[Ficlet] Across The Universe

1522417717378[1]

 

narinputri’s storyline

 

[Wanna One] Park Jihoon x [Oh My Girl] Arin

slight!fantasy, school life!AU, fluff

general // ficlet

 

 

“Jadi, kau itu alien?”

Jihoon mengerjapkan mata, mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir lugu Yewon.

“Kau percaya?” pemuda bermata bening itu lantas bertanya balik sembari menyemburkan tawa.

Yewon mengerucutkan bibir dan meninggalkan pukulan ringan di pundak Jihoon. Sudah berapa kali teman sekelasnya itu tak menjawab serius pertanyaan yang sering dilontarkan. Terlebih Yewon memang penasaran kepada Jihoon karena alasan sepele. Tidak mungkin ada manusia sesempurna Park Jihoon di dunia ini.

“Habisnya, kau itu aneh.”

Lagi-lagi tawa Jihoon menyembur lalu menahan tangan si gadis imut tersebut kala hendak meninggalkannya dengan sebal. Ditepuknya kepala Yewon pelan tanpa melepas cengiran dari bibirnya. Sungguh, jika saja jantung Yewon terbuat dari lilin, mungkin sudah lenyap menjadi lelehan tak berbentuk.

“Hmm, baiklah aku akan mulai bercerita. Tapi ingat, tetap duduk manis, jangan pergi kemanapun, jangan cerita kepada siapapun. Kau akan tahu akibatnya,” suara berat Jihoon terdengar mendominasi udara di sekeliling ruang kelas yang sore itu cukup sepi, karena sebagian besar murid telah pulang.

Yewon mengangguk kikuk dan menaruh pantatnya pada kursi yang ada di depan Jihoon. Terdengar suara tarikan napas panjang dari pemuda berparas manis itu diikutin kerjapan mata, seolah menghipnotis Yewon untuk tetap duduk di sana.

“Mereka menyebutku penyihir tiga ratus tahun yang lalu, karena mereka pikir aku menggunakan sihir agar tetap abadi. Ada yang bilang mayat hidup, karena mereka tak bisa membunuhku meski berkali-kali telah dicoba,” Jihoon mengawali cerita lalu melihat sebuah bekas goresan panjang pada tangan kanannya saat melipat lengan seragam, matanya menerawang jauh ke langit-langit kelas.

Alih-alih takut, Yewon malah semakin penasaran dengan cara menyayat sedikit pergelangan tangan Jihoon dengan cutter dari kotak pensilnya. Ia tercengang, tatkala yang muncul dari sayatan itu bukanlan darah, melainkan cairan kental berwarna keperakan terang dan perlahan-lahan menutup sayatan yang dibuat oleh Yewon. Mulut Yewon terkunci, tahu sudah alasan mengapa saat itu Jihoon selalu absen pelajaran olahraga dengan alasan memiliki leukemia dan jarang sekali berinteraksi dengan yang lain kecuali ia seorang.

“Lalu selama tiga ratus tahun kau hidup, bukannya akan orang-orang tahu jika kau adalah ‘Park Jihoon’?” tanya Yewon masih dengan kepolosannya.

Jihoon menahan tawa mengusak anak kepala Yewon, jika saja si gadis bukan teman baiknya di kelas itu mungkin sudah ia tertawakan barangkali.

“Yang jelas berganti identitas, lah. Terakhir dua puluh tahun yang lalu, aku menjadi seorang doktor di sebuah kantor rehabilitasi. Sialnya saat itu ada salah satu pasien yang pernah melihatku terjun dari lantai lima gedung tempatku bekerja dulu.”

Yewon bergidik mendengar cerita Jihoon dan sedikit meremang. Suasana ruang kelas menjadi sedikit dingin dan canggung setelah cerita terakhir Jihoon. Jihoon yang peka akan kondisi dan suasana, dengan secepat kilat membuat udara di sekelilingnya menjadi hangat juga nyaman hanya sekali jentikan jari.

“Jangan takut. Lagipula banyak orang yang telah kuhapus memorinya, jadi mereka tak akan mengenalku,” masih tanpa melepas senyum dicubitnya kedua pipi Yewon hingga mengaduh.

Pikiran Yewon bercampur aduk. Percaya tak percaya dengan ucapan sang teman dan pada akhirnya percaya setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Di sisi lain, suatu hal mengganjal dalam benaknya namun sukar untuk di sampaikan pada Jihoon dan memilih untuk bungkam sementara hingga Jihoon selesai bercerita.

Ketika netra mereka berdua saling beradu, entah mengapa ada desir aneh dalam diri Yewon yang membuatnya kali ini tak biasa melihat Jihoon ketika cahaya matahari senja membiaskan ke paras rupawan Jihoon.

“Jujur saja, jika kau penasaran mengapa aku datang ke Bumi, kan?”

Yewon hampir tersedak oleh ludahnya sendiri, kenapa Jihoon bisa membaca pikirannya secepat itu. Diurungkannya niat untuk bertanya dan masih bertahan dengan kebungkamannya. Mendadak Jihoon mendekatkan diri pada Yewon, seolah tengah memindai wajah cantik sang gadis dengan kedua mata beningnya. Bisa dirasakan napas hangat Jihoon serta aroma cotton-musk di pernapasan Yewon.

“Sebenarnya sederhana, sih,” Jihoon tersenyum lebar lalu memberikan sebungkus cokelat berbentuk hati pada Yewon.

“Aku mencari’mu’.”

Mata Yewon membulat, apakah ia tak salah dengar? Mungkinkah gendang telingannya sedang bermasalah akhir-akhir ini akibat mendengarkan musik terlalu keras menggunakan headset?

“M-maksudmu mencariku? Aku lahir di tahun 1999, mustahil jika kau sudah mengenalku tiga ratus tahun lalu!” Yewon memberi klarifikasi pada makhluk di depannya.

“Mungkin saja buyutmu? Sebab kau dengannya sangat mirip. Ya, mungkin saja begitu?” ucap Jihoon ringan.

“Jadi tiga ratus tahun lalu, saat tiba di Bumi. Seorang gadis kecil menyelamatkanku ketika orang-orang tengah memburuku. Selama empat tahun ia pandai menyembunyikanku hingga akhirnya semua terbongkar oleh pembantu bodohnya,” rahang Jihoon mengeras mengingat kejadian pedih tersebut.

Entah mengapa ada rasa sedikit perih di hati Yewon mendengar cerita Jihoon. Di tepuk lembut pundak Jihoon sembari memberi senyuman hangat. Ada sebuah getaran halus pada jiwa Jihoon setelah sentuhan Yewon, deja vu, begitulah orang menyebutnya.

Malam telah tiba ketika Jihoon hendak melanjutkan ceritanya. Dilihatnya gadis itu sudah mulai lelah. Maklum saja, dari tengah hari hingga petang menjelang ia lebih banyak mendengarkan daripada bercerita. Mungkin menjadi pendengar lebih melelahkan daripada bercerita.

“Ayo, kita pulang. Akan kulanjut kapan-kapan saja,” lagi-lagi Jihoon melepas tepukan halus di kepala Yewon.

Karena Jihoon memang ingin menceritakan semuanya hingga ia bisa meninggalkan Bumi dengan tenang.

 

-THE END-

 

Nanggung yha? HAHAHAHAHAHAHAHA nanti deh kapan2 bikin sequel atau prequelnya kalo sempet ehehehehehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s