubuhnya tidur juga di atas ranjang seraya mengulum senyum simpul. “Apa, ya? Kalau bernyanyi, suaramu, ‘kan tidak sebagus diriku.”

Hyerim memiringkan tubuh, mendengus keras, merasa terhina dan memutar adegan saat dirinya menyanyi dengan suara paraunya melalui telepon, mengundang tawa keras Luhan terlolongkan, sampai pemuda itu sakit perut.

“Lalu, kamu ingin aku melakukan apa sekarang?” menekan kesal, Hyerim bertanya agak ketus.

Alis Luhan terangkat, memutar-mutar ide yang hilir hudik di benaknya tuk dia tarik salah satunya.

“Apa, ya? Mendengarkanmu bercerita atau menghiburmu sepertinya membuatku senang.” Luhan memiringkan tubuh, tersenyum hangat.

Dengusan keras Hyerim, tercuat dibarengi manik berputar. “Bukan seperti kamu yang sedih, tapi diriku,” kekehan Luhan sejenak mendominasi, sebelum akhirnya Hyerim bersajak lagi. “Aku ingin dinyanyikan lagu yang kemarin aku kirim liriknya padamu, romantis, bukan? Aku suka sekali. Aku ingin dinyanyikan lagu itu sebelum tidur sekarang.”

“Duh, maaf, tapi suaraku sedang kurang enak hari ini untuk bernyanyi.” sesal Luhan, teringat radang tenggorokan yang menggerogotinya, tetapi diam-diam atensinya jatuh ke piano mini di ujung kamarnya.

Di Seoul, Hyerimnya sudah mengerucutkan bibir digerubungi perasaan kesal. “Tapi… aku ingin—”


Secara paksa, kata-kata Hyerim terputus saat suara merdu piano memasuki liang dengarnya. Mata Hyerim membelalak, sensor otaknya kenal sekali melodi ini, lagu Angel yang kemarin-marin liriknya ia kirim pada Luhan. Dan Luhan mengatakan akan mencari kunci kode untuk instrumen piano akan lagu itu dan akan memainkannya pada Hyerim bila sempat. Hyerim kira, Luhan hanya asal berkata tetapi mendengarkan instrumen lagu yang ia maksud kini, dara ini tahu bahwa jaka satu itu serius mencari instrumennya dan memainkan khusus untuknya.

Permainan piano Luhan mencapai akhir, Hyerim masih setia termenung sampai Luhan mengambil ponsel serta tenggelam lagi dengan percakapannya bersama Hyerim.

“Bagaimana? Permainanku bagus, ‘kan?” Luhan agak menyombong, memutus lamunan Hyerim sampai-sampai Hyerim tersentak dan mengerjap.

“Eh?” ceplos Hyerim, dungu. Untung Luhan tak lihat wajah cengonya, bisa-bisa pemuda itu makin menyombong dan tertawa. “Y—ya… bagus sekali, Lu. Terima kasih sudah memainkannya untukku.”

Luhan tertawa, dirinya telah berlabuh lagi di kasur empuknya, menerawang bebas di atas langit-langit kamar, mengimajikan paras Hyerim berada di hadapannya walau ia tak tahu paras Si Gadis karena mereka belum bertukar foto. Jikalau Luhan memikirkan Hyerim, wajah tokoh cartoon Adeline yang terbesit di pikirannya di game role player, begitupun sebaliknya.

“Hyerim, aku ingin melihat wajahmu,” vokal Luhan, menyebabkan alis Hyerim terpaut. “Kirimkan fotomu atau kita lakukan video call.”

Nampaknya Hyerim diserang kantuk, dia mengangguk sekenanya, penasaran juga akan paras Luhan.

“Hmm… akan kukirimkan fotoku besok.” ucap Hyerim, lantas menguap lebar.

Tak dapat sinyal Hyerim yang mengantuk dan tak dapat melihat Si Gadis yang menguap, Luhan merengek.

“Kenapa besok? Aku ingin sekarang.”

Hyerim sudah setengah menyelami alam mimpi, matanya setengah terpejam. “Hmm? Hoam… aku mengantuk, Luhan. Besok saja, ya? Sudah malam, aku besok kerja, kamu juga.”

Ketidak setujuan terbingkai di wajah Luhan, kembali ia kelakarkan rengekan. “Aku ingin melihat wajahmu sekarang, Hyerim,” refleks, Luhan menggoyang-goyangkan tubuh. Respon Hyerim tak terdengar kecuali sunyi dari ujung sana. “Hyerim? Hyerim?”

Dijauhkan oleh Luhan ponselnya, panggilan masih terhubung saat Luhan menatap layar ponselnya. Ditarik kesimpulan, Hyerim pasti telah bertamasya ke alam mimpi. Luhan mengukir senyum kemudian mengikis spasi antaranya dan layar ponsel, menyarangkan ciuman di layarnya—berimaji bahwa itu kening ataupun ranum Kim Hyerim walau perilakunya layak orang tak waras.

Dilebarkan spasi sejengkal antaranya dan layar ponsel, kemudian Luhan berbisik. “Aku mencintaimu, Kim Hyerim.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Can I love you?
Can I softly hug you?
The lights were turned off in my dark heart
Then you came in like a star

1st January, 2008 [00.00 AM]

Xiaolu : Selamat tahun baru, Hyerim! Mari buka lembaran baru bersama di tahun ini ㅋㅋㅋ ❤
Adeline Kim : Selamat tahun baru juga, Luhan sayang ❤ kali-kali kita harus bertemu, oke?
Xiaolu : Iya, sayang, iya… kali-kali aku ke Korea atau kamu yang ke sini, ya. Tidur lah, sudah malam

Hyerim menerbitkan senyum, menutup aplikasi gamenya serta berselungkup di balik selimut, masih setia menyemat senyum. Lagi, timing bergulir layaknya kilat, setahun telah berjalan diantaranya dan Luhan. Selama itu jua, keduanya lebih dekat sama lain—meski, well, mereka berhubungan masih melalui game role player. Tetapi, setidaknya, kini Hyerim dan Luhan telah mengetahui jepret paras masing-masing dan karap kali melakukan video call. Bahkan Luhan mengirimkan screen foto Hyerim—yang dia sebut cantik, menjadi wallpaper ponselnya.

Hyerim bahkan tak kuasa menahan tawa saat Luhan berdongeng, ibunya menanyakan siapa gerangan Kim Hyerim yang fotonya terpampang di wallpaper handphonenya, dan Luhan dengan enteng menjawab; “Dia calon menantu ibu.”

Mengenai hubungan keduanya? Tidak ada yang spesial. Terikat sebagai pasang kekasih pun tak terjalin antara dua insan itu. Semuanya mengalir saja bak air sungai nan tenang. Di game pun, karakter keduanya masih memainkan peran saudara—tidak berpacaran ataupun menikah. Semua hanyalah perkara yang timbul dibenak keduanya; mereka hanya kenal melalui internet, pun belum bersitatap di realita, jadi cukup begini saja walaupun tanpa sadar ditinjau jauh, cinta resmi bersemi diantara keduanya.

Kala salah satunya tidak online, pasti mereka akan saling mencari. Terlebih Hyerim, dirinya sudah berpusat pada Luhan, mengeluarkan keluh kesah pada pria tersebut menghantarkannya pada sikap ketergantungan. Kadang kala dirinya yang heboh sendiri menspam ruang obrolan Luhan bila pria itu tak kunjung menjawab sampai berhari-hari—walau Hyerim kadang berkata, mungkin sikapnya ini berlebihan, tetapi Luhan selalu menjawab bahwa spamannya itu merupakan hal yang Luhan sukai.

Kecerian harusnya menyapa Kim Hyerim diawal tahun, dimana lembaran diari barunya dimulai. Namun… semua luluh lantah kala sebuah panggilan telepon dari Belanda, menyambarkan petir di awal mula dirinya menyapa tahun 2008.

“Hyerim-ah, bisakah kamu ke Amsterdam sekarang juga? Ibu… ibumu… meninggal dunia.”

Hatinya porak poranda segera, ponselnya meluncur turun bertabrakan dengan lantai kediamannya, dara manis ini pun hanya mampu melukis wajah kosong dengan denyutan nyeri menggerayang seluruh tubuhnya. Apa kata ayahnya barusan? Ibundanya telah tiada? Tetes likuid mulai menganak sungai di pipinya.

Lekas Hyerim pungut kembali ponsel pintarnya, meletakan benda kotak itu di telinganya, berusaha mengontrol perasaan berkicamuk dengan diafragma naik turun.

“A… A… A—yah…” lafal Hyerim, tersendat, ujung hidungnya telah mutlak memerah dengan desak-mendesak kristal yang ingin keluar dari dalam mata. “Aku… aku… akan segera ke Amsterdam. Aku…—”

“—Shhh, sayang, ayah tahu ini sangat berat untukmu. Ayah juga begitu, Hyerim. Cepatlah ke Amsterdam, ayah menantimu.”

Sambungan terputus, tak menentu pikirannya hilir hudik, Kim Hyerim membedah ponselnya, memasuki game role playernya. Mengklik profil Luhan, lekas dirinya menyambungkan panggilan video. Nada sambung mendominasi penantian Hyerim, ujung jarinya dia gigiti.

‘Tut!’

Asa panggilan yang tersambung dengan kornea disapa muka tampan Luhan di layar ponsel, hanyalah asa belaka tatkala panggilan tak terjawab. Dada Hyerim makin dibelengungi sesak, pun kembang kempis tak berarturan, air matanya tak elak bercucuran deras. Lagi, lagi, dan lagi, Hyerim menghubungi Luhan walau dia seakan egois karena dipastikan Luhan bergelut dengan sibuk kehidupan nyatanya. Namun mencoba tidak ada salahnya, ‘kan?

Angan semata hanya respon dari usaha Kim Hyerim. Jaka yang menjadi obat penenangnya itu tak kunjung menjawab panggilannya, missed call Hyerim telah menumpuk di percakapan pribadi keduanya. Menghembus napas berat, Hyerim menggerakan jari di atas ponselnya, merangkai frasa untuk ditinggalkan pada Luhan.

Adeline Kim : Kamu sibuk, ya? Bila sudah tidak sibuk, hubungi aku. Aku membutuhkanmu, Lu, sangat
Adeline Kim : Oh, ya, aku akan berangkat ke Amsterdam hari ini. Mungkin responmu akan kubalas lama karena berada di perjalanan. Ibuku meninggal, aku sangat membutuhkanmu. Telepon aku, oke?

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

I close my eyes but you don’t fade
I turn around but you don’t get far away
In my frozen heart that avoided love
You came in

Ini mengenai Kim Hyerim, dara jelita itu menginjakan kaki di Amsterdam sebulan lalu. Menghirup udara Eropa setelah sekian lama, meskipun keasrian dan kententraman menyapanya di Belanda, hatinya tengah dikubung duka. Ibunya pergi dari dunia, Luhan bahkan tak kunjung membalas pesannya selama satu bulan.

Entah berapa mili likuid yang tumpah ruah dari manik Hyerim, menangisi pilu Luhan yang seketika lost contact dengannya, pun sisihan kepergian Sang Ibunda. Hyerim sah mengklaim diri memumpuk cinta kepada seorang Luhan. Bodohnya, Kim Hyerim menyesal tak sempat menyampaikan bahkan menyadari rasa cintanya pada Luhan dahulu. Sekarang, hanya bayang-bayang Si Pria yang menghantuinya, tanpa bisa terhapuskan dengan mudah.

Cinta pertama? Ya, itulah definisi Kim Hyerim pada Luhan. Selama ini, bahkan pada mantan terbrengseknya—Oh Sehun, Hyerim belum pernah mengklaim suka dan nyamannya sebagai cinta pertama. Pacar pertama belum tentu cinta pertamamu, ‘kan? Maka, sekarang Hyerim hanya mampu menelungkupkan wajah di balik lipatan tangan, bahu merosot turun naik, isakan mendominasi, setelah bersinggah di rumahnya di Seoul yang telah ditinggalkan sebulanan ini.

Dan ini tentang Luhan. Pagi itu, tepat satu bulan yang lalu dimana Hyerim dikubung duka akan ibunya yang pergi. Luhan juga mengalami insiden. Darah menetes dari hidungnya, tak berujung meski dengan tisu yang sudah menjejali lubang hidungnya, mimisannya tak kunjung stop.

Leukimia. Penyakit itu dikunci rapat-rapat oleh Luhan dari Hyerim, tak ingin gadisnya diterjang khawatir padanya yang hanya bersitatap melalui dunia maya semata. Dan pagi itu, kesadaran Luhan terengut, kanker darahnya kian parah.

Satu bulan Luhan bersinggah di rumah sakit, jatuh koma dan untungnya seberkas cahaya datang padanya, donor STB yang dapat menghempas penyakitnya itu datang menghampirinya. Menarik Luhan kestabilan hingga mampu rangsangan maniknya menatap dunia kembali.

“Bagaimana keadaanmu?” Sang Ibunda bertanya seraya mengupas apel di sebelah ranjangnya.

Luhan termenung, merasa pening lantaran terlalu lama menerjang alam bawah sadar. “Hmm.. aku baik, Bu.”

Kupasan apelnya, sudah beres, ibunya pun menyodorkan apel tersebut pada putranya. “Makanlah ini dulu sampai suster membawakanmu makanan, kamu kelihatan sangat kurus, Han.”

Spontan Luhan mengangguk, mengambil alih piring berserakan kupasan apel di atasnya dan memasukannya ke mulutnya. Ibunya pun pamit dahulu karena memiliki urusan, meninggalkan Luhan seorang diri di bangsalnya.

Sibuk menelan apel ke mulut dengan termenung lama, seluet paras Kim Hyerim seketika melewati benak Luhan, membuat pemuda dua puluh tujuh itu membelalakan mata dan lekas mencari ponselnya.

Barulah ia sadar telah meninggalkan dunia permainannya juga Kim Hyerim selama satu bulan lebih dua hari, tatkala retinanya dilihatkan tanggalan hari ini, 3 Febuari 2008.

Melesat segeralah Luhan ke accountnya, langsung dirinya digerudung notifikasi beruntun selama satu bulan ini dari account Hyerim.

Adeline Kim : (37 video calls missed) [01-01-08]
Adeline Kim : Kamu sibuk, ya? Bila sudah tidak sibuk, hubungi aku. Aku membutuhkanmu, Lu, sangat [01-01-08]
Adeline Kim : Oh, ya, aku akan berangkat ke Amsterdam hari ini. Mungkin responmu akan kubalas lama karena berada di perjalanan. Ibuku meninggal, aku sangat membutuhkanmu. Telepon aku, oke? [01-01-08]
Adeline Kim : Lu, kamu masih sibuk? Aku sudah berada di Amsterdam, kita beda tujuh jam sekarang [02-01-08]
Adeline Kim : Luhannn ~~~ aku rindu padamu, kamu ke mana sih? :< [04-01-08]
Adeline Kim : Apapun kesibukanmu, aku harap kamu cepat menyelesaikannya. Lagi, aku rindu padamu [08-01-08]
Adeline Kim : Jahat, jahat. Sudah berapa lama kamu meninggalkanku tanpa kabar? 😭😭😭 [14-01-08]
Adeline Kim : (59 missed calls) [14-01-08]
Adeline Kim : L [15-01-08]
Adeline Kim : U [15-01-08]
Adeline Kim : H [15-01-08]
Adeline Kim : A [15-01-08]
Adeline Kim : N [15-01-08]
Adeline Kim : [15-01-08]
Adeline Kim : :< [15-01-08]
Adeline Kim : Where are you? [15-01-08]
Adeline Kim : What are you doing now? [15-01-08]
Adeline Kim :  Do you miss me? I miss you like i was dying right now, do you feel the same? [15-01-08]
Adeline Kim : (79 missed calls, 89 video calls missed) [15-01-08]
Adeline Kim : Kamu baik-baik saja, ‘kan? Semoga. Aku tidak baik-baik saja di sini tanpamu hehe [19-01-08]
Adeline Kim : Kamu sedang apa? Aku belum makan siang sampai sore hari waktu Eropa, kamu tidak ingin memarahiku seperti biasanya? :3 [19-01-08]
Adeline Kim : Bftttt~~ aku benci dirimu :< [20-01-08]
Adeline Kim : Tapi rasa sayangku lebih banyak :> [20-01-08]
Adeline Kim : (15 missed calls) [20-01-08]
Adeline Kim : Semalam aku tidur terlambat, karena kamu tidak mengangkat teleponku semalam padahal aku ingin dinyanyikan olehmu sebelum tidur. Jangan marah padaku, marahlah pada dirimu sendiri yang main hilang [21-01-08]
Adeline Kim : Aku sepertinya lama bergantung padamu, ya. Aku rasa ini salah. Kita bahkan belum pernah bertemu, walau dunia maya ini penuh kepalsuan, rasa sayangku nyata padamu, Luhan 🙂 [23-01-08]
Adeline Kim : Aku merenung kemarin malam. Aku menangis lagi, konyol, ‘kan? Dan aku merindu lagi. Anggap saja aku berlebihan. Mungkin ini jalan kita berdua… astaga haha, aku bicara apa, sih? Memalukan [23-01-08]
Adeline Kim : (10 missed calls, 5 video calls missed) [25-01-08]
Adeline Kim : (5 missed calls) [26-01-08]
Adeline Kim : asdfghjkl  ^_~ [29-01-08]
Adeline Kim : abcdefghjklmnopqrstuvwxyz [29-01-08]
Adeline Kim : Besok aku akan pulang ke Korea, yeay! Sepertinya aku mulai merelakanmu, hehe [30-01-08]
Adeline Kim : Aku rasa sudah cukup aku bermain di sini. Lagipula ini hanya rasa semu di dunia semu, Lu. Tetap kenang aku (itupun jika kamu mau) sebagai Adeline Kim, kenalanmu di permainan peran. Bukan Kim Hyerim, gadis yang menyayangimu dari kejauhan. Selamat tinggal Xiaolu! [31-01-08]
Adeline Kim : (Left the chat, the user was deleted his/her account) [31-01-08]

Layak batu keras menghantam hatinya, Luhan tercenggung, bibirnya kelu, matanya mendadak panas. Seakan tak percaya, dirinya mengklik account Hyerim namun dipampangkan kengiluan menoreh lebar di hatinya, seakan tersayat pisau menyisihkan darah mengering di sana. Bibir bawahnya, ia gigit keras-keras, merasa konyol jikalau harus menumpahkan tangis padahal hari ini dirinya sudah terbebas dari leukimia. Sesal turut timbul dalam hati, sebab menjadi pengecut yang tak pernah setidaknya mengatakan frasa; ‘Aku mencintaimu.’ pada Kim Hyerim barang sekali.

“April adalah bulan kita berdua. Aku dan dirimu berulang tahun bulan itu, dan bulan itu juga pertama kalinya kita saling sapa kembali dan menjadi lebih dekat. Tandai, ya, April menandakan satu tahunnya hubungan persaudaran jauh kita, Lu.”

Otaknya memutar ulang ucapan Hyerim saat melakukan video call tempo itu, yang mana menggebu kian atas lah sesak di dada Luhan. Berusaha tak konyol merealisasikan tangis, Luhan membuka time line game, tangannya mulai mengetik status baru.

❝ Now, i miss you like i was dying in here. Sorry, and i love you @.AdelineKim (i can’t tag your account anymore, yeah, because you’re gone 🙂 ) — Status by : Xiaolu ❞  

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Even if this love blooms and withers in one moment
Even if it becomes a unstopping, sad rain
I won’t step backwards like a fool
Cause you’re my everything

—Present Time—

7th October, 2017

Sepuluh tahun sudah dipijaki Kim Hyerim maupun Luhan. Dari usia keduanya yang dua puluh tujuh, hinggi kini menapaki usia tiga puluh tujuh. Hari ini, untuk pertama kalinya, keduanya bersitatap di dunia nyata. Tentu memori keduanya masih melayangkan rinci muka masing-masing meski sepuluh tahun sudah terlewati.

Tak disangka, kubangan takdir bermain-main diantara kedua insan tersebut. Kala setidaknya telah sukses menghempas sepah asam manis keduanya yang hanya semu semata, mereka dipertemukan disaat Kim Hyerim malahan akan mengikat janji suci esoknya bersama kakak angkat Luhan.

Luhan. Dia memang pernah menempuh hidup di Korea selama empat tahun, berkenalan dengan tetangganya yang lebih tua dua tahun—Park Seojoon, yang lantas ia anggap sebagai kakak sendiri. Enam tahun lalu, orang tua Luhan mengalami kecelakaan pesawat saat terbang untuk berbisnis, menyisakan jaka tersebut sebatang kara—tak ada keluarga lain yang peduli padanya sebab pernikahan orang tuanya ditentang dua pihak keluarga. Namun, keluarga Seojoon berbaik hati mengangkatnya sebagai seorang putra walaupun jarang berkumpul.

Satu tahun setengah, usia kasih Hyerim dan Seojoon—putra kloga kerja ayahnya, yang ayahnya kenalkan padanya setahun silam. Mereka dimabuk cinta, bahkan tahun ini sudah menggas diri untuk mengikat janji suci. Seojoon suka sekali berdongeng tentang adik angkatnya, tapi Hyerim belum pernah bertemu karena Luhan sibuk bergelut di Beijing dan Hyerim sibuk mengambil kuliah di Spanyol selama dua tahun, mengingat pekerjaannya sebagai dosen sastra asing di Universitas Seoul, Hyerim ingin meningkatkan pengetahuannya. Hanya nama adik angkat kekasihnya saja yang pernah Hyerim dengar—saat itu Hyerim berpikiran terbuka, mungkin namanya hanya mirip dengan Luhannya.

Lantas perjumpaan hari ini sedikit digoncang canggung. Seojoon mendapatkan sinyal tersebut, apalagi kekasihnya tak mau menatap langsung Luhan. Bahkan dua puluh menit kemudian, Hyerim pamit dengan dalih dusta semata bahwa dia baru ingat mempunyai janji dengan kawan lama.

“Apakah terjadi sesuatu denganmu dan Hyerim?” diberanikan Seojoon, bertanya pada Luhan, sekon ini.

Luhan yang sedang meneguk kopinya, nyaris tersedak dan menatap kakak angkatnya tersebut.

“Apakah kita tidak seperti orang asing?” sahutnya, direspon gelengan Seojoon. Luhan membuang napas, berusaha dirangkai sebuah senyum. “Hyung, aku tidak mau membuat pernikahanmu besok jadi sedikit aneh. Lagi, aku sudah punya Lian walau hasil dari kencan buta yang sangat kubenci.”

Luhan ikut sertakan Wu Lian—tunangannya selama enam bulan terakhir ini. Penuturan Luhan jelas membuat Seojoon digerundung penasaran lebih. Tersemat senyum tipis di ranum Luhan, sebelum berkata kembali.

“Jika aku ambil Hyerim darimu, boleh tidak?” otomatis netra Seojoon membelalak, pun mengundang tawa Luhan mengudara. “Bercanda,” terselip senyum menahan kekehannya. “aku mengatakan itu hanya ingin bilang… bahwa dia cinta pertama yang pernah aku ceritakan padamu dulu.”

Santai, Luhan meneguk kopinya. Sedang Seojoon menatapnya dalam dari samping dengan mulut menganga.

“Cinta pertamamu yang dari game itu?” tanpa mengalihkan tatap, Luhan mengangguk. “Kenapa bisa kebetulan? Bukannya kamu masih mencintai—”

“—Maka dari itu, aku bilang, hyung jangan merasa aneh dipernikahanmu besok. Lagipula aku sudah bertunangan, cintaku pada Hyerim sudah mengurang sedikit demi sedikit. Kita tidak pernah pacaran sama sekali. Lost contact pun dengan cara yang agak… aneh. Lalu, itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Dan… dia sangat mencintaimu lebih dari mencintai—ah, aku sendiri tidak tahu dia cinta padaku juga tidak. Intinya, dia sangat mencintaimu.” kelakar Luhan, memotong panjang lebar sembari menyarangkan tatapan lurus-lurus pada kornea Seojoon dengan yakin.

Dihela napasnya oleh Seojoon sambil menunduk, lantas kembali kepalanya bertumpu tatap dengan Luhan seraya mencuatkan anggukan.

“Baiklah, aku percaya padamu, Han. Kamu tidak akan merebut Hyerim dariku,” sebuah senyum penuh sirat terkembang dari Luhan. “dan Hyerim pasti terkejut bertemu denganmu untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun.”

Luhan menimpali dengan mengangguk sekenanya, larut akan cairan kofein dari kopinya. Dalam hati, dirinya berbisik.

“Aku juga terkejut bertemu lagi dengannya, hyung. Tapi maaf… sebenarnya…, aku jatuh cinta kepadanya lagi saat bertemu dengannya secara nyata untuk pertama kalinya.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

8th October, 2017

Bridal veil dengan gaun pengantin berhiasan kain lacey bersama bunga-bunga putih mengawani, membalut Kim Hyerim yang mengukung sebuket bunga baby breath. Rongga dadanya berdisko ria sejak matanya terbuka di tanggal delapan ini, tepat di bulan Oktober—dimana pernikahannya dengan Seojoon dilaksanakan. Sekon ini, dara ayu itu sedang terduduk di sofa ruang tunggu, menanti waktu dirinya keluar sembari dituntun oleh Sang Ayah.

‘Klek’

Disangka ayahnya tiba tuk menuntunnya menuju altar, Hyerim mendongakan kepala dari buket bunganya diiringi pacuan jantungnya meningkat.

Namun… pacuan jantung Hyerim berhenti, jantungnya menggelinding jatuh ke ginjalnya. Tubuhnya turut membeku tanpa mampu mengedipkan kelopaknya.

Sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah ayahnya.

Sosok yang menebar senyum manis yang brengseknya membuat jantungnya berdetak tak karuan ini adalah…

“Luhan.” silabel itu lolos dari Hyerim, salivanya terteguk dibarengi Luhan membabat spasi di antara keduanya hingga sah berada tepat di hadapan Hyerim.

“Halo calon kakak ipar,” sapa Luhan, seringan bulu, membungkuk sopan dan memamer senyum yang membuat Hyerim menggila. “Tak disangka kita akan bertemu dengan cara begini, Adeline.”

Hyerim yang tadinya buang muka, menengok kembali ke arah Luhan, kelereng matanya bergetar dan hatinya seakan teriris kembali.

Senyum mengejek tersungging di bibir Hyerim, pun dirinya berdiri dari duduknya. “Harusnya saat ayahku mengunjungiku ke Spanyol dengan kloga kerjanya karena perjalanan bisnis, aku menolak berkenalan dengan kloganya yang nyatanya kakak angkatmu, Xiaolu.”

Banding balik, Luhan menyungging senyum kalem. “Seojooon hyung bisa sedih bila mendengarnya,” dan Hyerim hanya buang muka sejenak dengan mendengus sebagai respon. “Dan Hyerim, ada yang harus aku perjelas di sini.”

Seketika, Luhan menciptakan atmosfer agak serius, dipegangnya erat bahu calon kakak iparnya sehingga kornea keduanya bersitatap dalam. Lagi, kala menyelami obsidian masing-masing, keduanya bergeming seakan dunia hanya milik berdua.

Untuk sekian lama setelah sepuluh tahun bahkan ini yang pertama kalinya di dunia nyata, Hyerim berselam jauh ke logam manik Luhan yang memancarkan kelembutan.

“Sepuluh atau bisa dibilang sembilan tahun lalu, saat ibumu meninggal dan kamu mencari-cariku,” ditarik pasokan oksigen ke dadanya dalam-dalam, Luhan dibelit rasa sulit menjelaskan. “aku juga collapse, Hyerim. Aku menderita leukimia.”

Sesuai prediksi, Hyerim membulatkan mata dan spontan tergagap. “Apa? Leu…—… leukimia?”

Anggukan Luhan menyahut, ditusuk dalam lagi kornea Hyerim yang kian berketar dan siap meluncurkan kristal beningnya. Masih sama, Luhan dari dulu tak suka saat Hyerim menangis apalagi karena dirinya, hatinya pasti tercubit meninggalkan kebiruan membekas.

“Ya. Untung saja aku mendapatkan donor STB. Aku baik-baik saja sekarang. Sebulanan itu aku tidak sadarkan diri,” jelas Luhan, terhenti, kepalanya menunduk disertai remasan tangannya menguat di bahu Hyerim. “Maaf karena main meninggalkanmu dan menyembunyikan penyakitku dulu.”

Hati Hyerim menghangat, terenyuh. Pikirannya lekas menampik, mengingatkan diri bahwa hari ini dirinya akan menikah dan tak boleh terjebak cinta masa lalu yang dahulu hanya angan semata.

Kornea keduanya bersibobrok kembali. Luhan mengulas senyum tipis.

“Aku mencintaimu, Kim Hyerim.” setelah sepuluh tahun berlalu, ungkapan itu akhirnya terlafal dan berarti sama; keping cinta Luhan untuk Kim Hyerim sejujurnya masih utuh. “Dari dulu aku ingin mengungkapkannya padamu.”

Kembali Hyerim membelalak, mulutnya membuka dan menutup tanpa tahu harus membalas bagaimana.

“Luhan…” hanya itu yang mampu Si Dara Kim katakan, bibir bawahnya ia gigit dan bibir atasnya ia jilat dengan lidahnya. “… sebenarnya aku juga—”

Secara agak kurang hajar, Luhan mengikis sisa spasinya dengan Hyerim, menyapa bibir manis gadisnya. Awalnya terkejut, Hyerim akhirnya terlarut pada ciumannya dan Luhan. Persetan dengan status keduanya, mereka saling memberi lumatan satu sama lain sampai ciuman itu terputus oleh Luhan. Pria Lu ini menatapi paras Hyerim yang super jelita dalam make up serta balutan gaun pengantinnya. Oh, andai kata saja Luhan yang menjadi mempelainya, bukannya akan lebih sempurna?

Pipi Hyerim diraih oleh Luhan, diberikannya sebuah elusan lembut seraya menyemat senyum manis.

“Andai aku bisa membawamu kabur dari pernikahan ini,” kata Luhan, membuat Hyerim membatu tanpa mampu berkata. “Tapi sayangnya, aku tidak bisa karena kamu menikah dengan kakakku, kakak yang paling aku sayangi melebihi diriku sendiri. Juga…—”

“—Luhan~.”

Refleks Luhan menjauhkan diri dari Hyerim saat vokal familiar itu menyapa telinganya. Hyerim sendiri masih membatu tatkala sosok perempuan cantik hadir diantaranya dan Luhan sambil menarik senyum manis.

“Ternyata kamu di sini!” pekik Wu Lian—perempuan yang baru datang, kemudian bergelayut di lengan Luhan secara manja.

Api cemburu membakar Hyerim, namun dirinya juga tahu posisi. Memangnya Hyerim siapa Luhan sampai berhak cemburu? Bahkan Luhan biasa saja dengan balas tersenyum tak kalah manis pada Lian—senyum yang dari dulu selalu ia pamerkan pada Hyerim, pun tangannya mengelus lembut puncuk kepala perempuan tersebut.

“Iya, aku ngobrol sebentar dengan Hyerim, mencoba mengakrabkan diri. Dia akan jadi kakakku mulai beberapa menit kedepan. Dia juga akan jadi kakakmu nanti.”

Lian mengangguk-angguk. Tak sengaja menguping, Hyerim mengerutkan dahinya dan mulai menarik kesimpulan. Tapi sebelum satu kesimpulan ia tetapkan, Wu Lian sudah melepas diri dari Luhan, berjalan agak mendekat ke arahnya lalu membungkuk sopan.

“Halo, namaku Wu Lian. Aku adalah tunangannya Luhan.”

Hati Kim Hyerim tertohok—sebagaimana saat Luhan mengetahui bahwa Hyerim adalah calon istri dari Seojoon. Berusaha Hyerim rangkai senyum ramahnya pada Lian yang tersenyum ceria kepadanya.

“Kim Hyerim,” sahut Hyerim, membungkuk sekenanya. “Yang sebentar lagi menjadi… istri Park Seojoon atau hmmm… bisa dibilang menjadi calon kakak iparmu nanti?”

Diberikan lirikan sekilasnya pada Luhan yang tersenyum tipis. Hyerim pun paham kenapa keduanya tidak bisa meleburkan cinta bersama meski setia bersemi di dalam hati.

“Hyerim, ayo bersiap.” seketika, suara ayahnya mengintrupsi, beliau baru saja datang.

Hyerim tersentak, buru-buru ia menghampiri ayahnya setelah pamit singkat pada pasangan Lian dan Luhan.

“Jangan gugup, Hyerim! Semangat kakak ipar!” seru Lian, melambai dengan cengiran.

Hyerim menoleh ke arahnya dengan senyum tipis sebelum akhirnya melingkarkan tangan ke lengan ayahnya.

“Dirimu hanyalah sosok semu yang sukar kugapai, hingga kubang takdir menemukan kita berdua secara kebetulan dengan cinta lama yang masih mengering namun tertimpa cinta baru yang terlanjur digenggam.” hanya itu definisi Kim Hyerim untuk seorang Luhan, yang ia kumandangkan dalam hati.

Sedangkan Luhan yang ada di belakangnya, tahu-tahu ditarik Lian untuk beranjak. “Ayo kita bergabung dengan tamu yang lain.”

Tetapi Luhan kurang memperhatikannya, maniknya hanya tertancap pada punggung Hyerim yang berada jauh di depannya, bersiap menapaki jalan menuju altar serta menerima uluran tangan Seojoon, kemudian mengumandangkan janji suci mengikat diri dalam jalin pernikahan—entah kenapa, Luhan sesak sendiri memikirkannya.

Senyum tipis Luhan terkembang, dalam hati ia turut jua berfrasa, “Dan dirimu hanyalah sosok yang dulu memenuhi imajinasiku. Sosok yang memenuhi mimpiku yang menghantarkan diriku pada kebahagian. Ya… dirimu… yang tidak bisa bersama denganku.”

I was so happy, it felt like a dream
So my held back tears spilled out
The path of spring, the waiting of winter
Was it like my heart?

—FIN.

  1. Dibuat ditengah patah hatiku sama Luhan (tau kan apa ya ehehe) tapi as long he is happy, why not? Jangan benci ceweknya. Tetep juga sayang Luhan, aku juga udah mulai reda sakitnya dan dapet hidayah bahwa dia bias aku satu-satunya yang belum aku restuin dating. Dulu, Luhan juga nyuruh fansnya dewasa  bila dia dating, jika kalian masih sakit, gak apa, berarti masih proses menuju dewasa, aku juga. Kok jadi ceramah gini lol.

  2. Bagi kalian yang kenal aku (gak juga gak apa, hiks) pasti kalian tau banget aku ini FFnya semua Luhan, list on goingku juga Luhan semua. Apapun yang terjadi, aku tetap nulis tentang dia, memakai nama dia sebagai pelengkap tulisan mau dia taken/nanti udah nikah (mungkin aku akan berpaling ke fiction sedikit demi sedikit) dan yang buat aku galau pas dia dating, feel HyerLu (Hyerim — Luhan) di ffku, agak kurang, makanya aku menegaskan akan tetap menghidupkan cinta /eyak/ Hyerim — Luhan di imajinasiku, so… jangan sedih aku akan berhenti nulis, aku cuman menetralkan diri beberapa waktu.

  3. Ini post pertamaku setelah pulang dari Spanyol ke Indo loh lol, post lewat hp lagi /gak penting kamvret/

  4. Ini juga 70% kisah nyataku sama gege tersayangku dalam dunia RP/role player, mana lol banget lagi HyerLu ketemu di game namanya game role player (sebenernya ini game imajinasi aku doang, semodel the sims, bisa kerja, nikah, dll tapi ini bisa chating aja geteo sama user lain lol)

  5. Ini juga keinspirasi sama lagu Seunghee OMG — You Are (ost.nya Temperature of Love) LORD, KEVANGSATAN YANG SEJEONG DI TEMPERATURE OF LOVE BELUM BISA AKU PANTENGIN LAGI KARENA BARU BALEK INDO DENGAN WIFI YANG BELUM ADA DAN KUOTA TERBATAS, KAMVRET.

  6. Banyak typo, nulis di google doc hp, dikoreksi sekali sebagai ff pembuka aku setelah berita Luhan (LMAO) jadi maafkan kekurangannya, mana plotnya agak lol ya kan? BAKAKAK. Padahal tadinya aku ingin buat mereka masih bersisih cinta dikit tapi udah move on, but, apa daya, gamonnya HyerLu di sini kea lebih mendominasi dibanding udah mup onnya wkwkwk.

  7. Semoga kutukan jomblo kita cepet putus ya kayak Luhan, apalagi aku geteo, siapa tau PDKT-ku juga lancar dan Luhan kalo nanti nikah pas aku udah taken dan aku bisa dateng sama si Mas /halah ini nyuruh yang baca doain ente cepet mepet si mas padahal ente sendiri gak mau maju, els .-./ ABAIKAN CURCOLAN KETUJUH INI, PLIS YA PLISSS WKWKWKWK. KEBANGKEAN SAAT LUHAN TAKEN, AKU MASIH TAHAP GAK JELAS SAMA DOI KAN ITU KAMVRET PADAHAL ORTU UDAH LAMPU IJO

  8. Kunjungi aku di : www.hyekim16world.wordpress.com dan wattpad : @hyekimxxi. Aku harap masih banyak yang minat sama FF Luhan, he is still belong to us, his beloved fans who always support him anything happen, right? 🙂

—Luv, Luhan`s literally tinkerbell ❤

Advertisements

One response to “[Oneshot] You Are… 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s