[Ficlet] Painting Of You

img_20170801_223455

Painting Of You

narinputri’s storyline

 

SVT’s Joshua x OC

slight!sureallism, fluff, hurt // PG // ficlet

cr pic pledis_17

 

 

“Even I cannot touch you, I still love you, forever”

Kala pertama melihat, usianya masih lima belas tahun. Tersenyum padaku dengan binar mata yang tak biasa. Rambut pendek kecokelatan membuatnya terlihat menggemaskan. Takjub? Mungkin, tapi yang kurasakan dari pandangannya bukan sekedar takjub belaka. Ada hal lain yang ingin kutebak, tapi tak bisa untuk diutarakan.

“Indah sekali! Aku menyukainya!”

Kalimat pertama yang terucap dari bibir mungilnya sembari mengunyah cokelat dan tersenyum lebar waktu itu. Dari jutaan orang yang selalu berlalu-lalang, hanya dia dari sekian puluh ribu orang mengucapkan kalimat tersebut dengan nada seolah tahu apa itu keindahan dari sebuah lukisan di usianya yang baru belasan tahun.

“Ayah, aku menyukainya! Kapan ada pelelangan lagi?”

Satu kalimat yang membuat jantungku berdebar keras meski sudah biasa kudengar. Nada antusias atau menggebu ingin memiliki, meski akhirnya akan kembali ke tempat ini lagi dan lagi.

“Ah, maaf, Nona. Untuk bulan ini kita tak melakukan pelelangan. Kami hanya melakukan pameran seperti biasa,” ucap salah satu staffkepada sang gadis.

Ucapan yang sudah terlalu sering kudengar hingga hapal di luar kepala. Bukan mereka tak melakukan lelang, hanya saja mereka tak ingin terjadi hal aneh-aneh seperti kejadian bertahun-tahun lalu. Padahal peristiwa itu murni kesalahan sang kolektor dan malah menyalahkan diriku.

“Tapi aku mau! Lihatlah, dia seperti hidup! Dengan perpaduan warna yang kontras namun kesan lembut dan hangat masih terasa. Goresannya halus juga rapi tapi… kenapa penuh rasa kesedihan di dalamnya? Padahal pemuda ini tersenyum manis.”

Tercengang, kala mendengar uraian dari gadis yang berdiri di hadapanku kini. Karena selama seratus tahun, ucapan itu hanya keluar dari mulut orang-orang yang mengerti seni dan berpengalaman dalam bidangnya. Siapakah gadis ini?

“Berapapun akan kubayar untuk lukisan ini. Di mana manager kalian? Bolehkah aku bertemu dengannya?”

Nampak wajah para staff ingin menolak permintaan bocah itu. Sudah bisa ditebak karena skenario mereka seputar itu-itu saja. Memang tak kreatif.

“Katakan aku adalah Yoon Chaeri, anak dari Yoon Jeonghan. Managermu pasti tahu siapa dia.”

Pria paruh baya di belakang sang gadis hanya tersenyum maklum, seolah tahu jika anak itu sering melakukan hal tersebut demi mendapatkan apa yang dia mau. Sejenak ku mencerna nama yang telah diucapkan gadis bernama Chaeri itu. Yoon Jeonghan adalah seorang kolektor lukisan dan barang antik yang cukup terkenal. Ia juga seniman yang digandrungi banyak orang dan sering mengadakan pameran di mana-mana. Namanya selalu dielu-elukan di banyak media cetak dan elektronik.

Lagi-lagi para staff itu menolak permintaan si gadis, padahal sang ayah berdiri tak jauh darinya. Memperhatikan bagaimana cara Chaeri bisa mendapatkan barang yang ia mau.

“Apa seperti ini? Cara kalian memperlakukan seorang tamu? Lihat saja! Aku akan membawa kasus ini ke media!”

Wow, sudah kudengar ribuan kali dari orang-orang yang selalu terdesak dalam hal apapun kala tak bisa menyelesaikan masalah. Kumaklumi karena gadis itu masih belasan tahun menghadapi orang-orang yang berusia jauh di atasnya. Hingga akhirnya sang ayah menepuk pundak Chaeri lembut serta membisikan hal yang membuat ekspresi Chaeri menjadi masam.

“Tapi, ayah! Aku menyukainya!” suaranya sedikit bergetar, menahan tangis serta kekecewaan. Sudah pasti semua gadis semuda itu merasakannya.

Sedikit tercekat kala memandang bulir bening jatuh dari salah satu pelupuk matanya. Pemandangan biasa meski masih kerap terasa sesak di dada. Iba saja pada gadis itu karena tak bisa memilikiku.

“Kau masih bisa sering berkunjung. Lagipula, tempat ini sudah jadi galeri permanen, bahkan museum. Tenang saja, sayang. Ia tak akan pergi kemana-mana.”

Yang diucapkan bukan kiasan semata, melainkan nyata adanya. Toh aku juga tak bisa kemana-mana karena memang lukisan tak bisa bergerak dan berbicara. Bahkan menyentuh gadis itu tak mampu meski ingin sekali kupeluk seraya menghapus airmatanya. Lantas kurasakan sebuah gelombang aneh di dada, tatkala Chaeri memandangku dan menyentuh diriku dengan tangan mungil penuh kehangatan. Pancaran matanya mengisyaratkan sesuatu yang pernah kurasakan ratusan tahun lalu.

“Apakah penciptamu tengah jatuh cinta padamu, ketika menciptakan lukisan ini. Karena itu yang kurasakan kala pertama kali melihatmu. Harusnya lukisan ini berjudul ‘Para Manusia Yang Jatuh Cinta Padamu’, bukan ‘Pemuda Yang Tengah Jatuh Cinta’.”

Lantas ia pergi bersama ayahnya dengan sedikit sesegukan. Sementara terdengar pembicaraan para staff saat mereka berdua telah menghilang dari pandangan.

“Yang benar saja anak kecil itu meninginkan lukisan ini. Pastinya hanya untuk dicoret-coret saja. Lagipula lukisan ini juga berhantu, sudah banyak orang-orang yang merasa aneh saat memiliki lukisan ini.”

Salah satu staff menimpali, ia yang sering sekali membersihkan gudang seorang diri saat malam menjelang.

“Akupun merasakan hal yang sama! Waktu membersihkan gudang, matanya seolah mengawasi gerakanku. Sekarang jika membersihkan gudang aku tak berani sendirian.”

“Dengar-dengar, pelukisnya meninggal saat membuatnya? Apa jangan-jangan…”

“Ssstt! Sudah diam! Ini sudah mulai malam, ayo segera bereskan tempat dan closing!”

Mereka membubarkan diri seolah tak terjadi apapun di tempat ini dan membiarkannya menjadi saksi bisu perkataan yang menyakiti hatiku. Rasanya bagaikan teriris, begitu membicarakan tentang penciptaku. Bila saja kumampu membuat mereka ketakukan setengah mati, semua itu hanya wacana belaka. Menyentuh saja tak bisa kulakukan.

Dan rasa yang pernah hilang ratusan tahun lalu kembali, bayangannya muncul dalam benak dengan senyum manis tanpa dosa. Sama dengan gadis yang baru saja menemuiku tadi. Deja vu, bisa dibilang seperti itu. Tapi bisa saja kutolak dan membuangnya, terlalu takut untuk merasakan kembali. Karena manusia tak ada yang abadi. Kecuali sosokku yang terpaku permanen di dalam kanvas berwarna-warni, dengan figura kayu tua dan terpenjara dalam kaca. Hanya mampu memandang mereka dalam kebisuan, tiada pernah bisa bebas bagai burung di angkasa.

 

-END-

Advertisements

One response to “[Ficlet] Painting Of You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s