[Ficlet] 永遠

14fa379ff89d8488151912423658

a fiction by narinputri

starring : [17] Joshua and OC // AU, surreal, family // ficlet // G

永遠 : eien (Jap.) means eternity

Jadilah edelweiss abadi untukku

“Fay,” Joshua memanggil adiknya tercinta sembari membuka pintu kamar gadis itu perlahan.

Dilihatnya Fay sedang asyik tertidur –dan melayang— di antara ratusan kupu-kupu bersayap emas yang mengelilingi tubuhnya. Joshua memandang langit malam bertabur bintang bak kilauan berlian dan planet-planet yang begitu dekat, serta seekor paus biru tengah ‘berenang’ di langit malam.

Sosok pria berkepala jam kuno dengan tuxedo lengkap duduk di samping Fay yang tertidur. Jarum jam pada wajahnya tak bergerak, menandakan bahwa gadis itu sedang ‘mati’. Karena memang waktu tidur Fay bisa mencapai ribuan tahun lamanya.

Tapi, Joshua tetap sabar membangunkan gadis itu. Karena memang sudah tugasnya sebagai seorang kakak.

“Fay, bangunlah,” ucap Joshua membelai lembut surai kecokelatan Fay yang secara otomatis berubah menjadi keperakan kala terkena sentuhan.

Kedua mata hitam –kornea hingga iris— gadis itu terbuka seraya beralih menjadi sewarna pelangi. Langit malam berganti menjadi biru berhias awan keemasan, dan tumbuh ribuan bunga edelweiss bermekaran dengan indahnya di antara mereka.

Suara serupa mesin alat berat berbunyi nyaring, mengisyaratkan bahwa pria berkepala jam itu ‘hidup’, karena jarum jam di wajahnya bergerak walau mundur.

“Kenapa Kakak membangunkanku? Apa Kakak sedang ada masalah?” tanya Fay kemudian duduk di samping Joshua. Sementara kupu-kupu emas tersebut terbang ke langit membentuk sebuah bunga matahari yang bersinar terang dan ratusan pelangi.

Joshua tersenyum memandang Fay lalu merangkulnya hangat. Ia tak peduli tangan dan tubuhnya menjadi sekering pohon mati saat berada di samping gadis itu. Karena pasti ia akan kembali normal, setelah bunga edelweiss di sekelilingnya berterbangan lalu memasuki tubuhnya. Yang terpenting, adik kesayangannya itu nyaman di dekatnya.

“Kau tahu, Kak. Aku selalu berpikir, jika aku sering menyakitimu sangat. Tapi, kau masih tetap memberikan senyuman termanismu padaku.”

Entah mengapa, hati pemuda itu merasa bersalah yang sejurus kemudian menjadi rasa sakit, kala memandang butiran permata yang meluncur dari kedua pelupuk Fay. Seketika saja, langit menjadi kelabu dan turunlah hujan dengan derasnya, membasahi tubuh mereka juga membanjiri ladang edelweiss itu.

Sang pria berkepala jam itu memayungi dirinya dengan payung hitam, memandang Joshua seolah tak terima membuat gadis itu menangis. Pemuda itu tetap tersenyum sembari mendekatkan tubuh adiknya, lalu mengecup puncak kepala gadis itu.

“Kau tahu makna bunga edelweiss ini?” tanya Joshua memetik setangkai edelweis di tempat itu, kemudian bunga tersebut menyatu dengan dirinya.

Fay menggeleng tak mengerti namun tetap mengalirkan butiran permata dari kedua matanya.

“Rasa sayang dan cintaku padamu, seperti makna bunga edelweiss ini, abadi dan kekal. Seperti apapun dirimu, seburuk apapun itu, aku tetap menyayangi dan mencintaimu. Dan memilikimu di dunia ini membutuhkan perjuangan sama seperti memiliki bunga edelweiss ini.”

Joshua menarik napas dan seketika mereka berada di sebuah kamar bersuhu hangat dengan perapian yang menyala. Tak lupa, bunga-bunga edelweiss yang masih bermekaran di antara mereka.

“Tapi, setelah mendapatkanmu, aku melihat suatu keindahan yang abadi untukku. Yaitu, senyummu, Fairish.”

Paras Fay menjadi semerah buah ceri dan itu bukan kiasan, benar-benar merah. Joshua tertawa renyah melihat perubahan wajah Fay. Untung saja, pemuda itu adalah kakaknya. Karena bisa jadi, Fay jatuh cinta pada Joshua yang selalu mengucapkan kalimat itu dalam keabadiannya.

Fay memeluk Joshua hangat dan tersenyum bahagia. Ia senang –sekaligus bahagia— memiliki kakak seperti pemuda itu. Kendati sosok yang ia cintai itu, akan hancur menjadi abu setiap ia mulai mengantuk.

“Kau sudah mengantuk?” tanya Joshua yang melihat wajah Fay berubah menjadi tua.

Gadis itu tak menjawab pertanyaan pemuda itu karena sangat mengantuk. Joshua tersenyum mengerti dan mengizinkan Fay bersandar pada bahunya untuk tidur.

“Kakak.”

Joshua menoleh ke arah Fay yang parasnya semakin menua.

“Kau berjanji akan tetap bersamaku sampai kapanpun, kan?” tanya Fay menggumam, namun mampu di dengar kakak lelakinya.

Joshua mengangguk sembari tersenyum, lalu tubuhnya hancur menjadi abu. Membiarkan Fay yang kembali tertidur dan seluruh tempat itu berubah menjadi malam seperti sedia kala. Pria berkepala jam itu lantas kembali duduk di samping Fay yang tertidur, kemudian jarum jam di wajahnya berhenti bergerak.

Yang bisa dilakukan Fay dalam keabadiannya untuk mengembalikan sang kakak adalah tidur sejenak, meskipun ia tak tahu jika sampai ratusan tahun lamanya. Tapi ia tak peduli, karena kakaknya pasti akan kembali lagi. Membuka kamar perlahan sembari memanggil namanya lembut untuk membangunkannya.

“Fay.”

−fin−

Maaf Joshuanya ga ada pegang bunga edelweiss;;;;

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s