[FICLET] RENCANA

RENCANA

RENCANA
By: susanokw

Hello, it’s glad to be back!

Ia sadar betul bahwa rencana hanyalah rencana yang bisa berubah kapan saja. Sama seperti pagi ini.

Satu minggu yang lalu, ia sibuk membuat rencana besar untuk melewati minggu ini. Begitu tekun ia duduk di belakang meja kerjanya, berkutat dengan buku catatan, mencoret ini itu, berpikir panjang, berdecak pelan, mengerutkan kening, sampai harus tiga kali dipanggil baru menyahut. Ia sedang merancang aktivitas yang diyakininya akan membuat diri menjadi produktif, tidak ada tersisa waktu senggang yang sia-sia, setiap hari dipakai untuk bekerja. Minggu lalu ia terlihat begitu bersemangat.

Alarm ponsel yang diatur berbunyi pukul 04.00 berdering tepat waktu. Benda kecil itu menjerit seperti anak bayi kelaparan, minta digubris oleh pemiliknya. Ia yang sedang bergelung di bawah selimut dengan mata terpejam langsung terkejut, membuka mata dan mencari benda kecil yang sedang mengeluarkan suara nyaring nan menyebalkan itu. Sekedar informasi, suara alarm yang dipasang pada ponselnya adalah lagu pop milik raja pop dunia, Michael Jackson.

Terdengar lenguhan pelan yang panjang dari mulutnya, menguap lebar namun matanya masih tertutup. Bunyi alarm sudah mati, diatur dalam mode snooze untuk 10 menit kemudian. Orang itu tidur lagi.

Bayi belum kenyang, ia kembali menjerit minta makan. Ibu langsung terbangun, sebal. Alarm dimatikan lagi dan kali ini matanya terbuka, mengintip bahwa snooze 10 menit telah habis. Akhirnya ia bangun, duduk di kasur, menggaruk kepala yang rambutnya acak-acakan, menggaruk tengkuk yang tidak gatal, menggaruk leher, dan menelan ludah pelan. Oh, ia kehausan. Celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan, menoleh ke arah ponsel dan melihat jam. Ah, pukul 04.10 WIB. Di masjid sudah terdengar suara Pak Ustadz sedang mengaji, sebentar lagi masuk waktu ibadah shalat subuh. Nyawanya sudah terkumpul 50%, akhirnya ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan tersaruk ke kamar mandi. Membuka pintu kamar mandi dengan malas-malasan dan menghadap ke cermin.

“Ck, mata sipit banget, muka kayak kilang minyak, rambut kayak gembel, badan lemes amat, jelek banget.” Ia sudah mengeluh pagi-pagi.

Ia memandangi dirinya sendiri di depan cermin selama 5 menit, berdiri seperti patung sambil bernapas teratur. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi yang pasti nyawa masih diambang kesadaran. Lima puluh persen adalah sebuah level nyawa dimana seseorang disebut sadar belum namun tak sadarpun bukan. Ia menghela napas panjang, berdecak lagi. Syukurnya tidak diiringi dengan keluhan tentang ukuran mata, kondisi wajah, dan lain-lainnya.

Ia mulai menyalakan keran air untuk mengisi bak mandi. Kau pasti tahu apa yang dilakukan pertama kali olehnya sesaat setelah menyalakan keran air, jadi aku tidak perlu menceritakannya dengan rinci. Kalau kau bingung, untuk lebih mudahnya orang ini akhirnya menghabiskan waktu selama hampir 20 menit untuk melakukan bisnis di pagi hari. Seperti yang sering disebutkan oleh orang kebanyakan: Panggilan Alam.

Sayup-sayup terdengar kumandang Adzan Subuh dari masjid. Ia segera menuntaskan bisnisnya dan mulai benar-benar membersihkan diri. Mencuci muka, menggosok-gosok mata sambil berharap kalau terkena air mata bisa terlihat lebih besar walau sedikit, menggunakan sabun muka untuk menghilangkan minyak, menggosok gigi supaya mulut terasa lebih segar, dan ritual-ritual lain yang kebanyakan orang lakukan di kamar mandi ketika subuh. Setelah itu ia keluar dari kamar mandi lalu beribadah.

Selesai beribadah, ia merasa lebih segar. Walaupun mata masih terlihat sipit, tapi setidaknya kondisinya jauh lebih baik daripada saat bangun tidur. Meski rambutnya masih berantakan, baju kusut di sana-sini, tapi setidaknya nyawa sudah masuk ke level 80%. Selesai melipat alat shalat, ia kembali naik ke kasur. Mengambil ponsel dan membuka media sosial. Kau harus tahu, scrolling sosial media adalah hal yang melenakan. Padahal yang dilihat itu-itu saja. Timeline, storygram orang lain, explore yang isinya meme, video-video lucu hasil prank, mukbang, video masak, dan mungkin beberapa terselip cuplikan drama korea atau lambeturah. Namun anehnya, hal-hal tersebut bisa membuat seseorang menatap ponsel terus-menerus sampai lupa waktu. Seperti orang ini yang melakukan aktivitas scrolling media sosial sampai pukul 06.30 pagi.

Ia kembali dari dunia virtualnya setelah sadar bahwa di luar hujan. Ia melongok ke luar dari balik jendela yang masih tertutup tirai lalu menarik napas panjang.

“Pagi-pagi udah hujan, deras pula.” Gerutunya pelan.

Ia menutup media sosialnya dan kembali pada mode home. Kalender di ponsel menunjukkan bahwa ini adalah hari Kamis, tanggal 25 Januari 2018. Hari ke-4 dari satu minggu rencana produktifnya. Ia mengambil buku catatan yang berisi rencana-rencana besarnya untuk hari ini, membacanya satu per satu, menelusurinya dengan jari telunjuk sambil bergumam pelan. Beberapa kali menghela napas panjang, menengadah, menatap ke langit-langit seolah mencari sesuatu (mungkin inspirasi atau… sarang laba-laba?), dan menatap kembali lembaran-lembaran rencana tersebut.

Detik berikutnya ia menoleh ke luar jendela, kali ini ia menyibakkan seluruh tirai sehingga cahaya pagi yang sangat redup sedikit masuk ke dalam kamar. Orang itu menatap ke luar, kosong. Seperti melamun tapi kelopak matanya masih berkedip. Ia diam seperti patung, memegangi buku, dan menarik napas panjang berkali-kali. Seolah merenung karena raut wajahnya menjadi murung, sinar matanya tiba-tiba redup, mulunya tak lagi bergumam apapun, tak peduli sudah dengan rambut yang masih berantakan dan baju yang kusut. Ia seolah terhisap oleh hujan di luar sana, seluruh jiwanya terpaku pada air yang turun beramai-ramai dari langit, membuat jalanan basah bahkan sebelum jarum jam menyentuh angka 7 di pagi hari.

Kelabu, dingin, basah, namun tetap ramai. Orang-orang mengejar jalanan supaya tidak terjebak macet. Berani menembus basah dibalik perlindungan jas hujan atau kendaraan roda empat. Disaat orang lain berlomba untuk tidak terlambat sampai ke kantor atau sekolah, ia terduduk lemas di belakang jendela. Kurasa level nyawanya turun menjadi 60%, tapi aku tidak tahu apa sebabnya tiba-tiba saja orang ini nuansanya turut menjadi abu-abu. Tidak ada sepatah katapun yang terdengar dari mulutnya, ia diam seribu bahasa. Detik berikutnya ia menghela napas panjang yang… entah keberapa kali, lalu meletakkan bukunya di meja.

Masih dengan gerakan yang pelan dan tidak bersemangat, ia mendesah.

“Hh.., dingin. Tidur lagi aja.”

Satu menit kemudian ia terlihat kembali bergelung di bawah selimut, dengan ponsel di tangan, menyumbat telinga dengan earphone, playlist lagu galau yang diputar dengan volume tinggi, dan ia melupakan rencana produktifnya untuk hari ini.

Oleh karena itulah ia percaya bahwa rencana hanyalah sekedar rencana dan bisa berubah kapan saja.

 

FIN.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s