PAGI

PAGI

PAGI
By: susanokw

Kemarin tetap akan menjadi kemarin. Hal-hal yang telah terjadi kemarin mungkin tidak akan terjadi lagi hari ini. Jika kehidupan adalah sebuah drama, maka pagi adalah satu episode baru yang siap diputar. Hidup adalah sebuah episode tanpa buku skenario pada masing-masing tangan, maka manusia menjalaninya dengan penuh harapan dan kehati-hatian. 

Ia bangun dari tidurnya pukul enam pagi. Mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan nyawa yang sempat terbang, memegangi kepala yang terasa sedikit berputar. Tidur jam berapa aku semalam?Gerutunya dalam hati. Tidak ada jawaban, ia tidak ingat. Sambil berdecak pelan, ia mengusap-usap tengkuknya dan menghela napas panjang. Hari apa ini? Ia kembali bertanya pada diri sendiri.

Matanya menyipit, melihat ke arah gorden yang terbuka sedikit. Ada celah matahari yang mengintip masuk ke dalam kamar. Sekali lagi, ia menghela napas panjang. Matahari sudah begitu berani naik ke langit di saat orang-orang sedang bersusah payah membuka mata. Matahari terkadang tidak tahu diri, menyilaukan ketika orang-orang sedang ingin terlelap lebih lama.

Sekali lagi, ia menghela napas panjang.

Beringsut dengan susah payah dari kasurnya yang nyaman, ia perlahan berdiri dan berjalan terseok mendekati gorden. Ia menyibakkan gorden berwarna abu-abu itu dengan satu kali gerakan, hingga terpampang dihadapannya satu pemandangan pagi yang… mendung. Rupanya matahari hanya muncul sesaat, seperti anak kecil yang bermain petak umpet. Sesaat yang lalu ia datang dan menyilaukan, sekarang ia bersembunyi di balik awan. Sebuah permainan.

Great. Bahkan oleh matahari pun, aku tertipu. Gerutunya lagi di dalam hati.

Kemudian ia kembali menghela napas panjang.

Omong-omong, sudah berapa kali manusia satu ini menghela napas panjang? Hidupnya terdengar begitu berat, ya?

Dari atas balkon terlihat jalanan masih cukup sepi. Salahnya sendiri semalam tidak menutup gorden dengan benar sehingga pagi ini matahari berhasil menemukannya dan mengajaknya untuk bangun. Lihatlah, orang-orang sepertinya masih begitu nyaman terlelap dalam jatah tidur panjangnya di Minggu pagi. Oh, ini hari Minggu! Akhirnya manusia satu ini menemukan jawabannya, lagi-lagi terjawab oleh dirinya sendiri.

Ia menguap satu kali kemudian merentangkan tangannya ke udara untuk merenggangkan otot-ototnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Paru-parunya seperti dibersihkan dari semua polusi jalanan tadi malam. Matanya mengerjap beberapa kali hingga akhirnya ia benar-benar bangun.

“Aku butuh sesuatu yang hangat.” Gumamnya lagi.

Ia beranjak dari balkon dan berjalan menuju kamar mandi. Mencuci muka dan menggosok gigi adalah satu hal yang wajib dilakukan sebelum mencicip segala jenis makanan atau minuman. Manusia ini adalah tipe orang yang suka kebersihan. Ia tidak akan makan dan minum jika belum memastikan bahwa mulutnya telah digosok menggunakan sikat dan pasta gigi. Setelahnya, barulah ia berjalan menuju dapur untuk membuat… tunggu, satu cangkir teh? secangkir kopi? satu gelas susu hangat? Ia bingung. Dua minggu yang lalu seseorang masih mengingatkannya untuk selalu minum air putih terlebih dahulu sebelum menyesap minuman manis apapun. Katanya, air putih bagus untuk mengeluarkan racun-racun yang terakulumasi sejak kemarin. Namun tepat dua minggu yang lalu pula, seseorang itu menghilang. Pesan paginya tak lagi masuk, kalimat sapaannya tak lagi terdengar, nomor teleponnya tak lagi muncul di layar ponsel. Orang itu menyisakan percakapan lama yang tidak ingin dibaca namun enggan dihapus.

Manusia ini sepertinya sedang tidak ingin ambil pusing perihal itu. Masa bodoh dengan apa fungsi air putih di pagi hari, akhirnya ia mengambil cangkir kecil dan mengisinya dengan kopi bubuk instan. Ia menyeduhnya dengan sedikit gula lalu mengaduknya perlahan. Setelahnya ia meninggalkan dapur dan kembali ke balkon. Masuk ke kamar, ia melihat ponselnya tergeletak begitu saja di lantai. Ia masih sulit untuk mengingat apa yang dilakukannya semalam sampai-sampai ponsel yang selalu digenggamnya sekarang dibiarkan seperti barang rongsokan yang tidak ada harganya. Lagipula sepertinya barang elektronik itu kehabisan baterai.

Duduk di kursi malas kesayangannya, manusia itu menyesap minuman berwarna hitam tersebut dengan perlahan. Kandungan gula yang menurutnya cukup rupanya tidak memberikan efek apapun, ketika masuk ke kengkorongan rasanya tetap pahit. Matahari masih bersembunyi di balik awan, namun entah pada gumpalan yang mana. Pagi ini awan terlihat kelabu, membantu matahari mengelabui manusia yang susah payah bangkit dari kasur dan siap menggerutu.

Manusia itu terdiam, mengumpulkan nyawa. Isi kepalanya sudah mulai bekerja untuk mengumpulkan memori satu malam yang lalu. Perihal apa yang terjadi kemarin, apa yang ia lakukan, siapa saja orang yang ia temui, dan hal-hal lainnya. Ia terdiam seperti patung selama lima belas menit penuh. Cangkir kopinya masih diatas pangkuan, kepulan asapnya sudah mulai menipis karena bersaing dengan udara pagi yang dingin. Kemudian manusia itu kembali menghela napas.

Ia bukan tipe orang yang menonton sebuah pertunjukkan dua kali. Oleh karena itu setelah isi kepalanya bekerja dengan baik mengumpulkan memori, ia berterima kasih. Sesapan kedua minuman kopinya mengalir masih dengan begitu pahit melewati kengkorongan, kali ini bercampur dengan semua hal yang ingin ia teriakkan dengan lantang. Nalarnya mulai bekerja, nuraninya mulai bangun. Namun ternyata nurani masih begitu lemah sehingga ia kalah oleh nalar. Maka semua kalimat yang sudah sampai di pangkal lidah ia telan kembali sesuai perintah nalar. Tidak peduli sepahit apa, yang penting semua kalimat berisi makian yang membingungkan, pertanyaan tanpa jawaban, penantian tanpa ujung, dan penyesalan yang begitu besar tidak serta merta keluar menjadi kalimat-kalimat yang menyakitkan. Nalarnya berkata bahwa luka hati akan lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. Nalar menyuruhnya untuk menjaga hatinya serta hati seseorang yang lalu, dan nurani setuju akan hal tersebut.

Sesapan ketiga, pahitnya masih sama.

Nalar memeluknya dengan erat pagi ini. Nalar berbisik bahwa setiap pagi ada satu kehidupan baru yang dimulai, dengan ada atau tidaknya skenario yang digenggam. Semalam yang lalu, biarlah ia anggap sebagai sebuah mimpi buruk. Seperti seorang nahkoda kapal, manusia ini sudah sepatutnya bersyukur karena berhasil melewati satu malam penuh badai dengan selamat. Terluka di sana-sini sudah menjadi hal yang biasa. Terluka adalah resiko dari sebuah perjalanan, bukan? Nalar berkata bahwa yang harus dilakukannya adalah menikmati ombak yang tenang karena pagi datang dengan damai. Manusia ini harus belajar untuk membuka diri pada pagi setelah selama empat belas hari penuh mengurung diri dalam gelapnya malam. Manusia ini harus belajar mencintai pagi, belajar membuat harapan baru dan menjadikan harapan yang lalu sebuah pelajaran.

Sesapan keempat, ternyata tidak terlalu pahit.

Benar apa yang dikatakan nalar. Semakin sering kau menelan pahit, perlahan-lahan pahit bukanlah apa-apa. Pahit hanya akan menjadi sebuah rasa yang berlalu begitu saja di kengkorongan. Setelahnya, kau akan baik-baik saja.

Langit mulai cerah, namun matahari belum terlihat. Mungkin ia masih takut akan dihujani sumpah serapah dari manusia jadi masih ingin bersembunyi. Manusia itu tersenyum kecil, berterima kasih kepada nalar yang membuat keadaannya jauh lebih baik dan memberikan pemakluman pada nurani yang harus mengalah dulu.

Tak apa, nurani. Kau tidak kalah, hanya saja kali ini nalar bergerak lebih cepat. Kau harus menunggu giliran. Ucap manusia itu dari dalam hati.

Sesapan kelima, ponselnya berdering. Oh, ternyata benda itu tidak kehabisan baterai. Manusia itu melirik sekilas, lalu bangkit menuju ponselnya. Ada telepon masuk, tertulis Ibu di sana.

“Halo, Bu.” Sapanya.

“Kau sudah bangun?”

“Sudah, Bu. Sedang minum kopi.”

“Hwan-ah, sibuk tidak hari ini?” Tanya Ibunya di ujung telepon.

“Tidak, Bu. Ini kan hari Minggu, aku libur. Ada apa?”

“Hari ini Nenek ingin makan bersama, bisa ikut?”

Manusia itu tersenyum. “Bisa, Bu. Aku akan mandi sekarang.”

Setelah telepon ditutup, manusia itu bergegas untuk mandi. Ia menyambungkan ponselnya pada kabel pengisi baterai dan menghabiskan sisa kopi di cangkirnya. Nalar benar, setiap pagi adalah satu episode baru yang harus ia jalani dengan atau tanpa skenario di tangan. Barangkali keluar dari gelap malam memang harus dilakukan olehnya, karena pagi selalu punya rencana yang tak terbaca untuk mengubah hidup seseorang.

Kau harus tahu, manusia itu adalah seorang lelaki bernama Hwan.
Arti namanya bersinar, sama seperti pagi.
Hari ini Hwan berterima kasih pada matahari karena mempertemukannya dengan pagi.
Hari ini, Hwan siap pergi.

 

 

Lalu kau sendiri, siap pergi atau tidak?

 

-FIN.

Advertisements

4 responses to “PAGI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s