Mood Swing

5015ab5c9eb9f8c6515fb4ec2a81cd94.png ||Length:Oneshot | Rating: PG-13 |  Genre: Romance||
||Main Cast: Wen Junhui, Heo Jisoo (OC) and others||

 

Don’t play with mood, it can be risky.

 

 

Heo Jisoo, dari pagi sampai hari mau gelap nampaknya memiliki mood yang benar-benar buruk. Sedari tadi ia hanya berdiam di ujung. Hal yang banyak diketahui orang, dia bukan tipe orang yang diam. Biasanya kalau ada acara pertemuan soal seminar – seminar kesehatan dia paling semangat, apalagi ada seorang yang selalu mencuri pandangannya kemana – mana, Wen Junhui.

Mungkin pada kisah lain, akan diceritakan bagaimana kisahnya saat pertama kali bertemu Jun—begitu orang memanggilnya—karena untuk saat ini, belum terlalu penting untuk diketahui. Well, kembali lagi ke Jisoo. Beberapa orang—sekaligus teman atau sunbae-nya di kampus—berlalu lalang melewatinya, entah itu mengurus dekorasi atau menyiapkan presentasi, tak jarang dari mereka berhenti sejenak hanya untuk menanyai keadaan Jisoo yang bisa dibilang, aneh.

Jisoo hanya berkali-kali membalas mereka dengan senyuman dan kata ajaib, “aku tak mengapa.” Sampai ia geram sendiri. Entah sebuah waham atau apa, Jisoo mulai berdiri dari posisinya dan memasang senyum lebarnya. Dalam hati Jisoo, ia tau bahwa detik itu adalah bukan dirinya.

.

“Oy! Josh!” tiba-tiba ia berteriak. Joshua yang sedang mengangkati meja mengerenyit, “Ada apa?”. Jisoo berjalan model catwalk mendekati Joshua dan membelai halus bahu Joshua, “hanya memanggil, hehe.” Dalam batin Joshua berbunyi, “Oh, Jisoo sudah kembali.” Joshua bernapas lega. Padahal jika disorot benar-benar, usai melakukan hal tersebut, Jisoo kembali ke spot-nya duduk terdiam tadi karena memang acaranya akan dimulai juga.

.

Jisoo merasa mendapat berkah apa ia hari ini, ia duduk di sebelah Boo Seunggwan. Laki-laki betina sok tahu, tukang gosip, suka mengada-ada dan keberadaannya tanpa diizinkan sangat mengganggu mood­­-nya yang sudah buruk dari awal.

.

.

Acara dimulai, belum lima menit, “Soo—“ Seunggwan menyenggol lengan atasnya. “Ha?” Jisoo hanya meliriknya. “Junhui Hyung ada di belakangmu.” Jisoo menaikkan satu alisku dan memutar mata perlahan ke arah tempat duduk belakang, kalau ketahuan malu juga. Jisoo membatin, “kenapa saat mood-ku buruk dia ada di sekitarku. Ini pertanda buruk.”

Seunggwan memperkeruh suasana, dengan suaranya yang ia tahu volumenya tidak normal, berbisiklah ia pada Jisoo, “Kau tahu kan, Soo, kalau dia tahu kau suka padanya?” Soo hanya memutar bola matanya kesal. Seunggwan melanjutkan, “menurutmu mengapa dia duduk di belakangmu dan tidak duduk bersama teman teman se-angkatannya?”. Bohong jika itu tidak sedikit mengangkat mood-nya tapi tetap saja, mood-nya tidak sebaik biasanya. Menghargai ucapan Seunggwan, Jisoo menoleh padanya dan tersenyum manis, “Tampan sekali, kan, Wen Junhui-ku?” ditambah bumbu aegyo dari matanya. Seunggwan bergidik ngeri dan dalam hatinya ia tidak akan mengulangi kata-katanya tadi.

.

***

.

Beberapa jam berlalu dan memang hari mulai larut. Rasanya Nona Heo ingin sekali pulang dan menyelesaikan hari ini. Sayangnya, di luar hujan dan ia tidak membawa payung. Beberapa kali juga teman-temannya menawari meminjamkan payung tapi sekali lagi mood-nya tidak mengiyakannya melakukannya. Ya, memang mood-nya seburuk itu sampai tidak ingin melakukan apapun. Mengingatkan, tidak usai di situ peran Boo Seunggwan.

“Soo, kau tidak mau berfoto dengannya? Kapan lagi kau berfoto dengannya?”

“Aku sudah pernah dua kali foto dengannya.”

“Memangnya kau sudah puas dengan dua foto itu?”

“Ya.”

Aigoo, jinjja? Kau kan hanya berfoto waktu penyambutan mahasiswa baru dan saat kita camp jurusan. Sudah puas?”

Dasar iblis.

Kali ini Kim Seokmin bergabung, “kau benar-benar suka dengannya atau tidak, sih? Kalau kau tak mau berfoto dengannya, kau foto denganku saja.” Ingin rasanya Heo Jisoo mengumpat tepat di wajahnya.

Seunggwan berbicara lagi, “Sudahlah, Soo. Kau dengan Seokmin saja. Ia lebih pasti dibandingnya yang tau dengan jelas wanita secantikmu menyukainya tapi melewatkannya.” Seunggwan dan Seokmin mengamati Junhui yang sedang membereskan kabel-kabel—karena ia panitia juga—.

Persetan.

“Oy! Wen Junhui!” Seunggwan dan Seokmin membelalakkan matanya kemudian secara bersamaan menoleh pada Jisoo.

Seunggwan mendesis, “Ya! Kau gila?!”

Seokmin bangun dari tempat duduknya, “Aku. Tidak. Ikut.” lalu kabur.

Kim Seokmin kau pengecut.

Seunggwan berlari mengikuti Seokmin, “Seokmin-a! Aku ikut!” ditambah lagi Boo Seunggwan si omong besar.

“Ya! Jun!”

Junhui hanya menoleh padanya sebentar dan kembali sibuk dengan urusannya.

“Jun! Dengar aku.”

Sekali lagi tak digubrisnya. Bukan Jisoo namanya kalau bukan pemberani, “Boo Seunggwan dari tadi mengolokku, kau tidak dengar? Ayo berfoto!”

Cih, Peduli setan. Jisoo melotot dan Wen Junhui berlalu begitu saja.

“WEN JUNHUI!”

Junhui menghembuskan napas dan menoleh sebentar, “Oppa.”

Hm. Seharusnya jika mood Jisoo sedang bagus, bisa-bisa ia terkena serangan jantung setelah satu kata adegan—mirip—drama yang biasa ia tonton. Namun, bukan peruntungan yang baik, seorang Wen Junhui malah semakin menghancurkan mood-nya.

Jun kali ini membersihkan selotip yang menempel pada tembok-tembok dan sedari tadi Heo Jisoo tetap mengekorinya. “Wen Junhui, Boo Seunggwan dan Kim Seokmin sedari tadi memandangku dengan tatapan menyebalkan. Ayo berfoto!”

Seburuk itukah mood Heo Jisoo sampai tidak sadar bahwa sedari tadi apa yang diucapkannya adalah omong kosong yang bahkan tidak ada kaitannya satu sama lain.

Wen Junhui akhirnya menyerah tidak menghiraukan Jisoo. “Oke, setelah ini ya.”

Dan mereka berakhir berfoto bersama. Tepat empat kali jepret dalam satu frame.

.

***

.

“Jungyeon Eonni! Aku sudah gila ya? Apa aku sekarang gangguan jiwa?”

Seperti biasa, jika lewat larut dan Jisoo masih terjaga, Jungyeon akan menginap di rumah Jisoo karena Jisoo takut gelap. Jungyeon yang sedari tadi memakan honey-butter-chip-nya berguling dari kasur mendekati Jisoo yang sedang bersimpu sambil menangisi harinya.

Jungyeon bernapas lega, “Akhirnya kau membuka mulutmu. Ada apa?”

“Tadi saat Eonni tidak ada di ruangan, aku benar-benar menjadi gila. Bagaimana aku bertemu dengan Jun Oppa besok?”

Tawa Jungyeon lepas menggelegar, “memangnya kau melakukan apa, sayang sampai kau menangisinya seperti ini?”

Jisoo masih terisak, “Aku—aku meminta berfoto dengannya tiga kali dan ditolak sampai ketiga kalinya.”

Jungyeon terdiam sebentar, “dia mau?”

Jisoo mengangguk cepat, “Pada akhirnya kami berfoto.”

Jungyeon nampak berpikir, “hari ini mood-nya sedang buruk.”

Napas Jisoo tercekat, “HA?! Dan aku meminta foto dengannya? Apa yang kulakukan?! Tindakanku hari ini benar-benar membuatnya kesal pasti.”

Jungyeon mengangkat bahunya tidak tahu, “dia sedang ada masalah dengan ketua panitia. Ibunya sedang sakit di rumah dan ia tidak diizinkan bolos acara karna dia panitia.”

Jisoo mendengus penuh sesal, “harusnya ia pulang saja.”

Jungyeon, “itulah masalahnya. Harusnya ia pulang.”

Jisoo merengek lagi, “aku kan jadi tidak bisa bertemu dengannya lagi esok. Malu.”

Jungyeon lagi-lagi tertawa, “tidak, Soo. Dia bukan orang seperti itu.”

Rengekan Jisoo semakin keras, “Apalagi tadi juga ada Jihoon Oppa, Wonwoo Oppa, Momo Eonni dan Hoshi Oppa. Habislah aku. Bodohnya aku.”

Tawa Jungyeon semakin keras hingga ia tersedak chip-nya, “Tidak, mereka tak akan membencimu. Palingan mereka hanya akan mengolokmu.”

Jisoo memukul-mukul kepalanya, “Astagaaaa, apa yang baru kulakukan?!” tangis Jisoo pun tak kunjung berhenti semalaman suntuk.

 

***

 

“Soo—“ Seunggwan menyenggol lengan atas Jisoo. “Ha?” Jisoo hanya meliriknya. “Junhui Hyung ada di belakangmu.” Jisoo melirikku, aku pura-pura tidak melihatnya. Mood Wen Junhui yang buruk pada hari ini jangan sampai mengganggunya.

“Kau tahu kan, Soo, kalau dia tahu kau suka padanya?” Perut Junhui tergelitik kecil dan ia tertawa tanpa suara, “menurutmu mengapa dia duduk di belakangmu dan tidak duduk bersama teman teman se-angkatannya?”. Junhui memasang wajah penuh ejekan, “boleh juga mulut Boo ini”, batinnya.

Beberapa saat kemudian, Dahyun yang menyenggol lengan atas Jisoo dan berbisik, “Ya! Heo Jisoo! Kau tau tidak kalau dokter pembicara di depan punya anak yang sangat tampan?”

“Wah! Jinjja? Nugu-nugu?” Heo Jisoo menanggapinya. Dasar dua wanita ini, bukannya mendengarkan seminar malah bergosip.

“Dia sudah dokter sih, kita mahasiswa, masih cupu di matanya. Namanya Choi Minho! Kau lihat akun instagramnya.” Dahyun menunjukkan layar ponselnya pada Jisoo. Beruntung,—atau malah tidak—Junhui tanpa usaha keras berhasil melihat—setampan apa—wajah Choi Minho yang mereka bicarakan.

“Ah~ benar-benar idaman.”

“Ya kan?!”

“Kau tidak ada stok lain, Hyun?”

“Ada. Kau sih! Makanya keluar kelas. Jangan belajar terus! Aku berani bertaruh kau tak kenal dengan Sungcheol Oppa kan?”

“Ha? Siapa?”

“Sungcheol Oppa! Dia satu kampus dengan kita! Cuman dia jarang kelihatan karena mengurusi terlalu banyak organisasi. Lalu ada Taehyung Oppa, Jimin Oppa juga.”

“Sepertinya kau harus banyak-banyak bercerita padaku, Kim! Mulai sekarang aku akan menjadi pendengar setiamu. Apalagi masalah sunbae-sunbae tampan.”

Wen Junhui mendengus, dalam hatinya, “menyesal aku duduk di sini. Awas saja kau Heo Jisoo. Lihatlah apa yang bisa kulakukan. Berani-beraninya kau semakin menghancurkan mood-ku.”

 

Fin.

note : akan dirilis dalam bentuk beberapa kisah mini dengan tokoh sama hwhwhhw
Advertisements

One response to “Mood Swing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s