[Ficlet] Sang Pilot Dan Peri Bulan

aec50afd686bb6e1436bc85e451270e9cb0a117bv2_hq

A story by narinputri

 

[Golden Child] Kim Jibeom

Slight!fantasy, AU!life, fluff, slight!OOC (maybe) // ficlet // general

Inspired from song “Pesawatku” by Memes

 

“Kalau kau berjumpa dengannya, jangan lupa nyalakan tandanya…”

Ada suatu kisah yang pernah diceritakan sang Ibu kepada Jibeom kala kecil. Tentang sesosok peri cantik yang suka bermain dengan kelinci putih dan mereka tinggal di Bulan. Konon katanya peri itu tengah menangis karena kelinci putih kesayangannya turun ke Bumi dan hilang entah kemana. Oleh sebab itu sinar Bulan tak sebenderang dulu akhir-akhir ini.

“Jika Jibeom dewasa nanti, Jibeom akan menjadi pilot dan pergi ke Bulan untuk memulangkan kelinci si peri. Kasihan jika ia terus-terusan menangis,” lirih Jibeom kecil dengan ekspresi seperti menahan tangis.

Ibu tersenyum lembut sembari menyelimuti tubuh mungil Jibeom. Kantuk menyapa pemuda kecil itu seperti biasa seusai mendengarkan kisah dari Ibunya.

“Kalau kau berjumpa dengannya, jangan lupa nyalakan tandanya. Agar Ibu bisa tahu dari Bumi ini,” ucap Ibu mengecup lembut kening Jibeom serta membelai anak rambut hitamnya. Ditinggalkan Jibeom di dalam kamar berbias cahaya warna-warni bintang dari lampu mejanya.

Sebuah ketukan kecil pada jendela membuat Jibeom terganggu. Ada rasa takut jika-jika sebuah monster berbulu hijau mengetuk jendela kamarnya setelah mendengar cerita dari kakak laki-lakinya. Rasa takut Jibeom hilang ketika melihat sosok kelinci putih bersih bertengger di jendela setelah ia menoleh. Dengan cepat dan tanpa suara Jibeom membuka jendela kamarnya.

“Hei, apakah kau kelinci dari sang Peri Bulan?” tanya Jibeom begitu saja.

Kelinci di hadapannya tiba-tiba mengeluarkan suara seperti seorang anak kecil setelah keheningan menghampiri sejenak.

“Ya! Aku ingin sekali kembali ke Bulan. Hanya saja tak bisa, padahal sebentar lagi Bulan Purnama akan tiba.”

Sang kelinci menangis tersedu di hadapan Jibeom dan membuat pemuda tersebut tak tega melihatnya.

“Apakah kau butuh bantuan?” tawar Jibeom dengan mata berbinar. Menawarkan bantuan meskipun kepada orang asing adalah hal yang Jibeom ingat dari sang Ibu jika ingin berbuat baik.

“Kau mau menolongku?? Sungguh mulia hatimu, anak muda!” Kelinci tersebut langsung memeluk Jibeom dengan girang.

“Kalau begitu, bolehkah aku minta tolong padamu untuk menjadi pilot pesawatku? Karena pilot sebelumnya tiada di tengah perjalanan Bumi karena menabrak asteroid. Ah, sepertinya aku juga butuh pesawat baru untuk mengganti pesawatku yang hancur karena asteroid.”

Jibeom sejenak berpikir lantas lompat begitu saja dari atas kasur kemudian membuka serta membongkar isi peti mainannya di sudut kamar. Sebuah pesawat baling-baling berwarna cokelat merah ada digenggaman setelah sekitar tiga menit ia mencari. Teringat jika itu adalah hadiah ulang tahun dari sang kakak waktu itu.

“Aku bisa berikan pesawat ini padamu dan aku akan menjadi pilotnya! Hanya saja, kita berdua tak muat jika masuk ke dalam pesawat kecil ini,” ucap Jibeom.

Kelinci putih itu mengambil pesawat mainan dari tangan Jibeom dan meletakannya di halaman rumah. Sekantung serbuk berwarna pelangi dikeluarkan dari saku kemudian ditiupkan ke arah pesawat. Secara ajaib, ukuran pesawat tersebut menjadi besar dan membuat Jibeom takjub lalu bergegas menaiki pesawat bersama dengan sang Kelinci.

Mesin pesawat telah menyala dan merekapun terbang menuju Bulan tempat Kelinci Putih itu tinggal. Rasa kagum menghampiri Jibeom, tatkala melihat ribuan bahkan jutaan warna-warni cahaya bertebaran di angkasa, planet-planet besar yang begitu indah seolah memanjakan mata Jibeom.

Akhirnya mereka mendarat dengan mulus di Bulan. Meski suasananya begitu berbeda dengan Bumi, Jibeom bangga karena pertama kalinya menginjakan kaki di sebuah satelit yang selalu melintasi Bumi. Sebuah cahaya terang menghapiri perlahan ke arah mereka. Muncul sosok gadis kecil cantik dengan surai hitam serta pakaian berwarna kuning di hadapan Jibeom. Sebuah senyum bahagia menghiasi wajahnya kala kelinci putih itu melompat ke dalam pelukan.

Jibeom yang melihat dari kejauhan menyadari jika di hadapannya adalah sosok makhluk yang selama ini ingin ditemui pada tiap malam usai mendengar dongeng dari sang Ibu. Dengan rasa senang, dimainkan senter kecil yang dibawa bersamanya sebelum berangkat dan melambaikan ke arah indahnya Bumi di kedua matanya. Memberi tahu kepada Ibu dan dunia jika sang Pilot telah bertemu Peri Bulan kesayangannya.

 

-END-

 

Kayak mungkin agak aneh ya? Lagi pengen ngubah style cerita sama bahasa biar on point ke pembaca huhuhuhu. Semoga suka~~

Advertisements

4 responses to “[Ficlet] Sang Pilot Dan Peri Bulan

  1. Kak… Aku gemes banget sama jibeom di sini.. Ehehehe bener2 kerasa banget masih piyiknya eheheh
    Terus entah kenapa pas baca ttg si gadis, yg terlintas di kepalaku adalah arin oh my girl ehehe

    Keep writing kak narin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s