FRIENDS WITH BENEFITS – Chapter 2

fwb copy

Title: Cuddling and Sweet Talk

Cast :

  • Kang Daniel (Wanna One)
  • Park Yeon Min  (OC)
  • Ong Seongwoo (Wanna One)
  • Hwang Minhyun (Wanna One)

Genre : Romance, drama

Rating: NC-17

Author’s note: Gak banyak omong, cuma mau minta maaf karena jarang update, hehe.

Semoga suka dan silahkan menikmati cerita di bawah.  Warning! Akan ada adegan ataupun kata-kata yang mungkin tidak cocok untuk dibaca anak dibawah umur, jadi.. be wise! (Ya kalau kalian mau tetep baca juga gakpapa hahahahaha)

 

Friends with Benefits : (1)

Once again, Kang Daniel belong to God, but this story is belong to me 🙂

*Previous Chapter*

Rules:

  1. Tidak ada kencan romantis.
  2. Sensual skinship diperbolehkan. Dilarang mencium bibir.
  3. Tidak boleh memperkenalkan satu sama lain ke teman ataupun saudara.
  4. Dilarang untuk cemburu. Membuka lebar kesempatan untuk bertemu ataupun menjalin hubungan percintaan dengan orang lain.
  5. Terakhir, tidak boleh ada yang jatuh cinta.

******************

“APA KAU SUDAH GILA PARK YEON MIN?” Yeon Min menghisap americano dingin miliknya sambil melirik sahabatnya yang sedang melemparkan tatapan mematikan. Mendapat respon yang kurang menarik dari Yeon Min, pria itu melipat tangannya di depan dada, masih dengan tatapan yang tajam. “Katakan kalau kau cuma bercanda.” Ong Seongwoo kembali berteriak, kali ini jauh lebih keras.

            Pagi tadi pria itu bangun, mandi dan bersiap-siap seperti yang biasa dia lakukan

Pagi tadi pria itu bangun, mandi dan bersiap-siap seperti yang biasa dia lakukan. Tidak lupa ia menjemput Park Yeon Min untuk makan siang bersama. Duduk di restoran favorit mereka berdua, di kursi yang biasa mereka duduki. Berharap bahwa mereka akan makan, saling melemparkan kata-kata menyebalkan sampai sore, kemudian dia akan mengantarkan sahabatnya pulang lalu kembali ke apartemen miliknya untuk maraton film-film Marvel sebelum akhirnya dia ketiduran di atas sofa.

Hari libur yang indah.

Sebelum secara tiba-tiba gadis di depannya berkata, “Ong Seongwoo, aku tahu kau akan marah kepadaku atau bahkan mengatakan aku gila, tapi sudah satu bulan aku menjalani hubungan friends with benefit dengan orang baru yang kukenal.”

Pria itu benar-benar ingin membenturkan kepala gadis itu ke atas meja agar otaknya kembali berfungsi dengan normal.

“Aku tidak sedang bercanda Ong Seongwoo. Ini memang terdengar aneh, tapi aku rasa sudah pantas aku berhubungan dengan pria lain selain dirimu. Apa kau tidak bosan menjadi satu-satunya teman lelaki yang aku miliki sejak 20 tahun yang lalu?” ujar Yeon Min sambil memainkan sedotannya.

Pria itu menghela nafas panjang dan memijit keningnya. “Tidak munafik kalau aku ingin kau mencoba dekat dengan pria lain selain aku, tapi tidak dalam konteks gila yang kau ucapkan tadi. Hubungan tanpa status, ditambah dengan seseorang yang bahkan aku juga belum kenal!” ujarnya.

Yeon Min tersenyum geli dalam hatinya. Seongwoo memang selalu seperti ini. Protektif. Terkadang sangat berlebihan. Terlebih lagi setelah kejadian delapan tahun lalu yang membuat pria itu tanpa diminta selalu ada di samping gadis itu. Membuatnya lebih protektif dan mengekang Yeon Min dari dunia yang jahat, begitu katanya secara dramatis.

“YA! Kenapa kau tersenyum saat aku lagi marah kepadamu. You crazy bitch,” ujar Seongwoo sambil cemberut. Yeon Min tidak bisa lagi menahan tawanya.

“Hahahaha, Yes I am. I’m your favorite crazy bitch, dumbass.” Gadis itu ingin meledek pria di hadapannya lebih lanjut, tapi ia urungkan. Melihat saat ini Seongwoo benar-benar cemberut dan menekuk wajahnya. Menggemaskan tapi juga menyebalkan.

“Bisakah kau berhenti membuat ekspresi seperti itu? Apa kau ingin aku memuntahkan makananku di depanmu? Aku sudah bilang bisa menjaga diriku baik-baik.”

Seongwoo menghela nafasnya kembali, kali ini sambil melirik ke arah Yeon Min. Pria itu lalu mengendurkan ekspresi wajahnya dan mengaku kalah. “Baiklah, paling tidak katakan kepadaku siapa namanya?”

“Aku sudah berjanji untuk tidak akan mengenalkan dirinya kepada siapapun, tapi karena kau sahabatku, kau pantas untuk tahu namanya. Kang Daniel.” Seongwoo berpikir sejenak, siapa tahu ia pernah mengetahui orang dengan nama yang sama. Terdengar familiar tapi tidak ada satu wajah pun di pikirannya.

“Dia orang asing? Kang Daniel bukan nama yang lazim untuk orang Korea,” tanya Seongwoo berusaha untuk mengorek informasi.

Yeon Min menaikkan alisnya, “Kau berusaha untuk mendapatkan informasi tentangnya? Uh uh. Tidak akan berhasil,” ucap gadis itu sambil memainkan telunjuknya.

Seongwoo menyeringai, “Damn.” Pria itu menyenderkan punggungnya dan kembali menatap Yeon Min. Kali ini dengan binar penuh rasa ingin tahu. “Is he hot?”

Totally hot. Jenis wajah yang tidak akan kau lupakan saat pertama kali melihatnya. Postur badannya tinggi proporsional dengan bahu yang sangat lebar. Pernah sekali saat dia memelukku, tanpa sengaja tanganku menyentuh perutnya. Dan aku bahkan tidak harus bilang kepadamu apa yang ada di balik kemejanya.” Yeon Min menggerlingkan matanya.

Kini Seongwoo tahu sahabatnya benar-benar sudah gila. Dan semuanya karena satu laki-laki. Setelah itu keduanya enggan untuk berkata apa-apa. Sampai pria itu memecah keheningan tanpa memandang ke arah Yeon Min. “Aku tidak mendukungmu maupun melarangmu, tapi berhatilah-hatilah saat kau bermain dengan api. Aku tidak ingin melihatmu terbakar lagi.”

Gadis itu tersenyum sinis.” Iya, aku tahu.” Seongwoo kembali menggelengkan kepalanya. Terkadang Yeon Min bisa sangat terbuka, jujur, dan melakukan apapun yang ada di pikirannya, tetapi disaat-saat seperti ini Seongwoo bahkan tidak bisa memahami jalan pikiran sahabatnya. Sudah beberapa kali memang pria itu berpikir untuk membantu Yeon Min keluar dari masa lalunya. Ia ingin gadis itu seperti dulu, mencintai dan dicintai seseorang seperti dulu. Bukan karena Seongwoo bosan atau tidak ingin bersama Yeon Min, tapi karena ia menganggap bahwa sahabatnya pantas untuk bahagia lagi.

Mungkinkah sekarang adalah saat yang tepat untuk Yeon Min sembuh dari lukanya? Lagi-lagi Seongwoo mencemooh dirinya yang bodoh karena beraninya mempercayakan kebahagiaan temannya di tangan seseorang yang bahkan tidak pernah ia kenal.

**********************

Yeon Min mengerang pelan saat membuka pintu apartemennya. Setelah sesi pemotretan yang menghabiskan kurang lebih enam jam, akhirnya ia bisa istirahat juga. Gadis itu melempar tasnya di atas meja dan berjalan menuju dapur. Sambil menuangkan jus jeruk di gelasnya, ia mengecek ponselnya. Sudah ada satu pesan yang muncul di sana.

Kang Daniel

Apa kau ada di apartemen? Aku merindukanmu~

Gadis itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Daniel memang terbiasa mengutarakan kata-kata rindu, sayang, maupun gombalan kepadanya. Seperti biasa juga, Yeon Min membalasnya dengan singkat.

Park Yeon Min

Baru saja sampai.

Kang Daniel

YES! Aku menuju kesana.

Sampai jumpa

*kiss emoji*

Gadis itu menegak jus jeruknya sampai habis dan menutup ponselnya, tidak membuang waktunya untuk membalas pesan menjijikan dari Kang Daniel. Sudah sekitar satu bulan lamanya mereka berdua melakukan hubungan tanpa status. Tidak ada rasa, tidak ada percikan dan juga kupu-kupu yang menari di dalam perut masing-masing. Murni hubungan tanpa melibatkan perasaan.

Seperti yang diceritakan Yeon Min kepada sahabatnya, Kang Daniel bisa diibaratkan sebagai dewa yunani di dunia nyata. Dia tampan, mempunyai fisik yang luar biasa, perhatian dan seringkali melakukan kejutan-kejutan kecil yang manis. Tipikal seorang playboy yang tahu bagaimana memanjakan seorang perempuan. Jelas saja hubungannya yang dulu selalu berakhir dengan perempuan-perempuan jatuh cinta kepadanya.

Daniel berbahaya, lebih tepatnya pesonanya yang memabukkan. Namun sampai detik ini, Yeon Min tidak merasakan adanya perubahan dalam dirinya. Secara daim-diam dia tersenyum, entah bahagia atau mengutuk diri-sendiri. Bisa-bisanya dia tidak merasakan apapun di hadapan Daniel. Mungkin karena gengsinya yang sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta pada pria bermarga Kang tersebut, atau mungkin karena tembok hatinya yang benar-benar sudah tertutup rapat dan tidak bisa ditembus oleh siapapun?

Mungkin kalian bertanya, apa saja yang sudah mereka berdua lakukan selama sebulan ini. Jawabannya adalah hampir tiga hari dalam seminggu Yeon Min dan Daniel bertemu. Biasanya mereka bertemu di apartemen Yeon Min atau Daniel, bar, atau sekedar minum kopi di sore hari. Jika yang ada di pikiran kalian adalah kencan romantis atau semacamnya, kalian benar-benar salah. Sudah ada di perjanjian bahwa pertemuan mereka tidak boleh dikategorikan dalam kencan romantis.

Mereka berdua biasanya mengobrol tentang kehidupan, dari yang tidak penting seperti membahas selera musik mereka berdua sampai ke tahap yang serius seperti politik. Yeon Min dan Daniel sama-sama tersenyum saat menyadari bahwa frekuensi percakapan mereka benar-benar sesuai. Sang gadis berbekal dengan gelar S2 miliknya mempunyai pengetahuan yang luas dan kata-kata yang cerdas.

Yeon Min selalu lugas dalam menyatakan pendapatnya dan tidak pernah mau terlihat lemah maupun bodoh. Seringkali Daniel terkekeh saat melihat wajah gadis itu yang merengut saat pria tersebut menyanggah argumennya. Tentu saja berakhir dengan Daniel yag mengalah demi melihat senyum kemenangan di wajah ‘teman’nya.

Begitu pula dengan Daniel yang selalu memiliki idealisme dan sudut pandang menarik dalam melihat segala hal, membuat Yeon Min selalu gemas dan tertantang untuk berdiskusi. Selain mengobrol, tentu saja mereka berdua melakukan banyak skinship.

Daniel benar-benar seperti beruang besar yang selalu merindukan belaian. Pria itu dengan santai memeluk Yeon Min di setiap kesempatan. Seringkali pria itu juga melayangkan ciuman di puncak kepala, pipi, dahi, bahkan hidung Yeon Min. Awalnya gadis itu selalu kaget dengan perlakuan Daniel yang terlihat begitu natural, tapi kelamaan ia menjadi terbiasa. Gadis itu memperbolehkan Daniel memasuki teritorialnya, selama tidak melewati batas seperti mencium bibirnya contohnya.

Satu lagi kesamaan mereka adalah kecintaan terhadap film. Menonton film di apartemen sudah menjadi ritual Yeon Min dan Daniel. Seperti malam ini, saat Daniel yang lima menit lalu tiba di apartemen Yeon Min sambil membawa sebungkus besar cemilan. Gadis itu menggeleng singkat dan memperbolehkan pria dengan senyum kelincinya masuk ke dalam apartemen.

“Aku benar-benar merindukanmu,” ucap Daniel sambil merengkuh Yeon Min ke dalam pelukannya. Dengan singkat pria itu menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Yeon Min dan menghirup aroma gadis itu. ‘Hmm, wangi stroberi kesukaanku,’ batin pria itu sambil tersenyum.

Sudah biasa dengan pelukan tiba-tiba dari beruang besar di hadapannya, membuat Yeon Min hanya menepuk-nepuk punggung Daniel. “Kau sudah makan?” tanya gadis itu, mengingat saat ini sudah jam 9 malam.

Pria yang masih menghirup leher Yeon Min hanya menggeleng. Gadis itu menarik badannya dan menaikkan alisnya. “Kau mau makan apa?”

“Aku mau memakanmu, boleh?”

Yeon Min benar-benar melepaskan rengkuhan pria itu dan menatapnya dengan tatapan paling datar. “Lucu sekali, Kang Daniel.” Pria bergigi kelinci itu tetap tersenyum sambil berjalan mengikuti si tuan rumah.

“Duduklah, aku akan membuatkanmu nasi goreng,” ujar gadis itu meninggalkan Daniel yang sudah duduk manis di depan tv sambil membuka jelly miliknya. Yeon Min bukanlah koki yang handal, tapi dia cukup percaya diri dengan beberapa resep makanan. Sekitar sepuluh menit dia berkutat dengan masakannya, hingga secara tiba-tiba ada sebuah tangan yang memeluk pinggangnya dari belakang.

Yeon Min menghela nafasnya pelan sambil tetap melanjutkan kegiatannya memotong sosis. Merasa diabaikan, Daniel mengeratkan pelukannya di pinggang Yeon Min. Menempelkan punggung gadis yang lebih pendek darinya ke dadanya yang bidang. Kali ini ia juga menumpukan dagunya di pundak gadis itu.

“Kau tahu kan bahwa badanmu itu sangat besar dan berat?” tanya Yeon Min. Pria yang diejek mengeluarkan tawa khasnya, membuat dirinya bergetar pelan yang terasa di punggung Yeon Min. Gadis itu mencoba untuk melepaskan dirinya dari Daniel dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil beberapa telur.

Belum lewat tiga detik, badan kecil gadis itu kembali ke dalam rengkuhan Daniel. Bahkan kini pria itu memeluk Yeon Min sambil mengikuti kemana pun gadis itu bergerak. Dengan badannya yang dikerung selama beberapa menit ini membuat Yeon Min jengah. Ia menggeliat di dalam pelukan protektif pria itu.

“Berhenti bergerak, atau aku akan benar-benar memakanmu.” Suara rendah Daniel menggelitik lehernya yang terkena terpaan nafas hangat pria itu. Hampir membuat jantung gadis itu tercekat sesaat. Hampir.

Yeon Min menaruh mangkuk telurnya dan melepaskan tangan Daniel dari perutnya. Ia berbalik dan mengerucutkan bibirnya. Demi Tuhan, detik itu juga pria bernama Daniel hampir saja memajukan wajahnya dan mencium bibir menggemaskan perempuan di depannya. Niat kotornya berhasil diredam dengan menarik pinggang gadis itu dan menyapukan bibirnya di atas dahi Yeon Min.

“Baiklah aku akan berhenti mengganggumu, Nona Park.” Daniel melepaskan tangannya dan berjalan kembali ke ruang tv. Tentu saja bukan karena ia ingin berhenti menggoda Yeon Min, tapi untuk membersihkan kembali isi otaknya yang mulai memainkan adegan-adegan tidak senonoh. Demi kebaikan dua pihak ia memilih untuk menjauhkan badannya dari gadis itu dan memilih untuk menonton kartun di tv.

******************

Setelah makan malam, Yeon Min dan Daniel dengan nyaman bersender di kursi. Keduanya memutuskan untuk menonton film romantis tahun 2000-an awal, Serendipity. Awalnya Daniel menolak habis-habisan, tapi kini Yeon Min memutar matanya melihat pria di sebelahnya menonton dengan penuh perhatian. Dari awal film, Daniel merengkuh pinggang Yeon Min posesif. Gadis itu juga beberapa kali menyenderkan kepalanya di dada bidang Daniel sambil menautkan kedua kaki mereka.

Saat menonton film, Daniel benar-benar ekspresif. Jika ada adegan romantis ia akan tersenyum geli, jika lucu ia akan tertawa sampai badannya berguncang, jika sedih wajahnya akan menyerupai anak anjing yang dibuang oleh majikannya. Pernah sekali, mereka berdua menonton film terbaru Spiderman, dan Daniel tidak berhenti meloncat kegirangan, bertepuk tangan, bahkan menirukan gaya Peter Parker saat mengeluarkan jaringnya.

Gadis itu mencatat perlahan bahwa dia tidak akan mengajak Daniel untuk nonton Avenger: Infinity War di bioskop. Bisa-bisa dia dimarahi oleh orang-orang satu studio.

Setelah layar tv menunjukkan credits  film, Yeon Min menaikkan kepalanya memandang Daniel yang saat ini terdiam. “Kau kenapa?”

Daniel menggelengkan kepalanya dan mengelus rambut Yeon Min. Seperti sebuah ritual sehabis menonton film, mereka berdua akan berdiskusi tentang film yang ditonton. Sambil Daniel mengelus kepala Yeon Min, gadis itu yang kadang mencubit perut kotak-kotak milik Daniel jika ia mengeluarkan kata-kata aneh.

“Apa kau percaya dengan takdir?” tanya Daniel tiba-tiba.

Yeon Min mengerutkan alisnya. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

Daniel mengendikkan bahunya, “Hanya saja setelah menonton film tadi, aku jadi benar-benar tertarik dengan bagaimana cara Tuhan mempertemukan, memisahkan, dan menyatukan seseorang.”

Keduanya terdiam, sampai Yeon Min memecah keheningan. “Dulu aku percaya takdir. Aku percaya bagaimana seseorang benar-benar ditakdirkan untukku.”

“Dulu? Kalau sekarang?” tanya Daniel. Atensinya saat ini sepenuhnya diarahkan kepada gadis di pelukannya. Selama satu bulan terakhir, Daniel tidak pernah berhasil untuk masuk ke dalam bagian hidup seorang Park Yeon Min. Gadis itu tidak pernah membahas percakapan pribadi maupun terkait dengan masa lalu. Jujur saja pria itu berharap untuk selangakh mengenal gadis tersebut.

Sayangnya, sekali lagi gadis itu menutup percakapan dengan menggeliat di dada Daniel. Tanda bahwa ia tidak ingin meneruskan omongan tersebut. Daniel menghela nafas berat. Ia kembali harus membuang harapannya dan mengikuti permainan Yeon Min.

Keduanya diliputi dalam keheningan yang nyaman. Entah karena belaian Daniel di kepala Yeon Min yang tidak berhenti, atau karena pekerjaan tadi siang yang menguras tenaganya, gadis itu kini terlelap di dalam pelukan Daniel. Pria itu tersenyum kecil,ia melirik jam sejenak yang menunjukkan tengah malam. Dengan hati-hati, Daniel mengangkat badan Yeon Min.

Ia merebahkan Yeon Min di atas kasur dan menyelimuti gadis itu. Dengan lembut Daniel mengusap kening Yeon Min. Ia mendekat perlahan dan menyapukan satu ciuman di dahi perempuan itu. “Selamat tidur, Park Yeon Min,” ujar pria itu sebelum mematikan lampu kamar gadisnya dan kembali ke apartemennya. Menutup hari dengan melihat Yeon Min membuat tidur malamnya menjadi lebih tenang.

– TO BE CONTINUED –

vankyu’s note:

Terima kasih untuk yang sudah baca. I woof you!!

Suka tidak sama chapter ini? suka dong, iyain aja hehe.

Vomment adalah bentuk apresiasi, jadi boleh ya tinggalin di sini.

Aku sogok deh pake foto Nyel.

Aku sogok deh pake foto Nyel

btw…… Vankyu udah bikin wattpad hehehe. Silahkan di cek, di follow (kalau mau di follback tinggal bilang yaaa)

nama wattpad vankyu : Kyutiramisu

Blog pribadi Vankyu : Kyutiramisu

Advertisements

2 responses to “FRIENDS WITH BENEFITS – Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s