[Series] First Love #01

1 – Mengapa aku?

Jimin (BTS), OC, Taehyung (BTS), Kang Seulgi (Red Velvet).

by Cca Tury

“Berhentilah canggung, kita bahkan tak melakukan dosa apa-apa.” -Jimin.

Sequel dari cerita Cinta Pertama

 

Sebenarnya kami tak lantas canggung sejak kejadian sore itu. Jimin tetap menyapa, tetap menawarkan tumpangan untuk mengantarku ke tempat kerja. Jimin juga tetap rajin datang ke rumah di sore hari untuk sekedar memberi Chimmy pangan kesukaannya. Jimin tetap tak sungkan ikut makan bersama keluargaku karena ibu dan ayahnya sedang pergi keluar kota. Aku pun tak pernah ambil pusing soal itu. Toh aku yakin itu hanya akal-akalan Jimin untuk membuatku goyah.

Tapi, tiba-tiba teringat lagi kala orang-orang berkata bahwa lelaki dan perempuan yang terlalu berdekatan itu tidak bisa jika hanya disebut sebagai teman, pasti saja salah satu akan goyah dan mulai menunjukkan perasaan yang berbeda.

Tak perlu munafik, aku pun begitu.

Dulu, kala masa remaja kami benar-benar baru beranjak, aku menyukai Jimin, sebagai seorang lelaki maskulin tentunya. Aku bahkan sempat cemburu ketika Jimin selalu saja menggandeng gadis yang berbeda di setiap waktu. Lagi pula bagaimana aku tidak tertarik untuk menyukai? Jimin bukanlah lelaki yang kaku, dia bahkan tampak berkharisma hanya dengan melangkahkan kaki berjalan di koridor sekolah. Jimin juga terlalu banyak penggemar pada masa itu. Selain suara seraknya yang terdengar menawan, dia juga tak bisa dikatakan buruk kala tubuhnya mulai bergerak dan menari mengikuti irama. Itulah mengapa Jimin cukup terkenal di kala itu.

Namun, rasa suka itu kupendam sia-sia, karena Jimin bahkan tak menunjukkan sikap mesra kala bersitatap. Dia lebih suka mengomel tentang wajahku yang dilukis berlebihan dan juga rok seragam sekolahku yang terlalu pendek di matanya. Padahal, gadis-gadis yang dikencaninya lebih calak berdandan dari padaku, mereka bahkan girang jika beberapa bagian khusus tubuhnya terlihat di mata Jimin.

Itulah mengapa aku menyerah untuk memiliki Jimin.

Tapi, jika sudah begini, Jimin kembali membuatku goyah. Buat apa memaksaku menerima Taehyung waktu itu, jika dia bahkan menganggap aku sebagai cinta pertamanya? Kendati aku mengaku akulah yang paling mengerti Jimin, tetap saja lelaki itu terlalu misterius.

“O, Mina ssi datang ya?” Ada yang menyapa kala aku memasuki rumah Jimin. Ibu membuat daging asap kesukaannya. Jimin sedang sendiri beberapa hari ini, makanya ibu merasa khawatir jikalau ia lupa mengisi perutnya.

“Oh, selamat sore Dokter Kang.” Aku membalas sapaan. Padahal sore itu Jimin mengatakan jika mereka mengakhiri hubungan. Lalu apa maksud kehadiran dokter cantik ini? Jimin bahkan repot-repot memakai celemek dan memasak sesuatu.

Aku memang merasa kami tidak menjadi canggung sejak sore itu, tapi tetap saja aku dan Jimin mengalami beberapa perubahan sejak sore itu. Dia tak banyak berkata-kata dan aku tak sibuk bertanya-tanya. Kami juga menolak untuk saling berkontak mata ketika bertemu. Ah, apa sebenarnya ini yang disebut kami canggung?

“Ibu membuatkan daging asap untukmu.”

“Eum.” Jangankan untuk sudi melirik, dia bahkan tak berminat melihat bagaimana bentuk daging asap buatan ibu untuknya.

“Jimin memasak sup rumput laut.” Dokter Kang tersipu ketika berucap. “Hari ini ulang tahunku.”

Kutunjukkan tampang terperanjat sebagai balasan. “Wah, selamat ulang tahun.” Aku memberikan ucapan selamat. Dokter Kang dan aku sebenarnya tidak dekat sama sekali. Hanya beberapa kali bertemu tiap kali Jimin membawanya pulang ke rumah.

Aku tak terlalu pusing dengan ketidakdekatanku dengan Dokter Kang, aku juga tak terlalu peduli dengan hari ulang tahunnya hari ini. Yang masih jadi pertanyaan di benakku adalah mengapa dia di sini? Bukankah mereka sudah berakhir?

Seharusnya hal begini tidak perlu kuambil acuh, karena ini seratus persen bukan urusanku. Ini urusan mereka. Park Jimin dan Kang Seulgi. Sialnya Jimin mengakui cinta pertamanya sore itu, makanya hal seperti ini malah menggangguku. Apa aku mulai goyah? Lalu bagaimana dengan Taehyung?

“Ayo ikut makan bersama?”

Sebelum menjawab ajakan Kang Seulgi, aku melirik Jimin yang sedang menyajikan sup rumput laut buatannya di atas meja. Tapi, Jimin terlihat tak peduli dengan keberadaaanku. “Ah, sayang sekali. Aku ada acara lain.” Kalau saja keadaanku dan Park Jimin sedang baik-baik saja, mungkin saja aku sudah ikut duduk dan menyantap sup itu bersama mereka. Sup rumput laut buatan Jimin adalah yang terbaik, bahkan ibu kalah darinya.

“Akan pergi dengan Jaksa Kim ya?” Dokter Kang menebak. Aku berpikir sebentar lalu mengangguk. Padahal Taehyung baru saja pergi setelah berkunjung ke rumahku, dia juga akan pulang ke rumah ibu dan ayahnya di Daegu.

“Sayang sekali ya? Padahal akan lebih seru jika ada Mina ssi dan juga Jaksa Kim.”

“Mungkin lain kali.” Aku tersenyum berusaha tidak bersikap canggung. “Ah, kalau begitu aku pamit dulu.”

Aku lantas tergesa-gesa meninggalkan rumah Jimin setelah Dokter Kang mengingatkanku untuk berhati-hati di jalan. Lagi pula ini adalah keputusan yang baik. Barangkali mereka ingin berduaan karena barangkali mereka memulainya kembali. Apalagi ini hari spesialnya Dokter Kang.

Jika dipikir lagi, ini hal konyol. Padahal jelas sekali jika mereka tidak bisa berpisah. Bagaimana aku bisa goyah hanya karena Jimin mengakui cinta pertamanya? Seharusnya dari awal aku tak perlu menggali-gali sehingga keadaan kami tetap baik-baik saja.

Ah, kalau sudah begini, aku tak bisa lagi berkata jika aku dan Jimin sebenarnya tidak canggung.

“Oi!” Baru saja berhasil membuka pintu gerbang rumah Park Jimin, suara itu terdengar dari belakang punggungku.

Langkahku terhenti dan berbalik.

“Kau bilang sup rumput lautku adalah yang terbaik.” Park Jimin menyodorkan semangkuk sup rumput lautnya padaku. “Taehyung berkata dia sedang dalam perjalanan ke Daegu, sebenarnya kau ada acara lain dengan siapa?”

Ah, ketahuan.

Barangkali aku cerdik untuk mengakali orang-orang di luar sana, tapi Park Jimin, bisa dengan mudah membacanya.

“Aku tak mau mengganggumu dan hari bahagia kekasihmu. Itulah mengapa aku memutuskan untuk pergi saja.”

“Tak mau mengganggu atau kau cemburu?”

“Park Jimin kau gila ya!” Seruanku cukup keras, lantas setelah berdecak aku memacu langkah lagi. Jimin menahan tanganku untuk berhenti.

“Berhentilah canggung, kita bahkan tak melakukan dosa apa-apa.” Dia menatapku lekat.

Sebenarnya aku tak mau begini tapi aku tak bisa menghentikan dekat jantung yang tiba-tiba melompat-lompat. Aku tak bisa menghentikan isi perut yang menggelitik. Aku bahkan tak bisa menghindari ronaku yang memerah. Ah, sial. Park Jimin benar-benar membuatku goyah.

“Mengapa aku?” Ragu-ragu menanyakannya, tetapi aku ingin tahu alasannya. Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak waktu itu ketika aku menyukainya?

“Karena memang kau.”

“Kau tidak menyukaiku, kau bahkan selalu marah-marah, kau membenciku!” Aku berteriak kencang mengakhiri kalimatku.

Aku tak suka hal dramatis. Aku juga tak suka dengan hatiku yang goyah. Berkesan menjijikkan, karena aku bahkan mengutuk dengan sadis gadis-gadis yang memiliki getaran aneh pada dua lelaki yang berbeda. Tapi, Jimin menghancurkan semuanya.

“Kau pikir sudah berapa lama aku menahannya?” Jimin berucap lagi setelah cukup lama dia terdiam dan menatapku yang kemerahan. “Lima belas tahun.”

Bola mataku membulat perlahan. Jika lima belas tahun, maka itu bahkan sebelum aku menyukainya. Konyol sekali. Pintar sekali mencari alasan. Padahal sejak saat itu Jimin sudah senang mengencani berbagai macam ragam gadis-gadis. Dia bahkan sudah pintar sekali menebar pesona di masa-masa itu. Seharusnya hal seperti ini tidak perlu membuatku kaget dan membulat mata begitu lebar.

“Tidak lucu, Jim.” Aku membalikkan badan untuk mulai memacu langkah lagi.

Jimin malah menarik tanganku lagi. Kali ini cukup kencang sehingga membuatku terpaksa berbalik dan menabrak dadanya. Sup rumput laut buatannya jatuh berserakan di bawah kaki kami, celananya bahkan basah ditumpahi kuah sup rumput laut.

Jimin menarik lembut wajahku. Rasa kecupan hangat itu kemudian menjalar ke seluruh tubuhku. Memenuhi isi otakku. Lagi-lagi, detak jantung jumpalitan.

“Apa ini masih terdengar lelucon?”

Seharusnya di saat seperti ini aku menampar dengan keras wajah putih bersih milik Park Jimin. Aku juga perlu menendang perutnya dan membantingnya ke tanah setelah menghantam punggungnya dengan jurus karateku. Untuk apa bersusah payah menjadi shodan jika tak bisa melumpuhkan lelaki mesum seperti dirinya.

Tapi, apa yang terjadi? Aku malah termangu menatap lekat Park Jimin, jauh ke dalam matanya. Mencoba mencari kebenaran perasaannya, mencoba menguak sisi misteriusnya.

Taehyung sudah pernah melakukannya, dia bahkan bisa lebih gila dari yang Jimin lakukan beberapa detik lalu. Tapi mengapa? Rasanya berbeda sekali, kenapa hal singkat yang Jimin lakukan membuat tubuhku bergetar? Kenapa hal singkat itu membuatku semakin memanas?

“Ah, Ini tidak boleh.” Aku bergumam. Mata masih menatap lekat Park Jimin di hadapanku.

“Eum. Kau benar tapi kau memaksaku melakukannya.” Dia malah menjawab ucapanku, padahal aku mengatakannya untuk diriku sendiri.

“Jimin sedang apa? Kenapa lama sekali?”

Mungkin saja keadaan dramatis ini bisa berlangsung lebih lama lagi tapi sepertinya kekasih Jimin sudah tak sabar menunggunya.

“Ya ampun! Kenapa bisa tumpah?” Dokter Kang mengangkat mangkuk sup di bawah kaki kami.

Aku terperanjat, dengan cepat menjauhkan diriku dari tubuh Jimin.

“Ah. Maaf Dokter Kang, aku tersandung dan menumpahkannya.” Aku beralasan.

Setelah ini, mungkin aku dan Park Jimin akan semakin tidak baik-baik saja.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s