EVERMORE – Chapter 2

evermore

 

Title: The Annoying Doctor

Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Park Yeon Min  (OC)
  • Hanbin / B.I (Ikon)

Genre : Romance, Angst, Dark

Author’s note: Hai! Vankyu kembali hadir! Semoga suka dan silahkan menikmati cerita di bawah. Siapa tahu bisa mengobati rasa rindu sama Kyuhyun di hari natal ini 😦 Warning! Akan banyak adegan ataupun kata-kata yang mungkin tidak cocok untuk dibaca anak dibawah umur, jadi.. be wise!

Dan untuk kalian yang suka sama cerita ini boleh banget mampir ke blog author kyutiramisu

Once again, Cho Kyuhyun belong to God, but this story is belong to me 🙂

 

EVERMORE

(prolog) (part 1)

**********************

 

*Previous Chapter*

Sebuah tawa kecil keluar dari bibir dokter muda itu. “Coba saja. Tapi aku bukan tipe yang mudah menyerah. Aku akan menempel di sisimu seperti permen karet yang lengket. Bersiaplah.” Yeon Min menggelengkan kepalanya dan menyuruh Hanbin untuk menyalakan mesin motornya. Percuma bicara dengan pria gila seperti dia.

            Sebelum motor gadis itu menghilang dari pandangannya, Kyuhyun secepat mungkin kembali mobil dan menyalakan kendaraan kesayangannya. Terlalu dini untuk keluar dari permainan ini. “Kemana pun kau pergi, aku akan ada di sana,” ujarnya sambil menerobos kegelapan malam dan berpacu menuju satu titik terang di depan sana. Tempat gadis itu berada.

 

***************************

 

Yeon Min mengerjapkan matanya saat semburat sinar merah mengenai penglihatannya. Mata manusianya mencoba untuk beradaptasi dengan kilauan sinar laser dan lampu yang berwarna-warni di antara gelapnya ruangan. Gadis itu memandang segelas vodka yang masih terisi penuh di hadapannya sambil jarinya sesekali bermain mengitari bibir gelas. Sudah hampir 20 menit ia tidak memasukkan setetes pun cairan terlarang ke dalam sistem tubuhnya yang memang sudah rusak. Sudah hampir 20 menit juga ia diam seribu bahasa saat empat pria secara berturut-turut mencoba untuk menarik perhatiannya.

            Tepat setelah pria kelima mencoba untuk menggodanya, sebuah tangan melingkar di pinggang ramping gadis itu. Dengan sedikit kaget, ia memalingkan wajahnya dan perlahan-lahan mengendurkan ototnya saat melihat sebuah wajah familiar. Hanbin memasang raut paling menyeramkan, matanya memancarkan isyarat ‘pergi sebelum aku membunuhmu’ kepada si laki-laki kelima. Yeon Min melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya dan kembali memainkan gelas alkoholnya, kali ini diikuti dengan meminum cairan bening tersebut.

            “Kau betul-betul berbahaya. Baru beberapa menit aku meninggalkanmu, langsung banyak serigala yang datang.” Hanbin menenggak habis minumannya dengan kesal.

            Yeon Min berdecak, “Siapa suruh kau meninggalkan perempuan secantik aku sendirian di tempat ini.” Pria itu menyunggingkan senyum miringnya. Selera humor perempuan di hadapannya hampir tidak ada sama sekali, tetapi setiap kata yang terucap dari bibirnya bisa membuat Hanbin tersenyum.

            “Permisi, ada yang membelikanmu minuman,” ujar bartender di hadapan Yeon Min sambil memberikan satu cangkir yang bisa diyakini perempuan itu bukanlah minuman beralkohol. Tidak lupa juga secarik kertas yang terselip di bawah gelas. Dengan dahi mengkerut, gadis itu membaca tulisan berantakan khas seorang dokter.

‘Gantilah gelas vodkamu dengan teh hijau hangat yang lebih baik untuk kesehatanmu. Berterima kasihlah nanti karena aku memang dokter yang sangat perhatian dengan kondisi pasienku.

            Yeon Min meremas kertas di tangannya sambil melemparkan pandangan ke kanan dan kirinya. Manik matanya membulat sempurna saat sesosok pria dengan senyum tengilnya tertangkap dalam radius penglihatannya. Lelaki itu benar-benar tidak tahu kata menyerah.

            “Hei, siapa yang membelikanmu segelas teh hangat? Aneh sekali,” ucap Hanbin saat menenggak minuman misterius tersebut. Pria itu melirik kertas yang digenggam erat oleh Yeon Min. Dengan rasa penasaran ia menarik kertas tersebut namun tertahan karena remasan gadis itu begitu erat melebihi ekspektasinya.

            “Hanbin-ah, berikan aku salah satu kertas milikmu.” Pria itu merogoh kantong celananya dan menarik secarik kertas yang biasa dia gunakan secara sukarela untuk meninggalkan nomor teleponnya kepada gadis-gadis cantik yang mengejarnya.

            Setelah menuliskan satu baris kalimat, gadis itu memberikan kertasnya kepada bartender dan meminta tolong untuk mengantarkannya kepada Kyuhyun yang sampai detik tersebut tidak melepaskan pandangannya dari Yeon Min. Dengan bermodal sedikit kata-kata dan senyum manis, gadis tersebut dapat membuat sang bartender beraksi tanpa banyak penolakan.

            “Hei kau membalas surat tadi? Apa kau mengenal orang tersebut? Siapa yang memberikanmu teh ini?” tanya Hanbin sambil mengikuti kemana bartender tadi pergi. Yeon Min mendesah pelan dan menggandeng tangan pria di sampingnya tersebut. Ia tahu sekali kalau Hanbin memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan tidak akan berhenti bertanya. Sebelum berubah menjadi lebih merepotkan, Yeon Min menarik pria tersebut ke lantai dansa.

            Benar saja, dentuman musik yang begitu keras dan lautan manusia yang begitu membara langsung mengalihkan perhatian Hanbin yang saat ini telah menari mengikuti ritme lagu. Setelah menyelesaikan satu masalah, kini gadis itu dihadapkan oleh masalah lainnya. Sedari tadi Yeon Min berusaha untuk menahan matanya agar tidak melirik secara terang-terangan ke arah dokter menyebalkan itu. Otaknya sudah berkali-kali memberikan perintah agar bersikap tidak peduli, tetapi semakin besar rasa penasaran yang timbul di hatinya. Dengan bodohnya ia memunculkan sedikit rasa ingin tahu, bagaimana reaksi pria itu saat membaca balasan suratnya? Apakah dia akan meremas surat tersebut persis seperti yang Yeon Min lakukan tadi? Atau menyunggingkan senyum iblisnya yang… kalau boleh jujur terlihat begitu… menggoda? Dia benar-benar sudah gila ternyata.

            DEG!

            Mata gadis itu membulat sempurna saat rasa sakit yang begitu tajam menghujam dadanya. Otot-otot jantungnya terasa seperti tali yang mengikat organnya dengan begitu erat. Ritme nafasnya tidak lagi beraturan. Matanya mulai kehilangan fokus akibat sedikitnya oksigen yang tertampung di jantungnya dan nyeri yang muncul secara tiba-tiba. Ia panik. Di tengah-tengah lautan manusia, sakitnya kembali kambuh. Dengan susah payah dan segenap kekuatan yang masih ia miliki, gadis itu berusaha menerobos orang-orang dan berjalan menuju toilet wanita terdekat.

            Ia tidak lagi menggubris pasangan kekasih yang bercengkrama dengan panasnya di depan pintu toilet. Gadis itu buru-buru mencengkeram tepi wastafel untuk menopang berat badannya. Kakinya mulai kehilangan kekuatan. “Kau tidak apa-apa?” tanya seorang perempuan di sampingnya. Ia bisa melihat pantulan wajahnya dengan sangat jelas di kaca. Wajahnya yang pucat dan berkeringat dingin, tangan yang gemetaran dan darah yang mengalir tiba-tiba dari hidung pasti membuat siapa saja yang melihat dia akan bertanya ketakutan. Dengan depat Yeon Min menggelengkan kepalanya dan membasuh hidungnya dengan air, menghilangkan bukti darah yang mengalir.

            Sekali lagi ia melirik wajahnya di cermin. Rasa benci yang begitu besar bergejolak di dalam hatinya. Ia benci dengan pandangan kasihan dari gadis di sebelahnya. Ia benci dengan pantulan wajahnya yang terlihat begitu lemah. Ia benci dengan kehidupannya. “Kau benar tidak apa-apa? Apakah kau datang bersama temanmu? Biar aku panggilkan..”

            “Tidak usah. Terima kasih banyak tapi kau tidak perlu mengkhawatirkanku.” Gadis itu berusaha untuk berdiri dan keluar dari toilet. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Yeon Min berjalan keluar dari club, meninggalkan Hanbin dan hingar bingar di belakangnya.

            Sebelum menelepon taksi, ia berhenti sebentar di supermarket. Untuk menghilangkan rasa sakit di dadanya, ia harus membeli sebotol air putih dingin. Yeon Min membutuhkan cairan dingin tersebut masuk ke dalam kerongkongannya, mengalir dan membekukan setiap sakit yang dia rasakan. Setelah dua tegukan besar, Yeon Min terkulai lemas di kursi supermarket. Sambil menaruh kepalanya di meja, ia memukul pelan dadanya. Nafasnya sudah kembali teratur walaupun sedikit tersendat. “Bukankah sudah kukatakan bahwa teh hangat lebih baik dari minuman apapun untuk tubuhmu?” secara tiba-tiba suara familiar berbisik halus di telinga Park Yeon Min. Kyuhyun menaruh gelas teh didepan kening perempuan itu.

            Tanpa banyak bicara, pria itu menarik kursi di sebelah Yeon Min dan duduk dengan manis. Seperti sudah direncanakan, ia mengeluarkan satu botol obat dari tasnya dan menuangkan dua buah pil di tangannya. “Ini minumlah. Rasa sakitmu akan jauh berkurang dan kau bisa bernafas dengan lebih normal.” Tanpa rasa curiga Yeon Min menegakkan dirinya dan memasukkan 2 pil tersebut ke dalam mulutnya. Teh hangat dan obat benar-benar bukan kombinasi yang menarik. Rasa pahit yang luar biasa menyerang indera pengecapnya. Gadis itu mengerutkan keningnya, memperlihatkan dirinya sedang tidak menikmati apapun yang ada di mulutnya.

            “Ini makanlah,” ucap Kyuhyun sambil menyodorkan satu permen lolipop. “Kalau kau tidak suka permen, silahkan memandang wajahku. Hasil akhirnya akan sama.” Pria itu melemparkan senyum jahilnya. Yeon Min menatap tajam pria itu dan menendang pelan kaki orang di sebelahnya tersebut. Respon tidak suka dengan kalimat yang baru saja didengarnya.

            “Kenapa kau ada di sini?” tanya gadis itu pelan.

            “Karena aku mengkhawatirkanmu.” Sedikit rasa hangat tiba-tiba muncul dalam hati gadis itu, sama efeknya seperti ia meminum teh hangat beberapa detik yang lalu. “Kau adalah pasienku dan aku tidak suka mengabaikan orang-orang yang sudah menjadi tanggung jawabku,” ujar Kyuhyun dengan santai. Tanpa disadari membuat perasaan gadis itu sedikit kecewa walaupun langsung berusaha ditepisnya jauh-jauh.

            Secara tiba-tiba pandangan Kyuhyun menangkap objek yang sangat menyenangkan. Sebuah ayunan yang berada tepat di seberang mini market tempat mereka duduk. “Dulu waktu aku kecil, di depan rumahku ada sebuah taman dan setiap sore aku selalu bermain ayunan di sana. Meskipun saat sudah lebih besar, aku lebih menghabiskan waktu untuk berkelahi dengan teman-temanku di tempat itu. Kalau tidak salah tempatnya hampir sama seperti itu.” Ia menunjuk taman di seberang mini market yang temaram karena hanya ada satu lampu jalan yang bersinar. Yeon Min mengikuti arah yang ditunjuk oleh Kyuhyun.

            “Aku tidak pernah bermain dengan teman di taman,” ucap gadis itu pelan.

            Kyuhyun melemparkan tatapan tidak percaya, “Benarkah? Lalu kau bermain dengan siapa?”

Gadis itu menghela nafasnya sambil memainkan kerikil di bawah kakinya. “Aku tidak pernah diizinkan keluar rumah. Keadaan fisikku dari dulu memang tidak bagus. Kedua orang tuaku membangun banyak mainan di taman rumahku. Mungkin menurut mereka bisa mengobati rasa kesepianku. Tapi tetap saja selama bertahun-tahun aku selalu sendirian. Bermain sendirian.” Gadis itu tetap menunduk dan mengeluarkan senyum sinisnya. Tersenyum untuk masa kecilnya dan kehidupannya yang sudah ditakdirkan untuk terus sendirian mungkin sampai dia mati.

Kyuhyun tidak menyukai pemandangan di depannya. Secara tiba-tiba ia menarik tangan Yeon Min untuk berdiri. “Apa yang kau lakukan?” tanya gadis itu sambil berusaha melepaskan cengkeraman Kyuhyun. Pria itu menambah tenaga di tangannya supaya gadis itu tidak mudah untuk meloloskan dirinya.

“Ikut aku,” ujarnya sambil menarik Yeon Min menuju ke gelapnya taman. Gadis itu sudah bersiap-siap untuk menghajar bagian tubuh manapun dari pria itu kalau dia bermaksud macam-macam. Walau fisiknya lemah, Yeon Min cukup dibekali dengan berbagai macam teknik bela diri untuk melindunginya disaat-saat seperti ini. Sesaat sebelum gadis itu melayangkan tendangannya, Kyuhyun menghentikan langkahnya. Gerakan itu membuat Yeon Min bingung.

“Sekarang kau duduk. Dan jangan kemana-mana.” Dengan sedikit memaksa, Kyuhyun mendudukan Yeon Min di ayunan lalu berlari ke arah mini market lagi. Gadis itu menggelengkan kepalanya, benar-benar bingung dengan apa yang ada di pikiran dokter muda tersebut. Tak berapa lama kemudian, Kyuhyun kembali hadir di hadapan pria itu sambil membawa sebuah bungkusan kecil dan senyum yang sangat menyebalkan.

“Kau mengikuti kata-kataku untuk menunggu di sini dan tidak kabur. Apa sekarang hubungan kita sudah ada kemajuan?” ucapnya sambil tersenyum.

Detak jantung Yeon Min yang tadinya lemah, sekarang menderu dua kali lebih cepat. Di dalam pikirannya dia sudah menggambarkan skenario untuk pergi mencari taksi dan meninggalkan pria itu di sini, namun hatinya tanpa sadar menahan dia untuk duduk dan menunggu. Menunggu kejutan apa lagi yang akan dilakukan oleh pria di hadapannya ini. Dan tidak seperti biasanya, keputusan hatinya yang menang. Makanya saat ini, untuk menutupi perasaannya, dia hanya bisa berkata, “Kau benar-benar sudah gila.”

“Aku senang,” ucap Kyuhyun sambil memberikan sebungkus ice cream rasa vanila kepada Yeon Min dan duduk di ayunan sebelah gadis itu. Untuk beberapa saat, Yeon Min tertegun dan memandang benda dingin di tangannya.

“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan saat ini?” ucap Yeon Min dengan sangat heran. Pria itu menaikkan alisnya dan memandang gadis itu bingung.

“Saat ini aku sedang memakan ice cream denganmu. Kukira tidak ada salahnya menjadi teman pertama yang bermain bersamamu di taman. Sudah cukup kau sendirian selama 22 tahun. Sekarang aku bisa menjadi teman pertamamu untuk melakukan segala hal yang kau inginkan.”

Gadis itu benar-benar tidak suka dikasihani. Dan kalimat yang dikatakan pria itu kembali mengingatkan akan hari-harinya yang tinggal sebentar lagi. “Maksudmu, kau mau menemaniku untuk melakukan semua hal yang kuinginkan sebelum aku mati? Mulia sekali dirimu” ujarnya sinis.

Kyuhyun memicingkan matanya. “Apa yang keluar dari mulutmu hanya kalimat menyebalkan? Kau tidak bisa hidup sendirian. Berhentilah menutup dirimu seperti tidak ada lagi orang di dunia ini yang peduli kepadamu.”

“Memang tidak ada orang yang akan peduli dengan orang penyakitan sepertiku,” bentak Yeon Min tidak jauh keras.

“Ada.”

“Siapa?” tantang gadis itu.

“Aku.”

 Yeon Min membeku saat mendengar pengakuan dari pria itu. Udara yang dingin benar-benar telah membuatnya menjadi tidak waras. Atau sebenarnya malah pria di hadapannya yang sudah tidak waras lagi?

“Kenapa terdiam? Aku terlihat menjadi lebih tampan di matamu?” ujar Kyuhyun sambil tersenyum geli. Yeon Min langsung melemparkan tatapan tidak setuju dan berdiri. “Hei mau kemana kau?” tanya Kyuhyun saat melihat gadis berhati dingin tadi berjalan meninggalkan dia sendirian di ayunan.

Empat langkah besar pria itu langsung menyamai langkah gadis itu. “Kau marah?” tanya Kyuhyun sambil terus berjalan di samping gadis itu. Tidak ada jawaban, Kyuhyun mengacak rambutnya dan bertanya sekali lagi. “Haha. Aku tidak bermaksud membuatmu marah.” Tetap tidak ada jawaban. Bibir merah gadis itu terus terbungkam.

“Apa kau mau ku-“

“Apa kau tidak bisa menutup mulutmu untuk sedetik saja?” Yeon Min menghentikan langkahnya. Gadis itu melayangkan tatapannya ke arah Kyuhyun.

“Dimana mobilmu? Antar aku pulang. Aku sudah lelah,” ucap Yeon Min yang lucunya tetap tidak mengubah ekspresi di wajahnya. Hal itu membuat Kyuhyun tersenyum lebar. Jika suasananya tidak setegang ini, mungkin tangannya akan mencubit kedua pipi gadis itu dengan gemas.

“Baiklah tuan putri. Aku akan mengantarmu pulang,” ujar Kyuhyun sambil berpura-pura hormat. Gadis itu benar-benar ingin menjitak kepala dokter di depannya.

“Jangan panggil aku tuan putri!”

Kyuhyun merangkul pundak gadis itu, masih dengan senyum jahilrnya. “Iya aku mengerti. Kau galak sekali.” Gadis itu meronta. Tidak sudi dirinya dirangkul oleh dokter gila tersebut. Bisa-bisanya ayahnya mempercayakan kesehatannya di tangan pria seperti Kyuhyun. Dunia memang sudah gila dan dirinya juga sudah tidak waras. Beraninya dia mempersilahkan seseorang untuk masuk ke hidupnya. Di sisa waktunya yang tidak lama lagi, ini adalah salah satu keputusan yang sangat egois. Dan Yeon Min berharap keputusannya tidak berakhir menyedihkan.

To be Continued

P.S: ANNYEONG PEOPLE!!!! Akhirnya Vankyu berhasil update satu cerita lagi di tengah kepadatan pekerjaan dan kehidupan. Semoga suka dan tunggu lanjutannya ya. Semoga kalian sabar dan gak sebel sama author >.<

Daaaaaaan…. Ada kejutan menyenangkan dari Vankyu.  Silahkan cek blog pribadi author di

kyutiramisu. Ada hadiah natal untuk beberapa orang beruntung. LOVE YOU AND GOOD LUCK!

 

Advertisements

5 responses to “EVERMORE – Chapter 2

    • Hahahaha lama banget ya nunggunya >.<
      Kalau suka Hanbin aku lagi buka request loh buat fanfic. Cek blog aku yaa hehe. Biar nanti aku bikinin cerita kamu sama hanbin 🙂

    • Terima kasih banyak!!
      Jangan lupa mampir ke blog aku yaa. Siapa tahu kamu mau dibikinin cerita bareng bias kamu hehehe. Aku lagi open request soalnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s