[Chapter 5] The Second of Telepathy

1 Aug

Untitled-1-Recovered

 

 hhhhhh

[5th] The Second of Telepathy

AUTHOR: Ifaloyshee // MAIN CAST :  Kim Sumin (OC), Oh Sehun,  Kim Jongin (Kai), Im JinAh (Nana), Choi Junhoong (Zelo), Kim Hyelim (Lime) // GENRE : Fantasy, Romance, Supranatural, Drama // DISC         : The casts are not belong to me. The story-line, plot, ideas are come from my mind. Dont copy  this story without my permission. And dont copy my idea, be creative pls. // RATING: PG. [ bakal sering naik seiring bertambahnya part] , Profanity, bloody and the other things.

Casts’ profile

Chapter 1 / Chapter 2 / Chapter 3

Chapter 4

The Second of Telepathy; Chapter Five

Copyright ©2013 Ifaloyshee

All rights reserved

***

Do you guys still remember this?

31ST January 2007

But everything means nothing, if i ain’t got you.

Saranghae Kim Sumin~

From: K.

The second of Telepathy Chapter 1

—Kim Sumin’s Letter from…who?

“Aku benci ini dan mungkin kau bisa melakukan suatu hal seperti protes atau apalah terhadap BoA saem.” Sumin meletakkan setumpuk buku diatas meja dengan perasaan dongkol kemudian menghela nafasnya. “berhubung kau adalah murid emasnya.” Lanjut gadis itu, kini ia mendongak menatap pria yang sedang menautkan alis didepannya.

Sehun hanya melirik tumpukan buku tersebut selama beberapa detik kemudian menilik wajah Sumin yang masih terlihat badmood.  Ia menyeringai kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada PSP hitam milik Zelo yang ada ditangannya.

“Kau pikir aku senang satu kelompok denganmu? Lagipula aku tidak mau bicara dengan BoA saem hanya karena kau yang menyuruhku.” Sumin mendelik setelah mendengar ucapan Sehun barusan, apa yang barusan pria ini katakan?!

“Hei! Kau pikir aku juga mau?!” kini Sumin berkacak pinggang, menatap sinis kearah Sehun yang masih focus pada PSP. Pria itu jadi maniak game setelah bergaul dengan Zelo, dan Sumin sebal juga bahwa Zelo kini lebih suka menghabiskan waktu luang dengan Sehun ketimbang dirinya serta Lime.

“kalau begitu, kau saja yang protes. Mudah kan.”

“aku menyuruhmu dan kau malah menyuruhku balik.”

“I’m busy right now as you see, lady.”

Sumin geram sekali, ia tidak mengerti kenapa Sehun begitu dingin padanya—well, dia dingin pada semua murid—tapi anehnya, hanya dirinyalah yang merasa kesal pada sifat Sehun itu sementara murid lain malah semakin gencar berusaha mendekati Sehun. Pria itu, tampan dan pintar. Dan satu lagi… terlihat misterius. Sekiranya begitulah yang mereka pikirkan. Sumin tidak habis pikir.

“Dengar ya, Oh Sehun. Kalau kau tidak bisa melakukan penggantian pada pembagian kelompok ini, aku hanya bisa menjanjikan padamu kalau aku tidak akan menjadi partner yang baik. Dan itu konsekuensimu.”

“Tidak ada yang bisa mengubah keanggotaan kelompok ini.” Sumin langsung menolehkan kepalanya begitu seseorang menginterupsi dan mendapati Zelo berdiri dibelakangnya dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku. Pria itu mengedikkan bahunya, “Begitu yang BoA saem katakan. Satu kelompok terdiri dari dua orang, dan mereka harus bekerja sama untuk laporan praktikum kegiatan sampai liburan musim panas. Dan hasilnya akan mempengaruhi tujuh puluh persen nilai di raport. Satu lagi, kelompok tidak bisa diubah.”

Perkataan Zelo sukses membuat emosi Sumin mendidih, bagaimana bisa ia harus mempertaruhkan nilainya ditangan Oh Sehun?! Ralat, mungkin tidak sepenuhnya ditangan Sehun tapi… kalau kerjasama mereka gagal, maka kemungkinan buruk juga tidak bisa ia pungkiri. Dan satu – satunya hal yang menahan Sumin untuk tetap bersekolah disini adalah prestasi –nya.

you’re kidding me, right.”

Zelo menggeleng innocent. “tentu saja tidak. Oh, ice princess. Kau harus beramah-tamah dengannya. Dia hanya murid baru yang tidak tau apa – apa.”

“Dia sudah menetap disekolah ini lebih dari tiga bulan.” Ucap Sumin sarkatis, menggaris bawahi kata murid baru yang diucapkan Zelo.

yeah, tapi kau tidak seharusnya sedingin itu padanya.”

Sehun diam – diam menyeringai namun ia tetap focus bermain game tanpa mau menginterupsi percakapan kedua sahabat yang ada didepannya saat ini. Sehun yakin, Zelo pasti sedang merencanakan hal yang bagus untuknya.

“Sejak kapan kau jadi membela dia daripada aku, Jun?” tampak sekali kalau Sumin merasa tersingkirkan oleh Sehun. Mungkin karena akhir – akhir ini Zelo lebih sering bersama Sehun, pikir Sumin. Dan julukan Jun hanya diucapkan Sumin ketika gadis itu menuntut—Jun dari kata Junhoong; nama asli Zelo.

“Aku tidak membelanya, hanya memberi saran.” Zelo mengedikkan bahunya, lagi – lagi memasang wajah innocent. Sumin nyaris saja menjitaknya.

“Kau membelanya.”

Terdengar helaan nafas Sehun yang cukup keras, ia menggelengkan kepalanya. “Stubborn.” Komen Sehun singkat. Zelo mengangguk menyetujui, “Sumin memang keras kepala.”

“Jun!”

“Apa?” Zelo menaikkan kedua alisnya.

I hate you.” Desis Sumin. Final. Ia akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari kelas dengan gusar, sengaja ia menabrakkan bahunya ke tubuh Zelo namun Zelo hanya bergeming. “I love you too, ice princess!” seru Zelo cukup keras, Sumin tidak meresponnya.

Dengan kurang ajarnya Sehun hanya tertawa setelah Sumin meninggalkan kelas, ia menghampiri Zelo kemudian menepuk bahu Zelo pelan. “Aku tau kalau ini semua idemu.”

“Oh, man. Tentu saja. Aku sudah merencanakan dari awal.”

“semudah itu kau mengelabui BoA saem?”

“Mudah. Aku menyogoknya dengan sebuket bunga.”

Mendengar itu Sehun hanya bisa tertawa. “You brat.”

“Ngomong – ngomong, kalau aku tidak disini mungkin semua rencanamu hancur berantakan.”

Zelo mengerut dahinya bingung. “berantakan?”

“Ya. Kau selalu memikirkan segala hal secara gamblang dan jelas, Sumin bisa membaca pikiranmu dan menemukan letak kebohonganmu.  Untung aku menutupi pikiranmu.”

Kini Zelo hanya bisa melongo bodoh. Menutupi pikiran? Apa yang Sehun bicarakan?

“Kau lupa bahwa aku supernatural?”

Tentu saja Zelo ingat. Tapi untuk istilah menutupi pikiran, Zelo baru pernah mendengarnya. “Oh, man. Maksudmu?”

“Aku bisa menutupi pikiranmu sehingga Sumin tidak mampu membacanya. Semacam, blocking. Sehingga Sumin hanya bisa mengetahui lewat apa yang kau ucapkan padanya. Dan itulah mengapa aku sedari tadi diam, aku sedang focus menutupi pikiranmu yang kelewat jelas.”

“apakah aku harus mengucapkan terimakasih?”

Sehun tertawa singkat. “anytime, bro.”

“hei kalian, apakah melihat Sumin?”

Tiba – tiba muncul Lime yang kini sudah melipat tangannya dan berdiri tepat dibelakang Zelo dan Sehun. Sontak Zelo membalikkan badan dan tersenyum singkat melihat Lime yang sedang memegang dua buah bubble tea. Tanpa diberitahu pun Zelo tau kalau bubble tea itu pasti untuk Sumin.

Zelo mengedikkan bahunya dengan ekspresi tanpa dosa, seolah – olah ia tidak melakukan apa – apa pada Sumin padahal jelas gadis itu kesal karenanya.

“Dia sedang kesal.” Ucap Sehun datar. Zelo langsung mendelik kearahnya, memberi kode bahwa mengucapkan hal itu akan membuat Lime marah dan menginterogasi mereka berdua sampai lemas. Sebuah piilihan yang salah, Oh Sehun. Namun ia sudah terlanjur mengatakannya mau bagaimana lagi?

“Kesal? Kenapa? Siapa yang membuatnya kesal? Oh Sehun aku peringatkan kau—“

“Aku tidak membuatnya kesal.” Sanggah Sehun dengan ekspresi menyebalkan. Lime menaikkan sebelah alisnya. “Lalu?”

“Dia kesal karena Zelo.”

“Dia kesal dengan kelompok barunya.”

Jawaban yang berbeda dari Zelo dan Sehun yang diucapkan bersamaan itu semakin membuat Lime bingung. Ia menatap kedua pria dihadapannya ini dengan bergantian, mengintimidasi mereka berdua. “Yang mana yang benar?”

Zelo menghela nafas. “dia kesal karena harus satu kelompok dengan Sehun. Dan aku malah memperingatkannya untuk bersikap baik pada Sehun bukan malah menolongnya untuk bicara pada BoA saem. Lalu dia meninggalkan kelas dengan kesal.”

“bagaimana bisa? Kau kan satu kelompok dengan Sehun dan aku satu kelompok dengan Sumin.”

“aku menggantinya.”

“mwo?!”

Yeah. Sehun dengan Sumin dan kau denganku.”

Lime membulatkan matanya. “hei! Kenapa begitu?! Lagipula ini tidak adil, Sehun dan Sumin satu kelompok. Mereka sama – sama jenius, kau bodoh Zelo.” Ceracaunya habis – habisan. Tidak habis pikir kenapa Zelo dengan seenaknya mengganti kelompok belajar tersebut padahal masa depan raport Lime bisa sangat indah kalau ia satu kelompok dengan Sumin. Dan …. Dibandingkan dengan Zelo? Oh, ayolah. Jauh sekali.

Lime masih merengut kesal ketika tiba – tiba sebuah lengan merengkuh bahunya dari samping, ia menoleh dan langsung menghela nafas mendapati Zelo dengan cengiran menyebalkan. “Aku pikir, menghabiskan banyak waktu berdua denganmu akan menyenangkan.” Bisiknya, namun Lime hanya memutar kedua bola mata. “kalau kau sejenius Sehun atau Sumin, mungkin akan menyenangkan. Kalau saja.”

“Oh, woman. You’re annoying.”

“Aku anggap itu pujian, Choi Junhoong.” Lime melepaskan lengan Zelo. “aku benar – benar tidak habis pikir dengan kalian berdua.” Lime membalikkan tubuhnya kemudian melangkah meninggalkan kelas. Zelo hanya mengedikkan bahunya sedangkan Sehun tertawa. “kau membuat kesal dua orang gadis siang ini, Zelo.”

“hah. Entahlah.”

“OH SEHUN! KAU DIPANGGIL CHANGMIN SAEM UNTUK KERUANGANNYA, KAU TERPILIH SEBAGAI KAPTEN BARU TIM BASKET!” Teriakan Lime dari luar tampak jelas sekali, Zelo dan Sehun langsung menajamkan pendengaran mereka dan begitu gadis itu selesai bicara…

“OH MAN KAU KAPTEN BARU TIM BASKET!!”

Kedua mata Zelo hampir saja copot dari tempatnya, ia menggoncangkan bahu Sehun dengan anarkis sampai Sehun hampir saja terjungkal. Yang terpilih saja hanya menggumamkan ‘wow’ singkat dan malah Zelo yang tampak terlampau excited.

Kemampuan Sehun dalam basket memang patut diberi apresiasi lebih padahal ia masih terhitung sebagai anggota baru tim, namun permainannya bisa memukau siapa saja. Selama ini jabatan kapten tim dipindah tangankan sementara pada Himchan—ia satu tingkat dibawah kapten tim—karena menurut mereka, belum ada yang bisa menggantikan posisi Kai sebagai kapten—in this case, Kai adalah kapten yang sangat berbakat, walaupun ia bossy sekali. Dan setelah Changmin selaku seorang pelatih melihat kemampuan Sehun, ia memilihnya untuk menempati posisi Kai.

“Aku rasa aku harus menemuinya. Sampai nanti, Zelo.” Sehun membenarkan blazer nya kemudian berjalan meninggalkan kelas.

“Traktir aku seusai sekolah besok!” seru Zelo. Sehun hanya mengangkat ibu jarinya sebagai respon positif.

***

At Street, a few blocks away from Sumin’s apartment. 4PM.

Kim Sumin berjalan disebuah jalan setapak yang sepi dengan seorang diri. Bahunya terkulai lemas dan ia tampak lifeless karena terlalu lelah. Tas MCM miliknya terasa berat sekali karena setumpuk buku yang ia bawa dan beberapa novel yang baru saja ia beli beberapa minggu yang lalu, yang selalu memenuhi tasnya untuk menjadi intermezzo dikala kebosanan suasana sekolah.

Hari ini sekolah melelahkan sekali, pikir Sumin. Memang setiap hari selalu melelahkan tetapi hari ini jauh lebih melelahkan ketimbang biasanya. Menjadi murid di tingkat akhir sekolah menengah atas memang bukan suatu hal yang mudah, semua murid harus menempuh segala macam ujian dan exam yang akan membawa mereka ke perguruan tinggi. Kelulusan sebenarnya masih lama, tapi Sumin sudah menyiapkan mentalnya dari awal sehingga ia bisa memasuki universitas yang ia inginkan dengan mudah.

Dan sialnya, sesi belajar yang harusnya ia jadikan menyenangkan itu malah berbalik seperti boomerang. Sumin menjadi malas belajar gara – gara Oh Sehun. Ya. Pria dingin itu yang akan menjadi partner nya untuk bebulan – bulan kedepan dan mereka berdua harus bekerja sama dengan baik agar mencapai nilai memuaskan.

Sumin bahkan tidak tertarik untuk berbaur dengan pria itu. Ia juga tidak mengerti kenapa Sehun begitu menyebalkan dimatanya. Mungkin karena kejadian itu? Dimana saat itu Sumin diledek secara telak oleh Sehun dihari kedua Sehun menjadi murid baru.

Mungkin seharusnya Sumin tidak boleh seperti ini.

Mungkin.

Tapi… Sehun sangat terkenal disekolah saat ini, ia berpotensi menjadi Kingka sekolah dengan segala kelebihan yang pria itu miliki. Sehun menjadi pusat incaran gadis – gadis di sekolah. Dan bahkan, yang baru Sumin dengar tadi siang kalau Sehun menjadi kapten tim basket baru.

Tidak. Sumin tidak membenci Sehun karena pria itu menjadi pusat perhatian. Bukan juga karena Sumin tidak suka melihat Sehun senang.

Ia tidak suka…. karena semua posisi itu sebelumnya adalah milik Kai.

Dan Sehun, secara tidak sengaja menempatkan diri di tempat yang seharusnya milik Kai. Namun seharusnya itu tidak apa –apa karena bahkan Kai sudah tidak ada lagi. Sumin saja yang masih terus terbayang masa lalu.

Ia masih berjalan santai sambil bergumul dengan segala opininya ketika sebuah perasaan aneh melandanya, seperti ada seseorang atau dua orang atau lebih yang sedang menatapnya tetapi ketika Sumin membalikkan tubuhnya, ia tidak menemukan siapapun.

Sumin kembali menghadap kedepan, masih terus melangkah. Matanya melirik ke kanan dan kiri dengan awas, namun ia masih saja belum menemukan siapapun. Ah mungkin karena terlalu lelah sampai berpikir aneh – aneh. Mungkin hanya perasaanku saja.

Tepat ketika Sumin membalikkan tubuhnya untuk memastikan sekali lagi, terlihat lima orang pria berpenampilan berandalan sedang memandang kearahnya dengan tajam. Beberapa dari pria itu menyeringai mengerikan.

Ternyata memang benar firasatnya. Sekelompok pria ini yan sedari tadi mengawasi Sumin dari belakang. Sontak Sumin mundur beberapa langkah, ia memandang satu persatu pria dihadapannya dengan tatapan intimidasi.

Seorang pria dengan rambut cepak hitam berantakan, jaket kulit dan celana jeans, pria yang tampak berotot layaknya seorang bodyguard itu melangkahkan kakinya mendekati Sumin dengan seringaian yang masih juga belum luput dari wajahnya.

“Kau tampak lelah, nona..”

“siapa kau?”

Pria tadi menyentuh pipi Sumin pelan yang langsung ditangkis oleh Sumin. Tatapan Sumin kini mendelik marah namun pria itu lagi – lagi hanya menyeringai. “Jangan sentuh aku!” serunya. Pria itu mengelus rambut Sumin dan nyaris menjambaknya, secara reflek Sumin langsung mendorongnya keras sampai pria itu hampir terjungkal kebelakang.

“Oh sial!”

Sumin langsung melebarkan matanya begitu keempat pria yang sedari tadi diam kini menghampirinya dan mendorong Sumin ke dinding besar disampingnya, keempat pria itu memegang lengan Sumin dengan kuat – kuat agar gadis itu tidak bisa kabur. Sekeras apapun Sumin berusaha memberontak, ia tetap tidak mampu.

Kali ini Sumin merasa dirinya seperti ada didalam adegan drama dalam televisi, dan sungguh ia tidak berharap kalau apa yang akan terjadi padanya nanti akan sama seperti drama yang sering ia saksikan secara tidak sengaja di layar televisi. Pemerkosaan. Hell, no.

Tapi sepertinya Tuhan sedang tidak berbaik hati padanya kali ini, nyatanya seorang pria yang tadi ia dorong itu kini melepas kancing seragamnya satu persatu dan bahkan mencengkeram seragam putih Sumin karena gadis itu terus bergerak, memberontak.

“hentikan!”

“Aku tau kau suruhan Nana, kan?”

“hentikan sekarang juga atau aku akan melaporkan kalian lengkap dengan nana ke kepolisian—PFFFF!”

Seorang pria yang lain membekap mulutnya, membuat Sumin tidak bisa berbuat apa – apa selain memberontak dengan sisa – sisa tenaganya dan berdoa agar kejadian ini bisa berakhir.

“kau lihat kulit gadis ini memang seputih susu, cantik sekali.” Pria dengan bau alcohol yang sangat kentara dicampur dengan aroma asap rokok yang kini sangat jelas tercium dihidung Sumin karena pria itu berada dijarak yang sangat dekat dengannya. Jari  – jari pria itu menyentuh leher Sumin dengan gerakan seduktif. Sumin berteriak tertahan, keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Ia takut sekali.

Tiba – tiba sepasang lengan muncul dari balik punggung pria dihadapan Sumin, menarik pria itu dengan keras dan membantingnya kelantai. Kemudian menarik keempat pria yang lainnya, melayangkan tinjuan keras ke dua orang pria disamping kanan Sumin dan tendangan ke dua orang pria yang lain.

Kejadian itu berlangsung terlalu cepat bahkan Sumin belum sempat mencerna apa yang barusan terjadi, ia merasa baru berkedip satu kali ketika tubuhnya kini bebas dari cengkeraman empat orang bandit tadi dan seorang pria dengan seragam abu – abu berdiri memunggunginya tepat didepan Sumin.

Sumin baru sempat melihat warna rambut pria berseragam ini dan baru mau mengamati postur tubuh pria itu untuk mengetahui siapa dia, tapi lagi – lagi kejadian yang terlampau cepat hadir lagi. Pria berseragam itu memukuli habis – habisan keempat bandit yang kini menyerang secara keroyokan.

Dan dengan mengamati secara detil, Sumin akhirnya menyadari siapa yang baru saja menyelamatkannya. Pria berseragam itu, Oh Sehun.

Pria dengan aroma alcohol yang menyengat tadi tiba – tiba saja sudah berdiri dibelakang Sehun dengan sebuah pisau ditangannya sedangkan Sehun masih sibuk dengan keempat pria didepannya tanpa menyadari bahwa Sumin kini melebarkan matanya menyaksikan pria itu melayangkan pisaunya tepat kearah leher Sehun. Jantung Sumin hampir saja copot… nyaris.

Tapi tidak secepat itu, karena Sehun secara tiba – tiba membalikkan tubuhnya dan menampik pisau pria itu dan langsung menangkapnya. Seringaian Nampak jelas diwajah Sehun yang berpeluh, Sehun memutar – mutar pisau ditangannya dengan gerakan luar biasa cepat. Bahkan Sumin tidak bisa menangkap adegan tersebut dengan nalarnya.

Pria itu merinding ketakutan, sebelum Sehun bertingkah lebih jauh lagi, ia sudah lari terbirit – birit bersama dengan keempat temannya.

Sehun membuang pisau ditangannya kemudian memandang kearah Sumin dengan khawatir. Ia berangsur mendekat dengan super-speed nya sehingga Sumin hanya bisa melihat bayangan Sehun. Dan sepersekian detik setelahnya, pria itu sudah berdiri dihadapan Sumin dengan jarak yang sangat dekat.

Sumin kehilangan kata – kata. Ia hanya bisa terdiam bodoh didepan Sehun. Kecemasan, rasa takut dan trauma baru, kini terpancar dari kedua mata cokelat almond Sumin, dan Sehun bisa merasakan hal itu. Seolah segala perasaan yang sedang Sumin rasakan adalah suatu bentuk pikiran yang sedang Sehun baca saat ini.

Sama dengan gadis itu, Sehun juga terdiam. Masih membaca ekspresi Sumin melewati matanya. Perlahan Sehun mengangkat tangannya dan menyentuh wajah gadis itu dengan sangat hati – hati, seolah wajah Sumin adalah sebuah kaca rapuh yang bisa hancur sekali sentuh.

Sumin berjengit kecil ketika ujung jari Sehun menyentuh dahinya, dan Sehun menangkap reaksi tersebut. Ia segera menjauhkan tangannya. Benar dugaannya, Sumin memiliki rasa trauma baru. Ia pasti merasa takut ketika seseorang menyentuhnya, karena perlakuan pria – pria brengsek tadi.

Sehun memundurkan tubuhnya beberapa centi, namun tatapannya masih lekat menatap Sumin yang kini membuka mulutnya, akan mengatakan sesuatu. “that was… fast. Too fast.” Gumamnya, hampir terdengar tanpa suara.

Sehun mengangguk.

“bagaimana… kau bisa melakukannya?”

“Super-speed adalah salah satu ability-ku. Kau baru melihatnya pertama kali, wajar kalau kau heran.” Sehun berusaha untuk tenang dan bertingkah senormal mungkin, padahal jauh didalam dirinya ia ingin memeluk Sumin dan menginterogasinya habis – habisan, ia benar – benar khawatir. Apa saja yang pria- pria brengsek itu telah lakukan pada cinta pertamanya?!

Sumin hanya mengangguk lemah. Kedua mata almondnya masih memancarkan rasa trauma dan ketakutan. Sehun berangsur mendekatinya lagi lalu menyentuh seragam putih Sumin yang tampak berantakan.  Blazer birunya sedikit robek dibagian lengan dan dasinya sudah tergeletak diatas aspal. Kancing seragam Sumin sudah terlepas hampir setengahnya, membuat kulitnya terekspos sedikit.

“Jangan takut. Aku tidak akan berbuat jahat.” Bisik Sehun ketika Sumin bereaksi negative terhadap tangan Sehun yang kini berada diseragam gadis itu. Sehun memasang kancing seragam Sumin satu persatu dengan pelan. Dan juga… ia berusaha menahan desiran aneh didalam tubuhnya ketika kedua mata Sehun secara tidak sengaja melihat milky skin dibalik seragam putih itu.

Tepat setelah Sehun memasang kancing terakhir, Sumin langsung mendorong tangan Sehun. Ia mendongak dan kedua matanya bertemu dengan bola mata berwarna merah gelap milik Sehun. Entah kenapa, setiap ia menatap mata itu, Sumin selalu tenggelam didalamnya. Seolah ada chemistry sendiri dan sebuah ikatan tersembunyi didalamnya.

Dan tiba – tiba saja bola mata merah itu berkilat marah, membuat Sumin merinding. Ia hanya mampu merapatkan tubuhnya pada dinding dibelakangnya.

“Kenapa kau tidak membunuh mereka?”

“a..pa?”

Sehun meletakkan kedua tangannya diantara kepala Sumin, kemudian menunduk untuk menatap gadis itu lebih dalam. “Kenapa?! Kau memiliki kemampuan. Demi Tuhan.. kau seorang demon. Kau bisa membunuh pria – pria tadi dalam hitungan menit saja!” ucapnya marah.

“Mem..bunuh..” gadis itu terbata – bata. Ia memalingkan wajahnya, tidak berani menatap kedua mata Sehun.

“Kenapa kau diam saja ketika mereka menyentuhmu?! Mereka hampir memperkosamu! Kau mampu membuat mereka mati dalam sekali tatapan saja. Apa kau senang kalau tubuhmu dijamah oleh pria – pria yang bahkan tidak kau kenal. Kau senang, kim Sumin?!”

Sumin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apa tadi, apa yang Sehun katakan?! Membunuh?!

Entah apa yang mendorong Sumin untk mengangkat tangannya dan mendorong Sehun kasar secara tiba – tiba. Sehun kaget, tentu saja. Kenapa gadis ini malah mendorongnya?!

“Tidak. Aku tidak akan membunuh siapapun…. Lagi.”

Kini kedua mata cokelat almond Sumin memancarkan trauma yang lain, rasa trauma yang sangat besar. Dan Sehun sungguh kaget dengan hal ini, terlebih saat Sumin mengatakan bahwa dia tidak akan membunuh seseorang… lagi? Berarti sebelum ini Sumin pernah membunuh seseorang?

Jauh diluar dugaan Sehun, kini gadis dihadapannya ini menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan yang mencengkeram rambut panjangnya sendiri. Sumin menunduk sehingga Sehun tidak bisa membaca ekspresi gadis itu lewat mata. Dan…. Demi Tuhan, apa yang terjadi dengan Sumin? Gadis itu tampak sangat trauma.

“siapa… siapa kau berani menyuruhku melakukan dosa itu lagi. Siapa kau… Oh Sehun, beraninya menyuruhku membunuh?!”

Sehun jaw-dropped. Ia kehilangan kata – katanya menghadapi Sumin yang kini tampak setengah…. Gila? Tidak. Lebih tepatnya, tampak frustrasi. Dan kini gadis itu menyandar di tembok dengan kedua mata tepejam, kepalanya menunduk dan bahunya terkulai lemas. Sehun mendekati Sumin dengan hati – hati lalu menyingkirkan rambut gadis itu yang menutupi wajah. Kedua tangannya memegang bahu Sumin dengan erat.

“maafkan aku. Aku tidak bermaksud—maafkan aku. Semuanya akan baik – baik saja.”

Perlahan Sehun menarik tubuh Sumin kedalam pelukannya. Dan bahu gadis itu terguncang, menandakan kalau ia menangis.

Sehun benar – benar  clueless untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Sumin. Trauma apa yang membuatnya sampai seperti ini. Namun… secepat kilat Sehun langsung teringat pada satu – satunya hal yang dapat membuat Sumin sangat terguncang.

Kai.

***

At Zelo’s house. 8PM.

“Beritahu aku sekarang juga, Zelo! Apa yang membuat Kai meninggal!”

Zelo sedang asyik dengan komputernya, menamatkan level terakhir game yang sedang dimainkannya akhir minggu ini. Dan dengan sialnya, Sehun tiba – tiba memasuki kamarnya dan berdiri tidak jauh didekat pintu. Matanya memandang kearah Zelo penuh tuntutan.

“Dude, diluar hujan sangat lebat. Dan ini jam istirahatku.” Sindir Zelo, matanya masih tidak lepas pada layar computer dihadapannya.

Sehun menghela nafas keras membuat Zelo memalingkan wajahnya kearah Sehun dan tepat saat itu juga ia bisa merasakan aura dingin disekitarnya. Tatapan Sehun begitu tajam dan menuntut, membuat Zelo merinding. Detik itu juga Zelo memutar kursinya kemudian menghela nafas.

“Oke, ayo kita bicara.”

***

1st Flashback

Kim Sumin tidak pernah mengira kalau malam senin bisa seindah ini, ia biasa bergumul dengan setumpuk buku pelajaran dan tugas yang sepertinya tidak pernah ada ujungnya itu. Namun kali ini, dia ada diatas sebuah ranjang berukuran super  besar dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai sebatas pinggang. Lagi – lagi matanya dimanjakan oleh pemandangan citylight yang berada tepat didepannya. Secara jelas ia bisa melihat kerlap – kerlip lampu kota dimalam hari melewati jendela besar yang tirainya sengaja dibiarkan terbuka.

Mungkin Kai adalah bentuk kesempurnaan yang secara nyata ada digenggaman Sumin. Pria itu memiliki segalanya yang Sumin sukai, termasuk kamar luas dengan pemandangan memukai ini. Apartemen Kai sendiri tepatnya.

Sumin menyilangkan kakinya dengan selimut yang membalut sampai pinggang, ia memeluk lututnya sendiri sambil melihat indahnya citylight.

Hei maaf aku baru datang.”

Terdengar suara Kai lengkap dengan bunyi derap langkah pria itu, perlahan Sumin menoleh dan langsung tersenyum mendapati Kai berdiri dengan senyuman manisnya. “Darimana saja kau?”

Kai melepas jaketnya, meninggalkan sebuah kaus tipis berwarna hitam yang tampak pas ditubuhnya kemudian berjalan menghampiri Sumin. “Aku ada urusan dengan Appa.” Ia mencium dahi Sumin lalu memposisikan dirinya duduk disebelah gadis itu, bersama – sama memandangi citylight.

“Apakah masalah perusahaan?”

Kai menautkan jari – jarinya di sela jari – jari Sumin. “Ya, seperti biasa.”

Kali ini terdengar nada suara yang berbeda dari Kai, ia terdengar lelah. Namun Kai berusaha menutupinya.

Sumin menolehkan wajahnya untuk menghadap Kai, menatapnya lekat – lekat. “Ada apa? Kau tidak terlihat baik – baik saja.”

“Im okay, woman.” Kai tersenyum sekonyong – konyong untuk menenangkan Sumin yang terlihat khawatir. Sumin hanya bisa menghela nafasnya dan bibirnya melengkung tanda ia tidak puas dengan pernyataan Kai barusan. “You’re not.” Ucapnya, masih menatap Kai lekat – lekat.

Kai menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

Tidak jua menjawab, Kai menarik lengan Sumin untuk kembali pada posisi awal gadis itu lalu meletakkan kepala Sumin diatas bahunya. Perlahan, Kai mengelus rambut Sumin—sebuah kebiasaan yang menjadi favoritnya. “Kau mau menginap di apartemenku?”

Nope. I don’t wanna sleep with a perverted one like you.”

Kai tertawa mendengarnya. “tapi ini sudah terlalu larut. Berbahaya kalau kau pulang sendiri. Lagipula aku tidak akan mengijinkanmu pulang sementara cuaca sangat dingin, kau bisa flu.”

“Lagipula… tubuh rata begitu, bukan seleraku—Aw!” dengan cepat Sumin memukul Kai dengan bantal. “Sial kau!”

“asalkan kau berjanji tidak melakukan hal yang tidak – tidak.”

“Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak mau menghancurkan masa depanmu, atau.. menggendong anak diumur tujuh belas tahun. Oh, itu sangat tidak keren.” Sumin tersenyum kecil mendengar pernyataan Kai barusan, ia kemudian memeluk lengan Kai dan membenamkan wajahnya di leher Kai sementara kepalanya menyandar dengan nyaman diatas bahu pria itu. Aroma mint memenuhi penciumannya, menenangkan, seperti biasa.

“Yuko…”

“Hmm—ah, kau tau nama kecilku?”

Kai mengangguk walaupun ia tau Sumin tidak bisa melihatnya. “Ya. Aku tau. Apakah.. kau ingat denganku?” kedua mata Kai menatap lurus – lurus ke arah citylight dihadapannya, ketika melihat sebuah lampu  yang menyala terang di sebuah rumah besar yang terlihat dari kamarnya, Kai jadi mengingat masa lalu. Dimana ia pertama kalinya melihat Sumin, bersama sahabat kecilnya.

“Aku tidak mengerti Kai. Maksudmu?”

“dulu sekali, dirumah lamamu, kau memilki tetangga yang rumahnya berada tepat disebelah rumahmu. Dan kau suka dengan tetanggamu sendiri namun kau tidak pernah direspon baik olehnya—“

“sebentar, Ken?!” Sumin menegakkan badannya dan memandang Kai dengan takjub. Nyaris tidak percaya dengan apa yang Kai barusan ucapkan itu. “Ken. Dia cinta pertamaku. Bagaimana kau tau tentangnya?”

calm down, woman.” Kai kembali memposisikan kepala Sumin untuk menyandar dibahunya. Ia mengecup singkat puncak kepala Sumin kemudian mulai membuka suara.

“dengarkan aku, tapi jangan bereaksi berlebihan karena aku bukan Ken.”

Sumin mengangguk saja walaupun dalam hati ia ingin sekali menanyakan berbagai macam hal pada Kai. Waktu sudah berlangsung sangat lama dan seingat Sumin, ia tidak pernah mencintai pria manapun selain Ken. Cinta masa kecilnya. Setidaknya, sebelum Kai datang dan menjadi seseorang yang mengisi hatinya.

“ken adalah sahabatku, kau mungkin tidak mengenaliku atau malah tidak ingat siapa aku. Aku orang yang selalu berada didekat Ken setiap kali kau menghampirinya dan memberikan sekotak cokelat, dan Ken hanya meresponmu dengan tatapan datar lalu meninggalkanmu begitu saja.”

Mengingat hal itu, hati Sumin terasa pedih. Karena cintanya pada ken dulu tidak terbalaskan, pria itu hanya meresponnya dengan ekspresi datar dan dingin lalu meninggalkan Sumin begitu saja bahkan tanpa menerima cokelat yang diberikan oleh Sumin.

Sumin berani taruhan kalau rasa cintanya itu kini berbuah menjadi kebencian yang mendalam. Ia menjadi benci pada Ken karena perilaku tidak menyenangkan dari pria itu.

“dan aku adalah Kai, yang selalu tersenyum padamu meskipun kau hanya menunggu senyuman dari ken. Dengan maka itu kau tidak pernah tau siapa aku karena kau tidak bertanya siapa namaku dan akupun tidak memperkenalkan diri.”

“Jadi kau… lelaki itu?! Yang selalu berada didekat ken dan.. hei, dulu kau tidak tampan!”

Kai tertawa singkat. “Ya. Tapi sekarang aku luar biasa tampan kan?”

“tidak juga.”

“Baiklah, aku lanjutkan saja.” Kai kembali merengkuh pundak Sumin dan memeluknya erat. “Kau memang tidak tau siapa namaku, tapi aku tau siapa namamu. Kau adalah Kim Yuko, begitulah yang aku tau tentangmu. Hanya sebatas itu dan aku tidak tau kalau nama aslimu adalah Kim Sumin bahkan Ken juga tidak tau nama aslimu. Dan.. Yuko, percaya atau tidak, saat itu yang mencintaimu adalah aku. Setiap hari aku selalu berharap bahwa aku ada diposisi Ken dimana dia seolah menjadi pangeran berkuda bagimu. Namun nyatanya kau tetap saja mengagumi Ken dan tidak memandangku sama sekali.” Nampak nada yang begitu tenang didalam setiap kata yang Kai ucapkan walaupun cerita-nya terbilang cukup pedih. Memori yang pedih.

“aku tidak pernah menyadari kalau Kim Sumin adalah Yuko… bahkan setelah kita berpacaran dan aku sudah melupakan Yuko meskipun tidak sepenuhnya juga. Dan malam itu, ketika aku berkunjung kerumahmu dan masuk kedalam kamarmu, aku menemukan sepucuk surat yang kau letakkan diatas meja rias. Surat lusuh yang terlipat rapi dan begitu harum, aku langsung berpikir bahwa surat itu pasti kau rawat dengan baik. Dan bahkan kau menyemprotkan parfum…”

Sumin hanya bisa terdiam mendengar cerita Kai, ia tidak sabar… sangat tidak sabar dengan apa yang akan Kai ucapkan tentang surat misterius berharga miliknya. Salah satu benda berharga milik Sumin yang selalu ia simpan.

“dan ketika aku membaca surat itu, barulah aku sadar kalau kau adalah Yuko-ku yang selama ini tidak pernah aku lihat lagi.”

“jadi surat itu… darimu?!”

Kai menggigit bibir bawahnya kemudian menghela nafas. “Ya. Surat itu dariku.”

“kau… serius?” kini Sumin menegakkan badannya lagi dan menatap Kai lekat – lekat, kedua matanya tampak berbinar oleh perasaan yang terlampau senang. Rasanya… bahkan tidak bisa dideskrpsikan, Sumin terlalu senang. Bagaimana bisa Kai adalah pria yang memberinya surat itu. Dan memang benar, melihat inisial yang tertulis dibawah surat itu adalah “K” maka Sumin yakin seratus persen kalau memang Kai pemberinya.

“Aku tidak pernah tau siapa pengirim surat itu.. bahkan sampai hari ini… sebelum akhirnya kau mengakui bahwa itu darimu. Kau tau.. ini sungguh tidak bisa dipercaya. Kau harus tau betapa berharganya surat itu untukku. Karena tidak ada yang mengirimku surat sebelumnya, dengan isi yang singkat dan bermakna dan—“

“Pssh!” Kai meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Sumin. “cukup. Lupakan masa lalu itu, Karena ada hal lain yang akan aku bicarakan.”

Sumin mengangguk patuh lalu menyandarkan tubuhnya di dinding ranjang dengan senyuman bahagia diwajahnya.

“Ken itu.. sangat mencintaimu.”

Lebih dari rasa kaget dan terkejut, Sumin hanya mampu melongo tidak percaya. “Apa?”

“Ya, dia mencintaimu.”

“Tapi.. dia dingin dan..”

“aku tau. Itu sudah menjadi karakternya. Ken memang dingin dan cenderung tidak mudah tersenyum, namun jauh didalam hatinya ia sangat memperhatikanmu. Pada awalnya memang Ken merasa risih dan tidak peduli dengan kau yang terus – terusan mengejarnya, tapi lama kelamaan dia iba melihatmu yang selalu duduk sendiri ditaman depan rumah, menanti seorang teman. Hanya saja, Ken merasa dirinya bukan seseorang yang tepat. Menurut ken, kau membutuhkan sosok yang hangat untuk menemanimu sedangkan Ken bukan tipikal pria yang hangat. Menurutku, itu hanyalah asumsi bodohnya saja. Ah, dia benar – benar bodoh. Bahkan dia menyuruhku untuk mendekatimu dan langsung ku tolak karena aku tau.. kau hanya melihat Ken.” Kai menghela nafas lalu menolehkan wajahnya kearah Sumin yang masih diam tak percaya.

“kemudian.. Ken memutuskan untuk pindah ke Macau, bersama dengan kakak laki – lakinya dan aku turut pindah ke Apgujeong. Setelah itu aku tidak pernah melihatmu lagi, begitupula Ken. Aku tidak pernah melihat Ken lagi. Kami putus kontak sampai hari ini dan mungkin selamanya aku tidak pernah melihatnya lagi.” Kai tersenyum pahit, ada rasa nyeri didadanya ketika mengingat tentang Ken. Dibandingkan rasa iri terhadap Ken, Kai justru sangat menyayangi sahabat kecilnya itu. Dan kehilangan dia adalah suatu hal yang menyakitkan bagi Kai.

“aku tidak mengira kalau didunia ini ada banyak orang yang memiliki sixthsense atau supernatural yang mereka miliki di umur tertentu.” Kai mengelus rambut Sumin ketika gadis itu menunduk karena merasa dirinyalah objek yang sedang dibicarakan oleh Kai. “kau, termasuk. Tapi.. kau bukanlah orang pertama yang aku saksikan. Percaya atau tidak, kepindahan Ken ke Macau karena dia… juga seseorang yang sama sepertimu. Dia memiliki dimensi lain didalam dirinya. Dia bisa membaca pikiran manusia. Dan sama sepertimu, saat itu reaksinya tidak baik. Ken ketakutan dan merasa bahwa dirinya aneh, tidak beres, hingga akhirnya kakaknya memutuskan untuk membawanya ke Macau. Yang aku tau, di Macau banyak manusia yang satu spesies sepertimu. Sebut saja begitu.”

“…dia juga memiliki tato di bahunya dengan inisial A.”

“kalau kau mau tau, Ken memiliki nama asli Oh S—“

“kau tertidur, Kim Yuko.”

Kai memandang pasrah kearah Sumin yang memejamkan mata dibahu Kai. “Aku belum tertidur.” Gumam Sumin sambil menggelengkan kepalanya, namun kedua matanya masih terpejam.

“aku rasa sudah cukup. Kau bisa tidur sekarang.” Mendengar itu, Sumin mengangguk lalu membenamkan wajahnya lebih dalam ke bahu Kai, menghirup aroma Kai sebanyak – banyaknya. Tangannya memeluk lengan Kai dengan erat.

Kai membetulkan letak selimut Sumin lalu mengelus pelan rambut panjang gadis itu. Tidak lama setelahnya Sumin sudah terlarut kedalam alam mimpi, bahkan sebelum Kai mengucapkan selamat tidur. Gadis itu Nampak lelah dan ia tertidur pulas sekali.

***

 [note: ini adalah scene yang Zelo ga certain ke Sehun karena saat itu Sumin udah tidur jadi Sumin ga menceritakannya pada Zelo. Tapi aku tulis ceritanya biar readers tau.]

Untold story

2nd flashback [Kai’s POV]

 

Dengkuran halus terdengar dari mulut Sumin yang kini gadis itu sudah tertidur pulas diatas bahuku, sedangkan aku masih terjaga sejak sepuluh menit yang lalu dan aku sendiri memang tidak bisa memejamkan mataku. Banyak hal yang berkecamuk dipikiranku hingga rasanya untuk pergi tidur pun sulit.

Aku benci karena membohonginya lagi, padahal aku sudah berjanji untuk tidak berbohong dan jujur dalam hal apapun. Tapi.. Bagaimana reaksi Sumin kalau aku memberitahunya? Gadis ini, pasti akan khawatir setengah mati dan bukannya membuatnya nyaman aku malah akan merepotkannya.

Siang tadi tiba –tiba panggilan urgent datang dari Appa untukku, dan aku diminta untuk datang ke kantornya. Aku kira hanya masalah perusahaan atau beberapa gangster yang harus dihabisi karena tangan nakal mereka yang mencoba mencuri senjata – senjata dari Kei corp.

Namun ternyata bukan, satu hal yang mengejutkanku.

Keluargaku akan pindah ke Detroit—sebuah kota padat di Michigan, United States—Karena kata Appa, Seoul tidak aman lagi bagi kami. Ancaman terror memang sudah menjadi hal yang biasa untukku dan aku selalu bisa mengatasinya walaupun dengan tangan kotor. Tapi kali ini, sebuah ancaman terror datang selama beberapa hari belakangan ini dan mengancam akan membunuh Appa. Tidak biasanya, karena biasanya akulah yang akan menjadi objek terror karena aku anak tunggal.

Dan keputusan akhir, appa beserta semua bawahannya akan pindah ke Detroit beserta semua asset Kei corp. yang akan di pindah pusat kantornya di Detroit. Mungkin bukan ide yang bagus karena aku harus meninggalkan Sumin sendiri disini. Dan aku tidak tau apa yang akan terjadi padanya kalau aku tidak berada didekatnya.

Namun ternyata….

Appa memiliki strategi baru—dia tetap pindah ke Detroit, tapi tanpa aku.

Kenapa?

Simple, dia ingin musuhnya menemukanku dan membunuhku lalu Appa akan bebas dari segala terror. Ia mengatakan kalau selama ini ia melindungiku hanya karena aku seorang petarung yang tangguh jadi aku cukup berguna baginya. Dia tidak melindungku karena aku anaknya. Dia tidak pernah menyayangiku secara tulus. Jelas, karena aku yang menyebabkan satu – satunya wanita yang ia cintai meninggal—Ibuku meninggal ketika melahirkanku.

Aku rasa, aku bisa menerima segala rasa benci itu.

Aku semacam berkorban. Mulai besok, rumahku sudah kosong beserta kantor Kei corp. dan aku akan tinggal di apartemenku sendiri sambil menunggu kapan kematian akan menjemputku. Sebenarnya, aku bisa saja kabur dan menghindar. Tapi aku tidak mau Appa berpikir bahwa aku menentangnya. Aku ingin dia menyesal melihat kematianku karena triknya sendiri.

Tapi satu hal yang membuatku berat, adalah gadis yang sedang tertidur dibahuku saat ini.

Mungkin seharusnya sejak awal, dia tidak usah terlibat dengan ku. Seharusnya dia bisa mendapatkan pria yang lebih baik karena menyandangnya sebagai kekasihku sama saja mendorongnya perlahan ke lubang penuh buaya. Gadis ini terancam nyawanya kalau mereka tau dia kekasihku. Dan beruntungnya, belum ada satupun dari musuh Appa yang tau kalau Kim Sumin adalah kekasihku. Dan mereka tidak boleh tau.

Aku berharap, suatu saat nanti ketika aku pergi, Ken akan kembali dan menjaganya. Dia harus. Aku tau kalau aku selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan. Dan sekarang, aku ingin Ken kembali ke Korea untuk menggantikan posisiku. Karena aku yakin, satu – satunya pria yang bisa menjaga Sumin hanyalah Ken.

Walaupun aku tidak yakin kalau Ken benar – benar kembali atau tidak.

Aku harap seperti itu.

Dan… bukankah Sumin bisa membunuh seseorang lewat matanya? Begitu yang aku dengar dari Myungsoo hyung. Kalau memang ia mampu, aku jauh lebih memilih mati ditangannya daripada mati secara pasrah ditangan musuh – musuh Appaku.

***

3rd Flashback

Kim’s residence. 7PM.

“Kau tidak boleh berhubungan dengan manusia, karena hal itu akan membahayakan mereka. Kau mengerti maksudku, dongsaeng? Jadi, putus dengan Kai. Aku tau ini sulit tapi tidak ada yang bisa tau kapan sisi jahatmu muncul, bahkan dirimu sendiri juga tidak tau.”

“Putus dengan Kai? Aku tidak akan mau. Dan.. berhenti dengan semua lelucon tidak masuk akal ini Kim Myungsoo.”

“ini untuk kepentinganmu! Kau turuti ucapanku, okay?”

“Never!”

Lagi – lagi pertengkaran memalukan ini, selalu saja hadir setiap minggunya di hari yang berbeda – beda dan dengan topic yang sama. Pelaku yang sama, dan masih dengan suasana yang sama. Serta merta hubungan tidak akur antara kakak beradik yang tinggal satu atap. Keduanya sama – sama keras kepala.

Kim myungsoo menghela nafasnya, seakan ia sangat lelah. Kedua tangannya terlipat didepan perutnya dengan sepasang mata yang menatap penuh tuntutan kearah Sumin yang berdiri dihadapannya dengan tatapan tidak suka. Saat ini, Myungsoo dan Sumin sedang berdiri diruang utama kediaman keluarga Kim sejak beberapa menit yang lalu dan membicarakan hal yang sama seperti beberapa hari yang lalu. Myungsoo selalu memberitahu tentang berbahayanya status baru Sumin sebagai seorang demon bagi manusia namun Sumin tidak terlihat begitu mendengarkan kakaknya itu.

Walaupun Sumin menyimpan rapat – rapat tentang informasi yang diberikan kakaknya itu, tapi ia tidak terlalu menanggapinya serious. Karena… siapa sih yang mau percaya pada hal konyol bahwa dirinya bisa membunuh manusia hanya lewat tatapan?

Sumin sama sekali tidak percaya… setidaknya kalau belum ada bukti.

Sebagian dari dirinya takut dengan kenyataan itu—jadi lebih memilih untuk tidak mendengarnya lebih jauh. Sumin benci mendapati dirinya yang baru ini menjadi seorang monster. Betapa dekatnya dengan definisi seorang monster, bukan? Demon, membunuh tanpa unsur kesengajaan. Sumin bahkan bergidik hanya karena memikirkannya.

“Kau hanyalah seorang gadis yang tidak tau apa – apa, Kim Sumin. Kau seharusnya mendengarkanku yang beruntung mau memberitahumu. Ah, aku baru ingat kalau kau… sama sekali tidak pernah mendengarkanku.”

Hati Sumin perih mendengarnya. Apa benar dirinya tidak pernah mendengarkan perkataan Myungsoo? Tapi Sumin tidak berpikir demikian. Ia yakin kalau semua yang dilakukannya itu benar. Pemikiran anak umur tujuh belas taun, tentunya.

putus dengan Kai.”

Sungguh. Sumin benci sekali mendengar kata itu dari mulut Myungsoo. Harus berapa kali Sumin menolak? Bagian mana dari kata ‘menolak’ yang Myungsoo tidak mengerti? Kenapa Myungsoo selalu saja menuntutnya untuk menuruti semua perkataannya?!

“Aku rasa kau sudah tau jawabannya.”

“Aku tidak mau ambil resiko. Pokoknya, itu urusan kau kalau tetap tidak menurut padaku.”

Sumin mendelik. “memangnya aku menyuruhmu untuk ikut campur dalam urusanku? Kai adalah kekasihku, dia urusanku. Putus atau tidak dengannya itu hakku. Jadi oppa, apakah kau mengerti? Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya? Dan… Let’s get real here, if I have to break up with Kai because of my ability… it means I have to break up with every guy that’ll be my boyfriend because my ability won’t disappear. Is that so?”

Myungsoo terdiam, ia juga berpikiran yang sama tapi… memang ini kenyataannya. Sumin tidak memiliki pilihan lain, mungkin?

Tapi sebetulnya ada jalan untuk menghilangkan kekuatan Sumin dengan cara menikah dengan takdirnya. Dan Sumin pernah mengatakan satu kali pada Myungsoo kalau Kai satu – satunya orang yang Sumin tidak bisa baca pikirannya, dan itu berarti Kai adalah takdir Sumin. Lalu kenapa Myungsoo malah menyuruhnya memutuskan Kai?

Sebenarnya alasan yang klise. Karena Sumin masih terlalu muda untuk jatuh cinta. Ralat, untuk berhubungan dengan lawan jenisnya. Di umurnya yang tujuh belas tahun bukan tempat yang tepat bagi Sumin untuk berpacaran dengan pria lain sementara dia harus focus belajar… apalagi, dengan sekali kemarahan, Sumin bisa saja menyakiti Kai tanpa gadis itu sadari. Dan myungsoo tau benar bagaimana Kim Sumin itu; emosional, belum cukup dewasa. Hatinya masih sensitive karena insiden broken home yang dialaminya. Itulah mengapa Sumin benci pria—dia benci ayahnya—walaupun sepertinya Kai sebuah pengecualian untuknya.

Myungsoo berharap bahwa disaat Sumin sudah cukup dewasa nanti barulah dia boleh bersama Kai lagi. tidak diumur sedini ini. Tapi… memang Sumin tidak pernah mendengarkannya, padahal ia sudah berulang kali mengucapkan alasan ini padanya. What a stubborn girl, ever.

“It is. Kau akan lepas dari demon yang kau sebut sebagai kutukan ini… kalau kau menikah dengan takdirmu. Aku mengatakan jujur, Kai adalah orangnya. Tapi kau tidak mau kan menikah selagi masih memiliki tanggungan sekolah?”

“Menikah saja. Selama dengan Kai, apa peduliku.” Jawab Sumin seenaknya. Tidak ada sedikitpun rasa keberatan dalam ucapannya.

“kau bukan Bella Swan yang menghabiskan masa mudanya hanya untuk mencintai vampire kemudian menikah diumur dini, kau adalah seorang gadis dengan masa depan yang harus lebih didahulukan daripada percintaan konyol macam anak SMA. Dewasalah, Yuko.”

“tapi… aku tidak mau… tidak mau putus dengan Kai. Kau tidak tau seberapa berartinya dia untukku oppa!”

“Aku tau! Aku memberikan solusi terbaik untukmu karena kau sendiri tidak tau kapan kemarahanmu akan menyakiti—“

“berhenti menakut – nakutiku!”

“Aku hanya membuatmu untuk berpikir secara rasional, dengarkan aku Yuko—“

“hentikan.”

Keduanya langsung terdiam begitu suara lain menginterupsi mereka, dan Sumin menjadi orang pertama yang menyadari siapa pemilik suara itu. Tentunya, sangat familiar. Dan Myungsoo bisa melihat dengan jelas kalau Kai berdiri dibelakang Sumin entah sejak kapan—bahkan dia tidak melihat Kai masuk kedalam rumah—Kai mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras, ia terlihat marah.

Kai menyejajarkan posisinya dengan Sumin, ia berdiri disebelah Sumin yang menunduk; mulai menangis. Ia meraih telapak tangan Sumin dan menelusupkan jari – jarinya disela – sela jari Sumin, menggenggamnya erat. Tatapannya masih tajam menatap Myungsoo kemudian beralih kearah Sumin, mendongakkan wajah gadis itu dengan tangannya yang bebas.

“Tunggu aku diluar, ada Zelo disana. Aku butuh bicara berdua dengan kakakmu.” Ucapnya pelan lalu mengecup dahi Sumin singkat.

Sumin mengangguk lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Kai dan Myungsoo. Sedikit mengagetkan bagi Myungsoo bahwa Sumin langsung menurut saja pada perintah Kai.

Kai mengawasi Sumin sampai gadis itu hilang dibalik pintu, kemudian mengalihkan pandangannya kearah pria berumur 20-an dihadapannya ini. Tatapannya menyebalkan dimata Myungsoo, selalu memberikan kesan tidak suka dan Myungsoo tidak mengerti kenapa Sumin bisa tergila – gila pada pria bernama Kim Jongin ini.

“Aku tidak punya masalah denganmu, Kai.”

“Hyung… jelas kalau kau mempunyai masalah denganku.”

Myungsoo tertawa remeh. “jangan katakan kalau kau mau mengatakan hal yang sama dengan Sumin, bahwa kau tidak mau ia putus denganmu.”

“Sayangnya, aku mau mengatakan hal yang sama. Karena seperti yang Sumin katakan, hubungannya denganku adalah urusanku dengannya dalam hal ini kau tidak berhak ikut campur. Dan kalau kau menyuruhnya putus denganku karena kau mengkhawatirkan nyawaku atau apapun, aku akan dengan jelas mengatakan kalau aku tidak keberatan. Aku mencintai adik perempuanmu apa adanya, mau dia menyakitiku… itu terserah dia. Itu hak nya. Selama aku tidak keberatan, kau boleh duduk dengan tenang dan tidak usah menuntut apapun.”

Jelas sekali. Pikir Myungsoo. Penjelasan Kai sebenarnya menyelesaikan segalanya. Kalau Kai mengatakan tidak apa – apa, itu berarti kalau memang terjadi suatu hal dengan Kai maka Myungsoo dan Sumin tidak bisa disalahkan.

Tapi.. bagaimanapun Myungsoo tetap tidak yakin. Ia masih merasa keputusannya yang paling benar.

“kau tidak mengerti, Kim Jongin. Aku yang tau segalanya disini. Kau hanya manusia biasa.”

“Aku mengerti, Hyung. Kau pernah memberitahuku tentang sixth-sense yang dimiliki Sumin jauh – jauh hari dan aku sungguh mengerti.”

Myungsoo menghela nafasnya, lalu meletakkan kedua tangannya kedalam saku jeans-nya.

“Kau yakin?”

“Ya. Jujur, aku mendengar semua percakapan kalian dari luar.”

“Sungguh tidak sopan..” lagi – lagi Myungsoo tertawa remeh namun Kai mengabaikannya.

“tapi setidaknya aku jadi tau, kenapa Sumin tidak pernah mendengarkanmu.”

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya ingin tau.

Kai berdeham lalu membuka suara. “Kau terlalu keras padanya. Kau… selalu meninggikan suaramu dan menuntutnya untuk terus mendengarkan semua ucapanmu padahal seharusnya kau tau kalau Kim Sumin bukanlah tipikal gadis yang diam dan menurut, dia gadis pemberontak yang tidak suka dibentak. Dia keras kepala dan independen—tidak suka menuruti suruhan orang lain, tapi kau malah memaksanya. Apakah kau pikir dengan cara itu Sumin mau menurut padamu? Jawabannya tentu saja tidak, Hyung. Selama bertahun – tahun ini kau menggunakan cara yang salah.”

“….Aku memang baru sebentar mengenalnya, tapi dia sudah seperti seekor anjing kecil yang menuruti apa saja yang aku katakan. Dalam arti, dia mendengarkanku. Kenapa? Karena aku selalu membicarakan dengan hati – hati segala masalah yang dia miliki. Berbicara dengannya tidak dengan nada tinggi sepertimu, atau pria brengsek yang menjadi ayahnya itu, aku menuntutnya… tapi dengan tenang. Dan dia menurutiku. Aku tau mungkin seharusnya aku yang mendengarkanmu karena kau yang lebih tua sekaligus kau kakaknya, tapi dalam hal ini kau merasa yang paling benar dibandingkan kau, Hyung.”

“kau patut mencobanya. Berbicara baik – baik dengannya, dan jangan menyuruhnya untuk selalu menurutimu. Cukup berbicara dengan tenang dan meyakinkan, tanpa kau menyuruhnya… pasti dia akan menurutimu.” Lanjut Kai. Ia menunggu selama beberapa detik namun Myungsoo hanya menatap lantai dengan diam. Kai memutuskan untuk melanjutkan lagi ucapannya. “dan… Hyung, aku tidak mau putus dengannya. Tidak saat ini. Dia membutuhkanku dan aku mencintainya. Sesimpel itu kalau kau mau tau alasannya.”

Sebelum mendengar sanggahan dari Myungsoo, Kai sudah terlebih dahulu membalikkan badan kemudian berjalan menuju pintu. “Pikirkan apa yang aku ucapkan, hyung. Kalau aku salah, kau boleh menyuruhku untuk putus dengannya.”

Dengan ucapan terakhir itu, Kai meninggalkan ruangan dan berjalan menghampiri Zelo dan Sumin yang berdiri diatas kap mobil menikmati bubble tea bersama – sama. Sumin langsung melompat turun begitu Kai berdiri dihadapannya dan sedetik kemudian Sumin memeluk Kai dengan erat.

don’t ever go… Kim Jongin.”

***

4th Flashback

Cheong-nam High-School’s Ballroom. 1PM.

“Kita putus.”

Sumin masih terduduk di atas karpet tebal berwarna merah dengan wajahnya yang ia benamkan kekedua lengannya, sebagian dari lengannya berusaha menutupi telinganya untuk mencegah kata – kata yang sama dari mulut Kai terdengar di telingannya. Sebuah kata yang ia takuti setengah mati. Dalam arti, ia tidak mau kehilangan Kai.

Kim Jongin berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding, dengan masih mengenakan seragamnya—begitupula Sumin—kedua matanya menatap Sumin dan bibirnya mengatup rapat, kedua tangannya mengepal kuat. Seakan menahan emosi yang ada didalam dirinya, bukan emosi kemarahan tetapi… emosi yang lain.

Sumin mengangkat wajahnya dari benaman di lengannya, menatap Kai dengan raut muka kecewa.

“Kai..”

“Aku tidak pernah bisa menolerir seseorang yang melakukan perselingkuhan. Aku… tidak bisa…” Sumin menggelengkan kepalanya pelan, tiba – tiba teringat pada memori menyakitkan tentang ayahnya yang berselingkuh dan meninggalkan ibunya. Sumin tidak pernah bisa menolerir pria yang selingkuh, tidak pernah setelah kejadian itu. Dan Kai tau benar soal hal itu.

“Ya. Aku menyakitimu.” Ujar Kai tenang seolah tidak ada perasaan bersalah.

Sumin hanya mampu menunduk, menatap karpet merah yang berada dibawah kakiknya. Perasaannya campur aduk. Ia marah tapi tidak ingin melepaskan, tapi kenapa Kai melepaskannya? Sebegitu tidak berharganya lagi Sumin kah dimata Kai?

Kini keduanya terdiam, tenggelam pada pemikiran masing – masing.

Sumin tidak pernah lepas dari kejadian malam itu, tepatnya tadi malam.. ketika dirinya memergoki Kai duduk di sofa bersama seorang gadis dengan lengan yang ia lingkarkan ke bahu gadis itu seperti yang Kai sering lakukan pada Sumin, dan Kai mencumbui leher gadis itu. Sebuah pemandangan memuakkan bagi Sumin yang langsung membuat gadis itu keluar dari apartemen tanpa Kai sempat member penjelasan apapun. Dan Kai hanya menatap Sumin sebentar lalu menghela nafas.

Ingatan itu masih jelas dalam memori Sumin, tidak akan pernah hilang. Selamanya.

“Siapa gadis itu?”

Sumin mengira, gadis itu hanyalah wanita murahan sewaan Kai. Tapi.. sekarang Kai meminta putus? Pastinya gadis itu memiliki status yang lebih dari sekedar ‘wanita sewaan’

“Aku berkencan dengannya, sudah sekitar dua minggu yang lalu.”

Hati Sumin sakit sekali mendengarnya, seperti ada pisau tajam yang menusuk ulu hatinya dan merobeknya dalam sekali sentakan. Sumin tidak mampu menahan air matanya, ia terlalu sedih menerima kenyataan. Ia terhianati.

Kim Sumin terhianati.

Ingin sekali Sumin menertawakan dirinya sendiri, memang seharusnya ia membenci pria. Seharusnya ia tetap kekeuh pada keputusannya untuk tidak percaya pada pria manapun karena semua pria sama saja. Brengsek. Kurang ajar.

“Kim Sumin, kau tau dari awal kalau aku bukan pria baik – baik.”

Jelas Sumin tau kalau Kai adalah seorang bad boy. Tapi.. ia pikir perasaan Kai terhadapnya selama ini tulus. Ia pikir begitu. Ia tertipu, kan?

“Setelah semua yang kita lalui?”

Kai menghela nafasnya lalu berjalan menghampiri Sumin, ia berdiri dihadapan Sumin yang asih terduduk. “berdiri.” Tuntut Kai dengan tenang namun nadanya terdengar dingin, dan seperti biasa… Sumin menurutinya.

Gadis itu berdiri—hampir terhuyung.

Kai memasukkan kedua tangannya kedalam saku, menatap Sumin.

Sumin membalas tatapannya dengan mencoba untuk terlihat dingin, namun ia tidak bisa. Sumin masih mendapatkan tatapan hangat yang sama dari Kai, yang selalu menenangkannya. Tapi…kenapa.

I don’t love you like I did yesterday.” Ucap Kai sangat pelan, seolah tidak rela mengucapkannya. Tapi toh ia mengucapkannya. Cukup keras untuk Sumin dengar, dan kenapa Kai masih menatap Sumin dengan tatapan hangat itu sedangkan Kai secara jelas mengatakan kalau dirinya tidak mencintai Sumin lagi. Blame her delusional feeling.

“Kau berhak mendapatkan pria lain. Aku brengsek. Aku selalu brengsek.”

Plak.

Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Kai, dan pria itu hanya terdiam lalu menatap Sumin lagi. “Kalau kau pikir menamparku akan membuatku jatuh cinta lagi padamu, itu tidak akan terjadi.” Sumin menatapnya tidak percaya. He surely changes a lot.

I hate you.” Bisik Sumin, membuat Kai sedikit berjengit karena kata – kata itu adalah yang pertama kalinya Sumin ucapkan pada Kai.

I don’t mind that.”  Balas Kai tidak kalah kejamnya.

“kau hanya seorang gadis yang sama seperti yang lainnya, yang aku campakkan. Seharusnya dari awal kau tidak pernah menganggapku terlalu serius. Kasian sekali, aku hanya bisa mengasihanimu tapi untuk memberikan cintaku lagi? Aku tidak bisa.”

“Kim Jongin..”

“kenapa?” Kai menunjukkan seringaiannya. “semua gadis yang aku putuskan memang selalu seperti ini. Tentu saja. Aku membuat mereka semua terbang ke awan – awan lalu menjatuhkannya secara keras setelahnya. Aku jahat kan? Tapi aku… senang melakukannya. Apalagi—terhadap..mu.”

Sumin bisa merasakan tubuhnya merinding, keringat dingin mengucur dari pelipisnya, ia pucat pasi. Ia masih shock dan tidak bisa menerima kenyataan kalau Kai akan seperti ini. Kai yang dikenalnya, katakana ini hanya mimpi.

Ia kecewa, tapi… juga marah. Sangat marah.

Kai masih heran kenapa gadis ini masih diam dan belum marah juga. Sumin bisa saja menampar Kai lagi, sebanyak mungkin tapi gadis itu terlihat diam meredam emosi.

“Aku tidak percaya dengan kata – katamu. Kau bukan Kai yang kukenal, kau ber-akting.”

Kai menaikkan sebelah alisnya. “ber-akting?” tawa remeh keluar dari mulut Kai, ia mengelengkan kepalanya lalu menatap Sumin jenaka. “ber-akting katamu? Betapa kasihannya kau, Kim Sumin. Kau bahkan jauh lebih kasihan—atau kurang lebih sama dengan ibumu yang dicampakkan oleh ayahmu.”

Dengan ucapan terakhir Kai barusan, darah Sumin berdesir cepat dan membuat suatu perasaan emosi yang tidak terdeskripsikan. Bahkan dirinya tidak menyadari ketika akhirnya semua rasa marahnya kini menguasai dirinya, menciptakan sebuah warna merah pekat di kedua bola mata Sumin. Dan pikiran gadis itu kosong.

Tatapan Sumin kini berbeda 180 derajat, ia terlihat seperti seorang iblis yang berdiri tepat dihadapan Kai, siap mematahkan leher Kai atau apapun. Dan bahkan seorang Kim Jongin bisa merasakan bulu kuduknya meremang untuk pertama kalinya—ia tidak pernah takut pada apapun.

Tapi ia menahan diri agar tidak melangkah mundur, justu tetap diam ditempatnya.

“Kim Jongin… go die.”

Dan dengan sekali ucapan Sumin barusan, tubuh Kai terdorong keras kearah tembok dibelakangnya—mungkin tulang punggungnya langsung patah—dan rasa sakit luar bisa melanda tubuhnya, tulang kaki dan tangannya serasa lemas dan kepalanya pusing luar biasa. Jantungnya memompa darah dengan kecepatan yang diluar batas kenormalan, sangat cepat sampai Kai tidak mampu bernafas. Pernafasannya terasa tersumbat, sehingga ia tidak mampu menghirup oksigen dan hanya bisa meronta untuk sekedar mengambil sekali hirup nafas. Kai tersengal – sengal, dan jantungnya berdetak sangat cepat… terlalu cepat dan berhenti didetik berikutnya.

Kai memejamkan matanya.

***

TBC

thanks for read and comment :)

if you have something to ask, ask me here -> ask.fm

200 Responses to “[Chapter 5] The Second of Telepathy”

  1. bela July 25, 2014 at 8:16 pm #

    ini kai sengaja mancing emosinya sumin ya?._.

Trackbacks/Pingbacks

  1. [Chapter 6] The Second of Telepathy | FFindo - September 29, 2013

    […] Chapter 4 / Chapter 5 […]

  2. [Chapter 7] The Second of Telepathy | FFindo - November 29, 2013

    […] 4 / Chapter 5 / Chapter […]

  3. Bloody Camp [Act 1] | FFindo - December 3, 2013

    […] 4 / Chapter 5 / Chapter […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 21,187 other followers

%d bloggers like this: