Hypocrites

Author : laginapas

Main Cast : Ong Seongwoo, Ha Yeonhee (OC, you can imagine the girl as yourself)

Support Cast :  WANNA ONE’s member.

***

Jam menunjukkan pukul 5:00 KST, tepat pada saat itulah sebuah alarm digital yang bertengger manis diatas meja kecil samping tempat tidur berbunyi dengan keras.

Seorang lelaki yang berada dibalik bed cover spontan menggerakan tangannya untuk meraih alarm digital tersebut untuk menghentikan bunyi yang membuatnya harus terbangum dari tidurnya panjangnya. Ia menyibakkan bed cover sambil memposisikan dirinya untuk duduk sambil mengacak rambut dan mengucek matanya pelan. Setelahnya, mulutnya menguap lebar.

Ong Seongwoo, seorang lelaki muda berumur 23 tahun yang memiliki banyak waktu luang di usianya yang sudah pantas untuk memiliki pekerjaan tetap. Ia memiliki pekerjaan disebuah kedai kopi sebagai seorang pelayan di wilayah Myeongdong, jarak yang cukup jauh dengan rumahnya yang berada di sekitar Insadong. Karenanya, ia selalu menggunakan subway untuk menuju ke Myeongdong dari Insadong.

Sebenarnya lelaki yang memiliki marga langka ini bukanlah seseorang yang hidup dalam ruang lingkup keluarga yang kurang mampu. Orang tua Ong Seongwoo memiliki tempat penginapan terkenal yang memiliki cabang di beberapa daerah. Namun, karena Ong Seongwoo adalah anak satu-satunya dalam keluarga Ong, sudah dipastikan ia akan mengelola usaha yang dimiliki orang tuanya. Dari situlah ia berpikir ada baiknya sebelum mengelola usaha yang akan diwarisi kepadanya, ia harus mempunyai banyak pengalaman kerja yang bagus.

Ong Seongwoo telah menjadi sarjana lulusan terbaik jurusan administrasi bisnis di salah satu universitas ternama di Korea Selatan. Sebenarnya, bisa saja ia langsung membantu orang tuanya mengelola usaha yang di wariskan kepadanya, apalagi mengingat bahwa Seongwoo adalah sarjana lulusan terbaik di kampusnya dan memiliki banyak pengalaman. Bahkan ia dibanjiri tawaran pekerjaan tetap dengan gaji yang tinggi. Tetapi ia selalu berpikir untuk menikmati masa mudanya lebih lama dengan melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan sebelum dirinya benar-benar sibuk dengan pekerjaan yang diwariskan oleh orang tuanya. Belum tentu ketika ia mengambil alih usaha orang tuanya ia bisa melalukan hal yang diinginkannya dengan bebas, bukan? Orang tuanya sangat keras. Jadi kemungkinan sangat kecil untuknya memiliki waktu bebas untuk bermain dengan dunia luar. Itulah mengapa Seongwoo tidak ingin memiliki pekerjaan tetap untuk saat ini.

Hal yang selalu ingin Seongwoo lakukan adalah menikmati kopi di sebuah kedai kopi yang bernuansa modern-klasik. Ia juga ingin memiliki sebuah kedai kopi yang digemari oleh kalangan anak muda untuk nongkrong, ia juga ingin mengencani seorang gadis yang ia temui pertama kali di kedai kopi. Itulah alasan ia memilih untuk bekerja di kedai kopi.

“Argghh..!” erangnya pelan dengan tangan yang masih sibuk mengacak rambutnya. Ia menoleh sekilas kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 5:10 AM. “Aish, lagi-lagi aku bangun lebih awal!” ujarnya lagi dengan nada yang sedikit malas.

“Karena aku terlanjur bangun lebih awal, mungkin sebaiknya aku lari pagi.”

***

“Ya! Ha Yeonhee! Ppali!”

Seusai seseorang meneriaki pemilik nama Ha Yeonhee yang berada didalam sebuah ruangan, terdengar suara gedoran pintu yang berulang-ulang. Namun seseorang yang diteriaki sama sekali tidak merespon.

“Ya! Yeonhee-ya!”

Lagi-lagi tidak ada respon, teriakan dan gedoran pintu yang berulang-ulang terdengar semakin keras.

“Ya! Yeonhee-ya! Ha Yeonhee!”

“Aish, kenapa oppa berteriak pagi-pagi? Telingaku sakit mendengar teriakan oppa!” kata Ha Yeonhee yang akhirnya merespon sambil membuka pintu, ia menatap kakak laki-lakinya yang bernama Ha Sungwoon dengan tatapan kesal.

“Kau memakai kamar mandi terlalu lama. dan gara-gara kau, aku bisa saja telat datang kerja! Minggir!” balas Sungwoon sambil menerobos masuk kedalam kamar mandi sehingga membuat badan Yeonhee terdorong membentur tembok. Ia melihat Yeonhee yang tampaknya ingin membalas perbuatannya barusan dengan kata-kata yang paling tidak ia sukai, namun sebelum itu Seungwoon buru-buru menyahut, “Buatkan sarapan, cepat! Atau kau tidak kuberi uang!”

Yeonhee mengernyitkan dahinya dan menatap kesal kearah kakak laki-lakinya itu, “Wae? Wae? Wae? Oppa selalu mengancamku tidak memberi uang! Oppa pikir aku takut? Aku bisa minta kepada haraboji!” balasnya kesal. Lalu ia melanjutkan, “Menikahlah kalau memang tidak mau mengurusku lagi! Dasar menyebalkan!”

Menikah. Lagi-lagi kata menyebalkan itu keluar.

Malas berdebat karena akan membuang banyak waktu, Sungwoon langsung menutup pintunya dengan keras membuat Yeonhee sedikit tersentak.

Semua keluarga Sungwoon —kakek, nenek, ayah, ibu, yeonhee— selalu berbicara tentang pernikahan. Padahal usianya saat ini baru 24 tahun. Ia bahkan tidak pernah berpikir untuk menikah dalam waktu yang cepat, tetapi keluarganya selalu menuntut dirinya agar segera menikah. Menyebalkan sekali, bukan?

“Aish, dasar kekanakan!” gumam Yeonhee pelan sambil mengepalkan tangannya untuk membuat gaya tinju yang ia arahkan ke pintu kamar mandi tersebut.

Ha Yeonhee, seorang gadis berumur 22 tahun yang tinggal bersama kakaknya —Ha Sungwoon— di Seoul. Ia tidak tinggal bersama ayah dan ibu-nya sejak menduduki sekolah dasar, melainkan tinggal bersama kakek dan nenek-nya di Goyang hingga ia lulus SMA. Sewaktu kuliah, ia menyusul kakaknya yang sudah lama menetap di Seoul.

Yeonhee juga telah menjadi sarjana dari salah satu kampus ternama di Korea dengan jurusan fisika. Ia menjadi sarjana yang lulus kuliah dengan nilai yang cukup bagus dan umur yang masih muda. Hanya saja, ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia selalu melamar pekerjaan tetapi selalu di tolak. Ia juga tidak memiliki koneksi dan teman yang banyak. Oleh sebab itu, selama satu tahun ini sejak kelulusannya, yang Yeonhee lakukan hanyalah mencari pekerjaan paruh waktu untuk menghasilkan uang. Namun sayangnya, rata-rata ia hanya bertahan satu hingga dua minggu.

Yeonhee berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan. Ia membuka kulkas untuk melihat bahan-bahan apa saja yang bisa ia buat untuk sarapan pagi ini. Sedetik setelah kulkas terbuka, ia melengos.

“Oppa, kenapa kau tidak mengatakan dari kemarin kalau bahan-bahan makannya telah habis? Aish..” teriak Yeonhee dengan nada sedikit kesal.

Ya, beginilah. Yeonhee dan Sungwoon tidak pernah akur.

Yeonhee mengambil selai nanas di dalam kulkas, sebelah tangannya lagi meraih roti tawar yang berada diatas kulkas, kemudian ia menutup pintu kulkas menggunakan kakinya.

“Sarapan roti, hmm…” gumam Yeonhee sembari mengolesi roti tawar tersebut dengan selai nanas, “Tidak apa-apa. Setidaknya perutku masih bisa terisi.” lanjutnya sambil memasukkan roti tawar yang sudah diberi selai nanas kedalam mulutnya.

Roti pertama..

Roti kedua..

Roti ketiga..

Ia memakan roti dengan rakus hingga roti tawar hampir tidak bersisa.

“Yeonhee-ya! Aku menyuruhmu untuk membuatkan sarapan! Kenapa kau hanya duduk dan memakan roti?”

Tiba-tiba saja Sungwoon muncul dengan handuk dikepalanya. Yeonhee menoleh begitu mendengar suara kakak laki-lakinya.

Yeonhee melengos kemudian mengetuk-ngetukkan jarinya ke kaleng selai. “Sudahlah, Oppa! Makan ini saja. Lagipula tidak ada bahan makanan di kulkas.”

“Sungguh?” tanya Sungwoom tampak ragu sambil berjalan menuju kulkas. Ia membuka kulkas tersebut, “Yaa! Kenapa kau tidak bilang kalau bahan makannya telah habis?”

“Kenapa harus aku?”

“Kau yang bertugas memasak!”

“Kau yang bertugas membeli bahan makanan”

“Kau yang sering membuka kulkas!”

“Kau yany paling rakus dalam hal makanan!”

“Ya!”

“Mwo?!”

Sungwoon mengacak-acak rambutnya yang masih basah kemudian melempar handuk yang dikenakannya ke wajah Yeonhee. “Kau.  Kali ini harus mendapat pekerjaan tetap! Aku tidak mau memgurusmu lagi!”

“Wae? Wae?”

Sungwoon tidak menyahut.

“Oppaaa..”

Sungwoon masih diam. Ia merebut roti tawar dan kaleng selai yang dipegang Yeonhee, kemudian mengolesi roti tawar itu dengan selai.

“Okay, okay. Dasar menyebalkan!” sahut Yeonhee sambil melempar balik handuk yang ia pegang kearah Sungwoon sehingga roti tersebut jatuh ke lantai.

Dan itu roti yang terakhir.

“Ya! Yeonhee!” bentak Sungwoon kesal sambil mengambil roti yang jatuh, kemudian ia membersihkannya dengan tangannya sambil meniup-niup.

“Aishhh..”

Sungwoon melempar roti tersebut ke bak sampah kemudian menatap Yeonhee yang menuju kamarnya dengan tatapan kesal.

“Dasar iblis gila!”

***

Seongwoo duduk di kursi yang menghadap ke sungai. Ia merasa mulai lelah berlari dan memutuskan untuk beristirahat sambil menikmati angin di pagi hari.

Dibukanya tutup botol air mineral yang baru saja ia beli, kemudian di teguknya hingga setengah botol.

“Ahh, menyegarkan!” gumamnya pelan.

Tiba-tiba ada seorang gadis duduk di sampingnya dan merebut jaket yang sedang dipangku Seongwoo. Seongwoo yang menyadari, lantas langsung menoleh kearah si gadis yang tampak asing di matanya.

“Sstt, aku pinjam supaya oppa-ku tidak mengenaliku,” kata gadis itu memakai jaket Seongwoo yang kebesaran.

“Apa?”

“Sttt, diamlah!” kata gadis itu memerintah, ia mendekati Seongwoo kemudian membekap mulut Seongwoo supaya tidak berbicara. “Dengar, aku sedang di kejar oleh oppaku yang sinting. Jadi kau diamlah. Aku hanya meminjam jaketmu supaya dia tidak mengenaliku!”

Seongwoo menatap gadis itu aneh lalu melepaskan bekapan tangan di mulutnya, “Aku mengerti. Aku akan diam. Jadi, menjauhlah sedikit.”

“Aishh.. Keringatmu,” keluh gadis itu begitu menyadari keringat Seongwoo menempel di senagian badannya.

Seongwoo tidak menanggapi dan duduk sedikit menjauh. Namun, gadis itu semakin memepetkan duduknya dengan Seongwoo.

“Ya!” Seongwoo nampak kesal.

“Aish.. Kau ini suka sesama jenis ya?” balas gadis iyu menggerutu, “Aku memilih duduk dekat denganmu supaya kita terlihat akrab.”

“Ya, baiklah. Aku mengerti,” balas Seongwoo. Ia melirik gadis disampingnya dengan mengangkat sebelah alisnya, “Ngomong-ngomong, kenapa oppa-mu mengejarmu? Rasanya aneh apabila oppa-mu mengejarmu dan kau harus bersembunyi seperti ini..”

“Oppa-ku itu orang gila. Aishh.. Dia sangat cerewet dan suaranya bikin telingaku sakit.”

Seongwoo tersenyum.

“Aku Ha Yeonhee, kau?” gadis itu memperkenalkan diri.

“Aku Ong Seongwoo.”

“Ah, Gong Seongwoo.”

“Ong Seongwoo, bukan Gong Seongwoo.”

“Apa?” tanya Yeonhee lagi nampak bingung, “Ah, Hong Seongwoo.”

“Ani ani,” sahut Seongwoo nampak kesal karena gadis itu tidak benar menyebut nama keluarganya, “Dengar. Namaku Ong Seongwoo, bukan Hong Seongwoo, bukan juga Gong Seongwoo.”

Yeonhee menatap Seongwoo dengan heran, “Ong? Ong Seongwoo?”

“Ya. Kali ini kau benar.”

“Aku baru pertama kali mendengar nama seperti itu.”

“Ya, aku juga belum pernah bertemu dengan nama yang sama.”

Yeonhee tertawa pelan. Seongwoo yang melihat ikut tertawa.

“Yeonhee-ya! Ha Yeonhee!”

Suara Ha Sungwoon membuat Yeonhee refleks berhenti ketawa. Ia menegapkan badannya dan melihat lurus kearah sungai yang di depannya.

“Aish. Kemana iblis gila itu?”

Suara Ha Sungwoon kembali terdengar, nampaknya ia sedang berada di belakang Seongwoo dan Yeonhee.

“Ah, mungkin dia sembunyi disana.”

Yeonhee menghela napas lega begitu merasa kakak laki-lakinya itu telah menjauhinya. Ia tersenyum puas dan menundukkan kepalanya kearah Seongwoo, “Terima kasih telah membantuku.”

Tiba-tiba perut Yeonhee merasa mual. Yeonhee refleks menutup mulutnya begitu merasa mulutnya akan mengeluarkan sesuatu.

“Hmpp..”

“Kau kenapa?” tanya Seongwoo sedikit panik.

HOEK.

Yeonhee memgeluarkan muntahannya dan mengenai paha Seongwoo.

GLEK.

Mata Yeonhee terbelalak.

“Yaa!”

“Ah, mianhae, mianhae..” Yeonhee merebut handuk yang dipakai Seongwoo dan mengelap handuk tersebut ke paha Seongwoo yang di lumuri muntahannya.

“Aishh, jorok sekali,” kata Seongwoo kesal.

Baru saja Seongwoo hendak mengambil botol air mineral yang masih bersisa setengahnya, Yeonhee sudah merebut dan meminumnya hingga habis.

“Yeonhee-ssi!” kata Seongwoo dengan nada sedikit keras. Hal itu membuat beberapa orang menoleh kearah mereka.

Yeonhee berdiri dan membungkukkan badannya berkali-kali kearah Seongwoo, “Ah, mianhae, mianhae.”

“YAA!! HA YEONHEE!!”

Mata Yeonhee terbelalak begitu mendengar suara Sungwoon kembali terdengar. Ia mengedarkan pandangan disekitarnya dan melihat Sungwoon yang kini tau keberadaannya.

“Aishh..”

“Ya! Kau harus bertanggung jawab atas ini semua!” kata Seongwoo yang tidak peduli lagi dengan Yeonhee yang sudah ketahuan oleh kakak laki-lakinya.

Yeonhee tampak kebingungan. Aku harus berbuat sesuatu. Aku harus berbuat sesuatu. Sesuatu yang bisa mendapat banyak perhatian orang.

“Yeonhee-ssi!” seru Seongwoo.

Yeonhee diam dan terus berpikir. Kemudian matanya berbinar ketika menatap kearah sungai di depannya.

“Yeonhee-ssi!” seru Seongwoo lagi.

Yeonhee menggelengkan kepalanya, ia menggigit bibirnya sendiri dan makin kebingungan. Diliriknya kearah dimana sang kakak mulai semakin dekat dengannnya.

“Yeonhee-ssi!” seru Seongwoo makin tak sabar.

“Seongwoo-ssi. Kau bisa berenang?”

“Apa?”

“Aku bertanya, apa kau bisa benerang?”

Seongwoo bingung dengan pertanyaan yang diajukan Yeonhee, bukan itu respon yang ia harapkan, “Ya! Bagaimana bisa kau membahas aku bisa berenang atau tidak. Aku ingin kau bertanggung jawab atas yang kau lakukan sekarang!”

Yeonhee mencubit lengan Seongwoo pelan sehingga laki-laki itu meringis kesakitan, “Aishh, jawab saja!”

“Akhh..” Seongwoo mengerang begitu Yeonhee mencubitnya, “Ya, aku bisa. Kenapa?”

“Sungguh?”

Seongwoo menganggukkan kepalanya.

“Baik, aku akan bertanggung jawab sekarang.”

Seongwoo tampak kebingungan.

“Mianhae, Seongwoo-ssi. Mianhae, jeongmal mianhae.”

Yeonhee menarik tangan Seongwoo dengan kuat sehingga Seongwoo jatuh ke sungai di depannya. Benar saja. Hal tersebut membuat beberapa orang memperhatikan mereka.

“Tolong, tolong! Temanku masuk kedalam sungai!” seru Yeonhee.

Beberapa orang menghampiri Yeonhee untuk menolong Seongwoo. Yeonhee memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur dari kakaknya.

“YAAAAAAAAA!!!!!!!!!!” seru Seongwoo dengan suara lantang begitu melihat Yeonhee kabur setelah mendorongnya ke sungai.

***

Seongwoo masuk kedalam rumah. Sudah hampir dua jam ia berolahraga lari pagi. Kaosnya basah gara-gara air sungai yang membuat kaos yang dikenakannya menempel pada tubuhnya dan memperlihatkan bentuk tubuhnya.

“Seongwoo-ya! Darimana saja kau? Astaga kenapa kau basah kuyup?”

“Aku berkeringat, omma.”

“Kenapa celanamu juga basah?” tanya Ibu Seongwoo bingung, “Sepatumu juga.”

Seongwoo menggelengkan kepalanya. Ia terlalu malu untuk mengatakan bahwa dirinya telah dikerjain oleh seorang gadis.

Ibu Seongwoo menghampiri Seongwoo sambil memgelap keringat yang memenuhi wajah Seongwoo menggunakan tangan.

“Omma kira kau tidak pulang semalaman.”

Seongwoo tersenyum lalu memeluk ibunya, “Tidak, omma. Aku hanya olahraga pagi,” katanya sambil melepas pelukannya, kemudian melanjutkannya, “Lagipula omma kan sudah tahu, aku tidak akan menginap di luar kecuali memang mendesak.”

Ibu Seongwoo memgangguk sambil mengusap pipi putranya, “Ya sudah, bersihkan dirimu sekarang, lalu antarkan ibu ketempat kerja.”

“Iya, Omma.”

Seongwoo berjalan memasuki kamarnya. Langkah kakinya berhenti ketika ia mendapati bayangan dirinya melalui cermin besar di kamarnya, ia memperhatikan wajahnya selama beberapa detik.

“Ternyata aku masih terlihat tampan meski dengan penampilan yang seperti ini,” gumamnya sambil tersenyum puas.

Tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa saat lalu.

“Ha Yeonhee! Kau.. Awas saja.”

Seongwoo masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri sambil menahan kekesalannya. Setelah itu ia menjalankan perintah ibunya yang menyuruhnya mengantar ke tempat kerja sang ibu yang berada di wilayang Insadong.

“Omma, ayo berangkat!”

***

Seongwoo keluar dari gedung penginapan milik ibunya. Ia melirik jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangan kanannya. 9:00 KST. Ia memiliki waktu sekitar 2 jam sebelum ia menuju Myeongdong, tempatnya bekerja sebagai pelayan di kedai kopi.

Hmm, ngapain ya?

Seongwoo hanya berjalan mengikuti arah kemana kakinya membawanya. Perhatiannya tiba-tiba tersita pada sebuah toko butik yang menjual dress wanita.

“Cantik. Aku ingin membelikan gadisku dress itu ketika aku memiliki kekasih.”

Seongwoo tersenyum kemudian melanjutkan jalannya yang tanpa tujuan.

Ia hanya perlu berjalan untuk menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Dan benar! Lagi-lagi perhatiannya tersita pada seseorang yang sedang menyebrangi jalan. Ia menghentikan langkah kakinya untuk memperhatikan lebih jelas seorang gadis yang terlihat sedang membantu seorang nenek.

Nenek itu menyebrang jalan di zebracross dan berjalan sangat lambat. Lampau hijau menunjukkan sekitar 5 detik lagi, namun sang nenek masih berada di tengah jalan. Tampak seorang gadis yang berjalan beberapa langkah di depan si nenek, menyadari bahwa nenek tersebut masih berada di belakang, gadis itu sengaja berhenti dan melambatkan langkahnya supaya sang nenek berjalan mendahuluinya. Suara klakson mobil terdengar berkali-kali namun si gadis pura-pura tidak peduli dan masih berjalan lambat dibelakang si nenek. Kemudian setelah dipinggir jalan, nenek tersebut berterima kasih kepada gadis yang menolongnya itu.

Seongwoo tersenyum melihatnya. Bukankah hal-hal seperti itu hanya ada pada drama? Ia tidak menyangka bahwa hal seperti itu bisa terjadi dalam kehidupan nyata.

“Andai semua orang memiliki perilaku baik dan saling menolong, pasti dunia ini menjadi sangat harmonis,” katanya pelan dengan mata yang masih menatap si nenek dan gadis yang sedang berbincang-bincang nampak akrab.

“Tidak seperti gadis bernama Ha Yeonhee itu. Ah sial, aku berharap orang sepertinya segera di musnahkan!”

#)$+@’*”=!

Tiba-tiba terdengar suara aneh yang berasal dari perut Seongwoo. Ia tertawa pelan.

“Ah, perutku, haha..” ia tertawa sambil memegangi perutnya, “Baiklah, aku akan memberimu makanan.” lanjutnya sambil mengelus perutnya sendiri.

Seongwoo melanjutkan jalannya yang tanpa tujuan —lagi. Matanya melirik toko-toko yang menjual bermacam-macam mulai dari pakaian, sepatu, alat tulis kantor, hingga makanan ringan.

Seongwoo terus berjalan melihat toko-toko yang berjajar sepanjang jalan untuk mencari tempat makan yang sesuai dengan seleranya pagi ini.

Ah, itu dia.

Seongwoo masuk ke sebuat tempat makan sederhana lalu tersenyum kepada seorang wanita tua yang sedang mengelap meja.

“Kau datang lagi?” sapa wanita tua itu.

“Ye, ahjumma!” balas Seongwo sambil tersenyum, “Aku ingin makan bibimbap.”

“Lagi?” tanya ahjumma sambil menggelengkan kepalanya, “Kau tidak bosan makan bibimbap setiap hari?” lanjutnya terkekeh.

“Ani, bibimbap buatan ahjumma sesuai dengan seleraku,” jawab Seongwoo sambil tertawa.

“Ah, dasar kamu ini,” kata ahjumma sambil menggelengkan kepalanya, “Tunggu sebentar ya.”

Seongwoo mengangguk, kemudian ahjumma pergi untuk menyiapkan pesanannya.

Tiba-tiba hp Seongwoo bergetar.

1 message
To: You
From: Kang Daniel
Seongwoo-ya, hari ini Jisung hyung ulang tahun. Ia ingin mentraktir kita daging. Datanglah bersama guanlin setelah selesai kerja.

“Hari ini Jisung hyung ulangtahun?” gumam Seongwoo sambil menautkan alisnya, “Ah benar! Hari ini tanggal 8 maret!”

To: Kang Daniel
From: You
Aku mengerti, niel. Aku akan datang.

“Aigo, aigo. Gadis yang seperti apa yang sedang kau kencani sekarang?” kata ahjumma yang tiba-tiba datang sambil membawa bibimbab pesanan Seongwoo.

Seongwoo menggelengkan kepalanya, “Bukan seperti itu, ahjumma. Aku sedang tidak mengencani gadis manapun.”

“Jadi?”

Sebelah alis Seongwoo naik, “Jadi?”

“Aku curiga kau menyukai laki-laki,” goda ahjumma itu.

“Ahjumma..”

***

“Seongwoo hyung! Kau sudah datang.”

Seongwoo melambaikan tangannya kearah salah seorang temannya yang menyambut kedatangannya.

“Bersiaplah, kau terlambat 3 menit hari ini.”

Seongwoo terkekeh, “Hahaha. Maafkan hyung, jinyoung-ah. Ah, ani, ani, maksudku, sajangnim.”

“Seongwoo hyung, jangan memanggilku seperti itu, hahaha,”

Bae Jinyoung adalah pemilik kedai kopi. Ia menjadi pengusaha muda yang sukses. Tidak hanya memiliki kedai kopi di Myeongdong, ia memiliki beberapa kedai kopi juga di wilayah lain yang sudah di kelola oleh orang-orang yang dipercayainya.

Seongwoo berjalan menuju ruangan belakang untuk menaruh tasnya. Ia membuka loker bertuliskan namanya, kemudian mengambil celemek dan memasangkan celemek ke badannya sendiri.

“Aku berharap ada banyak gadis cantik mengunjungi kedai kopi hari ini,” gumamnya penuh harap sambil menyisiri rambutnya dengan jari.

Seongwoo berjalan keluar dari ruangan tersebut dan menuju meja pemesanan. Ia duduk sambil membersihkan beberapa kotoran yang berada di bawah meja pemesanan.

“Hyung, ada pelanggan datang.”

Seongwoo refleks mengubah posisinya menjadi berdiri begitu seorang lelaki bernama Bae Jinyoung itu memberitahu.

“Ingin memesan yang mana, nona?” tanya Seongwoo ramah.

“Uhm..”

Seongwoo diam menunggu pelanggan.

“Cappucino.”

“Harganya 5000 won,” kata Seongwoo sambil mengadahkan telapak tangannya supaya pelanggan memberikan kartu kredit.

Pelanggan terrsebut memberikan kartu kredit dan Seongwoo langsung menerimanya. Setelah melakukan pembayaran, Seongwoo mengembalikan kartu kredit pelanggan, “Silahkan di ambil di sebelah. Terima kasih atas kunjungannya.”

“Oke..”

Seongwoo tersenyum kepada pelanggan yang pindah ke meja sebelah untuk mengambil pesanan.

“Selamat datang, Nona. Ingin memesan apa?”

Seongwoo melayani beberapa pelanggan yang datang dengan ramah. Terkadang banyak pelanggan wanita yang datang hanya untuk melihat wajah tampan yang dimiliki oleh Seongwoo. Hal itu membuat Seongwoo selalu membanggakan dirinya kepada rekannya yang lain.

Seongwoo duduk kembali di kursinya begitu tidak ada lagi pelanggan yang datang. Ia mengambil ponsel miliknya sekedar mengecek notifikasi.

“Seongwoo hyung..”

Seongwoo menoleh dan mendapati seorang lelaki tinggi dengan wajah tampan sedang menghampirinya, “Guanlin-ah!”

Lelaki bernama Guanlin itu tersenyum lebar, “Hyung, kau sudah tahu?”

“Tahu tentang?”

Guanlin mendekati wajahnya pada Seongwoo, “Ada pekerja baru!” jawabnya sambil berbisik.

“Lalu?” tanya Seongwoo.

“Dia seorang gadis. Wahh, dia sangat cantik,” bisik Guanlin lagi.

“Sungguh?” tanya Seongwoo sedikit tidak percaya, “Ah, akhirnya ada juga seorang gadis yang bekerja disini.”

“Ah itu dia sedang bersama Jinyoung,” kata Guanlin sambil menunjuk kesuatu arah.

Seongwoo mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Guanlin sambil mengubah posisinya menjadi berdiri.

Gadis itu berdiri membelakangi Seongwoo dan Guanlin.

Jinyoung sedang mengobrol dengan gadis itu, mereka tampak akrab. Kemudian Jinyoung menyadari bahwa Guanlin dan Seongwoo sedang memperhatikannya. Jinyoung tersenyum sambil melambaikan tangannya.

“Hyung, kita memiliki pekerja baru!” kata Jinyoung.

Gadis itu menoleh kebelakang begitu Jinyoung menyapa pelayan lain yang berada di belakangnya.

GLEK.

Mata gadis itu melotot.

“HA YEONHEE?”

“Seongwoo-ssi?”

“YAAA!!!! KAUUU!!!!”

***

TO BE CONTINUE

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s