Our Last Story

Untitled-11

Cast :
Jennie Kim
Park Jimin
Rose
Jeon Jungkook

“Aku akan bertahan”
Hanya kata-kata itu yang bisa jennie ucapkan ketika sebuah pelukan lembut diberikan seorang pria yang sekarang menjabat sebagai Bos sekalian pemilik perusahaan Park Corporation.
“Maafkan aku, tidak seharusnya aku mempermainkan hatimu seperti ini. Tapi aku.. Aku tidak mau kamu meninggalkanku.. Aku juga mencintaimu”

‘Juga ?.. Apa kamu tidak bisa hanya mencintaiku park jimin ?’ Batin jennie

Park Jimin seorang CEO muda yang sukses diumurnya yang masih terbilang muda. Perusahaan yang bergerak di bidang eksport dan import sudah terkenal hampir seluruh korea atau bahkan dunia.

Kim jennie seorang sekretaris Park jimin, dia cantik, pintar, baik namun satu kesalahannya dia mencintai seorang pria yang jelas-jelas tidak akan mungkin didapatkannya, dia mencintai seorang park jimin yang jelas-jelas memiliki seorang istri.

****
Jennie pov
Aku tidak ingat pasti kapan hubungan terlarang ini dimulai, yang aku ingat aku hanya ingin memilikinya walaupun aku harus merelakan hatiku yang terasa sakit manakala melihatnya dengan wanita yang sangat sempurna sedang bergelayut manja pada lengannya. Seperti saat ini saat aku melihat dari sisi-sisi tirai yang menutupi pintu ruangan tersebut wanita cantik itu bermanjaan dengan jimin dan sesekali kulihat jimin mencium bibir wanita itu sebagai balasannya. Merasa sakit di uluh hatiku aku memalingkan kedua mataku dari ruangan itu dan tak sadar aku meneteskan air mataku.
“Kenapa rasanya sangat sakit” jennie menepuk-nepuk dadanya perlahan dan berharap itu akan mengurangi rasa sakit di hatinya.
“Hai jennie!” Sebuah suara mengintrupsi kegiatanku hingga aku menyeka air mataku dengan secepat mungkin.
“Oh heii nyonya” ucapku berdiri dari kursiku dan memberikan senyum manisku pada wanita yang ada di depanku.
“Kamu baik-baik saja ? Apa kamu menangis ?” Wanita itu mendaratkan tangannya pada wajah mungilku.
“Ah tidak, aku baik-baik saja. Apa nyonya sudah selesai ?” Jawabku mengalihkan situasi.
“Ya! Sudah berapa kali aku katakan padamu untuk memanggilku rose. Kita ini sahabat kim jennie!”
“Tapi ini di kantor, mana mungkin aku bisa memanggil nyonya dengan sebutan itu”
“Ya jennie apa kamu mau aku adukan pada suamiku karna sudah menentangku ha ?” Wanita itu berkacak pinggang namun masih terlihat imut dimataku.
“Baiklah baiklah rose” ucapku tersenyum.
“Ya sudah aku pulang dulu ya jen, jangan terlalu lelah aku tidak mau melihat sahabatku sakit nantinya. Aku menyayangimu kim jennie” rose pun memelukku dan memberikan ciuman singkat di pipiku.
“Aku titip suamiku, jika dia nakal pukul saja.” lanjutnya tertawa renyah.

Setelah obrolan singkat itu rose pergi meninggalkan kantor.
Saat aku asyik memandangi kepergian rose sebuah dering telp membuyarkan lamunanku.
“Kim jennie dari park cooperation disini, ada yang bisa saya bantu ?”
Terdengar kekehan dari sebrang sana dan jelas aku sangat mengenal suara itu.
“Masuklah” lalu sambungan itu terhenti dan aku menutup telp itu lalu masuk ke dalam ruangan jimin.

“Ada yang bisa saya bantu tuan ?” Ucapku saat aku memasuki ruangan jimin.
“Apa kamu benar-benar menangis ?”
Deg.. Jantungku terasa sakit ketika pertanyaan itu dilontarkan oleh jimin.
“Tidak, untuk apa aku menangis”
“Maafkan aku”
“Jika kamu hanya ingin mengatakan itu saja aku akan keluar sekarang” aku pun keluar dari ruangan itu dan belum sampai di pintu sebuah tangan sudah melingkar di pinggangku. Jimin memelukku dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di leher jenjangku.
“Maafkan aku” ucapnya lirih dan mencium leherku.
Aku tidak sanggup menahan air mataku untuk tidak terjatuh, saat jimin hendak membalikan badanku aku lansung menutup kedua matanya dengan salah satu tanganku dan mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya. Aku mencium lembut bibirnya dan dibalas lembut oleh jimin.

“Aku hanya tidak mau kamu melihatku menagis seperti ini. Aku tidak mau terlihat menyedihkan di depanmu”
“Aku mengetahuinya.. Aku tau kamu sedang menangis sekarang.. Aku mencintaimu jennie, maafkan aku”
***

Author pov
Sebuah getaran membangunkan jennie dari tidurnya. Perlahan dia bangun dan mengambil handphonenya tanpa melihat siapa yang telah menggangu tidurnya.
“Halo”
“Hei jennie, apa kamu sedang sibuk ? Ayo keluar bersamaku”
Jennie mengalihkan handphonenya dari telinganya dan melihat nama rose pada layarnya lalu mengembalikannya lagi pada telingannya.
“Maafkan aku rose aku tidak bisa, aku ingin beristirahat saja hari ini. Aku sangat lelah”
“Hm apa kamu sakit ?”
“Tidak”
“Baiklah kalau begitu aku saja yang datang ke apartmentmu okay. Aku akan sampai setengah jam lagi.. Bye, byee”
Belum sempat jennie berbicara sambungan telp itu sudah diputuskan sepihak oleh rose.

Jennie bangun dari tempat tidurnya dan melihat kondisi ranjangnya yang cukup berantakan mengingat kejadian tadi malam yang ia lakukan bersama park jimin.
Seperti inilah setiap minggu milik jennie saat malam dia akan terbuai dengan pesona park jimin dan masih merasakan jimin yang menyentuh setiap inci tubuhnya dan menikmati setiap desahan yang dikeluarkan jimin saat mereka melakukannya untuk menyalurkan rasa cinta dan rindu mereka. Namun tepat pukul 3 pagi jimin akan pergi meninggalkan jennie yang tertidur lelap.

Jennie pun beranjak merapikan tempat tidurnya dan mengganti sprei yang mereka gunakan tadi malam dengan yang baru. Jennie tidak mau jika rose mencium parfum ataupun harum badan jimin yang ada di ranjangnya. Jennie hanya mencoba mencari aman.

30 menit kemudian pintu apartment jennie berbunyi dan langsung membuka pintu dan didapatinya rose yang ada disana dengan 2 kantong besar makanan di tangannya.

“Mari kita bersenang-senang” kata rose mengangkat 2 kantong tersebut ke depan wajahnya.
“Masuklah”
Rose langsung duduk di sofa yang ada di ruangan tamu.
“Ayo makan aku sudah membeli banyak makanan untuk kita” kata rose mengeluarkan isi dari kantong besar itu.
“Terima kasih rose” kataku dan duduk di sampingnya.

Mereka berdua asik memakan makanannya sambil menonton acara musik.
“Jennie”
“Hmm” jennie hanya berdeham tanpa menatap ke arah rose .
Melihat jennie yang tidak menatapnya membuat rose kesal dan mengambil remote tv yang dipegang jennie dan mematikan tvnya.
“Dengarkan aku” kata rose.
“Ada apa ?” Jennie berbalik menatap rose.
Rose membuang nafasnya kasar dan tampak memikirkan sesuatu.
“Aku pikir jimin oppa sedang berselingkuh”
Degg.. Jantung jennie bergerak 2 kali lebih cepat mendengar kata-kata rose.
“Kenapa.. Kenapa kamu menuduhnya seperti itu ? jawab jennie mencoba setenang mungkin.
“Setiap malam minggu jimin tidak pernah bermalam di rumah kami, dan pasti dia pulang saat minggu pagi. aku curiga dengan sikapnya yang seperti itu. Aku yakin dia memiliki wanita lain”
“Rose cobalah berpikir positif mingkin saja dia sedang melakukan suatu yang penting, jangan secepat itu menuduhnya yang tidak-tidak”
Rose memicingkan matanya melihat jennie.
“Kamu membelanya ?”
“Bukan, aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Aku sering melihatnya bermalam di kantor dengan file-file yang menumpuk. Aku sekretarisnya jadi aku tau betapa sibuknya seorang park jimin. Mengertilah dengan posisi jimin sekarang, dia seorang CEO kamu tau itukan”
“Tapi apa kamu yakin”
“Hm aku sangat yakin”
Rosepun memeluk jennie dengan erat dan meneteskan air matanya.
“Aku hanya takut kehilangan jimin, aku mencintainya.. Sangat mencintainya..”
“Aku tau..”
‘Karna aku juga merasakan hal yang sama sepertimu’ batin jennie

***
Tidak disengaja jennie masuk ke dalam ruangan jimin dan menyaksikan sesuatu yang sangat dibencinya, saat jimin dan rose berciuman penuh nafsu di dalam ruangan jimin. Bahkan sangking panasnya ciuman itu jimin dan rose tidak menyadari kedatangan jennie. Jennie keluar dari ruangan tersebut dengan sepelan mungkin.
Jennie menangis dengan sangat kencang saat sebuah tangan menariknya kedalam pelukannya.
Jennie mengenal bau badan ini, jennie hanya menangis terisak di dada orang itu.
“Jungkook-ah.. Apa yang harus aku lakukan.. Aku.. Aku .. Sudah tidak sanggup lagi..”
“Menangislah.. Menangislah sampai kamu puas dan setelah ini tinggalkan dia.. Dia tidak bisa membuatmu terus-terusan sakit seperti ini.. Kamu juga berhak bahagia.. Kamu berhak mendapatkan seluruh hati seorang pria bukan setengah-setengah seperti ini” jungkook mengusap kepala jennie dengan lembut mencoba menenangkan jennie.
“Aku tidak bisa.. Aku mencintainya.. Aku sangat mencintainya..”
“Sampai kapan ? Sampai kapan kamu akan tersakiti seperti ini hah ? Sampai kapan ?!!” Jungkook melepaskan pelukannya dan mengguncang bahu jennie yang terlihat sangat lemah.
“Aku lebih baik mati jika tanpa dia.. Lebih baik aku mati!!”
“Baiklah sekarang aku akan membantumu untuk mati.. Kamu ingin mati kan ?!!” Jungkook berdiri dari kursi yang sedari tadi mereka duduki dan menarik jennie dengan paksa mengikutinya. Jungkook menarik jennie hingga keujung atap bangunan itu dan terlihat dari atap gedung itu yang sangat tinggi.
“Sekarang loncatlah!! Matilah sekarang juga! Karna sampai kapanpun kamu tidak akan pernah mendapatkannya. Matilah sekarang!!!” Teriak jungkook
Jennie pun melemas dan jatuh tersungkur di lantai rooftop gedung itu, jennie memegang kaki jungkook sebagai penahannya. Tangisan jennie kian terdengar memilukan. Jennie memukul dadanya yang terasa sangat sakit. Jungkook membuang nafasnya kasar dan jongkook menyetarakan tubuhnya dengan jennie. Jungkook kembali memeluk jennie yang terlihat sangat rapuh.
“Aku disini.. Aku akan selalu ada untukmu.. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi..” Jungkook mencium puncak kepala jennie dengan lembut.

***
Jimin pov
Sudah 3 hari jennie tidak masuk kantor bahkan jimin sudah menghubunginya beratus kali namun tidak ada kabar tentang jennie. Jimin yang khawatir pun pergi mendatangi jennie ke apartmentnya.
Saat jimin memasukan pin apartment itu pintu tidak bisa dibuka.
“Kenapa pinnya diganti ?” Merasa khawatir akupun kembali menghubungi jennie namun tidak ada jawaban.
Aku mencoba menekan bel pintu itu namun nihil tidak ada jawaban.
“Jen.. Jennie buka pintunya aku tau kamu di dalam.. Jennie keluarlah..” aku memukul pintu itu berulang kali.
“Jennie.. Keluarlah!!!”
Tak lama aku melihat jennie membuka pintu tersebut.. Tapi ini bukan jennie yang aku kenal.. Jennie terlihat sangat berantakan.
Aku masuk dan memeluk jennie dengan erat. Dan terdengar olehku suara tangisan dari bibir jennie.
“Apa kamu seperti ini karna aku ? Jennie maafkan aku”
“Bisakah kamu berhenti mengatakan maaf ? Aku sudah bosan dengan kata-kata brengsek itu”
“Apa lagi yang bisa aku katakan selain itu ? Aku selalu menyakitimu. Aku pria brengsek”
“Bukankah aku yang bodoh sudah mempercayakan hatiku pada pria brengsek itu”
Aku melepaskan pelukan itu dan kutatap matanya yang penuh dengan penderitaan. Dalam hatiku aku ingin melepaskannya agar dia bisa merasakan bahagia seutuhnya dengan pria yang jauh lebih baik dariku namun hati kecilku menolaknya aku tidak mau jennie jauh dariku karna aku mencintainya.. Aku sangat mencintainya.. Aku egois ? Ya aku memang egois.

Jennie menarik tangan kiriku dan menempelkannya diwajahnya lalu menciumnya dengan lembut.
“Tinggallah bersamaku 1 hari saja. aku hanya ingin bersamamu 1 hari saja setelah itu aku tidak akan meminta lebih padamu.. Aku akan membiarkanmu memilih apapun yang kamu mau, aku akan mengikutinya”
“Jennie-ah” tanpa sadar aku menjatuhkan air mataku, aku merasa sakit melihat jennieku yang selemah ini.
Kedua tangan jennie menghapus air mata yang terjatuh dari pelupuk mataku dan memberikan senyum indahnya yang sangat aku rindukan.
“aku mencintaimu.. Aku sangat mencintaimu park jimin. Kamu tau itu bukan ?” jennie kembali tersenyum untuk menutupi rasa sakit di hatinya.

“Apa kamu sudah makan ? Kamu pasti lapar.. Aku akan memasak untukmu” jennie meninggalkan jimin menuju dapur untuk memasak beberapa jenis makanan untuk mereka santap.
Dan tak lama saat jennie memotong beberapa sayuran tangan jimin sudah memeluk jennie dari belakang.
“Apa kamu ingin kita mengakiri semua ini ? Aku akan menceraikan rose dan mari kita menikah. Bagaimanapun juga tidak seharusnya aku memainkan hati kalian berdua dan sekarang aku sudah memilih, aku akan memilihmu” aku mencium leher jennie melampiaskan rasa rinduku padanya.
“Tidak perlu, tetaplah bersama rose aku akan mengalah”
Aku membalikan badan jennie menghadap padaku.
“Apa maksudmu ?”
“Sudahlah aku tidak mau membahas orang lain saat kita bersama. Hari ini kamu hanya milikku, aku tidak mau ada nama lain yang terucap dari bibirmu”
“Jennie-ah”
” park jimin.. Aku mohon”
Jimin melepas jennie dan duduk di meja makan sambil menatap jennie terus menerus.

Makanan selesai dihidangkan dan hanya keheningan yang ada saat mereka menyantap makanan tersebut.

Selesai mereka makan jimin dan jennie duduk di sofa sambil menonton acara yang ada di tv. Jimin masih menikmati memandang wajah jennie yang masih terlihat beda olehnya. Jimin menarik jennie lebih dekat dengannya dan memeluk jennie.
“Aku janji aku tidak akan menyakitimu lagi”
Jennie hanya tersenyum mendengar ucapan jimin dan mencium bibir jimin singkat.

Tak terasa malampun menjelang, jimin dan jennie terdiam di atas ranjang jennie.
Jimin membuat jennie senyaman mungkin dalam dekapannya.
“Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku”
Jennie yang mendengar kata-kata jimin hanya menatap jimin dengan tatapan sendu lalu mencium bibir jimin dengan lembut. Jennie semakin memperdalam ciuman tersebut dan jimin membalas ciuman tersebut. Ciumana penuh cinta dan rasa sakit itu menyatu. Dan tanpa disadari mereka berdua menangis dalam ciuman itu.
“Jimin-ah apa aku sanggup ? Apa aku sanggup meninggalkanmu ? Maafkan aku, aku mencintaimu”
“Jenni-ah jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Aku tidak bisa, aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Teruslah berada di sampingku”

***
Pagipun menyapa jimin terbangun dari tidurnya namun tidak mendapati jennie berada di sampingnya. Dia bangkit dari tidurnya dan mencari jennie ke seluruh ruangan.
“Jennie.. Kim jennie”
Namun nihil tidak ada jennie di semua ruangan hingga dia kembali ke kamar tidur dan mendapati sebuah surat di atas bantal. Dengan cepat jimin membuka dan membaca surat tersebut.

Berbahagialah
Aku mencintaimu

Kim jennie

Air mata jimin membasahi wajahnya. Jimin meremas surat itu.
“Aku salah, aku bersalah aku mohon kembalilah. Aku mencintaimu jennie.. aku mohon”

***
Jimin kembali ke rumahnya dengan tampilan yang sangat berantakan. Rose yang menyambutnya merasa khawatir dengan jimin.
“Oppa apa kamu baik-baik saja ? Oppa ?”
Jimin menepis tangan rose yang memegang tangannya.
“Sekarang dia sudah pergi dan sekarang kamu sudah bisa memiliki seutuhnya. Sekarang kamu puas bukan ?”
“Oppa apa maksudmu ?”
“Kamu tidak perlu bersikap bodoh aku tau semuanya, aku melihatnya”

Flashback
“Jennie kim apa maksudmu ?” Mata rose berkaca-kaca mendengar penuturan jennie.
“Ya aku dan jimin selingkuh di belakangmu, aku mencintainya dan dia juga mencintaiku”
Plakk
Sebuah tamparan didaratkan rose di pipi jennie.
“Kenapa kamu melakukan ini padaku ? kenapa kamu sejahat ini padaku” rose pun akhirnya menjatuhkan air matanya.
hening beberapa saat hingga akhirnya rose membuka suara lagi.
“Jennie aku mohon tinggalkan jimin oppa untukku, aku mencintainya jennie aku mohon.. Aku.. Aku sedang mengandung anaknya..”
Seperti petir menyambar sakit di hati jennie semakin membuncah. Air matanya yang sedari tadi ditahannya kembali terjatuh lalu dia pun pergi meninggalkan rose sendiri.

Flashback end

“Sejak kapan aku menidurimu ? Sejak kapan kamu mengandung anakku ha ?!!” Teriak jimin.
“Maafkan aku, oppa maafkan aku.. Aku tidak bisa membiarkanmu jatuh pada wanita lain.. Maafkan aku..” Rose tersungkur memeluk kaki jimin mencoba menenangkan amarah jimin.

7 years later

” taehyung-ah ayo sayang siap-siaplah kita akan kembali ke korea hari ini. apa kamu tidak merindukan appa ha ?”
Taehyung kecil berlari dan memeluk eommanya.
“Heii jennie kim ayo kita berangkat sekarang”
jennie mencubit pipi anaknya itu dengan gemas.
“Heii kamu ini sudah terbawa tradisi barat ya ? Memanggil orang tua pakai nama.. Eommaaa.. Dari sekarang panggil eomma . kamu mengerti ?”
“Ne eomma”
“Ah anak pintar, ayo cium eomma dulu..”
“Ah tidak bagaimana kalau pacarku melihat nanti ? Pasti dia akan marah eomma”
“Ya!! Masih kecil sudah punya pacar.. Tidak boleh sayang”
“Eomma dan appa bisa pacaran kenapa aku tidak?” Taehyung melepaskan pelukannya dan melipat kedua tangannya di dada. Jennie yang melihat itu hanya tertawa melihat tingkah gemas anaknya itu.
“Baiklah.. Baiklah, ayo kita berangkat”
“jennie kim kamu benar-benar wanita yang payah”
“Ah ya! Apa lagi ini ?” Jennie juga melipat kedua tangannya di dada.
“Tadi katamu aku harus menciummu sekarang kamu malah mengajakku berangkat”
Jennie hanya tertawa dan menjongkok agar tingginya setara dengan anaknya.
“Baiklah cium sekarang”
Taehyung pun tersenyum lalu mencium pipi kanan dan kiri, kening dan terakhir bibir jennie.
“Ahh manisnya anak eomma” jennie memeluk taehyung lalu menggendong anaknya itu.
18 jam perjalanan dari paris ke seoul akhirnya jennie dan taehyung sampai di seoul.
“Sayangg” teriak seorang pria saat jennie berjalan di koridor kepulangan di bandara incheon.
“Jungkook-ah” jennie pun berlari kecil dengan taehyung yang digenggamannya.
Jungkook memeluk jennie erat dan langsung mendaratkan ciumannya di bibir jennie.
“Eomma.. Appa apa kalian lupa aku ada disini ?”
“Ah jagoanku..” jungkook berjongkok dan mengangkat taehyung ke gendongannya.
“Apa kamu menjaga eomma dengan baik ?”
“Tentu saja, aku kemarin menghajar pria nakal yang menggoda eomma. Aku sampai kewalahan, appa sangat beruntung memiliki eomma yang sangat cantik ini meskipun appa jadi banyak saingan”
Jennie dan jungkook hanya tertawa mendengar penuturan anak semata wayangnya itu.

Saat berjalan menuju parkiran tak sengaja jennie menabrak seseorang.

Brukk..
“Maaf.. Maaf aku tidak sengaja tuan”
Jennie mengambil beberapa berkas yang jatuh dari tangan pria itu dan degg betapa terkejutnya jennie saat membaca file itu yang bertuliskan Park Corporation
Perlahan dia mengangkat wajahnya dan dilihatnya pria yang didepannya yang sudah sedari tadi memandangnya..
“Jimin” Jennie langsung memberikan file yang dipegangnya lalu pergi menarik jungkook dan juga taehyung menjauh dari jimin.

“Anak itu.. Anak itu sangat mirip denganku.. Kamu.. Kamu telah membesarkan anak kita dengan baik jennie.. Maafkan aku.. Aku tidak akan mengganggumu lagi.. Karna sampai kapanpun hanya kamu yang akan mengisi hatiku sampai aku mati” -jimin

“Aku tidak akan jatuh lagi ke lubang yang sama, Sekarang aku sudah bahagia dengan hidupku yang baru.. Aku sudah bahagia dengan jungkook yang menjadi suamiku..” -jennie

“Jangan katakan kamu akan kembali mencintainya karna aku tidak akan mengizinkannya.. Kamu telah menjadi milikku, aku yang telah mencintaimu selama ini, aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku.. Meskipun anak kita bukanlah darah dagingku tapi itu tidak akan menjadi masalah karna akulah yang merawatnya sejak dia kecil.. Jadi sampai aku matipun aku tidak akan membiarkan orang merebutmu ataupun anakku” -jungkook

HELLO!! aku dateng lagi bawa cerita receh aku hahha. gimana suka tidak ? anyway aku udah pindah nih ke wattpad. ada yang seneng baca story di wattpadd ? kalau mau baca story aku yang lain bisa langsung ke work aku aja ya💜

klikkk https://www.wattpad.com/user/taennie_150318

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s